
Sekarang, waktunya Lili untuk unjuk kebolehannya.
"Kak Jae!" seru Lili ketika dia sampai di area taman asri dan melihat kumpulan di mana Jae ada di dalamnya.
Jae yang sedang mengatur daun-daun di tanah langsung menoleh dan minat kedatangan Lili dengan senyum tipis. Ketika Lili telah berada di hadapannya, Lili langsung tersenyum.
"Aku harus ngapain, Kak?"
Jae tersenyum lebih dulu. Dia menatap penampilan Lili dari atas sampai bawah. "Pakaian lo kok bisa cocok gitu sama konsep cameo hari ini? Cenayang lo?"
"Cuma kebetulan kayaknya." Lili tertawa malu. "Soalnya setiap hari pakaian aku kayak gini."
"Wah, menarique."
"Hehe."
"Lo tinggal jogging aja waktu pemain utamanya bengong di kursi itu. Tanpa sengaja lo jatohin hp."
Lili mendengarnya dengan wajah khawatir. "Waduh, hp aku beneran, Kak?"
"Mau emang?" tanya Jae dengan senyum geli.
"Eh, nggak!" seru Lili cepat.
"Ya, makanya." Jae berdecak kecil. "Jangan khawatir. Hp-nya udah disiapin sama seksi peralatan."
"Oh, syukurlah." Lili membuang napas lega.
"Jadi, ngerti, ya?" tanya Jae kemudian. Ketika di sana, sang pemeran utama laki-laki yang tidak Lili kenali sudah bersiap-siap, duduk di sebuah kursi.
"Tinggal joging, jatohin hp." Lili mengangguk-angguk. "Oke, paham."
"Bagus." Jae menepuk kecil pundak Lili dan menarik tangannya untuk menuju lokasi shooting. "Yo, take 1!" seru Jae pada kameraman.
"Waduh, langsung aja, Kak?" tanya Lili memastikan.
__ADS_1
"Kenapa harus dinanti-nanti?"
Lili segera ambil posisi kemudian, setelah menerima sebuah ponsel dari seseorang.
Dia mulai berjalan ketika sudah mendengar aba-aba. Beberapa Cameo juga tampaknya sedang ada yang joging, ada juga yang berkemah dan bahkan berpacaran.
Lili heran mengapa dia yang kebagian menjatuhkan ponsel. Namun, dia tak mau berpikir banyak lagi dan akan fokus melakukan yang terbaik saja.
Lili jogging seperti biasanya, meski sebenarnya merasa super gugup dan kakinya terasa seperti jeli. Kemudian ketika berada di tempat yang dekat dengan si pemeran utama, Lili menjatuhkan ponselnya.
Pemeran utama itu melihatnya. Awalnya bingung, hingga akhirnya memungut ponsel yang Lili jatuhnya sebelumnya dan berlari menyusul Lili yang terus joging.
"Eh, mbak!"
Langkah Lili langsung mematung. Dia tak mendengar suara cut dan itu artinya dia harus tetap lanjut berakting. Akhirnya, Lili menoleh.
"Eh, iya?" tanya Lili bingung. Benar-benar bingung karena mengapa aktingnya masih terus berlanjut.
"Ini HP-nya jatoh." Pemeran utama itu menyerahkan ponselnya.
"Oh ...." Lili mengambilnya ponselnya. Kemudian dia tersenyum segaris. "Ah, iya! Lupa saya. Kok bisa jatuh, ya? Aduh, Makasih ya."
Lili langsung membuang napas lega.
Pemeran utama itu langsung berbalik dan Lili segera berjalan ke arah Jae. Lili tersenyum kikuk.
"Bagus, kok, Li." Jae bersuara, membuat Lili makin merasa lega. "Makasih, ya."
"Bingung banget aku tadi," balas Lili. "Aduh, kirain salah apa gimana gitu soalnya Kak Jae bilangnya cuma joging terus jatohin hp doang, nggak pake si PU-nya ngembaliin hp."
"Ya, kadang di lapangan ada improve juga, Li." Jae menjelaskan dengan santai. "Biar lebih kelihatan natural."
"Oo," tukas Lili paham. "Begitu."
"Langsung pulang lo?" Tanya Jae kemudian.
__ADS_1
"Emangnya nggak ada take lagi?"
Pertanyaan Lili tak bisa Jae jawab langsung karena tiba-tiba hujan turun dengan deras. Menyerbu segenap orang-orang yang tengah mengambil video itu.
"Waduh, waduh, waduh!"
"Woi itu kameranya lindungi, lindungi!"
"Payung, siapa yang bawa payung?"
"Neduh dulu semuanya, sini!"
Jae langsung berlari ke arah seruan itu, diikuti oleh Lili yang menundukkan kepalanya.
Beruntung sekali ada tempat bagi mereka berteduh di sisi taman.
Rambut Lili agak basah saat tiba di tempat yang aman ini. Bajunya juga. Jae pun sama. Yang lainnya tampak mengeluh dan segera mengepal barang-barang untuk membuat film dengan tissue yang ada.
Ketika Lili membenarkan rambutnya, ponselnya terasa bergetar di tas. Ada satu pesan yang ia terima.
Theo: lo di mana?
Lili benar-benar baru ingat dengan Theo dan segala urusannya dengan laki-laki itu.
Lili: aduh, maaf ya, Yo. Gue ada urusan sama Kak Jae, nih. Sorry banget, masbrow
Balas Lili tak dijawab bahkan setelah lima menit Lili menunggu. Lili cemberut, kemudian memasukkan kembali ponselnya ke tas. Tanpa sadar bahwa Jae melihatnya sedari tadi, memerhatikannya.
"Dari siapa nih? Pacar?" tanya Jae langsung.
"Ha--ah, bukan, bukan! Bukan pacar, Kak. Aku nggak ada pacar," balas Lili kaget, dilanjutkan dengan tawa hambar yang menyiratkan rasa malunya.
"Yah," keluh Jae tampak sedih. Ketika itu, ponselnya berdering. Jae melihat ponselnya, kemudian tersenyum simpul pada Lili seraya mengangkat ponselnya. "Gue ditelepon pacar, nih. Bentar, yak."
Tanpa melihat wajah syok Lili, Jae berbalik dan menerima telepon di sana. Sehingga Lili hanya dapat melihat punggungnya yang baru saja terlihat dekat, kini terlihat amat jauh dan tak teraih.
__ADS_1
Seperti langit mendung yang meneteskan beribu air, perasaan Lili juga serupa dengan itu. Lili tak mengerti mengapa rasanya sesakit dan sesesak ini ketika pada kenyataannya dia benar-benar bukan siapa-siapa untuk Jae.
Lili benar-benar tak seberarti itu untuk seorang Nakasutra Jaelo.