
Tamrin Sumadafala Dipenjara Seumur Hidup Atas Kejahatan yang Dilakukannya. Sang Mantan Istri Mengungkapkan Bahwa Tamrin Adalah Psikopat
Mata Lili membulat saat melihat pemberitahuan berita di ponselnya. Buru-buru Lili menyerahkannya pada Gema.
Tidak mungkin. Tidak mungkin.
Theo tidak sekolah selama empat hari pasti bukan karena masalah keluarganya. Mungkin Theo hanya sakit batuk ....
"Gem, coba bacain judulnya. Takutnya gue salah baca."
"Tamrin Sumadafala dipenjara seumur hidup atas kejahatan yang dilakukannya. Sang mantan istri mengungkapkan bahwa Tamrin adalah psikopat." Gema membacanya meski bingung mengapa tiba-tiba Lili bersikap aneh begini.
"Sekali lagi, Gem." Lili menukas panik. "Sekali lagi!"
"Lo kenapa, sih?" Gema frustasi.
"Gemaaaaaaa," rengek Lili. Kesedihan mulai menyesaki dadanya karena menyadari berita yang baru saja dibacanya tak salah. "Tamrin itu Ayahnya Theo."
"Apa?"
"Guys." Waktu Lili mau menjawab, suara Fahmi menginterupsinya. Ketua Kelas XI IPA 3 itu menatap seluruh teman-temannya di depan. "Mohon perhatiannya sebentar."
Anak-anak segera mengalihkan fokus pada Fahmi.
"Barusan gue kan dipanggil wali kelas. Nah, buat kalian yang heran kenapa Theo nggak sekolah hampir satu minggu penuh, ternyata dia ada di rumah sakit." Fahmi menarik napas berat. "Dia dirawat."
"Dia sakit apa?" tanya Lili panik. Dia tak menyangka Theo akan seperti ini. Barusan dia membaca berita buruk dan selanjutnya, pikiran Lili tak benar-benar bisa jernih kembali.
"Gue juga nggak tau." Fahmi menjawab seadanya. "Gimana kalau perwakilan kelas kita nengok?"
"Udah pasti dong!" seru Lili cepat.
"Wes, selow. Kayak sama pacar aja." Fahmi tertawa geli.
"Mau pacar, mau teman, kalau dia dirawat di rumah sakit, siapa yang nggak khawatir?" Lili membalas agak kesal.
"Tenang, Li. Tenang." Gema turut menenangkan karena merasa perlu. Dia mencengkram bahu Lili dan menatapnya tajam. "Theo nggak sekarat. Oke?"
Lili hanya terdiam.
"Theo bakal baik-baik aja. Tenang."
__ADS_1
Masalahnya Lili merasa bersalah karena terakhir kali dia melihat Theo, Lili merasa dua membuat Theo bersedih.
Lili ingin meminta maaf dengan segera.
"Kita beli buah-buahan aja. Kas masih ada, kan?" Fahmi kembali bersuara. Menatap Bela, sang bendahara. Bela mengangguk dan Fahmi mengerti. "Oke. Jadi siapa aja yang mau ikut? Lima orang aja, ya. Pastinya gue ikut dong sebagai Ketua Kelas teladan dan panutan."
"Sombong lo, Mi." Gema langsung mencibir.
"Sa ae pantat panci." Mila turut mengata-ngatai. "Gue ikut, deh!"
"Gue juga dong! Memastikan buahnya dimakan Theo dengan baik." Bela mengajukan diri.
"Gue sama Gema!" sery Lili tak mau kalah, tak mau ketinggalan.
"Eh, gue disuruh buru-buru pulang sama Ibu cepet-cepet hari ini. Maaf, ya." Gema segera menolak dengan senyuman tak enak.
"Ampun, deh." Lili memutar bola matanya dengan jengah. "Tiap hari lo begitu."
"Ya, kalau Ibu lo bukan penjual kue basah gopean, lo nggak bakal ngerti, Li." Gema membalas lemah. Membuat Lili langsung merasa bersalah tengah bilang begitu.
"Gue aja, deh!" Adit tiba-tiba mengacungkan tangan dan mengajukan diri.
***
Dengan adanya Titi, Theo merasa bisa lebih cepat sembuh. Bahkan selalu ada senyum di wajahnya.
Laura yang melihat itu ikut damai dan tenang. Meski Titi agak terkejut dengan kedatangannya, anak bungsunya itu jelas senang dengan keberadaan Laura.
"Apa, Ti?" sahut Theo lembut.
"Tau nggak, Ayah ditangkap polisi. Titi barusan lihat di TV, lho." Titi jadi berbisik. Entah kenapa.
"Waktu Titi masih tidur, Kakak udah liat." Theo menjawab dengan nada yang turut dipelankan. Di wajahnya tercipta senyum geli.
"Sedih." Titi cemberut.
"Kan ada Kak Theo ... ada Ibu juga. Ngapain sedih?"
"Kakak lagi sakit juga." Titi semakin cemberut. "Leher Kakak kenapa pake plester besar? Titi khawatir banget, Kak. Kalau Kak Theo sakit suka nggak bilang-bilang, sih. Nyebelin. Keras kepala."
"Waktu main umpet-umpetan, Kak Theo nggak sengaja jatuh, terus leher Kakak kepentok ujung meja, deh."
__ADS_1
Titi berdecak gemas. Tak suka Theo tiba-tiba sakit begini saat Titi lagi nyenyak bobo di rumah Tamrin. "Kakak makanya jangan main mulu!"
"Tapi kamu suka ngajak main."
"Iya! Mainnya sama aku aja biar aman!" seru Titi jadi kesal.
"Iya, iya."
"Ish, Kakak bandel, deh!" Titi mencubit kecil lengan Theo hingga Theo meringis kecil sambil tertawa geli karenanya. "Titi nggak suka! Titi musuhan sama Kakak!"
"Yah, kok gitu? Nanti Kak Theo sendirian, dong?" Theo pura-pura sedih sambil mengerucutkan bibirnya.
"Bodo." Titi melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengalihkan pandangannya dari Theo. Merajuk.
Theo tertawa kecil melihatnya. Waktu dia mau buka suara, Laura tiba-tiba mendekatinya.
"Kamu nggak apa-apa kan kalau temen-temen kamu nengok?" tanya Laura. "Barusan Ibu ditelpon wali kelas kamu dan katanya temen-temen kamu bakal ke sini."
"Hari ini, Bu?" tanya Theo memastikan.
"Iya."
"Ya, nggak apa-apa." Theo mengangguk kecil. Namun, kemudian wajahnya jadi khawatir. Ada takut di sorot matanya. "Tapi Ibu di sini, ya. Temenin Theo."
"Lah, kenapa?" tanya Laura heran. "Bukannya bakal canggung kalau kalau ada Ibu? Ibu sama Titi bakal main di taman, kok. Kamu tenang aja."
"Justru kalau sama mereka doang, aku nggak nyaman, Bu."
"Kenapa?"
"Ya ... pokoknya gitu, deh, Bu." Theo enggan menjawab kalau kemungkinan besar Lili juga ikut datang dan membuatnya canggung.
"Jadi curiga." Laura menyipitkan matanya.
"Aku sebenarnya nggak punya teman di kelas, Bu." Theo akhirnya membalas. Meski tak seluruhnya salah. "Temen aku ada di kelas lain."
"Masa?"
"Iya, Bu." Theo jadi agak merengek.
Laura hanya tertawa. Kemudian tiba-tiba pintu kamar rawat Theo dikuak oleh seseorang.
__ADS_1
"Permisi ...."
Kepala Lili hadir di sana. Melongok dengan senyum canggung dan kaku.