
Ketika Joehee sampai di taxi, dirinya mendapatkan sebuah SMS dari ayah yang membuatnya tak mampu menahan mulut dan mata untuk terbuka lebar. Joehee segera menutup mulutnya, di susuk air mata yang mulai menggenang dan membuat matanya tampak berkaca-kaca.
Supir taxi yang menyupiri kendaraan ini melihatnya lewat cermin depan, kemudian dengan sigap, menyerahkan kotak tisu pada Joehee.
Joehee mengambil satu helai dengan refleks, untuk mengusap air matanya yang mulai menetes sebab isi pesan ayah sangat membuatnya haru sekaligus bahagia tak tertahankan.
Seumur-umur, Joehee tak pernah merasa sesenang dan jantungnya tak semendebarkan ini.
Datanglah ke alamat ini. Kita akan bertemu ibu dan saudaramu.
Joehee dengan cepat mengetik balasannya.
Oke, ayah!
Joehee tak pernah tahu jika ayahnya masih terus berusaha untuk menemukan ibu dan saudaranya bahkan setelah Joehee bilang dirinya tak apa-apa jika tak bertemu mereka. Joehee sudah merasa nyaman tinggal di sini dan itu sudah cukup.
Joehee juga bertemu orang-orang baik yang mengisi hidupnya.
Akan bertemu dengan ibu dan saudaranya jelas menjadi pelengkap hidup Joehee kini. Joehee memberitahukan alamat tujuannya pada bapak supir dan selama perjalanan, Joehee menatap kaca mobilnya. Jika dia ada di Korea, pasti salju telah turun dan banyak orang-orang yang menikmatinya.
Sesampainya di tujuan, Joehee berdeham gugup seraya memperbaiki tasnya. Dia kini sudah berdiri di depan pagar sebuah rumah yang jelas-jelas dimaksud ayah dalam pesannya.
Namun, sebelum ia membukanya, suara seseorang telah lebih dulu menginterupsi.
"Lah, Joehee?"
Itu suara Raihan.
"Lah, Kak Raihan?" Joehee bertanya dengan nada yang sama serta mimik wajah serupa.
"Ngapain di sini?"
Lucu, keduanya bertanya bersamaan.
Joehee mengerjapkan matanya berkali-kali. "Kok... kok bisa Kakak ada di sini?"
Raihan mengerutkan keningnya bingung. "Yang ada gue yang nanya kenapa lo bisa ada di sini, Joehee."
"Aku... aku ada urusan di sini."
"Ini rumah gue."
Jantung Joehee seperti berhenti berdetak untuk sesaat dan akhirnya berdetak amat kencang selanjutnya. Matanya membulat terkejut, mulai berair dan membuatnya berkaca-kaca lagi. Tangannya dengan refleks menutup mulutnya yang sudah terbuka lebar.
"Kakak...."
"Kalian udah saling kenal?"
Ayah Joehee tiba-tiba datang dari dalam dan menatap Riahan serta Ily dengan pandangan bingung. Membuat perhatian Raihan teralihkan dari Joehee.
"Waduh, bapak siapa, ya? Kok keluar dari rumah saya?" Raihan langsung bertanya begitu.
Ayah Joehee tersenyum bangga. "Kamu sudah lupa, ya?"
Raihan semakin mengerutkan keningnya, apalagi ketika melihat ibunya menyusul keluar dengan mata berair seperti Joehee. Raihan segera berlari khawatir mendekati ibunya.
"Ibu... ibu kenapa nangis?"
Ibu menarik napasnya dengan panjang. Kemudian menatap Raihan dengan senyum tertahan. "Ibu bahagia, nak."
Raihan masih bingung.
"Kamu ingin bertemu ayah kamu?" Ibu bertanya. Walaupun Raihan tak menjawabnya, ia tetap menunjuk ayah Joehee setelahnya. "Ini ayah kamu, Raihan. Dan gadis cantik yang di sana itu adik kamu."
Dunia Raihan seperti diterjang tornado seketika.
***
"Lo tau nggak, Za?"
Eza berdecak kala ditanya seperti itu oleh Ily. "Ya lo nggak ngasih tau, mana gue tau."
Ily menepuk lengan Eza dengan kesal. "Nggak apa-apa usah sewot napa."
"Terserah," tanggap Eza, seperti sudah lelah untuk berdebat dengan Ily hanya untuk masalah yang sepele.
Mereka berdua kini sedang makan di rumah makan Padang yang dekat dengan studio musik Eza. Ily sedang kosong kerjaan hari ini dan rasanya ingin keluar saja daripada di rumah. Sekarang, Eza sedang jam istirahat dan dengan hati terbuka ia setuju untuk makan siang bersama.
"Raihan ada cewek Korea."
"Hah?" Eza hampir tersedak. "Maksudnya?"
"Raihan deket sama cewek Korea," jelas Ily lebih lantang.
"Lah, terus lo cemburu?" tanya Eza langsung.
__ADS_1
"Nggak, ish!"
"Nggak, tapi kok marah?"
"Eza!"
"Apa, sih? Salah mulu gue perasaan," keluh Eza, tak terima diperlakukan sewenang-wenang oleh Ily.
"Gue nggak cemburu," tegas Ily merasa perlu.
"Yaudah, sih," balas Eza simpel.
Ily cemberut, menatap Eza dengan pandangan kecewa. "Lo nggak seru banget. Ah, gue kangen Elvan."
Eza terdiam. Mengingat teman lama yang sudah tak ada kabar itu dengan wajah sedih. "Harusnya, kita perlu berusaha nyari lagi nggak sih, Ly?"
"Harusnya, iya."
Eza tersenyum miris. "Kasian banget Elvan dapet temen-temen kayak kita."
"Tapi, Za. Setidaknya kita udah berusaha, bukan?" Ily membalas dengan wajah yang berusaha mencari pembenaran. "Ibu gue juga udah usaha buat hubungi bibi Alin, tapi nggak pernah dapat jawaban. Kita juga sibuk kehidupan masing-masing. Harusnya... setidaknya, Elvan hubungin kita, kan? Dia punya nomor gue, dia hafal nomornya gue."
Eza mengangguk setuju. "Iya, Ly. Lo bener."
"Gue nggak punya pulsa buat hubungin kalian. Sorry."
Suara itu membuat tubuh Ily dan Eza membeku. Suara yang telah lama tak terdengar dan kini tiba-tiba datang. Tanpa diduga, tanpa pemberitahuan. Ily dan Eza menatap sosok berbaju hitam dengan rambut gondrong dan kumis tipis itu dengan pandangan seperti tengah melihat hantu.
Ily yang pertama berdiri, menatap Elvan dari atas sampai bawah dengan pandangan tak percaya.
"Van... ini... bukan mimpi, kan?"
Elvan tersenyum, jelas-jelas membuat kehidupannya tampak seperti mimpi bagi Ily. Karena Elvan sudah lama tak terlihat tersenyum selebar itu. Bahkan sampai matanya menyipit.
"Ini bukan mimpi, Ly," jawabannya dengan suara bariton yang terdengar dewasa.
Ily tak kuasa menahan air matanya, langsung sana memeluk Elvan dengan erat. Tak peduli bahwa ini tempat umum atau kelakuannya ini dapat menganggu orang lain.
Yang Ily pedulikan saat ini adalah mengikis rindunya dengan mencium wangi Elvan dalam-dalam. Sementara itu, di sampingnya, Eza ikut berdiri, menatap Elvan dengan senyuman bangga khas laki-laki.
Elvan membalas pelukan Ily sama eratnya. "Apa kabs, Ly?"
"Baik, Van." Ily melepas pelukannya dan menatap Elvan dengan tatapan menuntut. "Lo hutang banyak cerita ke gue. Pokoknya, hari ini ceritanya harus lengkap, jelas dan nggak ada yang dipotong-potong atau direkayasa."
Elvan tertawa. "Oke-oke. Santai."
***
"Jadi, lo pengen ketemu bos ayah lo, tapi pake jalan gelap nggak halal gitu?" simpul Ily dengan mata membulat sempurna. Ketika Elvan mengangguk saja, Ily membuang napasnya tak percaya dan langsung minum untuk membahasi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.
"Van, kalau lo bilang, kita-kita bisa bantu dari awal," kata Eza merasa harus menyampaikan. "Daripada bikin gue sama Ily terus kepikiran dan khawatir, lo bisa tinggal di sini bareng kita-kita. Pasti kita bantu, ada orang tua Ily juga yang pastinya nggak keberatan kalau-kalau lo sama ibu lo mau ikut tinggal di rumahnya."
Elvan menarik napas sabar. Sudah bertahun-tahun bertemu banyak orang, Elvan tahu bagaimana sikap yang bagus untuk ditunjukkan pada orang-orang yang banyak bicara seperti Eza.
"Kalau kepepet banget, lo bisa nebeng bareng gue sama om dan bibi," tambah Eza agak heboh. "Iya, nggak, Ly?"
Ditanya tiba-tiba, Ily mengangguk asal. "Iya, Van!" serunya tanpa berpikir panjang.
Elvan memejamkan matanya untuk lebih sabar lagi, meski sebenarnya ada sepercik perasaan untuk menyemprotkan kata-kata kasar dan makian pada Ily dan Eza yang tak mengerti situasi.
"Udahlah. Nggak ada lagi yang bisa berubah sekalipun kalian ngomel sampai besok pagi. Takdir gue memang begini." Elvan tersenyum tanpa mencapai matanya. "Jadi, jangan salahkan kalau gue agak kasar waktu kalian lagi-lagi ngomel tentang kenapa gue pergi dan akhirnya jadi begini."
Ily dan Eza sontak terdiam. Memikirkan perkataan Elvan dan membuat mereka sadar sepenuhnya bagaimana perasaan Elvan.
Ily menarik napas, mengeluarkannya pelan-pelan dan menatap Elvan dengan khawatir. "Tapi, lo baik-baik aja, kan? Nggak pernah ada kejadian yang bikin lo luka-luka, kan?"
Elvan tersenyum miring. Tanpa ragu, ia menyingkap kaus hitamnya dan menampilkan kulit dada dan perutnya yang sudah penuh akan luka jahit. Kita-kita ada lima luka hasil goresan pisau, kemudian yang paling mengerikan adalah adanya luka tembak di lengan atas bagian kirinya saat Elvan turut membukanya.
"Gue nggak mau ada rahasia lagi, jadi gue ungkap semuanya," kata Elvan santai, seolah barusan dia hanya memamerkan tato khas tangan orang ternama.
Jelas saja, Ily dan Eza kembali dibuat tak bisa berkata-kata.
Mulai dari perjalanan Elvan setelah meninggalkan mereka, harus tinggal di asrama preman, bertarung tiap malam, menguji nyali dan mengancam nyawa sepanjang waktu hingga akhirnya bisa sampai ke tempat tujuannya.
"Besok gue akan ketemu orangnya," lanjut Elvan memberikan kejelasan. "Hari ini gue dibolehin ke mana aja asal nggak membuat masalah. Gue bingung harus ke mana, sampai akhirnya teringat kalian. Ily. Eza."
Ily tersenyum haru. Air matanya hampir menetes kalau dia tidak tiba-tiba merubah emosinya.
"Lo nggak hati-hati banget! Itu luka banyak banget kayak bos mafia aja lo. Lo Masih muda, Van. Please, jangan main bahaya. Mending main sama gue atau Eza." Ily berkata begitu dengan nada kesal bercampur marah.
"Itu luka.... masih sakit, Van?" Eza bertanya kemudian.
Elvan mengangkat bahunya santai. "Udah kebal, Za. Lagian lukanya juga udah lumayan lama. Waktu gue masih amatir."
"Terus sekarang lo udah pro?" tanya Ily cepat. "Lo udah pernah lukain orang?"
__ADS_1
"Orang jahat, Ly," jawab Elvan mencari pembelaan diri. "Gue mana sanggup nyakitin anak orang yang baik-baik. Semuanya, orang-orang yang gue lawan sepanjang jadi pengawal Juna, pada jahat-jahat. Misalnya nih ya, pencopet, tukang mabuk, tukang malak dan bahkan ada yang pernah terkait kasus 3P."
"3P?" Eza mengerutkan keningnya.
"Pencurian, Pemerkosaan dan Pembunuhan."
"Buset." Eza tercengang. "Jadi, lo udah benar-benar berada di posisi kayak film-film action, ya?"
"Kurang lebih begitu." Elvan kini pembawaannya sudah sangat kalem dan dewasa.
"Eh, bentar apa kata lo tadi?" Ily tiba-tiba bertanya lagi untuk memastikan. Matanya menatap Elvan penuh selidik dan curiga.
"Kurang lebih begitu," balas Elvan polos.
"Bukan," tukas Ily seraya menggelengkan kepalanya dengan gusar. "Kalimat sebelum itu."
"Penculikan, Pemerkosaan dan Pembunuhan."
"Bukan itu, yang sebelumnya lagi."
"Misalnya nih, ya, pencopet, tukang mabuk, tukang malak dan bahkan ada yang pernah terlibat kasus 3P."
"Van, bukan yang itu. Yang sebelumnya lagi."
Elvan berpikir keras, mengingat-ingat apa yang sebelumnya ia katakan untuk menjawab pertanyaan Ily. "Semuanya, orang-orang yang gue lawan sebagai pengawalnya Juna---"
"Stop," potong Ily dengan mata menyipit penuh curiga. "Lo bilang jadi pengawalnya Juna?"
"Oh, gue belum cerita tentang itu," tukas Elvan paham akhirnya. "Gue di Bandung, ketemu Juna. Kebetulan, ayahnya juga kenal sama bos ayah gue. Gue direkrut jadi bawahan Juna supaya bisa ngomong sama ayahnya dan gue akan minta untuk dipertemukan sama mantan bos ayah gue sebelumnya. Gue mau tanya langsung, kenapa ayah gue diberhentikan begitu saja dari pekerjaannya."
Mulut Eza terbuka lebar, wajahnya lagi-lagi menjelaskan betapa terkejutnya ia kini. Ily juga menunjukkan relasi yang tak jauh berbeda. Bahkan lebih berlebihan karena Ily segera meneguk segelas air putih untuk menenangkan dirinya.
"Gila, gila, gila. Udah berapa kali gue dibikin kaget sama cerita lo, Van?" tanya Eza tak paham.
"Ya, namanya juga hidup, Za. Nggak seru kalau nggak ada kejutan," balas Elvan santai.
"Kok bisa?" tanya Ily tak habis pikir.
Elvan mengangkat kedua bahunya, tak tahu juga. "Semuanya terjadi gitu aja, Ly."
"Tapi, Van, hidup gue kok lurus-lurus aja?" Ily bersuara begitu kemudian.
"Serius?" Elvan balik bertanya dengan senyum penuh arti, senyum yang sebelumnya tak pernah ia tunjukkan di depan Ily dan Eza. "Kalau begitu, bagus. Lo harusnya bersyukur. Banyak banget manusia yang mengharapkan kehidupan di dunia ini jadi lurus-lurus aja."
Sepertinya, lima tahun adalah waktu yang sangat berat sekaligus berarti buat Elvan karena kini, laki-laki yang selalu tampak bercanda dan bodoh berubah.
Menjadi dewasa. Amat dewasa.
Karenanya, Ily dan Eza iri.
***
Ke sebuah kamar hotel yang berada di lantai 1, Elvan masuk setelah membuka kunci yang menjaga pintu tersebut agar selalu aman. Apartemen itu khusus disewa untuknya serta yang lainnya untuk mengawal dalam pertemuan ayah Juna dan mantan bos ayah Elvan besok pagi.
Ketika sampai di dalamnya, lampu apartemen mati. Ruangan menjadi sangat gelap dan yang Elvan lihat hanya jendela tertutup gorden yang memantulkan sedikit cahaya.
Wajar, sudah tengah malam. Pasti semuanya tidur.
Elvan mengela napas, merasa bersyukur karena tak perlu menceritakan ke mana saja dia hari ini. Sebab dilihat dari ponselnya, banyak sekali telepon dari rekan satu timnya yang Elvan reject karena sedang bercengkrama dengan Ily dan Eza.
Sekaligus melepas rindu dan bertukar cerita.
Rupanya, kehidupan dua temannya itu baik-baik saja selama ini. Bahkan sangat baik hingga membuat Elvan sedikit iri.
Ily berhasil lulus sebagai lulusan jurusan Sastra Inggris dan sudah mendapatkan pekerjaan. Selain itu, kini Ily juga punya setengah butik yang bertempat sama dengan milik Bu Rima, ibu Raihan.
Elvan sempat khawatir mengenai hubungan Ily dengan Raihan, namun Ily menjawabnya dengan kenyataan sesuai harapan Elvan. Ily tak pernah berpikir akan bersatu dengan Raihan dengan perasaan yang sama.
Itu jelas kabar bagus karena Elvan tak bisa mempercayakan kebahagiaan Ily pada laki-laki mana pun sejauh ini. Meski dia sebenarnya kasihan pada Raihan yang selama ini telah setia dan menemani Ily Di segala cuaca, namun yang laki-laki Malang itu dapatkan hanya penolakan.
Eza lain cerita. Sekarang, dia sudah punya album dan fans sendiri. Elvan turut senang karenanya, meski dalam hatinya, sedikit, ia merasa ingin sekali berada di tempat yang sama seperti Eza.
Elvan juga ingin punya panggung sendiri untuknya bersinar, namun sudahlah. Waktu sudah berlalu, tak bisa diputar ulang hanya untuk merubah sesuatu yang jelas-jelas akan menghasilkan sesuatu yang buntu.
Yang jelas, tujuannya akan tercapai sebentar lagi. Pertanyaannya selama ini akan terjawab dan tak ada lagi abu-abu yang menghalangi langit biru untuk dia pandang dan bernapas.
Ketika Elvan membuka kulkas, suara seseorang membuatnya terdiam sebentar karena terkejut.
"Ke mana aja?"
Itu jelas suara Bang Jefri. Rupanya dia tak tidur di sofa itu, rupanya Elvan kurang siaga. Terpaksa, dia harus menceritakan pertemuan antara dirinya dengan Ily dan Eza meski sudah merasa sangat leleh dan mengantuk.
Demi menjaga kepercayaan Bang Jefri dan kesuksesan untuk mencapai tujuan tujuannya.
Besok, adalah hari yang besar.
__ADS_1
***
apa yang membuat kalian stay membaca sampai sini? buat aku tersentuh kalau bisa^^