
Di lain negara, di sebuah tempat penyimpanan abu, Yohan berdiri di depan tabung abu ayahnya dengan wajah datar.
Perlu banyak waktu dan pertimbangan sebelum akhirnya Yohan berani untuk berangkat sendiri tanpa ibunya karena ibunya sudah lebih dulu berkabung beberapa hari yang lalu. Yohan juga sebenarnya sudah ikut menyambut simpati orang-orang di rumah duka, namun ia ingin mengunjungi tabung abu ayahnya lagi setelah satu minggu berlalu.
Sendirian. Dengan sepenuh hati dan segenap rasa, Yohan mulai meneteskan air matanya. Semula, tak ada isak yang terdengar. Namun, detik demi detik berlalu, akhirnya Yohan tak kuasa untuk tak menangis setelah sebelumnya menahannya kuat-kuat.
Yohan memang tak menangis saat di rumah duka, sama sekali tak tampak sedih hingga membuat beberapa orang yang datang menganggapnya tak sayang ayah sendiri.
Padahal, Yohan rasanya sudah tak bisa menangis lagi setelah banyak meluapkan tangisnya itu pada Ily sejak pemberitahuan pertama ayahnya sudah tiada terdengar di telinganya.
Kini, Yohan menangis lagi.
Pahlawannya sudah tiada. Panutannya tak lagi ada. Motivasinya sudah pergi. Dan kini hanya tersisa kenangan pahit dan manis yang sangat menyiksa hati.
Ayah mungkin selalu menuntut Yohan, ayah mungkin selalu memaksa Yohan, ayah mungkin tak selalu bangga akan Yohan dan ayah mungkin tak selalu ada di kala Yohan senang.
Namun, ketika Yohan terpuruk, ayahnya selalu ada. Ketika Yohan bersedih, ayah selalu memeluknya. Ketika Yohan terbuang, ayah meraihnya dalam pelukan erat dan hangat.
Meski itu hanya terjadi saat Yohan masih kecil dan berhenti saat Yohan beranjak dewasa, Yohan tak pernah benar-benar membenci ayahnya. Meski ada sekilas marah, ada sekelebat kesal dan ada segaris kesal, Yohan menyayangi ayahnya.
__ADS_1
Nenek dan Ibu juga sama terpukulnya. Sebab ayah tak pernah mengatakan bahwa dirinya punya riwayat penyakit jantung pada siapapun. Entah itu ibunya, istrinya atau anaknya.
Ayah seperti kesepian dan bersedih sendirian. Yohan merasa sangat bersalah dan rasanya sangat berat untuk melewati kesedihan ini.
"Ayah, semoga bahagia di sana," kata Yohan lemah. "Maaf kalau sampai detik terakhir, aku masih belum bisa membuat ayah bangga. Ke depannya, aku akan berusaha untuk selalu dan menjadi lebih baik. Aku akan berjanji, yah. Jadi ... jadi ... jangan sampai ayah bersedih lagi di sana. Bersenang-senanglah, tersenyumlah di sana, karena aku juga kan begitu di sini."
Yohan tersenyum, menyentuh kaca yang melapisi sekat tempat tabung abu ayahnya serta foto berbingkai kayu yang terpotret momen di mana ayah mencium ibunya yang tengah menggendong dirinya dengan gerakan sarat kesedihan dan kerapuhan.
"Selamat tinggal, ayah."
Mengucapkan perpisahan selamanya pada orang yang sangat berarti untuk dirinya, Yohan tak pernah mengira akan terasa sesakit, sesedih dan seberat ini. Karenanya, Yohan merasa dirinya tak bisa lagi menghadapi kehilangan selanjutnya.
"Yohan, hidup kamu harus berlanjut," pesan ibu sewaktu Yohan pulang dengan wajah lesu dan badan yang lemah. Terlalu terkuras oleh menangis. "Kalau bersedih terus, hidup kamu mau dihabiskan oleh apa? Kamu harus bangkit, Yohan. Ada surat dari ayah. Ibu menemukannya waktu beres-beres di meja kerjanya."
Yohan mengambil sepucuk surat dari tangan ibu untuk ia bawa ke kamarnya. Yohan duduk di tepi ranjangnya seraya membuka surat itu. Setelah menguatkan hati, ia mulai membuka surat itu dan membacanya pelan-pelan.
***Halo, Yohan.
Apa kabar?
__ADS_1
Rasanya aneh karena ayah jarang sekali menulis surat pribadi, apalagi untuk anak sendiri.
Tapi, ayah harus melakukannya karena suatu hari ayah akan pergi juga. Entah sebab apa, yang pasti semua manusia akan kembali pada Tuhannya. Kamu paham dan pastinya tidak sedang menangis sekarang, kan***?
Yohan mengusap matanya yang mulai berair lagi. Dadanya sesak, namun Yohan berusaha menguatkan diri supaya tak lagi menangis seperti apa yang ayahnya harapkan.
***Ayah nggak bisa tahu kapan tepatnya kamu membaca surat ini. Namun, yang pasti, kamu membacanya saat ayah telah jadi abu. Entah kapan itu, ayah harap ke depannya kamu bisa menjadi lebih baik lagi.
Jangan kecewakan ibumu, seandainya ia masih ada. Jangan kecewakan nenek juga seandainya ia masih ada. Kalau bisa, akrablah dengan sepupumu, Juna. Dia seumuran dengan kamu, kan?
Ayah menyerahkan semuanya padamu, Yohan. Ke depannya, hiduplah sesuai yang kamu inginkan. Jangan ikuti jejak jelek ayahmu ini.
Salam.
Dari ayah yang selalu bangga pada anaknya***.
Yohan tak pernah mengerti mengapa perkataan dari ayahnya yang selalu keras ini begitu lembut dan menyentuh hati. Hingga Yohan tak lagi kuasa menahan tangis harunya.
Jika ini menjadi hari terburuknya karena harus menerima kenyataan bahwa ayahnya telah jadi abu, maka hari ini juga bisa menjadi hari terbaiknya sejak ia dilahirkan karena ayah mengatakan sampai detik terakhirnya, bahwa ia bangga memiliki Yohan sebagai anaknya.
__ADS_1
***