
Senin tiba.
Hari yang ditunggu-tunggu Lili dan Gema.
Mereka akan mengetahui pemenang lomba memperingati hari Kartini. Setelah upacara bendera selesai, semua murid SMA Aksara Nusa yang berdiri di lapangan dipersilakan untuk duduk sementara OSIS menyiapkan diri untuk memberi pengumuman.
"Gue punya firasat gede sih soal ini." Mila langsung berkata begitu saat dia duduk di sebelah Lili. Lili menoleh padanya dengan kening berkerut samar. "Secara, milik orang-orang baju fashion show mereka itu pasaran dan banyak kesamaannya. Kita pake bling-bling bekas CD, dong."
Gema yang turut mendengar perkataan Mila segera menyahut dengan acungan jempol dan senyuman lebar. "Ide brilian sih itu menurut gue."
"Siapa dulu ...." Mila menyibakkan rambut panjangnya hingga mengenai wajah Lili. "Mila gitu, lho!"
"Suttt!" seru Lili agak terganggu. Menatap Mila dan Gema berurutan dengan mata mengancam. "Diem dulu, napa. Itu udah mau ada pengumuman."
Anak OSIS yang berdiri di mimbar bekas pembina upacara dan memegang mikrofon itu berdeham. Kemudian bersuara, "Baiklah, di sini saya selaku penanggung jawab acara akan mengumumkan hasil dari lomba memperingati hari Kartini yang dilaksanakan pada Jum'at ...."
Perwakilan OSIS itu memaparkan pembukaan yang pajang sekali. Gema, Lili dan Mila yang duduk beruntun dibuat agak kesal karenanya.
"Ampun dah lama bener basa-basinya." Mila segera menyuarakan kekesalannya dengan menggerak-gerakkan tangannya serupa menyakar sesuatu. "Gemes gue. Pengen jambak."
"Hush, jangan gitu dong!" seru Lili memberi kata-kata bijak. "Coba bayangain kalau lo yang ada di depan sana."
"Peace hehehe." Mila tersenyum polos.
Gema juga jadi gemas. "Buruan dong ah, to the point!"
"Apa kalian sudah menduga-duga siapa pemenangnya?" Anak OSIS yang tidak dikenali itu terus berbasa-basi.
Mending kalau ganteng atau setidaknya memiliki gigi rapi saat senyum. Ini udah kulitnya agak cokelat, giginya ompong di tengah-tengah pula.
Maaf kan Gema semuanya. Kadang, dia juga bisa nulis tanpa bisa disadari dan ditahan
"Pastinya nggak, ya." Anak OSIS itu tertawa kecil. Kemudian membuka kertas yang diyakini orang-orang sebagai deretan nama pemenang. "Soalnya ini masih rahasia untuk semuanya. Hanya beberapa orang yang tahu. Ya, kecuali lomba futsal, tarik tambang dan bakiak yang udah ketahuan banget siapa pemenangnya."
"Iya, iya, iya." Mila semakin gemas. "Mulai aja napa siapa pemenangnya."
"Sabar dong, Mil," balas Lili menenangkan. "Kita harus menikmati debarannya dulu. Nggak berseni banget lo."
Mila hanya cemberut.
"Kita mulai dari lomba pidato, ya." Anak OSIS itu berdeham. Anak itu sepertinya tau bagaimana mempermainkan hati murid-murid. Lihat saja, karena senyuman penuh artinya, beberapa anak berseru padanya untuk cepat-cepat bicara. "Ya, baiklah. Karena kalian sangat-sangat excited, akan saya umum pemenang untuk lomba pidato Bahasa Indonesia dahulu ...."
"Li." Mila memegang tangan Lili dengan gugup.
"Semoga, semoga, semoga. Semoga gue menang." Lili memejamkan matanya dengan khidmat. Dia berdoa dengan bisikan lirih. "Amin. Amin. Amin."
Gema turut berdebar. Namun dia terlihat yang paling santai dengan menatap nyalangnya pada anak OSIS di mimbar itu.
__ADS_1
"Sherin dari kelas XI IPA 1! Selamat!" Dengan satu tarikan napas, anak OSIS itu berseru kencang. "Tepuk tangan!"
Beberapa anak memeriahkan suasana dengan bertepuk tangan. Namun tidak untuk Gema, Lili dan Mila.
"Lah?" -Mila
"Hah?" -Gema
"Eh?" Lili mengerjap-ngerjap tak percaya.
"Silahkan maju ke depan untuk yang mewakili."
Tak lama kemudian, Sherin dengan rambut bergelombang panjangnya dan tubuh semampai melangkah dengan anggun. Sherin tersenyum lebar di depan sana, terlihat sangat cantik bahkan bagi perempuan yang melihatnya. Tepukan tangan tak reda juga hingga anak OSIS kembali bersuara.
"Baiklah, kita lanjut ke pemenang pidato bahasa internasional alias bahasa Inggris!" seru anak OSIS itu.
"Lah, cuma satu pemenang?" tanya Mila heran.
"Yah, nggak seru banget." Gema membuang ampas kecewa.
"Budget-nya terbatas kali." Mila membalas asal.
"Pidatonya Sherin emang bagus banget, sih." Lili kini ambil suara setelah sebelumnya tercengang hingga tak sanggup berkata-kata. "Pembawaannya juga keren."
"Li." Gema segera mengusap-usap punggung Lili, menenangkan dan menyemangati teman satu mejanya itu. "Lo juga begitu. Lo udah bekerja keras, Li."
"Nggak apa-apa, Mil." Lili menatap Mila dengan senyum tipis, memaafkan. "Mungkin pidato buatan gue juga kurang bagus. Emang bege nih otak."
"Heh, jangan gitu." Gema menahan tangan Lili yang kau menjambak rambutnya sendiri. "Ini otak juga udah bisa bikin tiga novel, kan?"
"Iya, Gem. Makasih. Novel apaan. Udah ditolak editor, dibaca banyak di Wetfed aja nggak." Lili membalas dengan tawa hambar. Meski begitu, dia mengurungkan niat untuk menjambak rambut. Lili tersenyum lebar pada Gema. "Lo berdoa sana. Biar menang. Tuh mau diumumin pemenangnya."
Gema mengangguk. Senang jika Lili sudah bisa tersenyum lagi. "Iya."
"Pemenangnya adalah Gema dari jelas XI IPA 3! Horeeee, tepuk tangannya mana?!" Lagi-lagi anak OSIS itu berseru dalam satu tarikan napas yang bisa membuat jantung siapapun berdebar karena rasanya sangat menyenangkan dan menegangkan. "Coba untuk yang mewakili silahkan ke depan.
"Hah?" Gema celingukan seperti orang bodoh. "Gue menang?"
"Iya, lo menang, Gem!" seru Mila gemas. Langsung menepuk-nepuk paha Gema dengan antusias.
"Hebat banget temen semeja gue! Sana ke depan! Hush, hush!" dorong Lili dengan tawa geli.
Gema menahan senyum. Dia senang, tapi teman-temannya membuatnya malu. "Gue ke depan dulu, ya."
Lili mengangguk. "Awas jatuh."
Gema tertawa. Masih dengan sorakan dari anak-anak kelas, Gema berjalan ke depan. Kemudian berhenti ketika telah berdiri di sebelah Sherin. Tepuk tangan masih mengudara.
__ADS_1
Di depan sana, Lili melihat Gema dan Sherin dengan pandangan iri.
"Hebat banget." Lili memuji.
"Tenang, Li." Mila segera menepuk paha Lili. Matanya menatap Lili dengan otot keyakinan penuh. "Lo juga pasti ke depan nanti. Juara fashion show."
"Gue nggak mau berharap-harap dulu." Lili tertawa kecil. "Jatuhnya nanti sedih kalau kalah."
"Kalah menang ya biasa dong dalam perlombaan," kata Mila bijak. "Yang penting optimis teruuuussss!"
"Yang menang pidato dua-duanya dari jurusan IPA aja, nih? Yang lainnya mana? Semoga tahun depan bisa dapat kesempatan lebih baik lagi, ya." Lili akui kemampuan berbahasa anak OSIS itu luar biasa. "Baiklah, kita lanjut ke pengumuman pemenang lomba yang paling hot dan banyak peminatnya. Sampai banjir IG kita karena event ini. Soalnya, ternyata anak-anak SMA Aksara Nusa itu jago-jago make-upnya dan kreatif buat memanfaatkan barang bekas jadi baju fashionable. Tepuk tangan, temen-temen!"
"Aduh, kok gue jadi malu, ya, Li?" Mila langsung ngumpet di belakang tubuh Lili. Dia menutup wajahnya dengan tangan.
Lili melihatnya heran.
Mila kemudian duduk tegak kembali. Kini mengambil tangan Lili untuk diarahkan ke dadanya yang sudah berdebar kencang. "Pegang deh dada gue, deg-degan banget gila."
"Lucu banget lo." Lili tertawa saat merasakan debaran Mila yang seperti baru saja berlari ratusan kilo meter. "Sampai segitunya?"
"Iya, dong, Li." Mila menukas semangat. Matanya pasti tampak berapi-api jika Mila adalah tokoh konik.. "Soalnya gue mengerahkan segenap kekuatan gue buat menang."
"Pasti tahu kan dari like postingan di IG sekolah kita. Pemenangnya siapa?" Suara anak OSIS itu kembali terdengar. Membuat Mila semakin berdebar. Lalu saat anak OSIS itu berseru alam satu tarikan napas, "Pemenangnya jelas sekali, XI IPA 3!"
Mila langsung berdiri kegirangan sampai lompat-lompat.
"HUAAAA LIIIII KITA MENANG! WAAAAAA!"
Mila lupa bahwa selain dirinya, seluruh murid SMA Aksara Nusa juga ada di lapangan ini. Lili sebagai teman yang duduk paling dekat dengan Mila jadi turut malu. Sementara Gema yang melihatnya hanya tersenyum maklum.
Anak OSIS di mimbar sana tertawa.
"Waw, antusias sekali mbak di sana." Suaranya membuat Mila tersadar dan berhenti melompat-lompat kegirangan. "Silahkan maju untuk yang mewakili."
"Li, maju, Li." Mila justru berkata begitu pada Lili.
Lili tersenyum pada Mila yang sudah berdiri. "Lo aja. Kan lo yang bikin bajunya. Otomatis lo yang ikut lombanya, Mil."
"Serius boleh?" Mila senyum senang dengan lebar.
"Iya, maju aja." Lili mengangguk cepat. Kemudian mendorong kaki Mila. "Sana, sana!"
"Okeeeee!"
Dengan riang, Mila melangkah ke depan. Meninggalkan Lili sendiri di barisan kelas dengan senyum tipis yang penuh rasa iri yang ditahan.
***
__ADS_1