
Ah, tepatnya sebuah lahan khusus di bawah sana.
"Lo liat kuburan di bawah itu?"
Lili sedang sibuk dengan rasa malu dan pikirannya sendiri saat Theo tiba-tiba bersuara. Otomatis, Lili tersentak dan salah tingkah. Dia buru-buru mencari kuburan dan Lili benar-benar bersyukur saat dia menemukannya.
Di sebuah pemukiman yang tak begitu padat, ada sebuah lahan tempat kuburan. "Iya, gue liat itu. Kenapa emangnya?"
Wajah Theo tampak sedih saat menjawab, "Di sana Abang gue dikuburin."
Tenggorokan Lili tersekat. Untuk apa Theo membicarakan hal-hal yang dapat membuatnya sedih kepada Lili. Segera, Lili mendekat dan menepuk-nepuk punggung Theo.
"Lo bisa cerita kalau lo mau," kata Lili, meski sebenarnya sangat berat untuknya berkata begitu. Seolah-olah Lili jahat karena ... ya kalian paham lah, Lili akan menjalankan kisah sedih Theo sebagai bahan ceritanya. "Gue dengerin."
"Gue emang mau cerita," balas Theo datar. "Buat tambahan cerita lo yang terakhir kalinya. Kali ini benar-benar terakhir karena gue benar-benar nggak ada lagi cerita yang harus dikasih tau ke lo."
Lili menipiskan bibirnya. Entah kenapa, dadanya terasa sesak dan bagaimana cara Theo menyuarakannya, kata-kata itu sangat menusuk hati Lili.
"Lo udah tau Abang gue meninggal karena nggak kuat hadapin ayah sama ibu yang nggak akan pernah sama lagi," cerita Theo santai. "Kalau gue lagi sedih, kalau gue lagi kesel, gue selalu ke sini. Gue pengen liat Abang gue, tapi nggak pernah bisa seberani itu untuk melihatnya dari dekat. Jadi, gue cuma bisa liat dari sini. Kadang, kalau lagi benar-benar putus asa dan muak sama kehidupan ini, gue pengen loncat aja dari sini. Mati. Hilang dari dunia. Pergi dari rasa lelah. Kabur dari semua tekanan. Bareng Abang gue."
Lagi-lagi, dada Lili terasa sesak. Kini, sesaknya semakin menjadi-jadi hingga tanpa bisa ditahan air matanya mengalir ke pipinya.
Sementara itu, Theo meneruskan bercerita dengan wajah datar setelah mengambil jeda sejenak. "Tapi gue nggak bisa begitu. Gue tau rasanya ditinggal saudara yang gue sayang dan gue nggak akan pernah biarin Titi ngerasain itu. Gue yakin gue sama Titi bisa baik-baik aja. Apalagi sekarang gue udah ada cita-cita. Gue bisa berusaha keras buat wujudin itu."
Theo berbalik, hendak menatap Lili saat dilihatnya Lili menangis. Kening Theo mengerut samar. "Kok lo nangis?"
__ADS_1
"Lo yang bikin gue nangis," jelas Lili pelan. "Pasti berat buat lo lakuin semua itu, sampai lo bilang pernah mau mati aja. Tapi lo sekarang terlihat baik-baik aja. Padahal kalau mau magis nggak apa-apa, Yo. Jangan malu."
"Ck, cengeng," kata Theo dengan decakan geli. Tangannya segera bergerak, menghapus air mata Lili sehingga perempuan itu kini balas menatapnya. "Gue pengen lo masukin yang gue katakan barusan di cerita itu. Gue pengen orang-orang di luar sana yang kayak gue nggak sampai salah pilih jalan dan hacur buat jadi bibit unggul bangsa. Ngerti?"
Lili memaksakan diri untuk tersenyum. "Tentu. Niat lo bagus bange. Gue nggak akan sampai bikin itu sia-sia. Pasti jadi buku Yo, cerita hidup lo! Gue akan perjuangkan sekuat tenaga, sampai darah penghabisan!"
"Bagus kalau gitu." Theo tertawa kecil. Menatap Lili dengan lembut, mungkin untuk terakhir kalinya. "Sekarang, ayo kita pulang."
"Tunggu," tahan Lili. Membuat Theo membatalkan niatnya untuk berjalan ke arah motornya.
"Kenapa lagi?"
"Setelah gue pikir-pikir lama. Lo menjauh karena ada alasan lain, kan? Bukan karena cerita lo udah habis, kan? Gue yakin cerita lo nggak akan pernah habis kecuali lo udah mati." Lili berkata tegas. Meski dadanya sesak dan wajahnya tampak sedih saat mengatakan, dia menatap Theo penuh keyakinan. "Bilang sama gue. Apa lo menjauh karena Ayah gue?"
Theo terdiam.
Diamnya Theo membuat Lili semakin yakin. "Gue nggak ngerti, Yo. Orang sebaik dan penuh tekad kayak lo bisa dilihat Ayah seburuk itu."
Theo tertawa kecil. Akhirnya, dia memilih opsi kedua. "Gue emang seburuk itu, Li. Percaya sama Ayah lo."
"Terus kenapa lo nggak nolak buat ikut lomba fashion show sama gue?" tanya Lili tak mengerti. "Kalau lo ikut lomba itu juga, pada akhirnya kita nggak bakal menjauh. Gue yakin kita bakal--"
"Jangan salah paham, gue ikut itu cuma karena mau kelas kita menang." Theo memotong dengan wajah dingin. "Setelahnya kita pasti nggak bersinggungan lagi. Gue yakin itu."
"Berarti bener soal Ayah gue. Ayah gue ngomong apa aja ke lo?" Tanya Lili khawatir. Pasti sakit rasanya jadi Theo.
__ADS_1
Theo tersenyum merendahkan. "Jangan suka melawan orang tua, Li. Lo bakal menyesal kalau seandainya mereka udah nggak ada dan lo malah membantah mereka."
Lili tertohok. Untuk beberapa lama, ia tak bisa menjawab perkataan Theo karena sepenuhnya, perkataan Theo itu benar. Namun, bagaimana, itu terdengar salah saat Ayahnya menjauhkan Lili dari Theo yang tak seburuk itu.
Ketika Theo akhirnya bosan dan malas untuk berdebat lagi dengan Lili, dia berbalik pergi. Sebelum ia menarik motornya, Lili menahan tangannya.
Theo berbalik menatap Lili dengan jengah.
Lili balas menatap Theo dengan mata mengejap, memelas, sedih dan kecewa. "Theo, jangan begini, please."
"Begini gimana maksud lo?"
"Gue bakal bilang lagi ke Ayah. Gue bakal katakan sejujurnya tentang lo." Lili menurunkan air dari matanya tanpa bisa dicegah. "Gue bakal paparin betapa baiknya lo. Gue bakal jelasin betapa perhatiannya lo. Gue bakal--
Theo memasang kepala Lili helm dan mengaitkan talinya sehingga kata-kata Lili langsung tertelan lagi ke asalnya. Lili tertegun pada apa yang dilakukan Theo kepadanya.
Apa sekarang dia sedang shooting FTV romantis itu?
Jelas tidak. Mana bisa orang sedari Theo bisa jadi aktor.
Setelah selesai memasang helm pada kepala Lili, Theo menepuk kecil helm itu dengan senyum tipis.
Lili menatap Theo dengan sedih, harapannya mulai padam.
"Sekarang kita pulang aja, udah mau malem."
__ADS_1
***