Dari Korea

Dari Korea
15


__ADS_3

"Yohan," sapa Tiffany riang, ceria dan bersemangat saat dia berpapasan dengan Yohan yang baru saja keluar dari lapangan menuju koridor untuk kembali ke kelasnya. Awalnya Tiffany senang, namun melihat wajah Yohan yang terlihat lelah dan tangannya yang terluka, membuat Tiffany langsung khawatir. "Kamu kenapa?"


Mata Tiffany kian membulat saat melihat siku Yohan yang berdarah dan kulitnya mengelupas mengerikan. Ia segera menarik tangan Yohan sambil berlari menuju UKS.


"Aku obati, ya!"


Yohan hanya pasrah, toh dia juga butuh pertolongan dan tak ada salahnya untuk menerima kebaikan dari perempuan yang terlihat sangat bersemangat untuk menarik perhatiannya ini.


Sampai di depan UKS, Tiffany berhenti. Yohan tak sempat bertanya meski keheranan saat gadis itu langsung masuk tanpa menjelaskan apapun. Namun tak lama kemudian, Tiffany muncul dengan kotak P3K di tangannya. Ia mengambil tangan Yohan dan menariknya untuk duduk di kursi semen terdekat. Beruntung tempat duduk mereka dinaungi oleh pohon sehingga keduanya tampak nyaman.


Tanpa kata, Tiffany membuka kotak pertolongan pertama itu dan mengambil alkohol untuk setelahnya ia tuangkan pada kapas dan ditotolkan pada luka di siku Yohan.


"Alkohol berfungsi untuk mencegah infeksi dan membersihkan luka. Mungkin akan terasa agak perih, namun alkohol juga dapat mencegah adanya bekas luka. Pada intinya, ini untuk kesembuhan kamu juga," jelas Tiffany lancar, seolah dirinya memang telah terbiasa seperti ini.


Sebenarnya Yohan merasa perih, ingin meringis dan menjauhkan lengannya dari genggaman tangan Tiffany, namun sesuatu menahannya. Dari sini, ia dapat melihat buku mata lentik Tiffany dan bagaimana raut serius gadis itu saat memberi obat merah pada lukanya, kemudian menutupnya dengan kain kasa dan dibalut plester pada akhirnya. Yohan seolah membeku, tak mampu berkata-kata.


Tiffany ... sungguh cantik.


Dia sudah hidup sedemikian lama dan tak pernah bertemu dengan orang seluar biasa Tiffany. Maksud Yohan, dia belum pernah mendapat perhatian seperti ini dari seorang gadis cantik. Entah apa yang menghalangi mata Yohan saat pertama kali mereka bertemu, tapi sekarang Yohan seperti sedang melihat bidadari.


Di sekolahnya yang dulu, dia belum pernah dekat dengan seorang gadis sebab di sana banyak sekali saingan Yohan. Terlebih lagi ada sesuatu pada diri Yohan yang membuatnya sulit untuk disukai perempuan. Jelas, itu karena wajah datar dan mata tajamnya yang kadang-kadang menggambarkan betapa garangnya dia.


Padahal, Yohan memang seperti itu dan dia tidak menjelaskan pada orang-orang atau berbicara ramah dan menyapa ketika bertemu, karenanya rumor Yohan yang garang tersebar dan tak sedikit dari mereka yang takut akan kehadiran Yohan.


Yohan juga punya sabuk hitam taekwondo.


"Nah, selesai," kata Tiffany setelah menyelesaikan pekerjaan pada siku Yohan, membuyarkan lamunan Yohan. Kemudian Tiffany menatap Yohan dengan lembut. "Ada lagi yang luka?"


Yohan yang awalnya hanya fokus melihat Tiffany langsung tersentak. Ia berdeham sambil memalingkan muka, kemudian kembali lagi menatap Tiffany.


"Tidak," jawabnya kemudian. Suaranya pelan dan agak gugup, namun Tiffany tak menyadarinya.


"Baguslah," balas Tiffany seadanya, "tunggu di sini, ya," lanjutnya, kemudian menutup kotak P3K dan beranjak untuk mengembalikannya ke UKS.


Seperti yang dikatakan Tiffany, Yohan diam menunggunya. Ia melihat hasil pekerjaan Tiffany dan secara perlahan hatinya menghangat. Yohan mengernyit menyadari hal itu, menanyakan pada dirinya sendiri mengapa sampai terjadi hal ini.


***


"Itu artinya kamu naksir dia, Yohan."


Ily berkata dengan nada jahil saat bertanya mengapa Yohan punya luka dan Yohan bercerita mengenai dirinya yang diobati Tiffany. Kemudian Tiffany membelikan susu kotak rasa cokelat untuk Yohan dan Yohan bertanya pada Ily kenapa dia begitu malu saat mengalami hal itu. Yohan tak sanggup bicara dan gugup saat sedang bersama Tiffany.

__ADS_1


Ketika kembali sehabis mengembalikan kotak P3K ke UKS, Tiffany meraih tangan Yohan lagi untuk dibawa ke kantin. Yohan tak bisa bicara apa-apa sampai akhirnya Tiffany membeli satu susu kotak berperisa cokelat untuknya.


"Cepat sembuh, ya," katanya berharap dengan senyuman lebar tercipta di wajahnya yang jelita.


Yohan mengangguk patah-patah, entah mengapa jadi segugup ini berada di hadapannya.


"Kita duduk dulu, yuk, aku ingin bicara," ajak Tiffany, langsung melangkah menuju salah satu meja kosong di kantin yang mulai sepi karena bel telah berbunyi beberapa saat yang lalu.


Hanya mampu menurut lagi, Yohan merasa dirinya bodoh dan miris karena tak bisa mengendalikan diri. Seharusnya dia terlihat tegas dan berwibawa, bukan lemah seperti ini.


Ketika mereka telah duduk berhadapan, Tiffany hendak membuka mulutnya untuk bicara saat teleponnya berdering di saku roknya. Tiffany meringis, tersenyum minta maaf dan menerima telepon itu tanpa melihat nama si penelepon.


Raut wajah yang awalnya tenang dan cantik kini berubah panik dengan mata melotot. Yohan tertawa kecil melihat bagaimana lucunya perubahan ekspresi yang drastis itu.


"Yohan, aku ada kelas. Ini gawat dan aku harus buru-buru. Maaf, ya, kita bicara lain kali saja," kata Tiffany menjelaskan dengan cepat seraya beranjak. "Dah!"


Yohan hanya mampu menatap kepergian Tiffany dengan perasaan bingung. Dia bingung mengapa dirinya begitu lega sekaligus merasa kehilangan saat ditinggal Tiffany. Dan jauh dalam lubuk hatinya, ia berharap Tiffany tak pergi dan membuat Yohan penasaran dengan apa yang ingin gadis itu bicarakan padanya.


Jelas Ily tertawa atas sifat polos Yohan saat kenyataan bahwa dirinya sedang menyukai Tiffany terbukti jelas. Dibaliknya wajah datar dan berprestasi itu, rupanya ada hati sepolos anak SD saat dia sedang jatuh cinta.


"Kamu suka dia, Yohan," tambah Ily sambil membereskan tempat makannya yang telah kosong karena sudah dilahap.


"Ah, aku masih tidak mengerti," keluh Yohan sambil memegang dadanya dan menatap susu cokelat pemberian Tiffany dengan perasaan aneh. "Kenapa aku bisa menyukainya secepat itu? Aku rasa saat pertama aku dan Tiffany bertemu, aku sangat tak menyukainya. Dia terlihat menyebalkan."


Yohan berdecak meremehkan, menatap Ily dengan ragu dan mengangkat alisnya dengan gaya menilai. "Memangnya kamu pernah mengalaminya?"


Pipi Ily langsung memerah. Ia berdeham untuk menutupi salah tingkah dan beralih membuka buku tugasnya. Jelas, Ily telah mengalaminya dan ia malu karena orang yang dimaksud ada di depannya, sebagai orang yang bertanya.


"Kamu kenapa lama tadi? Bukannya hanya mengembalikan buku perpustakaan?" Ily bertanya hal lain, mencoba untuk mengalihkan topik.


Tadi Yohan memang ijin untuk mengembalikan buku perpustakaan yang dipinjam minggu kemarin saat istirahat tiba. Ily mengijinkan, sementara Ily makan, Yohan membeli makanan di kantin dan belajar untuk makan sendiri. Yohan awalnya menolak, masih merasa asing, namun Ily memaksanya dan akhirnya Yohan menurut. Ily kira Yohan akan kembali sepuluh menit lagi, namun justru sampai bel masuk berbunyi kembali, Yohan belum juga ke kelas.


Awalnya Ily sempat khawatir dan berniat untuk mencarinya untuk menyusul. Namun mendengar Bu Ami yang seharusnya masuk sebagai guru Seni Budaya di kelas Ily setelah istirahat berakhir tiba-tiba harus menghadiri rapat dan hanya memberi tugas, Ily memutuskan untuk menunggu Yohan saja.


Hingga akhirnya laki-laki dari Korea itu muncul sepuluh menit kemudian.


Yohan mengangkat bahunya acuh. "Sepupumu mencari masalah dan aku menyelesaikannya saat itu juga."


Kening Ily mengerut, ia langsung menoleh pada Yohan dengan wajah bingung sekaligus penasaran. "Elvan? Dia mencari masalah bagaimana?"


"Aku kurang mengerti bagaimana jelasnya, tapi yang pasti masalah itu sudah selesai dan kamu tidak perlu khawatir," jelas Yohan seperti tak mau membahas lebih lanjut.

__ADS_1


Dan Ily mengerti gelagat itu. Ia berlanjut mengambil balpen dan menuliskan tanggal pada pojok kanan bukunya. "Kita diberi tugas untuk menyiapkan pertunjukan gitar minggu depan."


Yohan langsung menoleh dan mendekat untuk melihat apa uang dicatat Ily di bukunya.


"Aku akan bernyanyi In My Blood yang dinyanyikan Shawn Mendes, suamiku," kata Ily menjelaskan tanpa diminta saat sedang menulis liriknya. "Kamu mau bernyanyi apa?"


Yohan berdecih. "Suami, suami," ledeknya merasa jijik. "Suami adalah seseorang yang mencintaimu, memperjuangkanmu, membahagiakanmu dalam ikatan yang resmi dan bukan main-main."


Ily berhenti menulis, menatap Yohan dengan mata geli dan senyum masam. Entahlah, Yohan saja menahan tawa saat melihat ekspresi wajah yang sangat aneh milik Ily.


"Kamu ... itu dari KBBI?" tanya Ily merasa ngeri sendiri. "Kamu menghafal semua isi KBBI, ya?"


"Itu menurutku sendiri," jawab Yohan santai, berbeda dengan Ily Yang langsung melotot terkejut sampai tak bisa berkedip.


"Serius? Kok kamu sudah mengerti yang seperti itu?"


"Aku menjawab acak aja, sesuai dengan apa yang ada di pikiranku."


"Aduh! Kocak!" seru Ily sambil tertawa keras, saking kerasnya membuat anak-anak kelas sempai berhenti bersuara karena heran dengan suara tawa Ily. Anak-anak yang lain juga sedang pada kegiatannya masing-masing, jelas agak terganggu dengan tawa yang tak santai itu.


"Maaf, ya, teman-teman, Ily kurang obat," kata Yohan pada anak-anak kelas sambil meringis. Anak-anak hanya berdecak kemudian kembali pada pekerjaannya masing-masing.


Yohan memang telah mengenal mereka berkat bantuan Ily, namun tak bisa dekat dengan mereka sebab merasa tak nyaman.


Ily menepuk lengan Yohan merasa tersakiti. "Aku nggak sakit dan nggak kurang obat!" Kemudian Ily beralih pada anak-anak kelas. "Maaf ganggu!" serunya menyesal. "Kamu jangan sembarang, ya!" serunya lagi pada Yohan, kali ini dengan suara pelan seperti hampir berbisik.


"Habisnya kamu tertawa seperti orang sakit," balas Yohan membela diri. "Memangnya selucu itu, ya?"


"Bukan lucu, tapi aneh saja. Kamu seperti bucin," kata Ily tiba-tiba tertawa lagi, kali ini tawanya kecil dan terdengar lucu di telinga Yohan. "Pasti setelah bertemu Tiffany dan jatuh cinta padanya, kamu jadi bucin."


"Bucin?" Yohan langsung bertanya dengan kening mengerut bingung. "Bahasa apa lagi itu?"


"Bucin adalah singkatan. Budak cinta. Artinya adalah orang yang sangat lebay saat sedang jatuh cinta. Dia jadi alay dan mengatasnamakan segalanya dengan cinta seolah cintamu itu yang paling besar di dunia. Segalanya dilakukan dengan perasaan cinta dan terdengar sangat-sangat jijik oleh orang biasa," jelas Ily santai. "Contohnya aku yang mendengar dan melihat tingkah bucinmu, Yohan."


"Iw, aku tak seperti itu. Aku tidak bucin," kelakar Yohan percaya diri. Dengan wajah tegas, serius dan mata tajamnya.


"Aku akan membiarkanmu bersenang-senang," balas Ily tak mau menyangkal pernyataan Yohan dan malah berdebat untuk buang-buang waktu.


Yohan memutar bola matanya, terlihat kesal dan agak marah. Ia bahkan melipat tangannya dan memalingkan wajahnya dari Ily.


Ily melihatnya dengan geli, ia mengangkat kedua bahunya kemudian melanjutkan pekerjaannya sambil meledek Yohan diam-diam.

__ADS_1


***


__ADS_2