
"Bu, tadi Elvan keren banget." Ily langsung berkata demikian saat menemui ibunya yang duduk di kursi tukang bakso depan sekolahnya. Meski terkejut dengan keberadaan Raihan yang duduk di depan kedua orang tuanya dengan pandangan lurus-lurus padanya, Ily tak berhenti semangat untuk melanjutkan ceritanya. "Dia bilang ke guru kalau harusnya guru itu bilang 'selamat jalan dan jangan lupa ada guru untuk ke depannya' bukan 'sana pergi. Guru bahagia kalau kamu udah lulus. Putus hubungan. Putus urusan' gila keren banget."
Elvan yang diceritakan dengan bangga itu hanya mampu tersenyum tipis dengan wajah menahan malu. Beberapa kali menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena salah tingkah.
Sementara di sampingnya, Eza tertawa kecil karena melihat telinga Elvan yang mulai memerah. Temannya itu memang keras kepala, tapi hatinya sangat mudah untuk dijungkir balikan.
"Terus gurunya itu marah?" tanya Ibu dengan senyum penasaran.
"Harusnya nggak marah, sih," timpal ayah menyimpulkan. "Soalnya kan dapet kritik itu dari siapa aja dan itu dijadikan buat motivasi jadi lebih baik."
Ily menggeleng pelan. "Gurunya langsung minta maaf dan bilang seperti apa yang Elvan bilang. Suasananya itu sepi banget, suaranya kedenger jelas dan malu banget."
"Jelas malu." Raihan menanggapi. "Siapa coba yang nggak karena dikata-katain di depan banyak orang."
Ibu mengangguk. "Meski malu, dia melakukan hal yang benar."
"Iya," balas ayah setuju.
"Nah, terus ini kenapa, nih?" Ibu melihat penampilan Elvan dan Eza dengan bingung. Pasalnya, baju mereka seperti anak kecil yang sedang main-main.
"Elvan nggak ada bajunya, jadi Eza pinjemin celananya," jawab Ily enteng.
"Ide Ily, sih," kata Eza memperjelas.
"Aduh, ada-ada aja," tukas ibu geli. "Yaudah, nggak apa-apa. Kita foto-foto aja kayak gini. Kenang-kenangan."
"Ayo!" seru Ily semangat. Berbeda dengan Elvan dan Eza yang langsung berwajah kusut.
"Lo enak cantik. Eh, kita, kayak orang gila kurang baju," keluh Elvan pedas.
"Gapapa masih ganteng, kok," balas Ily dengan senyum lebar seraya mengulurkan tangannya untuk merapikan rambut Elvan. Membuat Elvan segera menepis tangan itu dengan wajah kesal.
Kalau tidak ada kedua orangtuanya, sudah pasti Elvan akan mengata-ngatai Ily sedemikian rupa saking merasa kesal dan diremehkan.
Raihan berdeham tiba-tiba, membuatnya menjadi pusat perhatian karena laki-laki itu langsung berdiri setelahnya. Dengan perlahan, mengambil satu tangkai mawar tanpa plastik. Kemudian tanpa malu, menyerahkannya ke hadapan Ily.
"Maaf, ya, cuma bisa ngasih satu. Soalnya sayang kalau diambil semuanya," kata Raihan jujur.
Ibu dan ayah Ily melihatnya dengan pandangan berbinar. Elvan dan Eza lain lagi. Kedua laki-laki itu justru hampir tertawa karena melihat wajah serius Raihan yang tampak kocak.
"Eh?" Bodohnya, Ily kini justru kebingungan. Menatap mawar yang tampak layu itu dengan kening berkerut. "Buat gue?"
"Iya, Ly. Ini buat lo." Raihan mempertegas. "Selamat atas kelulusannya."
"Ily, udah langsung ambil aja," kata ibu gemas sendiri.
"Ngambil dari kebun, ya?" tanya Ily sambil tertawa.
__ADS_1
"Punya Ibu Rima," balas Raihan jujur lagi.
Ily tertawa agak keras dari sebelumnya, kemudian mengambil satu tangkai bunga mawar itu dari tangan Raihan yang dingin saat kulitnya saling bersentuhan. "Makasih."
Ily heran, padahal cuaca sudah cukup untuk membuat kulitnya panas karena matahari kini berada tepat di atas kepala.
Melihat adegan manis ala remaja di depannya, ayah menoleh pada Elvan dan Eza yang terlihat celingukan polos seperti anak kecil yang kehilangan ibu. Sementara Ily sudah sibuk sendiri menatap mawarnya dengan degupan jantung yang sudah seperti atlet marathon, namun wajah polosnya membungkus semuanya. Ibu ikut menatap pada apa yang di lihat ayah dan paham apa maksudnya.
"Punya kalian mana?" tanya ayah, seperti menantang.
Elvan dan Eza saling berpandangan sesaat. Kemudian menarik senyum pahit sebagai jawaban.
"Baru aja putus kemarin, om," jawab Eza sedih.
"Kalau Elvan sih nggak minat soal gituan, om, buang-buang waktu," sambung Elvan menyuarakan isi hatinya.
"Lah?" Ayah tampak tak senang. "Kok gitu?"
"Lagian Ily sama Raihan juga nggak sedeket itu, kok, om," balas Eza tak mau terus diledek. "Liat tuh masih canggung-canggung gitu kayak ABG baru pertama pacaran."
Otomatis, Ily tersipu. Rasanya pasokan udara tiba-tiba menipis dan membuatnya menggerak-gerakkan tangannya, mengipasi diri. "Kapan nih kita foto-fotonya?"
"Oh, iya! Ayo, dong!" Ibu berseru semangat. Kemudian bangkit dan memimpin jalan ke depan sekolah Ily yang dihias. Ada satu tempat untuk foto-foto di sana, dengan layar cantik yang dihias oleh bunga rambat palsu.
Raihan hanya tersenyum tipis saat kebetulan dirinya dan Ily berjalan bersampingan menuju tempat foto. Ily menoleh pada Raihan, membuat Raihan ikut menoleh dan menatapnya dengan pandangan tanya.
"Kapan ke sini?" tanya Ily pelan, tak mau mengundang atensi dari ayah dan ibunya yang berada tiga langkah di depan.
"Ayah ibu gue... nanya aneh-aneh nggak?"
"Soal lo yang ceritain tentang gue waktu ketemu di butik? Soal lo yang cerita gue jadi lebih berani dari waktu gue kecil?" Raihan tertawa, melihat wajah terkejut Ily yang sangat dramatis. "Ayah sama ibu lo nggak nanya aneh-aneh, tapi malah cerita banyak tentang lo. Nggak apa-apa, sih. Gue seneng sama mereka, lucu."
Ily berdecak meremehkan. "Lucu dari mananya. Ember gitu mulutnya."
"Hush. Nggak boleh gitu ke orang tua. Tuhan nggak suka."
"Nggak asih, sih." Ily cemberut. "Orang tua gue bilang apa aja ke lo?"
"Mau tau banget apa mau tau aja?" Raihan justru gencar menggoda Ily.
Ily berhenti melangkah. Membuat Raihan ikut berhenti. Kini, Raihan bisa lebih lekat menatap wajah Ily yang luar biasa cantik ini. Namun, tak ada senyum di wajah cantiknya, justru kerutan di kening dan bibir cemberut.
"Lo makin gede makin nyebelin kayaknya," cetus Ily kesal. "Gue nggak suka!"
"Eh, Ily!" seru Raihan bingung saat Ily langsung berbalik dan menempel di antara kedua orang tuanya dengan manja.
Ayah dan ibu Ily otomatis menoleh ke belakang untuk memeriksa apa yang terjadi.
__ADS_1
Tentu pandangan mereka tertuju pada Raihan. "Kenapa nih?" tanya ayah penasaran.
"Eh, ayo foto cepet. Takutnya orang lain keburu rebut!" seruan Elvan membuat perhatian ayah dan ibu teralih untuk setelahnya melakukan prosesi foto-foto selama lima belas menit lamanya.
Mereka melakukan banyak pose, banyak gaya dan formasi. Entah itu Eza yang sambil melompat atau Elvan yang nekat menggendong Ily di punggungnya. Atau ayah dan ibu yang seolah melakukan foto prewedding mereka lagi.
Diantara senangnya kegiatan pengambilan gambar itu, Raihan berada di belakangnya. Dia yang menjadi tukang foto dari awal sampai selesai hingga lupa untuk bergabung.
Sebenarnya Raihan tak merasa tersinggung atau sakit hati, toh dirinya tak begitu dekat dengan Ily serta yang lainnya. Namun, ayah dan ibu justru khawatir.
"Kita minta orang lain yang foto aja. Ayo, Raihan harus ikutan," paksa ibu dengan wajah tak enak.
Raihan tersenyum lembut. "Nggak apa-apa, Tante. Kita udahan aja. Panas."
"Kok gitu? Nggak, ah, ayo kita foto satu kali lagi," balas ibu bersikeras. "Ibu nggak enak karena kamu udah fotoin kita banyak banget. Ngerepotin iya, digaji nggak. Kan nggak etis."
"Kalau gitu, gimana kalau om, tante, Raihan sama Ily aja yang di foto. Elvan sama Eza fotoin. Raihan maunya gitu, sih." Raihan tertawa canggung. "Boleh?"
"Oh, boleh-boleh!" seru ibu menyetujui. Ily hanya menipiskan bibirnya pasrah. Ia merasa gerah dan panas hanya untuk mengerti apa maksud sebenarnya dari keinginan Raihan.
"Ye, mulai berani modus ini anak ayam," ledek Eza seraya merangkul Raihan dengan gemas. "Dulu lo culun banget. Sekarang udah gentle, ya."
"Gue ikutan, ah, Eza aja yang fotoin." Elvan berkata demikian dan membuat raut wajah Raihan yang sudah senang dekat dengan Ily menjadi kecut. Sebab Elvan mengambil posisi di antara Raihan dan Ily. Seolah menjadi penghalang dan orang ketiga.
"Yaudah, karena Eza baik, Eza yang fotoin," cetus Eza, kemudian mengambil posisi untuk memotret dengan serius.
"Satu.... Dua... Tiga!"
Flash!
"Si toil, ngapain pake flash kalau matahari udah seterik ini," komentar Elvan pedas seperti biasa.
"Udah yuk, ah, panas," ajak ayah pergi.
"Yuk, pulang aja deh!" sambung ibu satu pemikiran.
Elvan dan Eza kemudian mengikuti setelah saling bertukar ponsel karena sebelumnya agak keliru saat dipakai foto-foto. Ditinggal lagi paling belakang, Ily agak kesal. Jalannya agak pelan karena roknya yang sempit dan juga hills yang perlu hati-hati dalam setiap langkahnya.
Tentu, Raihan masih di sebelahnya, seolah setia berjalan mengikuti ritme langkah Ily. Saat lima langkah mereka tempuh, Raihan mengambil ponselnya dan mengangkat tangannya di depan wajahnya, juga Ily.
Ily mengerutkan keningnya, melihat wajahnya berada satu frame dengan wajah Raihan yang sengaja agak direndahkan untuk setara dengan tinggi Ily.
Raihan membuka aplikasi Snapchat dan memakai fitur kucing. "Ly, senyum."
Tanpa sadar, Ily tersenyum dan bersamaan dengan itu, Raihan memotretnya untuk setelahnya disimpan. Sesingkat itu, Raihan kembali memasukkan ponselnya dan tersenyum pada Ily.
Senyum yang bisa membuat Ily diabetes seketika. Susah payah, Ily menahan diri untuk tak berpaling dan berteriak kegirangan di jalanan sana.
__ADS_1
"Makasih."
Ily tak pernah menyangka di dunia ini ada laki-laki semanis dan selucu ini sebelum dia bertemu Raihan.