Dari Korea

Dari Korea
24


__ADS_3

"Ly, lo udah tahu belum?" tanya Eza hati-hati, pada Ily yang masih saja menatap kosong sambil duduk di kursi halaman belakang rumahnya dengan mug berisi susu panas di hadapannya.


Pulang sekolah Ily diantar Elvan, karena Eza yang menyuruhnya untuk berjaga-jaga agar Ily tak berbuat aneh-aneh karena bersedih. Elvan bahkan sudah menyeduhkan susu favoritnya, namun tampaknya Ily masih saja murung.


Tak mendapat jawaban yang diinginkan, Eza menatap Elvan yang duduk di seberangnya. "Van, gimana anjir."


Elvan mendengus, menjentikkan jarinya di depan wajah Ily berkali-kali. Namun, tak kunjung juga Ily jawab meski kini matanya sudah mengerjap dan tak lagi menatap kosong. Ily berdecak kecil, menyesal susu dalam mug itu perlahan.


"Ly, gue mau ngomong masa lo cuekin sih," kata Eza kesal, kemudian memperlihatkan layar ponselnya pada Ily. "Ini nih, tetangga lo dulunya kayaknya punya masalah serius di Korea. Beritanya ada, nih. Mau gue bacain nggak?"


Ily lagi-lagi tak menjawab, malah fokus memerhatikan tanaman rambat keluarga. Eza sedih melihatnya, sementara Elvan tampak terlalu lelah untuk mengurusi Ily, jadi laki-laki itu hanya diam.


"Ly, denger, ya," kata Eza tak peduli apakah Ily akan mendengarkan atau tidak, namun yang pasti ia ingin mengatakan satu hal. "Tetangga lo itu nggak baik, dia anak nakal, bermasalah dan bahkan bikin lo kayak gini. Lusa udah mau Try Out, woi. Fokus."


Mendengar ocehan Eza, Ily langsung berdecak dan menepuk-nepuk pipinya supaya sadar. "Gue juga pengennya fokus, Za. Tapi si Korea itu bikin pusing. Jadi, dia kenapa diberitain?"


"Lah, lo nggak baca?" tanya Eza heran. Sebenarnya sangat senang karena akhirnya teman sejiwanya itu mau bersuara. "Beritanya udah ada dari pagi, woi."


"Gue sibuk, elah. Bacain aja, gue penasaran." Ily beralih menatap Elvan yang sedari tadi diam. "Lo juga belum baca, kan? Gue tuh solid nungguin kalian berdua biar bisa bareng-bareng taunya."


Elvan mengangguk satu kali. "Lanjut, Za."


"Belum mulai, bego, gimana sih?" Ily tertawa kecil, membuat Eza **** senyum karena berpikir kini Ily sudah merasa membaik.


"Yaudah, gue bacain, ya," kata Eza sambil membaca tulisan di ponselnya, dengan suara serius ia melanjutkan, "kejadiannya sekitar satu tahun yang lalu, 5 Januari 2015. Sekarang tanggal berapa sih?"


Ily berdecak. "Sekarang 4 Maret, anjir, nggak penting banget nanya begituan."


Eza cengengesan tanpa rasa bersalah meski kini wajah Ily sudah berubah kesal. Elvan hanya mendengarkan, sebenarnya agak aneh karena biasanya laki-laki lebih berisik dari Eza.


"Oke, lanjut aja, ya." Eza menggulirkan layarnya, kemudian membaca dengan serius. "Di jalanan sepi di sebuah desa terpencil telah terciduk lima laki-laki berpakaian seba hitam yang diduga membawa 5 Kg narkotika jenis serbuk. Lima laki-laki itu memiliki rincian sebagai berikut. KYH (17), PWS (19), NDM (19), KTH (20), dan LMU (21). Buset dah, namanya disamarin gini, gue kagak ngerti."


"KYH, Kim Yohan, bego," jelas Elvan tanpa diminta.


"Kok lo bisa tahu?" tanya Eza agak dongkol.


"Gue mikir, lah," balas Elvan pedas. "Nggak kayak lo."


Eza mendelik, kemudian berlatih pada Ily seolah meminta bantuan. "Ily, belain abang, dong."


"Apasih," kata Ily jijik. "Lanjutin aja dong. Abis mereka keciduk terus gimana?"


"Oh." Eza kembali menatap layar ponselnya. "Mereka awalnya lari, sekuat tenaga sampai beberapa kali nabrak tiang dan banyak kandang ayam yang mereka injak--"


"Eza, lo bacain berita apa ngelawak sih, anjir," kata Ily kesal, langsung saja mengambil ponsel Eza dan membacanya sendiri. Awalnya Ily bingung dengan website yang menyediakan kasus seperti ini dalam bahasa Indonesia, seolah khusus saja memberitakan tentang Yohan, namun setelah ditelusuri rupanya website itu merupakan website yang menerjemahkan berita-berita Korea untuk dikonsumsi netizen.


Lima laki-laki itu diterjang polisi. Sudah diancam, bahkan polisi menembak salah satu kaki mereka, namun tak kunjung juga berhenti rombongan itu sampai akhirnya polisi berhasil mengepung mereka di depan sebuah sungai.


Polisi menangkap kelimanya, menginterogasinya dan setelah waktu panjang dihabiskan, salah satu dari mereka adalah bandar narkoba dan belum ditemukan juga bos besarnya karena LMU (21) menutup mulutnya. LMU (21) diberikan hukum dua tahun penjara atas perbuatan keji yang merugikan berbagai pihak. PWS (19) dan NDM (19) yang merupakan teman sekelas jelas hanyalah pengedar dengan kegilaan mereka dengan uang, hanya ditahan tiga bulan karena terbukti tak pernah memakai. KTH (20) terbukti sebagai pecandu dan dikenakan denda serta rehabilitasi satu tahun. Sementara yang terakhir, KYH (17) merupakan seorang pelajar berkeluarga lengkap dan damai yang tersesat dan baru menjadi pengedar dalam dua tahun kurang. Ia hanya diberi hukuman berupa denda.


Mereka berempat adalah korban penceraian orang tua dan kurangnya perhatian dalam pertumbuhan serta perkembangannya. Perlu diperhatikan lagi bahwa semua anak berhak mendapat kasih sayang.


Awalnya kasus itu hanya sampai di sana. Namun, KYH (17) tiba-tiba mengaku telah membunuh temannya secara tak sengaja dua tahun yang lalu di sebuah gedung tak terpakai. Perbuatannya terbukti benar karena keempat laki-laki yang menjadi rekannya dalam pengedaran narkoba menjadi saksinya.


Atas kejujurannya, KYH (17) diberi sanksi tahanan enam bulan. Saat itu KYH (17) masih berusia dibawah umur dan melakukan itu dengan terpaksa. Orang tuanya sangat terpukul dan bahkan menangis sampai satu Minggu lamanya.


Keluarga korban mengaku tak keberatan karena sudah mengikhlaskan sejak anak mereka menghilang tanpa kejelasan dua tahun yang lalu. Mungkin hanya sedih dan kecewa karena tak begitu memperhatikan anaknya.

__ADS_1


Keluarga korban nampaknya tak begitu dekat dengan korban, hingga korban kehilangan arah seperti yang KYH (19) katakan. Kasus ini dinyatakan selesai dan tak ada kesalahpahaman lagi.


Ily menutup mulutnya dengan tangan dan memberikan ponsel Eza pada pemiliknya. Ia terdiam, merasa ingin menangis namun dirinya sangat malu hingga menahannya habis-habisan.


"Udah bacanya? Gimana? Bisa lo ceritain? Gue males baca," kata Eza tanpa menyadari mata Ily yang mulai berkaca-kaca.


Elvan berdeham, membuat Eza dan Ily menatap padanya dengan pandangan bertanya. "Udah gue bilangin si Yohan ini punya sesuatu yang disembunyikan. Dari awal gue udah ingetin, dan rupanya dia seorang pembunuh, nggak baik banget buat deket sama Ily."


Eza mengernyit mendengar perkataan Elvan. Setahunya, Elvan tak mengetahui kasus Yohan seperti dirinya. "Kenapa lo bilang dia pembunuh? Emang dia ngebunuh siapa?"


Alis Elvan mengangkat dengan wajah terkejut, namun Ily yang menunduk tiba-tiba membuat Eza segera mengalihkan perhatian padanya.


"Lo kenapa, Ly?"


"Ternyata bener, Za. Ternyata bener." Ily mendongak sambil menangis habis-habisan. Air matanya sudah bercucuran dan membuat Eza terkejut hingga tak sanggup berkata-kata. "Gue kira Yohan yang semalam ngasih tau gue cuma bercanda. Tapi, rupanya beneran. Gue harus gimana, Za? Gue kaget, gue takut, gue marah, gue kecewa, gue juga sedih karena tadi Yohan nuduh gue gitu aja sebagai orang yang menyebarkan tentang dia yang pernah bunuh seseorang."


Eza membulatkan matanya. "Kok bisa tetangga lo itu ngasih tau lo dulu?"


"Jadi, semalam itu Yohan datang, terus ngasih tahu," balas Ily masih dengan tangisannya. "Gimana, dong? Gue nggak nyangka Yohan beneran pernah bunuh orang. Apa gue harus membantunya bangkit lagi setelah jadi bahan ocehan anak satu sekolah atau--"


"Lo jauhin aja, dia nggak baik buat lo," saran Elvan dengan wajah dingin, namun serius di saat bersamaan.


***


"Kamu. Bukan. Anak. Ibu."


Yohan pernah mengatakan bahwa ia ingin mati tiga tahun yang lalu. Maka kini, ia juga ingin segera mengakhiri eksistensinya.


Mata Yohan terasa perih, ingin sekali menangis sejadinya ketika Ibu mengatakannya dengan dingin, tanpa perasaan. Yohan telah meminta maaf, sebab tak berhati-hati hingga masa lalu dirinya diketahui banyak orang.


"Kata Pak Andi, kalau aku tidak berulah lagi, surat berkelakuan baikku akan diberikan. Aku tak akan buat masalah apapun lagi, Bu."


Ibu bangkit dari duduk, berganti untuk duduk bersimpuh di hadapan Yohan yang terduduk putus asa. Ibu mengusap pelan rahang Yohan, mengangkat wajah itu supaya menatapnya.


"Dengar, Yohan," kata Ibu pelan, menahan tangisnya supaya tak pecah. "Ini terakhir kalinya Ibu mengingatkan. Jangan mengecewakan kami lagi."


Tangis Yohan pecah, air matanya luruh banyak, namun seperti biasanya, Yohan menahan suaranya dengan sekuat tenaga hingga membuat siapapun yang melihatnya akan tersayat hati.


Yohan merasa tak enak hati. Pada Ibunya yang masih tak menyerah, pada Ibunya yang masih tak pernah lelah, pada Ibunya yang tak meninggalkannya, dan pada Ibunya yang lagi-lagi memberi kesempatan baginya. Menyayanginya, memperdulikannya dan memperhatikannya tanpa pernah habis.


Tak tega melihat anaknya seperti itu, Ibu memeluk Yohan, mengambil kepalanya untuk ia peluk. Yohan balas memeluk, menenggelamkan kepalanya pada lekukan leher Ibu, menangis di sana sejadinya.


Mencium wangi Ibunya, merasakan kedekatan seperti ini, Yohan teringat akan kejadian setelah tertangkap polisi dan baru melewatkan satu hari di penjara.


Ayah dan Ibunya datang, dengan sendu dalam mata mereka yang tak pernah bisa disembunyikan. Yohan melihatnya, jelas amat tersiksa hingga harus menahan tangisnya habis-habisan dengan mencubit pahanya sendiri hingga membiru.


"Nak," sapa Ayah dengan suara berat. Ayah terlihat sangat marah, sementara Ibu tampak sangat terluka melihatnya. "Kami kecewa padamu."


Yohan menunduk, tak berdaya untuk menjawab. Kantung mata Ayah terlihat jelas dan Ibu terlihat menua dengan cepat, mereka berdua sangat kesulitan untuk memanajemen kesedihan dan kekecewaannya.


"Kenapa kamu tak bilang dari awal? Kenapa baru sekarang?" tanya Ayah melanjutkan, mengerti bahwa anak satu-satunya itu tak akan dapat menjawab. "Apa ini yang Ayah ajarkan? Apa ini yang Ibu ajarkan? Apakah menjadi pengedar sempat kami ajarkan padamu, Kim Yohan? JAWAB!"


Yohan amat tersentak, ia mengepalkan tangannya sambil mencengkram celana bahannya. Tangan itu gemetar, begitupula dengan kakinya. Bahu Yohan mulai bergetar, namun ia mengeraskan rahangnya untuk menahan tangis.


"Yohan sudah jelaskan, Yah. Yohan begini bukan keinginan Yohan, Yohan terpaksa."


"Alah, kamu pintar sekali mencari alasan, bilang saja kamu ini nakal dan bosan dengan kehidupan bersama Ayah," dengus Ayah kesal, membuat Yohan geram karena tak dipercayai. Matanya menatap tajam pada Yohan yang masih saja menunduk. "Jika ini sampai terjadi lagi, jangan harap kamu menjadi anak Ayah lagi."

__ADS_1


Tanpa banyak bicara lagi, Ayah bangkit dari sana dan meninggalkan Yohan. Yohan tak sadar, karenanya ia terkejut ketika hanya melihat Ibu saat mendongakkan kepalanya. Perih menjalar di hatinya, mencipta lubang hampa yang membuatnya seperti dibuang karena tak berguna lagi.


Ibu masih sama, dengan mata berair dan hidung memerah. Perlahan, Ibu duduk berhadapan dengan Yohan dan terhalang kaca tebal yang tak mudah pecah. Yohan menatap Ibu dengan sendu dan menyesal.


"Ibu--"


"Rindu padamu, Yohan," potong Ibu dengan senyum menyejukkan. "Ibu takut kamu di sini sedih, Ibu takut kamu di sini kelaparan, Ibu takut di sini kamu kesepian tanpa Ibu dan Ayah. Cepatlah pulang, Nak."


Yohan menggigit bibirnya kuat-kuat. Ingin sekali memeluk Ibu dengan erat dan menangis di pelukannya sejadi-jadinya. Yohan juga sebenarnya sangat tak nyaman di sini. Ia kesepian, ia sedih, ia hampa dan tak ada satupun yang peduli padanya.


Yohan butuh uluran tangan, pelukan hangat dan kata-kata menenangkan yang juga membuatnya bersemangat untuk menjalani hidup.


"Ibu, pasti percaya dengan Yohan, bukan? Yohan tidak pernah ingin menjadi seperti ini. Semuanya di luar kendali Yohan, Bu," kata Yohan dengan sisa putus asanya, berharap Ibu mempercayainya sekali ini saja.


Sebab Ayah sudah tak percaya lagi padanya, membuangnya begitu saja hingga meninggalkan Yohan tanpa memberikan waktu untuk Yohan membela diri lebih lama.


Ibu tersenyum sedih, ia menutup matanya dan air matanya mengalir sampai membuat Yohan tak tega melihatnya. "Ibu percaya, Yohan. Kamu anak baik dan akan selalu seperti itu. Ibu berada di pihakmu, Yohan."


Senyum Yohan tak bisa terhindarkan untuk terbit, laki-laki akhirnya dapat bernapas lega. Hampir air matanya menetes jika tak melihat senyum lebar Ibunya yang menenangkan.


"Terimakasih, Bu. Yohan berjanji untuk tak mengulang ini lagi. Ini terakhir kalinya, Bu," kata Yohan percaya diri.


"Maaf jika Ibu salah dalam mendidikmu, membimbingmu dan menggiringmu," kata Ibu disela pelukan mereka dengan suara lembut. "Maaf jika selama ini sayang Ibu kurang padamu."


"Tidak, Bu," balas Yohan dalam tangis tanpa suaranya. "Aku yang seharusnya minta maaf. Karenanya sudah menyusahkan, mengecewakan dan membuat Ibu marah. Aku anak yang buruk."


"Tidak, Yohan, kamu anak baik," balas Ibu sangat lembut, tangannya membelai rambut Yohan dengan sayang, "akan terus seperti itu bagi Ibu."


Yohan tersenyum kecil. "Tapi Ibu pernah bilang aku ini bukan anak Ibu."


"Ish," geram Ibu, langsung melepas pelukan itu dan menatap Yohan dengan tajam. "Kamu mau tak Ibu anggap anak?"


Yohan melotot. "Tentu saja, tidak!"


"Itu karena Ibu tak mau kamu nakal lagi! Ibu tidak menyukainya, Ayah juga! Harusnya kamu belajar saja mumpung masih muda!"


Yohan tertawa kecil, kemudian meletakkan tangannya di samping pelipis, melakukan hormat pada Ibunya. "Siap, bos!"


"Kalau kamu begini lagi, kamu mau apa?" tanya Ibu sambil berkacak pinggang.


"Aku akan minta maaf lagi, berjanji untuk tak mengulanginya dan Ibu akan memelukku lagi, tetap berada di pihakku," jawab Yohan percaya diri.


"Jangan bercanda!" Ibu mengetuk kepala Yohan sambil bangkit dengan wajah kesal. "Kalau kamu nakal lagi, Ibu tak akan segan-segan untuk membuangmu dan meninggalkanmu di sini."


"Untung ada Ily," balas Yohan refleks.


"Eh?"


Sadar akan mulutnya yang terpleset, Yohan menutupnya dengan telapak tangan dan melotot. Ia menatap ibunya dengan was-was. "Maksudku, aku bisa mencari teman saja."


Ibu mengulas senyum tipis. "Kamu tak pandai berteman ataupun menjalin hubungan lainnya, tapi rupanya hatimu itu sudah terisi oleh seseorang, ya?"


Telinga Yohan perlahan memanas, kemudian ia bangkit terburu-buru menuju kamarnya setelah berkata, "aku akan mandi dan belajar sesuai keinginan Ibu."


Melihat anak satu-satunya yang sedang kasmaran itu, Ibu tertawa geli kemudian mengetikkan pesan di ponsel untuk suaminya.


Anak kita jatuh cinta dan boleh punya kekasih. Setuju atau setuju?

__ADS_1


***


__ADS_2