Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 41


__ADS_3

Imel benar-benar tak bisa mengendalikan gugupnya.


"Lo nabrak gue, harusnya lo tanggung jawab," melas Imel di depan cermin toilet perempuan. Imel menjambak rambutnya dengan frustasi. Dia menarik napasnya panjang-panjang. "Lo nabrak--ergh! Imel, kenapa sih lo nggak bisa marah? Helow, ini adegan di mana harusnya lo teriak marah-marah, bukan melas kayak minta jajan ke nyokap!"


Bila harus Imel jabarkan, hari ini adalah hari pertama mereka shooting. Imel sudah memakai seragam SMA sesuai adegan yang akan diperankannya.


Lucas sudah ditetapkan menjadi lawan mainnya. Imel sudah mengenalnya kemarin, mereka juga sudah bertukar obrolan panjang semalam guna memperoleh chemistry.


Imel izin ke toilet hanya untuk meredakan gugupnya. Imel tak tahu harus bagaimana. Ibunya ada untuk menemani dan menyemangati, namun gugup Imel tak kunjung hilang.


Bukan hanya gugup karena membayangkan akan beradu akting dengan aktor muda yang tengah panas dan terkenal, Imel juga kan dilihat banyak orang dan dia berhadapan dengan kamera.


Satu hendak yang membuat kata-kata Imel seolah tertelan kembali.


Apalagi ditambah Imel yang tak bisa berteriak marah-marah untuk adegan pertama di mana dua tokoh utama bertemu untuk pertama kalinya.


Dalam detail naskahnya, Imel dengan membawa satu buku tebal yang dia pelajari untuk masuk ke perguruan tinggi negeri, sampai akhirnya Lucas berlari tanpa melihat-lihat dan berakhir membuat Imel terjatuh.


Wajah Imel dalam film itu temperamen dan egois. Dia marah-marah dan menyalahkan Lucas terus-menerus bahkan setelah Lucas meminta maaf.


"Lo nabrak gue," kata Imel tajam. Kemudian dia meringis. "Bukan gitu, Mel. Lo harus teriak, *****. Teriak aja, deh."


Imel melihat-lihat sekeliling. Toiletnya kosong. Kemudian, dia menatap pantulan dirinya dengan pandangan lurus-lurus, penuh tekad dan niat. Kepalanya mengangguk kecil.


"Lo nabrak gue!" Imel berteriak sambil melotot. "Lo nabrak gue dan itu nggak cukup dengan lo cuma minta maaf!"


Napas Imel yang memburu turut menjadi pendukung yang bagus atas emosinya. Sedetik kemudian, Imel tersenyum lebar. Dia membenarkan letak poni rata di keningnya.


"Oke, sip. Bagus, Mel!"


Dengan latihan itu, Imel merasa lebih baik dan lebih siap. Gugup yang awalnya terasa sangat pekat tak begitu terasa lagi.


Namun, ketika dia sampai di lokasi shooting, di salah satu koridor sekolah, mendadak gugupnya datang lagi. Dia melihat Lucas yang sedang dirias dan jantungnya berdebar kencang sekali.


"Udah siap, Mel?" Sang Sutradara bertanya. "Take 1, ready?"


Terputus-putus, Imel mengangguk.


"Oke! Tiga menit lagi persiapan, abis itu langsung shoot, oke?" seru sutradara pada sekawan kameraman dan kru yang lainnya.


"Oke!"


Karena ini, Imel tambah gugup lagi. Di tempat duduk untuk tamu terundang, Imel bisa melihat Ibunya. Ibu tersenyum dan menatapnya dengan penuh bangga.


Bukannya Imel senang, dia tambah gugup lagi. Imel tak mau mengecewakan ibunya, juga orang-orang yang telah menaruh percaya padanya.


Karena itu, Imel mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia mengambil buku tebal yang menjadi benda pendukung dan berdiri, bersiap-siap.


Lucas sudah berdiri di sana, siap-siap untuk berlari.


Tiga menit rasanya hanya tiga detik bagi Imel, saat tahu-tahu dia mendengar suara sutradara berseru, "Oke, take 1, ready shoooot, and action!"


Imel membuang napasnya panjang-panjang. Kemudian berjalan dengan raut wajah tegas dan penuh tekad. Lucas mulai berlari kencang ke arahnya, tahu-tahu menabrak Imel hingga terjatuh betulan tanpa bisa ditahan. Bukunya sudah terlempar entah ke mana.


Rasanya sakit sekali. Imel ingin menangis saja.


"Aduh, sorry, lo nggak apa-apa?" Lucas segera membantunya berdiri. Wajah bersalah dan polosnya benar-benar juara, membuat Imel emosi betulan.


Setelah Imel menerima uluran tangan Lucas dan berdiri kembali dari jatuhnya, Imel langsung menyentak tangannya dari genggaman Lucas.


"Lo nabrak gue!"

__ADS_1


"Iya, makanya gue minta maaf." Lucas berkata agak kesal.


"Rasa sakit gue nggak cukup dengan hanya lo minta maaf!" Imel melotot matanya. Kemudian menunjuk buku yang sudah tergeletak tanpa etis. "Lo tau berapa harga bukunya?! Lo bisa ganti rugi, nggak?"


Lucas mendecih, meremehkan. "Berapa emangnya? Gue bisa bayar itu berapapun."


Di sini, Lucas berperan sebagai anak seorang dokter yang sudah terkenal dan punya posisi tinggi di sekolah ini.


"Brengsek," umpat Imel tajam. "Itu bukan buku yang bisa dibeli sama uang. Itu buku yang gue bikin susah payah dan baru aja lo bikin dia masuk tong sampah."


"Emangnya itu buku apa, sih?"


Imel maju selangkah, benar-benar berhadapan dengan Lucas dan mendongakkan kepalanya dengan tatapan tajam. "Gue mau lima juta buat ganti rugi."


"Lah? Katanya tadi nggak bisa diganti sama uang--"


"Bodo."


Dan Imel pergi dari hadapan Lucas dengan langkah besar yang sangat penuh kemarahan.


"Cut!" Sutradara berseru dan langsung berdiri untuk bertepuk tangan. Matanya menyorot pada Imel dengan senyuman lebar dan puas. "Untuk ukuran yang baru masuk, ini sih udah kayak level dewa."


Imel menunduk di tempatnya, tersenyum penuh haru.


***


Lili memakai celana training berwarna abu-abu dan sweater pink dengan rambut panjangnya yang dikepang oleh Ily. Lili tersenyum pada cermin, dia memoleskan lip balm secukupnya dan membenarkan letak kaca mata bulatnya.


Lili mencoba untuk tersenyum. Lili menunjukkan deretan giginya dan menyipitkan matanya. Lili mengerucutkan bibirnya. Lili mengedipkan satu matanya.


Bukan. Lili bukan latihan untuk jadi idol. Dia hanya mengecek penampilannya saja.


Lili mundur sedikit, melihat pantulan dirinya lebih luas, dari atas sampai bawah, dari ujung kepalanya sampai kakinya.


"Gue kan cuma mau liat Theo balapan kuda. Nggak bakalan ke mal atau sbux, kan?" Lili menipiskan bibirnya. "Balapan kuda tuh termasuk olahraga raga, kan?"


Gara-gara akan keluar menemani dan mengamati Theo balapan kuda, Lili jadi bingung hari ini.


Lili takut salah kostum lagi seperti kemarin. Padahal, celana training dan sweater itu adalah paduan kesukaan Lili. Hampir semua celana dan bajunya berupa training dan sweater dengan berbagai macam warna.


"LILI, ADA THEO!"


Teriakan Ily yang kencang itu membuat Lili terkejut. Perempuan itu langsung keluar kamar, ketika dua langkah keluar, dia baru ingat tidak membawa tas selempangnya. Alhasil, Lili balik lagi dengan buru-buru untuk menentang tas selempangnya dan berjalan ke arah luar rumahnya.


Ketika melewati Yohan dan Ily yang duduk santai di ruang tengah, Lili berhenti. Sudah ada Luhan dan Titi yang bermain-main di bawah.


"Lili berangkat," pamit Lili.


"Mau ke mana?" tanya Yohan. "Katanya Theo mau ngajak kamu ke suatu tempat."


"Mau ke rumah temen. Biasa main," jawab Lili jujur."


"Biasa main dari mana? Biasanya kamu di rumah aja, jarang main," balas Ily heran.


"Lili udah upgrade sekarang, Bu," balas Lili dengan tawa kecil untuk setelahnya berjalan cepat karena tak mau diintrogasi lagi.


Ketika sampai di ruang tamu, Lili melihat Theo yang duduk di salah satu sofa. Laki-laki itu seperti biasa memakai jins dan kaos yang berwarna serupa; hitam, yang dibalut oleh jaket jins berwarna sama.


"Buset deh, kayak mau ke makan aja baju lo," kata Lili memberikan tanggapan untuk baju Theo.


Rambut yang telah dipotong dan rapi laki-laki itu setengah basah, kentara sekali baru saja mandi. Wajahnya tampak segar dari biasanya karena mungkin tadi malam dia tidak keluar untuk main-main.

__ADS_1


Theo berdiri sesaat setelah melihat Lili. Laki-laki itu juga memerhatikan penampilan Lili.


"Nggak ada baju lain?" tanya Theo pedas. "Perasaan lo pake baju itu-itu mulu."


Mata Lili membulat. "Jangan terlalu jujur napa."


"Lo yang duluan ngomong," balas Theo jadi kesal.


"Ah, yaudah. Udah, deh. Udah, Yo. Udah." Lili tak menyadari bahwa dirinya sedang gugup entah karena apa, membuat Theo memandangnya dengan heran. "Ayo, deh, berangkat aja."


Namun, Theo tak peduli banyak. Laki-laki itu menuntun langkah Lili menuju motor untuk setelahnya, keduanya pergi melaju dalam kendaraan beroda dua itu.


Di tengah-tengah perjalanan, Lili menepuk pundak Theo dua kali.


"Yo, Yo."


"Hm?"


Lili terdiam sebentar. Dia sudah memikirkan dalam waktu yang lama dan matang-matang sebelum akhirnya bersuara, "Masa sih lo belum pernah jatuh cinta?"


"Kepo banget." Theo langsung menukas jengah.


"Yah, kan lo udah janji bakal ngasih tau semua rahasia hidup lo. Gue juga udah janji buat bagi-bagi hasil andai tulisan gue ini naik cetak."


"Kayaknya cuma lo yang anggap begitu."


"Yah, Yo, jangan gini dong ...." Lili cemberut seraya menepuk kecil punggung Theo. "Gue udah relain, lho. Ngikutin lo ke mana-mana, ngerjain ini-itu buat lo. Bisa nggak sekali aja lo baik sama gue? Langsung jawab gitu."


"Lo maksa lagi."


Lili langsung tertohok. "Oh, iya, maaf."


"Ck."


"Habisnya lo bikin penasaran aja sih, Yo," kata Lili tak mau langsung menyerah.


"Mau gue kasih tau kenapa?" tanya Theo ketika merasa berhenti karena lampu merah.


Lili melongok dengan semangat untuk melihat Theo yang fokus menatap ke depan. "Jelas! Mau banget, Yo!"


"Abis ini gue kasih tau." Theo kembali menjalankan motornya.


"Abis balapan kuda?" tanya Lili memastikan.


"Abis gue menang," balas Theo santai.


Selanjutnya, Lili memilih diam selama perjalanan berlangsung. Agak lama mereka berkendara, sampai akhirnya sampai di sebuah kediaman Lucas yang lebih murid villa mahal di TV-TV.


Lili tak berhenti bergumam kagum sejak awal dia turun dari motor Theo dan berjalan mengikuti langkah Theo yang dengan santainya masuk ke dalam.


Mereka berusaha melewati pos satpam yang segera mengizinkan keduanya masuk setelah Theo berkata bahwa mereka adalah teman Lucas dan menunjukkan fotonya dengan Lucas. Awalnya Lili tidak dibolehkan masuk, sampai Theo menelepon Lucas dan akhirnya Lili lulus.


Untuk turut masuk.


Theo dan Lili melewati beberapa rumah dengan eksterior mewah yang elegan, kolam renang, kolam ikan, gazebo dengan dua rusa yang berjalan-jalan di sekitarnya dan berakhir sampai di sebuah lapangan di mana sudah ada dua kuda di dalamnya.


Lapangan itu kuas, sebanding dengan luas dua lapangan sepak bola. Di pinggir lapangan terbuka itu ada beton yang menyerupai tempat duduk yang sepertinya khusus untuk penonton. Di sisi kanan ada stand yang berisi minuman serta buah-buahan.


"Woah, gila sih, ini udah kayak istana presiden aja," kagum Lili tak karuan. Ia menatap Theo dengan iri. "Dari mana sih lo bisa temenan sama yang super tajir gini?"


Theo berdecak.

__ADS_1


"Gila, Yo. Ini gila banget. Lucas anaknya siapa, sih?"


"Menteri Perhubungan."


__ADS_2