Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 26


__ADS_3

Ily ke toko buku hari ini. Mencari buku berisi bank soal bahasa Inggris untuk anak kuliahan. Baru lima menit dia di sini dan belum menemukan buku yang cocok.


Saat menemukannya, buku itu berada di rak tertinggi dan Ily sulit untuk menjangkaunya bahkan setelah ia loncat-loncat seperti anak kecil. Hendaknya ia meminta tolong petugas toko, ketika sebuah tangan lebih dulu terulur membantunya mengambil buku yang dimaksud.


Ketika Ily melihatnya, sambil mendongak karena orang itu tinggi sekali, otomatis senyumnya tercipta.


"Makasih." Ily berkata seperti itu ketika Raihan menyerahkan buku yang ia inginkan padanya.


"Sama-sama." Raihan balas tersenyum. "Kebetulan banget ketemu di sini. Mau belajar bareng?"


"Awas kayak kemarin," peringat Ily agak kesal.


"Ya, kemarin juga kan lo pulangnya ke Elvan. Harusnya ke perpus juga."


"Ya tapi dari pagi lo ngajakin jalan-jalan mulu."


Raihan mengela napas kecil. "Ya, maaf. Kan wajar gitu, gue jarang ketemu sama lo dan pengen jalan-jalan gitu sekalinya ketemu."


Ily tersenyum segaris. "Iya-in."


"Ye, Ily," keluh Raihan berusaha untuk sabar. "Gue dibercandain ah, nggak suka."


"Siapa yang bercandain lo?" Ily bertanya heran. "Perasa banget sih ini anak."


Raihan cemberut. Dan Ily bersumpah, ingin sekali menjadikan Raihan sebagai gantungan ponselnya saling lucu melihatnya seperti itu. Dengan baju putih polos yang cocok dengan kulitnya, serta jeans hitam robek di lutut kanannya, Raihan sudah pas untuk dipajang dan dijual untuk diborong para ABG mabuk cinta.


"Dahlah, gue mau bayar dulu," cetus Ily, segera melangkah mendahului Raihan ke kasir. Raihan turut mengikuti dan itu membuat Ily heran.


Jika normalnya orang-orang pergi ke toko buku untuk membeli buku atau alat tulis, Raihan justru keluar tanpa membeli apa-apa. Saat di perjalanan menuju perpustakaan, Ily mengerutkan kening dan akhirnya bertanya.


"Ngapain deh ke toko buku?"


Raihan terdiam sebentar. Terlihat berpikir dan membuat Ily main curiga. Sebab siapapun yang berpikir sebelum menjawab suatu pernyataan, itu artinya orang itu hendak berbohong dengan menyiapkan jawaban lain yang tak sesuai dengan kenyataannya.


"Ngikutin gue, ya. Cieleh, kentara banget," ledek Ily sudah percaya diri tingkat dewa.


"Idih, siapa yang ngikutin lo." Raihan membalas sewot. "Gue cuma liat-liat buku, siapa tau ada yang baru gitu. Eh, malah ketemu lo. Cuma kebetulan napas, geer banget."


"Nggak usah sewot juga kali," balas Ily dengan senyum geli. Justru reaksi Raihan yang menurutnya berlebihan itu membuatnya semakin yakin bahwa tebakannya benar.


"Ya, ini nggak sewot, cuma tegas aja."


"Kedengarannya sewot di gue, Han."


"Terserah."


Rasanya aneh Raihan bisa berubah seperti ini. Jika dulu laki-laki itu selalu tertawa geli setelah berdebat, sekarang wajahnya tampak serius sekali seperti menganggap Ily itu musuh. Perubahan kecil ini sangat Ily sayangkan.


Ily jadi kangen masa dulu.


Perpustakaan yang tak jauh dari toko buku yang sebelumnya disinggahi Ily dan Raihan membuatnya kedua sampai tidak lama kemudian. Ruangan penuh buku yang tenang segera menyambut keduanya saat tiba di dalamnya.


Ada beberapa yang mengisi karpet di bawah untuk mengerjakan soal-soal, ada juga yang mojok untuk baca buku, beberapa lagi sibuk memainkan laptopnya dan sebagian menggunakan PC untuk mengerjakan sesuatu.


Beruntung ada meja dengan empat kursi yang kosong di pojok kanan perpustakaan ini.  Ily dan Raihan sontak mengisi tempat duduk saling berhadapan.


Ily yang membawa tas kecil, langsung saja membukanya. Dalam tas kecil itu, Ily selalu membawa tempat pensil yang mana isinya lengkap. Ada pensil, pulpen, penghapus, penggaris, tip-ex, stabilo, tip, sampai lem kertas dan pengserut.


Raihan melihatnya dan tertawa kecil. "Masih kayak bocah ya lo."


"Hah? Maaf? Bocah gimana ya maksudnya?" Ily tampak tak terima dikatai seperti itu oleh Raihan.


"Masih pake tempat pencil Dora the Explorer. Dulu lo suka Hello Kitty." 


Ily berdecak. "Rusuh lo ah."

__ADS_1


"Ye, marah," kata Raihan dengan nada mengejek.


Lagi, Ily merasa tak terima. Ia menatap Raihan dengan mata terusik. "Lo nyebelin banget sekarang. Kenapa sih?"


"Gue emang gini, Ly, aduh. Sewot banget lo sekarang. Lagi merah, ya?" Raihan balas bertanya.


Ily menipiskan bibir. "Udahlah. Jangan adu mulut terus. Lo kok nggak bawa apa-apa?"


"Bawa apa?"


"Buku dong. Kan kita mau belajar."


"Punya lo kan ada."


"Ye, gue juga kan mau belajar."


"Minta dikit masa nggak boleh."


Ily menipiskan bibirnya, berusaha sabar dan tak memaki-maki karena bukannya seperti akan belajar bersama, Raihan lebih seperti seorang teman yang merepotkan dan berisik.


Pada akhirnya, Ily menyerahkan buku yang baru dibelinya itu untuk Raihan foto dan ia beri selembar kertas serta satu pensil buat laki-laki itu mengerjakan. Setelahnya, suasana hening karena keduanya fokus memecahkan soal-soal.


Dari dulu, Ily dan Raihan tak pernah absen eksis di peringkat lima besar. Keduanya sama-sama pintar dan cekatan dalam menyelesaikan soal. Baru sepuluh menit berlalu, kini keduanya sudah selesai mengerjakan dua puluh soal.


Selanjutnya, Ily dan Raihan mencocokkan jawaban masing-masing. Hampir semuanya sama, ketika ada beberapa soal yang berbeda, keduanya saling bertukar argumen. Sampai beberapa kali mencari pembenaran di guru terbesar umat manusia, Google.


Kadang, Ily benar. Tak jarang juga Raihan yang benar.


Mereka tampak menikmati kegiatan belajar bersama ini sebab memiliki kemampuan yang setara dan tak ada yang tertinggal atau meninggalkan. Sampai sore menjemput, satu buku beribu soal itu hampir setengahnya diselesaikan.


Jika sendiri, Ily sudah pasti akan malas dan buku tebal itu akan selesai dikerjakan paling lama satu Minggu dan paling cepat mungkin empat hari.


Saat bersama, saat berdua dengan Raihan, bukunya tampak mungkin selesai dalam satu hari.


"Udahan, ya, butek nih otak lama-lama mungkin meledak," cetus Ily seraya menutup bukunya dan menatap Raihan dengan tawa kecil. "Rambut lo sampai acak-acakan, tuh."


Jelas, mereka duduk hampir lima jam di sana.


Melihat Raihan begitu, Ily tergerak untuk melakukan hal yang sama. Namun, tak ada yang berantakan dari penampilannya. Kemudian, Ily merapikan alat tulisnya dan saat itu Raihan memerhatikannya.


Ily masih sama seperti dulu. Bedanya, kini hidung kecilnya itu makin mancing dan rambut yang dulunya hanya sebatas bahu, kini mencapai punggung dan selalu diikat seperti ekor kuda. Kulitnya lebih cerah dan matanya semakin bulat.


Tak ada yang berubah dari wajahnya seperti yang dilakukan teman-teman wanitanya dari SMA. Seperti sulam alis atau memakai behel, apalagi tindik.


"Nggak ke rasa, sih, satu Minggu lagi tes-nya," kata Ily dengan jantung berdebar saat membayangkan bagaimana nanti dirinya akan bersaing dengan ratusan ribu anak untuk masuk ke UI. Dia selesai membereskan peralatannya kini.


"Semangat, Ly," kata Raihan dengan senyum yang memang bisa terasa semanis itu di mata Ily.


"Lo juga, dong," balas Ily.


"Iya."


"Nanti bareng nggak ke tempat tesnya?"


"Oh, lo mau gue jemput?" Raihan menanggapi dengan arah tujuan yang lain.


"Ye, nggak juga. Nanya doang." Ily agak salah tingkah.


"Oke. Gue jemput," cetus Raihan dengan senyum lebar.


Kedua bahu Ily terangkat bersamaan. "Dih."


"Cie," goda Raihan dengan senyum penuh arti. "Mulai berani ngajakin cowok, nih. Udah gede lo ya, Ly. Udah pernah pacaran?"


Pipi Ily lantas merona sampai panas rasanya. Mendadak, pasokan oksigen seperti menipis drastis dan jantung Ily berdebar kencang. Entah apa alasan sebenarnya Ily seperti ini.

__ADS_1


Entah itu karena teringat Yohan, atau justru karena adanya Raihan.


***


"Temen lo apa kabar?"


Elvan mengernyit bingung saat ditanya seperti itu oleh Juna. Di malam yang dingin ini, keduanya berada di balkon apartemen Juna. Dengan rokok terjepit di jari telunjuknya dan jari tengahnya, Juna menatap Elvan dengan datar.


Asap rokok terembus dari mulut Juna saat laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke depan, pada gedung-gedung tinggi berhias lampu yang sangat estetis. Dari dulu, Elvan tak suka asap rokok dan sepertinya Juna mengerti karena dari tadi Elvan menatap rokoknya dengan risi.


Jangan heran bagaimana Elvan dan Juna bisa bertemu. Ibunya yang begitu tiba di sini langsung bekerja sebagai guru privat adik Juna. Saat mengantar ibunya karena tak ada kerjaan, Elvan bertemu Juan.


Beberapa hari kemarin, keduanya tak saling sapa meski berpapasan. Namun, hari kedua, Elvan menghampiri Juna untuk tahu apa yang tengah dilakukannya kini.


Elvan tentu tidak mudah membuat Juna terbuka. Elvan harus berinisiatif menceritakan kisah hidupnya dulu. Waktu SMA, Elvan pernah tahu sekilas tentang Juna, karena laki-laki itu pernah bersinggungan dengan Yohan. Dia kira Juna akan sangat kaku dan keras, namun semua manusia rupanya sama saja.


Juna tak sekeras itu dan akhirnya menerima uluran tangan Elvan. Juna bercerita bahwa dirinya akan kuliah tahun depan di Jerman untuk melanjutkan perusahaan ayahnya.


Satu tahun ini, dia harus mempersiapkan diri untuk kuliah. Itu terserah Juna, asal tahun-tahun berikutnya dia menurut pada ayah dan dapat menjadi seseorang yang sesuai dengan harapannya. Itu hasil negosiasi panjang sebenarnya.


Elvan jadi tahu bahwa Juna bukan orang bisa. Laki-laki itu punya harga berlimpah dari usaha ayahnya, juga keluarganya. Ibunya orang Jerman dan punya butik ternama di sana. Hidup Juna bukan sembarangan, namun Elvan melihat ada sesuatu yang berbeda dari matanya Juna.


Jika seharusnya anak orang berada itu senang atau bahagia, Juna tampak kesepian dan sedih.


"Baik-baik aja." Elvan tertawa kecil, membalikkan badannya dan ikut menatap pada apa yang Juna lihat. Normalnya, orang-orang akan tersenyum atau setidaknya memancarkan sorot mata kagum saat melihat pemandangan malam yang luar biasa cantik ini.


Namun, Juna tampak biasanya. Selalu datar dan tak bergairah.


"Kenapa deh nanya temen-temen gue?"


"Bukan mereka." Juna mengoreksi datar. Menyentil rokoknya siapa ujung yang telah terbakar jadi abu, terbang ke bawah, kemudian menyedot ujungnya lagi lebih lama. "Tapi dia."


"Dia?"


"Yang disuka sama Tiff."


Elvan menipiskan bibirnya. "Oh, Yohan."


Juna tak langsung membalas. Justru menunggu Elvan menjawab pertanyaannya dengan sebuah harapan. Yohan sudah sangat-sangat menghancurkan hidupnya. Karena laki-laki itu, Juna kehilangan kebebasannya untuk satu tahun berikut-berikutnya, kehilangan wanita yang dicintainya juga kehilangan kesempatan.


Kesempatan untuk tetap setia pada satu wanita.


Rasanya pada Tiffany kini perlahan pudar, begitu juga dengan komitmen kedua keluarga untuk menyatukan mereka. Juna sudah lebih dulu dicap buruk sejak pertengkaran darah dengan Yohan.


"Dia ke Korea." Elvan akhirnya menjawab dengan berat hati. Sebenarnya dia juga tak merasa senang saat membicarakan Yohan. Laki-laki itu telah ikut campur dan mengganggu lingkaran pertemanannya. Apalagi Yohan dekat sekali dengan Ily. "Moga aja nggak balik-balik, sih."


"Oh, gitu." Juna tersenyum. Amat tipis, hingga tak ada siapapun yang menyadarinya.


"Kenapa deh nanya dia? Kangen?"


"Cuma mastiin aja."


"Mastiin buat apa?"


"Dia nggak deket-deket Tiff lagi," balas Juna datar. Meski begitu, tak ada yang tahu bahwa kini jantungnya telah menghangat.


Elvan tersenyum seulas. "Masih suka lo sama Tiffany?"


"Nggak." Juna segera menjawab dan tanpa sengaja menjatuhkan rokoknya karena suatu alasan yang pastinya membuat mata Elvan menyipit curiga saat melihatnya melihatnya.


"Gue mencium bau-bau kebohongan, nih," goda Elvan dengan tawa kecilnya yang terdengar menyebalkan.


"Gue cuma mastiin dia nggak sakit hati." Juna berbalik, menatap Elvan dengan pandangan menusuk. "Tiff suka Yohan, tapi Yohan suka Ily. Itu nggak adil. Lebih baik mereka nggak pernah ketemu lagi."


"Oh, sama aja dong. Itu artinya lo masih peduli dan peduli artinya lo masih sayang."

__ADS_1


"Terserah."


Ditinggal begitu saja, Elvan tertawa. Punya target ledekan baru secepat ini. Dia menyimpulkan bahwa kehidupan baru ini akan menyenangkan ke depannya.


__ADS_2