
Sesampainya Ily dan Eza di sebuah rumah hijau tosca berpagar hitam, keduanya langsung menggedor-gedor gerbangnya tanpa peduli akan ditampilkan tetangga karena pagi-pagi sudah bikin kerusuhan.
"ELVAAAAAN!"
"ELVAN, WOI, BUKA!"
"ELVAAAAAN!"
Eza dan Ily saling bersahutan untuk berteriak. Seolah sedang berlomba dan ingin menjadi pemenang bagaimana pun caranya. Namun, saat Ily mencoba untuk menariknya, dengan mudahnya gerbang itu terbuka.
Sontak, teriakan keduanya berhenti begitu saja.
"Lah, dibuka," kata Ily seraya menggeleng tak percaya. Ekspresi wajahnya tak jauh beda dengan Eza.
Dalam hati, keduanya merutuki diri karena merasa sangat bodoh. Jika semua orang melihat mereka, tentu mereka yang melihat akan segera mengambil kerikil terdekat untuk menyuraki dua insan bodoh itu.
Beruntung ini masih pagi, masih belum pada bangun dan tak banyak orang. Ily Dan Eza melangkah ke pekarangan rumah Elvan seolah akan masuk rumah sendiri. Bahkan menginjakkan kaki di teras rumahnya, mereka berdua tak tanggung-tanggung.
Sampai akhirnya tiba di depan pintu. Ily mengetuk sebentar sebelum akhirnya Eza lebih dulu menarik kenop pintu dan membuatnya terbuka. Membuat pemandangan yang seharusnya tak mereka lihat kini terpampang nyata.
Elvan dengan wajah, lengan, kaki serta mungkin bagian tubuh yang tertutup kain pakaian yang memar-memar dan beberapa tampak luka yang memancarkan darah, laki-laki itu duduk di sofa dengan gestur tubuh seperti anak kehilangan separuh jiwanya.
"Elvan!"
Keduanya berseru bersamaan, namun tak membuat Elvan menolehkan kepalanya. Laki-laki itu tetap menunduk dengan mata terpejam. Sementara Eza langsung menghampiri Elvan, Ily berlari ke arah dapur untuk mengambil kotak P3K yang berada di atas kulkas. Hampir seumur hidup ia main ke rumah Elvan, tentu Ily hafal di mana letak barang-barang tertentu.
Secepat itu, Ily berada di hadapan Elvan dan Eza yang duduk di sofa. Ily sengaja duduk di bawah untuk menatap wajah Elvan. Tangannya dengan lembut menyentuh tangan Elvan yang terluka.
"Van, diobatin dulu, ya, sini," kata Ily seraya menuntun kecil lengan Elvan supaya lebih mudah diobati; supaya lengan itu tak dipakainya untuk menumpu.
__ADS_1
Beruntung, Elvan tak keras kepala dan membiarkan Ily merawat lengannya yang baru Elvan sadari, banyak terdapat luka-luka.
"Van, lo kenapa sih?" Eza langsung bertanya kesal saat sebelumnya telah meneliti teman dekatnya itu dengan pikiran yang tak bisa tenang.
Elvan menoleh, namun tak menjawab. Wajah laki-laki itu tampak tak hidup, tampak amat putus asa dan lelah. Matanya balas menatap mata Eza yang penuh kekhawatiran dengan mata kosong.
"Woi, Elvan!" Eza terpaksa berteriak. Sebab sudah terlalu lelah untuk bersabar. Teriakkannya membuat mata Elvan mengerjap. "Jawab gue, Van."
"Jawab apa, Za?" Elvan balas bertanya dengan suara lelah.
"Jawab pertanyaan gue dengan benar. Lo kenapa bisa jadi kayak gini? Lo ada masalah apa?"
Elvan tertawa kecil, terdengar dipaksakan. "Lo udah liat semuanya. Ini yang gue alami, Za. Nggak perlu lagi penjelasan."
"Jangan bercanda, Van." Ily berdecak tak suka. Meski masih sibuk menitikkan alkohol pada luka terbuka di lengan Elvan, telinganya dengan aktif mendengarkan. " Kemarin juga lo panggil gue dan bercanda. Lo tau, lo yang seperti ini nggak gue suka. Eza juga nggak suka. Lebih baik sekarang lo jujur aja. Seburuk apapun masalah lo, kita nggak akan pernah ketawain."
Elvan balas menatap Ily dengan menunduk. Wajah perempuan itu sangat cantik dan berbeda dengan riasan wajah. Biasanya, Elvan akan memuji setengah meledek Ily. Namun, sekarang tak ada lagi Elvan yang seperti itu.
"Gue nggak punya masalah, Ly."
Ily mengeraskan tulang rahangnya. "Bohong."
"Van, *****," keluh Eza seraya berdecak. "Jangan keras kepala gini. Lo terluka dan jelas kita khawatir. Setidaknya jangan bikin kita stress karena nggak tau cara hibur lo karena nggak tau apa masalah yang lo alami."
"Jangan sok peduli lo." Elvan berkata dingin. Kemudian menarik tangannya dari Ily karena merasa pengobatan pertama itu telah selesai dilaksanakan, untuk setelahnya bangkit tanpa peduli tatapan kedua sahabatnya itu sudah sangat kesal. "Makasih, Ly."
Elvan melanjutkan langkahnya keluar rumah, entah kemana tujuannya. Dirinya tak peduli lagi rumah ataupun dengan apa yang ada di dalamnya. Sebab semua kebahagiaan yang awalnya tersimpan di dalamnya kini telah raib begitu saja.
Eza langsung bangkit. "Van, kalau gini cara main lo, gue rasa gue nggak akan bisa nyambung lagi sama lo."
__ADS_1
Elvan berhenti melangkah. Berbalik perlahan dengan tersenyum tipis di ujung bibirnya. "Silahkan pergi, Za. Kalau mau lo itu, gue nggak akan maksa."
"Elvan," rengek Ily hampir putus asa. Perempuan itu susah payah menggapai lengan Elvan karena beberapa kali tersandung gaunnya sendiri. "Van, gue mau ngomong sesuatu."
"Apa, Ly?" Elvan bertanya cepat. "Gue mau pergi. Yang singkat aja bilangnya."
"Gue tau..." Ily meneguk ludahnya susah payah. "...ayah ibu lo cerai."
Ily tak mau tahu bagaimana ekspresi Elvan saat ini. Oleh karenanya, ia menunduk dalam. Bagaimanapun, hal yang dikatakannya sangat sensitif dan terkesan sok tahu. Namun, setelah Ily sekali lagi meneliti rumahnya yang berantakan ini, akhirnya Ily mantap untuk menyampaikannya.
Bagaimana foto keluarga pecah, bagaimana potongan lembaran album keluarga berceceran dan bagaimana cincin komitmen tergeletak begitu saja di karpet sofa.
Bukannya semua itu menunjukkan pada satu hal?
Elvan masih diam saat sekitar satu menit berlalu. Eza hanya terdiam karena baru mencerna dan memikirkan hal tersebut. Berbeda dengan dua laki-laki itu, Ily merasakan jantungnya bagai ingin meledak saking cepatnya ritme degupannya.
"Van...?" Ily ternyata pelan. Seiring itu, kepalanya perlahan mendongak untuk memeriksa ekspresi Elvan.
Wajah Elvan itu sulit diartikan. Entah memendam apa, namun senyum miring yang entah mengapa sangat mudah diingat meski Ily baru hari ini melihatnya sangat jelas terbentuk dalam ingatan Ily.
"Tau darimana, deh?" tanya Elvan dengan senyum lebar yang terlihat aneh. Gigi-gigi terlihat dan senyuman itu tak sampai pada matanya. "Aduh, malu gue. Sekarang pengen nangis."
Ily menarik napas lega. "Nangis aja, Van. Sini, gue peluk!"
Eza ikut berlari menghampiri keduanya saat Ily memeluk Elvan dengan erat. Tanpa malu-malu lagi, Eza ikut memeluk keduanya seperti sebuah keluarga.
Dalam hitungan detik, tangis Elvan pecah.
Keluarganya memang pergi, namun keluarga lain menemaninya lagi.
__ADS_1
***