Dari Korea

Dari Korea
LSF - 14


__ADS_3

"Jadi, intinya pacar lo yang sekarang nggak mau hubungi ataupun dihubungi lagi sama lo setelah dia terima uang dari lo dan ternyata nggak bisa ganti karena doi kalah waktu lomba tari tradisional yang ada hadiahnya uangnya cuma buat juara satu aja?"


"Udah kayak skripsi-an aja lo, panjang bener kata-katanya." Luhan menukas pada kesimpulan yang dipertanyakan Lethan setelah dia mengatakan apa yang membuatnya selama ini melamun dan tak fokus belajar.


"Jangan salah. Gue mencoba buat mencerna lebih bener-bener, nih." Lethan membela diri. "Soalnya temen sebangku gue galaunya serius, nih, sekarang."


"Takut makin gila." Lethan menambahkan dengan berbisik pada Langit dan Lingga yang sedari tadi hanya mendengarkan karena jujur, mereka sudah lelah menghadapi Luhan dan segala urusan hidupnya.


"Ck." Luhan menatap Lethan tajam. "Kedengaran, begi."


"Emang. Sengaja. Biar lo sadar dan pikirannya sehat lagi, Bro." Lethan menukas tak kalah tajam.


"Gue aneh aja, wahai temen-temen yang aku cintai seperti anak sendiri." Luhan kembali menjelaskan supaya teman-temannya ini tidak terlalu menatapnya dengan penuh cacian seperti saat ini. "Wajar ya kalau pacar gue ngambek karena liat gue deket sama cewek lain secara fisik atau di foto dan diumbar-umbar sampai pacar gue itu tau. Tapi sekarang?"


"Gue bahkan nggak pernah ngobrol lagi sama cewek lain di sekolah ini." Luhan menambahkan dengan nada tak percaya. Seolah-olah kali ini dia tak bersalah tentang renggangnya hubungan antara dirinya dan seorang perempuan. "Gue nggak pernah lagi bikin tiktok atau snap bareng Sintia di kelas. Apa coba yang bikin Reisya sampai ngambek begini? Udah tiga hari, anjay."


"Lagi datang bulan kali." Lingga angkat suara karena dia merasa gemas dengan tingkah Liga sekarang. "Jadi mood-nya ... ya lo pasti ngerti lah. Kakak gue yang cewek juga begitu soalnya. Kadang marah-marah terus, kadang diem terus. Pengen gue pepes dah kalau dia ikan."


"Kualat lo." Langit langsung menukas dengan semangat. Soalnya dia pernah liat Lingga digebukkin sama kakaknya yang cewek itu dan seru banget waktu nontonnya. "Gue bilangin ****** dah. Yang ada lo jadi ikan penyet entar. Bwa ha ha ha."


"Jangan cepu dong, Lang." Lingga membalas agak sewot. "Sebelum gue jadi ikan penyet, gue jadiin lo ikan sarden dalam kaleng gocengan dulu."


"Bacot lo pada." Luhan berdecak keras dan membuat Lingga dan Langit berhenti berdebat. "Galau gue masih ada, nih. Pusing gue mikirnya."


Otomatis, suasana di kelas jadi hening karena anak-anak sudah pulang dan Lingga, Langit maupun Lethan bingung harus membalas seperti apa untuk perkataan sedih yang dikatakan Luhan.


Lethan membuang napasnya dengan berat. Menjadi suara yang memecah keheningan dan menarik perhatian semua orang yang ada di sana.


"Lo sayang bener emang?" tanya Lethan kemudian.


"O ya jelas." Luhan menjawab cepat. "Kalau gue nggak sayang bener, kenapa sekarang gue pusing-pusing mikirin doi, hah?" tanya Luhan jadi emosi. "Kayaknya otak lo harus diasah setiap Minggu, Than. Biar nggak tumpul-tumpul amat."


"Jahat banget lo punya mulut." Lethan cemberut, jadi merajuk dan suasana hening kembali.


Karena ke-empat cowok L itu sibuk dengan pikiran masing-masingnya.


"Heh, Ikan Tenggiri." Sampai akhirnya suara Lingga memecah keheningan lagi.


Kening Luhan mengerut dan menatapnya dengan wajah penuh peringatan pada Lingga. "Siapa Ikan Tenggiri?"


"Elo, Dodol." Lingga menukas datar. "Lutung Kim."

__ADS_1


"Nama gue bukan itu, Anj1ng." Luhan benar-benar emosi.


"Nggak usah pake anj1ng juga, B4bi." Lingga tentu tak mau kalah dengan membalas dalam konteks yang sama.


"Gue rekam juga sekarang terus dikirim ke Sari biar dilaporin Pak Dani biar dilaporin ke Pak Abdul buat dieksekusi kalau lo berdua masih bawa-bawa kebun binatang dalam perbincangan santai kalian." Lethan dengan kemampuan bicaranya seperti bebek bergabung di antara perseteruan Luhan dan Lingga. "Lo tau kalau banyak orang diluar sana yang lagi baca cerita kita itu kemungkinan besar meniru cara bicara kalian yang sangat tidak manusiawi?"


"Oh, iya." Luhan langsung sadar. Sifatnya yang mudah mengalahkan kalau sudah sadar sangat disukai orang-orang. "Maaf, pembaca sekalian. Mohon untuk tidak meniru kami berdua yang laknat ini. Sebenarnya kata-kata yang kami keluarkan itu bukan bertujuan untuk ditiru pembaca sekalian. Mohon untuk bijak. Terimakasih."


"Saya juga minta maaf." Lingga ikut-ikutan karena takut citranya jadi buruk, apalagi sampai ketahuan Putri. Bisa bahaya. "Bukannya saya sengaja berkata bawa-bawa temannya Lethan, tapi mulut saya memang kadang terpleset karena banyak kulit pisang."


"Oke, sip dah. Meski bawa-bawa gue yang tak berdosa ini, kalian dimaafkan. Jangan dilanjutkan lagi oke bahasa binatangnya?" Lethan membalas dengan wajah bijaksana dan nada suara tenang. Dia kemudian menatap ke arah Lingga. "Lanjut, dah. Lanjutin apa yang mau omongin, Ga."


"Oh, gini." Lingga berdeham dan menatap Luhan dengan serius. "Gue mau tanya. Selama lo pacaran sama pacar lo yang sekarang, apa lo nggak pernah chat-an sama cewek lain?"


"Em ... kalau itu ... gue no comment." Luhan menjawab agak ragu dan segera mengacungkan huruf V pada jari-jari tangannya dengan senyuman lebar tanpa dosa. "He he he he. Peace."


"Wadaw," kata Langit tiba-tiba, nada suaranya takjud sekaligus terkejut. Dia mengacungkan ponsel milik Luhan saat semua orang melihat ke arahnya. "Luhan chat-an sama sepuluh cewek sekaligus, Guys. Isinya sama semua. 'Kamu pulang sekolah hari ini dianterin pacar nggak?' tapi sayangnya nggak ada yang bales. Ha ha ha ha ha."


Luhan mengerjap-ngerjap, belum merasakan apa-apa.


"Ya ampun Luhan, asdfsjwbetzisownbak." —Lethan yang sudah kehabisan kata-kata.


"Dafshdje hsjsowngds gsjsowndv." —umpatan Lingga yang entah pakai bahasa apa.


"Sejak lo nyampe di sini dari UKS dan hp lo geter-geter dari tadi. Emangnya nggak nyadar emang? Itu ada tiga orang baru bales, noh. Mau dianterin." Langit menjelaskan dengan nada santa tanpa rasa bersalah. "Lo mau gimana sekarang?"


Lethan dan Lingga turut menunggu apa yang akan dilakukan Luhan selanjutnya setelah Luhan melihat ponselnya.


Apa yang dikatakan Luhan selanjutnya membuat ketiga temannya tercengang.


"Ya gue jemput yang paling cantik, dong! Huhuy!" seru Luhan riang. Dia segera menggendong tasnya dan berjalan cepat keluar kelas setelah berseru, "Bye, teman-teman!"


"Terus pacar lo gimana, Lutung?!" tanya Lethan dengan emosi. Membuat langkah Luhan terhenti di ambang pintu.


"Ya pacar gue besok-besok lah pikirin lagi." Luhan berbalik dan menjawab seperti itu dengan wajah santai. "Masa seharian ini cuma mikirin satu di antara tujuh miliar yang cantik-cantik."


Kemudian, Luhan hilang di belokan. Ketiak temannya yang ditinggal kini saling bertatapan.


"Temen lo noh." Lingga menuding Lethan dengan mata jijik. "Kelakuannya udah kayak iblis."


"Bukan iblis lagi, Ga." Langit menukas, seperti biasa dia juaranya kalau soal pedas-pedasnya kata-kata. "Udah level dewanya iblis tu anak."

__ADS_1


Lethan hanya bisa, "..."


***


Luhan senang sore ini Reisya membalas chat dari dirinya dan mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan Luhan di depan perpustakaan yang kini telah sepi karena jam pulang sekolah sudah berlalu setengah jam yang lalu.


Namun, apa yang Reisya lakukan membuat senyum Luhan luntur.


Reisya menyerahkan sebuah amplop padanya. Saat Luhan membukanya, di dalamnya ada uang sejumlah sama seperti yang Luhan berikan pada Reisya sebelum lomba tari tradisional dilaksanakan.


"Sya." Luhan tak bisa berkata-kata.


Dan Reisya hanya diam. Enggan untuk menjelaskan lebih lanjut.


"Sayang." Luhan menahan tangan Reisya yang hendak berlaku pergi. Reisya menatapnya lagi dengan wajah datar dan pandangan tanya.


"Ini ... apa?" tanya Luhan, kehabisan kata-kata.


"Itu uang." Reisya membalas datar. "Ganti aku buat yang kamu."


"Maaf kalau aku nanya begini." Luhan membasahi bibirnya dengan gugup dan canggung. "Kamu dapat ini dari mana?"


"Nggak penting tentang itu." Reisya berdecak keras dan menyentak tangannya dari genggaman Luhan "Sekarang aku mau pulang aja."


Ketika Luhan hendak menyusulnya, Reisya menatap Luhan dengan tajam. "Sendiri." Kemudian, Reisya menunjukkan ponselnya yang menampilkan sebuah aplikasi pesan ojol. "Aku udah pesen ojol nih. Liat."


"Nggak bisa begitu." Rahang Luhan mengeras dan dengan keras, dia menarik tangan Reisya sehingga perempuan itu berhadapan lagi dengannya.


"Luhan!" seru Reisya tak terima. Selain itu, dia juga kesakitan. Berusaha keras, Reisya melepaskan tangannya dari Luhan. Saat usahanya tak membuahkan hasil, Reisya menatap Luhan dengan kesal. "Kamu apa-apa sih, hah?!"


"Kamu nggak boleh pergi sebelum jelasin uang ini dapat dari mana dan kenapa kemarin-kemarin kamu cuek banget sama aku?" Luhan menjelaskan dengan nada memohon, juga putus asa. "Aku bikin salah? Aku bikin kamu nggak nyaman? Ada kata-kata aku yang nyebelin? Kamu harus bilang. Supaya aku nggak perlu lagi pusing-pusing mikirin kamu."


"Lepasin tangan aku."


"Nggak." Luhan menatap Reisya lurus-lurus. "Sebelum kamu jawab semua pertanyaan aku."


"Harus banget aku begitu?" tanya Reisya muak.


"Aku pacar kamu." Luhan menjawab dengan serius. Tatapannya yang dalam membuat hati Reisya bergerak, kemudian meleleh saat Luhan berkata lembut pada detik berikutnya,"Aku berhak tau."


"Emang sedalam apa sih hubungan pacaran itu sampai-sampai kamu sok berhak-berhak begini atas aku?" tanya Reisya, masih berusaha mengeraskan hatinya kembali. Namun, air matanya justru mulai mengalir deras tanpa bisa ia cegah. "Kita bisa putus kapan aja. Kita bisa jadi orang asing kapan saja. Kita bisa jadi musuh kapan aja. Bahkan detik ini juga. Kamu konyol, Luhan."

__ADS_1


"Sebelum detik itu terjadi, aku mau jadi pacar kamu. Aku mau jadi orang tempat kamu curahan keluh-kesah hidup kamu." Luhan membalas luar biasa serius, membatalkan seluruh pandangan buruk Reisya terhadapnya. "Aku mau jadi seseorang yang bisa bikin kamu bahagia. Aku mau jadi tempat kamu bersandar."


Lidah Reisya mendadak kelu.


__ADS_2