Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 58


__ADS_3

Lili baru saja selesai makan malam dan ada notifikasi sebuah panggilan tak terjawab di ponselnya.


Itu dari Imel.


Beberapa saat yang lalu ia menelponnya.


Lili sempat terkejut. Akhirnya apa yang dia nanti tiba. Namun, yang kini ia rasakan hanya hampa. Buat apa Imel meneleponnya jika tak kunjung membalas panggilan Lili di masa itu? Sekarang Lili sudah terlanjur muak dan marah.


Tanpa berniat untuk menelepon kembali Imel, Lili membuka laptopnya. Lili kan menulis kembali kisah tentang Theo yang belum selesai.


Entah mengapa, rasanya kini berbeda. Jantung Lili lebih cepat ritmenya dalam berdegup dan jari-jarinya terasa lebih ringan saat menari di atas keyboard itu.


Dia laki-laki yang paling sulit untuk dimengerti.


Kemarin, dia bilang apel itu manis. Tetapi besoknya, dia bilang apel itu asam. Bukan, bukan berati pendiriannya sangat tidak teguh. Justru laki-laki itu adalah laki-laki paling teguh yang pernah aku kenal.


Dibalik sikap dingin dan juteknya pada setiap orang yang bersinggungan dengannya, dia menyayangi adik perempuannya. Mungkin dia satu-satu keluarga yang benar-benar dekat dengannya, terlepas dari ayah dan ibunya yang sudah berpisah dan punya jalan masing-masing.


Aku hanya seorang penulis yang menginginkan ceritanya didengar orang lain. Aku juga tak mengira bahwa aku akan benar-benar tertarik untuk menyelami kehidupannya, terlepas dari label bad boy yang tersemat kepadanya.


Omong-omong bad boy, laki-laki itu tidak begitu nakal menurutku. Dia punya alasan kuat untuk dia menjadi seseorang yang seperti itu. Bukan hanya anak nakal haus perhatian. Justru laki-laki itu bertindak untuk terus maju dan membuktikan bahwa pandangan orang-orang kepadanya selama ini salah.


Dia juga punya cita-cita. Aku yakin itu.


Lili menuliskan itu tanpa data yang benar. Namun, Lili berharap apa yang dituliskannya menjadi sebuah kenyataan yang benar. Oleh karena itu, ketika lagi tiba dan Theo sudah datang ke rumahnya, Lili berniat untuk menanyakannya.


Jika saja wajah Theo tidak terlihat sesedih itu.


Lili jadi tak enak.


"Gue ... boleh bareng sama lo?"


Theo menaikki motornya sebelum menjawab, "naik aja."


Lili tak berani bicara lagi hingga motor itu melaju membelah jalanan menuju sekolah.


Lili tahu ada yang salah. Dan dia tak mau diam saja. Jika di kelas Lili tak punya kesempatan untuk bertanya pada Theo karena ada guru yang menerangkan materi pelajaran, maka ada waktu istirahat di mana semua murid bebas ke mana saja dengan siapa saja.


Tanpa izin, tanpa rencana, Lili langsung menarik Theo yang tampaknya pasrah saja. Gema yang tak diberi tahu pun rasanya sangat penasaran, namun tak mencari tahu lebih lanjut karena sahabatnya itu pasti akan memberitahu padanya apa yang terjadi pada waktunya.


Lili membawa Theo ke lapangan basket indoor. Di mana Lili jadi ingat bagaimana dia bersorak seperti orang gila saat sang pemeran utama bermain basket dan mencetak angka di ring.


Ada beberapa anak laki-laki yang bermain basket di lapangannya, karena itu Lili memilih menarik tangan Theo lagi untuk duduk di tribun teratas. Paling sepi dan paling gelap dari bagian yang lainnya.


Lili dan Theo duduk bersampingan.


Lili menatap Theo dengan lekat. "Yo."


Theo seperti tak bertenaga untuk menjawab pertanyaannya, jadi dia hanya membalas tatapan Lili dengan datar.


"Lo kenapa, sih?" tanya Lili gemas. "Ada masalah lagi? Setelah sama Ten dan Lucas, sekarang apa lagi?"


"Gue nggak tau kenapa lo begini."

__ADS_1


"Hah?"


"Kenapa lo peduli?"


Wajah Lili langsung menunjukkan ketidaksukaan yang nyata. "Gue temen lo. Lo nggak anggap gue begitu?"


Theo tertawa merendahkan. Dia muak dengan semuanya. Apa Ayah Lili tidak memberitahu pada Lili bahwa Ayahnya tidak menginginkan Theo untuk dekat-dekat dengan Lili? Pasti jawabannya iya, karena Lili terus mengatakan bahwa dia temen Theo.


"Awalnya gue anggap begitu," balas Theo dengan tatapan yang tak Lili mengerti. "Tapi kayaknya nggak untuk seterusnya. Mulai sekarang."


Ketika Theo hendak beranjak meninggalnya, Lili menahannya. Berbeda dengan kebiasaan Lili yang selalu tanpa sengaja mencubit pinggang Theo, kini Lili hanya menahan pergelangan tangannya.


Lili gemetar saat ini. Gugup dan malu. "Jangan gini, ish. Gue nggak suka."


Theo menoleh dengan tatapan tertarik. "Kenapa nggak suka?"


"Temen deket gue ... temen deket gue sekarang udah terasa jauh banget. Gue nggak mau kehilangan temen lagi," jelas Lili sambil menunduk.


Kehilangan, ya.


Perlahan, Theo melepas tangan Lili. Daripada harus menyesal, lebih baik Theo mencegah dari sekarang. "Semua orang punya tempat kembali masing-masing, Li."


Lili mendongakkan kepalanya. "Bijak, juga. Bagus, nih. Gue jadi pengen memperpanjang buat riset ke lo."


Theo mendengus. "Gue nggak mau."


"Gue janji seratus persen, gue bakal balas dengan setimpal, Yo," balas Lili penuh keyakinan. "Percaya sama gue."


"Gue. Nggak. Mau."


Theo terdiam sebentar. "Gue ke sini buat bilang bahwa lo nggak perlu lagi ngurusin atau ngepoin kehidupan gue."


"Tapi gue mau."


"Berarti lo memosisikan diri ke dalam bahaya."


"Iya, gue siap."


"Bodoh."


"Apa?" Lili akhirnya berdiri dengan wajah tak terima. "Nilai lo bahkan nggak pernah mencapai KKM tapi lo berani bilang gitu ke gue?!"


Wajah Theo langsung berubah dingin. Ada banyak emosi tertahan di sana. "Gue emang begi, tapi gue nggak sebegi lo yang bilang ia buat masuk ke dalam bahaya."


Lili membuang napas tak percaya. "Keras kepala juga ya lo."


"Terserah lo mau bilang apa," balas Theo tak peduli. Dia hendak berbalik lagi untuk pergi, saat Lili bersuara. Kata-katanya membuat langkah Theo berhenti.


"Gue udah mengenal lo, Yo. Gue udah tau lo gimana." Lili menarik napas panjang-panjang. "Dan lo Sama sekali nggak bahaya," lanjutnya dengan nada yang terdengar amat lembut di telinga Theo. Membuat dadanya tenang dan hatinya nyaman. "Mana ada orang bahaya yang ngasih helm buat pengguna yang dia bonceng sementara dia sendiri nggak pake helm? Mana ada orang bahaya yang nganterin temennya keluar club karena takut nyasar? Mana ada orang bahaya yang kalau lo, Yo? Mana ada."


Lili tertawa hambar atas kata-kata yang dikeluarkannya sendiri.


"Lo ngarang dari mana deh bahwa lo ini bahaya?" tanya Lili geli. "Lo baik, Yo. Lo harus sadar itu."

__ADS_1


Tubuh Theo membeku.


"Dan lagi, gue nggak bisa berhenti kepo sama lo sekarang. Gue justru makin penasaran. Lo pasti menyembunyikan sesuatu." Lili melanjutkan. "Kalau lo inget, lo hutang satu jawaban ke gue."


Theo langsung berbalik. Menyerbu Lili dengan tatapan tanya.


Lili tersenyum tipis. "Melihat wajah lo sekarang bikin yakin kalau lo lupa."


"Gue nggak lupa," balas Theo cepat. Membuat Lili terperangah karena tak menyangka. "Lo yang salah karena main pergi gitu aja. Kenapa seakan-akan lo nuntut gue sekarang?"


"Oke, oke, maaf," tukas Lili. "Selow, boskyu. Nggak usah pake gas, nanti kebakaran siapa yang berabe oke?"


Theo memutar bola matanya dengan jengah. "Gue mau kantin. Lapar."


Kali ini Theo benar-benar berbalik pergi dan berjalan cepat hingga Lili harus buru-buru menyusul.


"Heh, tunggu, Theo!"


***


"Gem," rengek Lili ketika dia baru saja kembali dari kantin dan duduk di sebelah Gema yang sedang melihat-lihat feeds di Instagram.


"Kenapa lagi, lo?" tanya Gemas langsung. "Tadi ngapain lo main narik-narik Theo. Nggak tau apa gara-gara itu banyak cewek yang liatin lo."


Lili tertawa kecil. "Setidaknya gue nggak perlu takut dilabrak karena Theo nggak punya cewek yang tergila-gila banget sama dia. Kalaupun suka, dia udah takut duluan kali."


Kening Gema mengerut.


"Itu mukanya Theo kan emang kayak dedemit aja. Nyeremin, Gem!" seru Lili menjelaskan karena merasa perlu. "Nggak pernah senyum, nggak pernah ketawa! Hih, kalau aja gue nggak perlu riset sekali lagi, gue udah bodoh amat sama dia."


Gema berhenti menatap ponselnya. "Jadi, lo mau riset dia lagi?"


Lili mengangguk santai.


"Ya ampun, Li." Gema menepuk keningnya dengan wajah lelah. "Lo sadar nggak kalau lo Itu manfaatin Theo banget, terus sekarang lo jelek-jelekin dia dari belakang?"


Lili terdiam agak lama sebelum akhirnya menjawab dengan wajah tak mau disalahkan begitu saja. "Gue cuma kadang kesel aja. Theo sebenarnya baik, tapi lebih banyak nyebelinnya."


"Jadi, sekarang rencana lo apa?"


"Gue mau cari tahu cita-citanya, gue mau cari tahu tentang temennya yang namanya Dika, hubungan dia sama Sherin, terus hubungan terbaru antara dia sama orang tuanya," jelas Lili. "Meski Theo udah bilang dia udah kasih tau semua ceritanya, gue masih merasa ada yang belum dia ceritakan. Pasti itu."


Gema membuang napas panjang, menepuk pundak Lili dengan senyum penuh arti. "Ya, bagaimanapun, semangat, Li. Gue tunggu buku lo. Judulnya apa?"


"Gue belum kepikiran hahaha."


***


**pelan-pelan aja


takut kalian kaget soalnya kalau langsung banyak hehehe


mulai besok, aku up lima part perhari

__ADS_1


jadi, siap-siap aja yaaa**


__ADS_2