Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 34


__ADS_3

Theo yakin perjalanannya kembali ke rumah ke depannya tak akan damai lagi.


"Yo," tegur Dika. Laki-laki berkalung rantai yang memakai jaket denim dan jins robek. Ada satu kaleng minuman bersoda di tangannya. Luka jahit di pelipisnya masih tampak jelas bahkan setelah satu tahun berlalu. "Sehat lo?"


Theo tersenyum miring. "Seperti yang lo liat."


"Kadang, liat lo Itu bikin gue ingin menggiling lo mentah-mentah."


Theo tak membalasnya. Hanya menatap Dika dengan malas, tanda bahwa ia ingin segera pergi dari sini.


Namun, jika Theo langsung pergi, maka sudah dipastikan Dika akan memukulnya habis-habisan.


Sebab bagi Dika, masalah itu belum selesai.


"Masih sok polos lo?" tanya Dika muak.


"Gue nggak sok polos." Theo menukas tajam. "Lo nggak childish. Bukannya udah jelas--"


Bugh!


Theo membuang ludahnya kasar ketika kepalanya terdorong ke samping kanan karena pukulan Dika pada rahangnya secara tiba-tiba. Badannya agak tersungkur dan akhirnya jatuh karena tak ada keseimbangan atau kesiapan sebelumnya.


Rasanya sakit dan perih.


Kanyataannya sebuah pukulan tak akan terasa tak sakit, bukan?


Theo bangkit lagi, kemudian menatap Dika lurus-lurus.


"Gue nggak butuh kata-kata sok nggak berdosa lo, Yo." Dika menggeram. Tangannya mengepal kuat-kuat, menahan emosi meski sebenarnya Theo merasa Dika sudah meluapkan emosinya.


"Kenyataan emang begitu--"


Bugh!


"Gue nggak butuh alasan klasik lo lagi, Bangsit!"


Bugh!


"Gue nggak pernah bisa terima lo sebagai teman lagi, Yo!"


Bugh!


"Nggak pernah bisa! Inget itu, Anjring! Lo udah rebut semuanya dari gue!"


Posisi Dika kini telah berada di atas perut Theo. Memukul kepala laki-laki yang ada di bawahnya itu seiring perkataannya terlontar.


"Lo nggak pernah bisa dimaafin, Yo!"


Bugh!


Theo mengeram, mengeraskan rahangnya. Dia ingin melawan, namun tenaganya tak keluar. Dika sudah terlampau hafal kelemahan dan cara untuk melumpuhkannya.


"Gue nggak peduli mau percaya atau nggak, tapi kenyataannya gue sama Sherin nggak pernah ada hubungan apa-apa. Gue nggak pernah suka sama Sherin."


"Dan gue nggak peduli itu."


Dika menyeringai, kemudian memukul aspal, tepat di sisi wajah Theo. Suaranya keras dan membuat telinga Theo sakit. Meski begitu, Theo yakin tangan Dika lebih kesakitan lagi.


"Jangan pernah muncul di hadapan gue lagi."


Akhirnya Dika bangkit dari atas tubuh Theo. Tubuh Theo yang telah mati rasa tak bisa bangkit langsung setelahnya. Dika berlalu, sampai hilang menggunakan motornya di perempatan jalan, barulah Theo bisa bangkit kembali.


Wajahnya berdenyut sakit. Theo mengepalkan tangannya. Menahan diri untuk tak menangis dan berjalan lagi untuk pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Dari dulu, dia tak bisa mengalahkan Dika.


Sial.


***


"Ya, ampun, muka lo kenapa?"


Itu adalah pertanyaan ke sepuluh yang Lili lontarkan sejak Theo datang ke rumahnya sampai kini keduanya telah duduk di kursi masing-masing. Wajah Theo yang kebanyakan pipi, pelipis serta dagunya jelas membuat Lili menaruh perhatian lebih.


Sebenarnya Theo tak suka diperhatikan, apalagi mata orang-orang yang dia temukan sejauh dia berjalan.


Namun, sepertinya, untuk kasus Lili, itu berbeda artinya. Tatapan khawatir perempuan itu mengingat Theo akan Ibunya sendiri.


Waktu kecil, Theo pernah terjatuh dan terluka. Ibunya menatapnya begitu waktu itu.


"Lo tau caranya hilangin ini?" Theo bertanya pada Lili dengan ragu.


Lili mengangguk. "Tinggal pake--heh gue mau dibawa ke mana? Kebiasaan deh kalau pergi nggak bilang-bilang dulu."


"Theo," tegur Lili lagi-lagi saat Theo tak kunjung menjelaskan ke mana tarikan tangannya pada tangan Lili akan pergi.


Mata setiap orang yang mereka lewati jelas memancarkan keirian serta keheranan yang tidak bisa disembunyikan. Lili hanya mampu menunduk karena tak mau jadi pusat perhatian, sementara Theo dengan wajah datarnya yang sudah biasa jadi pusat pandangan orang-orang menatap lurus-lurus ke depan.


Ketika akhirnya mereka sampai di depan pintu UKS, barulah Theo melepas pegangannya pada Lili.


UKS masih tutup.


"Theo, UKS bukanya jam delapan." Lili memberitahu. "Coba lo tadi bilang-bilang dulu kalau mau ke sini. Jadi, nggak capek-capek gue. Sekarang harus balik lagi, ah, lo buang-buang waktu."


Theo berdecak kesal.


Sementara Lili langsung berbalik lagi dengan wajah kecewa dan langkah malas.


***


"Calon pacar dari mana," tukas Lili tak sependapat. "Calon macam sih iya."


Gema hanya tertawa, jelas mengejek Lili habis-habisan.


Tak mau lama-lama berdebat dengan Gema dan membuat Theo menunggu, Lili akhirnya melangkahkan kakinya keluar kelas dan mengejar langkah Theo. Laki-laki itu sampai di depan pintu UKS lagi saat Lili baru saja tiba di belokan.


Perlu berlari cepat untuknya sampai di depan Theo dengan segera.


Napas Lili sedikit memburu saat dia tiba di sebelah Theo.


"Bukain," titah Theo dingin.


Lili memutar bola matanya, namun tetap menurut dengan membuka kenop pintu UKS. Tidak seperti biasanya, bangsal UKS hari ini hampir penuh dengan siswa-siswa dengan berbagai keluhan.


Tak peduli dengan yang lainnya, Lili bertanya pada salah satu petugas UKS. "Boleh pinjem kotak P3K, Kak?"


"Bo-boleh, Kak." Petugas UKS itu sempat terkesima dengan Theo dan agak gugup saat memberikan Lili sekotak bertuliskan P3K. "Ini, Kak."


"Oke, sip." Lili mengambilnya cepat dan menarik tangan Theo untuk duduk di sebuah bangsal. "Duduk, Te."


"Panggil Yo aja," kata Theo, menyuarakan keinginannya seraya duduk di bangsal seperti arahan Lili.


"Kenapa?" tanya Lili heran, tangannya fokus membuka kotak P3K di pangkuannya dan mencari-cari kapas.


"Te jelek," balas Theo datar. "Dan orang-orang yang deket sama gue lebih sering panggil gue Yo.


"Wah, jadi gue dianggap deket sama lo?" tanya Lili. "Nggak atau kenapa, tapi gue seneng. Aneh, padahal lo sering jahat ke gue."

__ADS_1


Theo mendengus, namun tak berdebat lagi karena malas.


Setelah Lili menuangkan alkohol ke kapas, ia menempelkannya pada lebam di pipi Theo. "Nih, pegang dulu."


Theo menurut. Kemudian, Lili menuangkan kembali cairan bening itu ke kapas yang lain dan menempelkannya ke pelipis Theo. "Pegang lagi yang ini."


Theo menurut lagi. Kini kedua tangannya sibuk menempelkan kapas-kapas di wajahnya. Sementara itu, Lili melakukan hal yang sama dengan menempelkan kapas di tangannya ke dagu Theo yang lebam.


"Ini kompresan, Yo, namanya," kata Lili menjelaskan tanpa diminta. "Kalau udah nggak kerasa nyut-nyutan, bilang ya."


Theo hanya bergumam. Jaraknya yang jadi dekat dengan Lili membuat Theo agak gugup. Sementara Lili terang-terangan menatapnya.


"Kenapa, sih?" tanya Theo risih sendiri.


Senyum Lili tercipta lebar. "Lo potong rambut?"


Perlahan, kuping Theo terasa panas. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Iya."


"Bagus. Rapi keliatannya," puji Lili tanpa malu-malu.


"Baru nyadar lo?"


"Gue fokus ke wajah lo tadi. Abisnya kok tiba-tiba banget bisa dapet bonyok gini. Lo berantem sama siapa?"


"Bukan siapa-siapa."


"Bukan karena berantem?" tanya Lili khawatir.


Theo tak langsung menjawab.


"Lo kena cium setan?"


Theo menatap Lili tak mengerti. "Lo ranking berapa, sih?"


"Apa sih," balas Lili kecewa. "Gue cuma bercanda juga. Nggak bisa apa ketawa dikit?"


"Omongan lo ngaco," cetus Theo tak suka. "Nggak masuk akal."


"Itu kan bercanda!" seru Lili kelewat kesal. "Huh, kesel gue."


Theo hanya menatapnya datar. "Udah nggak begitu sakit."


"Oh." Lili langsung menarik tangannya dari dagu Theo dan membuang kapas bekas kompresan itu ke tempat sampah di dekatnya. Theo melakukan hal yang sama. Setelah itu, Lili membuka tutup wadah sebuah salep dan mengoleskannya dengan kedua jari pada bagian lebam Theo.


Merasakan kelembutan sentuhannya, Theo merasa semuanya mimpi. Sinar matahari yang seolah menyoroti Lili membuatnya terpana beberapa saat.


Entah bagaimana, Lili seolah menjadi cahaya untuk kehidupannya yang gelap ini.


Memikirkan itu tiba-tiba, Theo menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pemikiran aneh itu. Hal yang membuat Lili berdecak karena salepnya jadi melebar ke mana-mana.


"Bisa diem nggak, sih?" tegur Lili kesal. "Salah lo tuh salepnya jadi kena hidung-hidung."


Theo jadi diam.


Lili mengelap hidung Theo yang terkena salep dengan tisu, kemudian memberi salep lagi untuk dagunya. Setelahnya, Lili menutup kembali salep itu.


"Nah, udah beres."


"Makasih."


Belum sempat Lili menjawabnya, Theo lebih dulu pergi keluar dari UKS. Kebiasaan yang sempat membuat Lili kesal, namun sekarang dia sudah kebal.


Itu memang pribadi Theo. Lili harus bisa menerimanya.

__ADS_1


Lili harus maklum.


***


__ADS_2