
Elvan agak sulit beradaptasi di asrama khusus ini.
Kebanyakan dari mereka sudah berumur dan mungkin hanya dirinya yang berumur kepala satu alias kini Elvan menjadi yang termuda. Menjadi yang paling muda di sini tidak seindah menjadi anak bungsu di keluarga. Beberapa kali, Elvan harus rela disuruh ini itu untuk beberapa orang.
Seperti mengambil minum, menjahit pakaian, atau membeli shampoo sachet ke warung terdekat. Iya, asramanya memang terletak di tengah-tengah perumahan kelas bawah masyarakat yang tentunya tak akan ada yang menyadari bahwa isinya dihuni oleh sekelompok preman yang haus darah.
Karena mereka menjadi luar biasa ramah ketika siang hari, namun berubah saat malam hari menjadi ganas dan tak karuan.
Elvan sudah mengalaminya malam kemarin. Dirinya juga ikut mengamalkan latihan silat yang diajarkan Bang Jefri pada beberapa orang yang dianggap musuh. Sebenarnya, Elvan tak begitu paham tentang musuh atau apa permasalahannya, sebab yang Elvan fokuskan saat ini adalah untuk bertemu teman ayah Juna.
Kim Yong Jun.
Ketika saat itu tiba, urusannya selesai.
Seharusnya begitu. Sebab Elvan tak mau lagi berurusan dengan tinju, darah, keringat, ringisan dan erangan.
***
Joehee sedang memasukan uang kembalian dari Pak Somad di tengah jalan ketika tiba-tiba ada seseorang yang mengambil dompetnya secara paksa hingga Joehee terkejut dan refleks mengejarnya sekuat tenaga sambil berteriak.
"ADA PENCURI! TOLONG! ADA PENCURI!"
Teriakan Joehee berdampak, karena selanjutnya, ada seseorang dengan motornya yang mengejar si pencuri dompet itu. Joehee tak begitu mengenali, namun gerakan orang di motor itu sangat cepat dan membuat Ily ngeri saat orang tersebut memukuli sang pencuri yang telah ditangkapnya.
Tak lama, orang itu berjalan ke arah Joehee dengan dompet di tangan. Awalnya, Joehee tak mengenalinya, namun setelah dekat, senyum Joehee segera terukir.
"Makasih, Kak Raihan!" serunya riang, saat mengambil dompetnya dari tangan Raihan.
"Hati-hati lain kali. Jangan buka dompet di pinggir jalan. Bahaya juga," balas Raihan lembut. Tanpa sadar, mengelus rambut Joehee dengan senyum tipis.
Telinga Joehee memerah, langsung menunduk malu dan salah tingkah. "I-iya, kak."
Raihan tertawa kecil, kemudian berbalik dan pergi dari hadapan Joehee begitu saja. Joehee mengeratkan pegangannya pada dompet, kemudian bertekad.
Bahwa ia tak akan melupakan jasa Raihan hari ini.
***
Ily memang sudah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Raihan jam satu siang tanpa membalas pesannya. Ily sengaja melakukannya karena sedang malas pergi keluar.
Namun, siapa sangka jika Raihan tetap datang jam satu tepat siang di hari Minggu ini?
Ily langsung gegalapan, turun ke bawah dari kamar dan berpamitan dengan orang tuanya sekilas. Dengan gerakan cepat, ia melangkah keluar rumah setelah memakai sepatu flat hitam favoritnya untuk menghampiri Raihan yang baru aja melepaskan helmnya di depan gerbang rumah Ily.
Raihan sempat agak terkejut karena Ily sudah berada di depannya secepat itu. Bahkan sebelum ia merapikan rambutnya yang bekas tertutup helm.
"Siang, Ily." Raihan menyapa singkat. "Udah makan belum?"
Ily membasahi bibirnya dengan gugup, kemudian berdeham. "Belum, Han."
"Bagus. Jadi maunya makan apa?"
"Apa aja deh boleh."
"Ramen, mau?"
Ily mengangguk kecil. "Boleh."
"Yaudah. Ayo, naik."
"Oh, iya!" Ily ingin sekali menjambak rambutnya sendiri sebab terlihat sangat bodoh karena canggung saat berbicara dan bertindak di depan Raihan.
Jika alasannya karena ungkapan Raihan hari-hari sebelumnya, Ily seharusnya dapat bersikap biasa saja karena perasaannya sudah luntur enam tahun yang lalu. Ily belum sempat memikirkan bahwa dirinya akan jatuh lagi pada Raihan.
Sebab jauh dalam lubuk hatinya... dia masih mengharapkan seseorang.
Sejurus kemudian, Raihan dan Ily sampai di sebuah kedai ramen yang kelihatannya lumayan sepi pengunjung. Hanya ada satu dua meja yang terisi. Keduanya duduk di salah satu yang kosong begitu tiba dan memesan menu yang sama sebab Ily belum pernah ke sini sebelumnya dan hanya mampu percaya pada selera Raihan.
__ADS_1
"Gue lumayan sering sih ke sini waktu jam SMP sama ibu."
"Oh, ya?"
"Iya, soalnya ibu suka banget ramen. Atau makanan apapun yang berkuah pedas. Tapi, seringnya ramen, sih. Soalnya kayak ada kenangan indah yang dia ingat kalau makan kuahnya itu." Raihan malah bercerita tanpa di sadari.
Ily tertawa kecil. "Lucu juga. Gue kira Bu Rima terus ada di butik kerjaannya."
"Ya, nggak mungkin juga di butik terus, kan? Ibu gue juga suka luangin waktu buat gue setidaknya seminggu sekali. Kita suka jalan ke sini kalau luang," jelas Raihan dengan senyum nyaman ketika bercerita pada Ily.
Bersama Ily, Raihan selalu ingin bercerita banyak. Sejak dulu, selalu begitu.
Tiap-tiap hal kecil yang ia alami, semuanya ia ceritakan pada Ily. Mulai dari bangun pagi, sampai kembali tidur. Raihan tak tahu Ily ingat atau tidak pada waktu itu, namun sampai kini Raihan masih ingat dengan jelas bagaimana tanggapan Ily setelah dirinya bercerita sedemikian banyak.
Ily akan mengangguk-angguk, kemudian berkata:
"Seru juga kayaknya kehidupan kamu. Jadi pengen mampir ke rumah kamu. Ibu kamu pasti baik banget!"
Lalu jawaban itu berubah menjadi:
"Pengen banget jadi kayak lo. Ayah Ibu gue nggak pernah ngajak gue jalan, tau, Han." Ily cemberut dengan lucu.
Meski begitu, Ily yang dulu masih sama dengan yang sekarang.
Raihan tersenyum lega karenanya. "Lo ajakin dong mereka. Pasti mau, tuh."
"Pasti nolak, deh, kayaknya," balas Ily tak setuju. "Soalnya Minggu itu hari libur satu-satunya buat mereka. Pasti digunakan buat istirahat daripada keluyuran sama anaknya."
"Kalau nggak dicoba mana bisa tau, Ily," tukas Raihan.
Ily terdiam. "Yaudah, nanti gue coba deh."
"Nah, gitu baru bagus."
Ily mengangguk kecil. Balas menatap Raihan yang kini menatapnya dengan lekat. Ily takut ada apa-apa lagi, takut dengan apa-apa yang akan dikatakan Raihan selanjutnya, saat sebenarnya Raihan hanya menepuk-nepuk rambutnya yang sepertinya terdapat sesuatu.
"Oh?" Ily ikut menepuk-nepuk rambutnya yang dirasa terdapat semut, kemudian menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pada Raihan. "Nggak apa-apa, Han. Justru gue berterimakasih sama lo."
"Oh, oke. Sama-sama," balas Raihan cepat, dengan senyum yang semoga dapat menarik hati Ily lebih jauh.
"Ly, gue mau ngomong sesuatu, nih," kata Raihan kemudian.
"Ya, ngomong aja, sih." Ily mengangkat kedua bahunya, tak begitu memikirkan.
"Lo tau kan gue suka sama lo." Perkataan Raihan yang terus terang itu langsung membuat Ily tersedak ludahnya sendiri, meski dia sudah menduga sebelumnya. Raihan tertawa melihatnya, kemudian melanjutkan perkataannya. "Maksud gue, gue naksir sama lo dan sekarang sayang sama lo."
"Han, aduh," pinta Ily dengan memelas. "Jangan suka tiba-tiba gitu. Please, gue nggak kuat. Gue kaget."
"Gue serius, Ly." Raihan memelas wajah super datar.
"Gue nggak mau bahas itu." Ily berdecak tak suka. "Kita di sini mau makan, bukan bahas perasaan."
"Lo nggak suka sama gue?" Raihan tak mendengar keinginan Ily.
"Bukan gitu," koreksi Ily cepat. Membuat raut wajah Raihan berubah lembut dari sebelumnya yang tegang dan keras.
"Gue lega." Raihan mengela napas kecil. Ily mengerutkan keningnya, kemudian Raihan membalasnya. "Setidaknya lo nggak langsung bilang nggak."
Ily ikut mengela napas kecil, menatap Raihan dengan lelah. "Han."
"Ly," balas Raihan cepat, seolah tau apa yang akan Ily bicarakan selanjutnya, Raihan langsung bertanya. "Mau sampai kapan lo mau gengsi sama perasaan lo? Kalau lo takut kejadian dulu terulang lagi, sekarang gue jamin lo nggak akan takut lagi. Gue akan bertanggung jawab sepenuhnya."
"Mau gue bukan begitu, Raihan." Ily menatap Raihan tak suka.
"Lo ada cowok lain," tuduh Raihan tanpa berpikir panjang.
"Raihan!" seru Ily refleks.
__ADS_1
"Apa?"
"Kalau lo maksa, bisa jadi gue nggak mau lagi ketemu sama lo." Ily mengatakan ancaman dengan kerutan di kening yang banyak.
Raihan terdiam lumayan lama. Baru sadar bahwa keegoisannya mulai merasuki dirinya hingga tak berpikir banyak mengenai persetujuan Ily atas tindakan dan perkataannya.
"Fine. Maaf." Suara Raihan keluar lebih rendah dan pelan dari sebelumnya.
Ily hanya menatapnya datar.
"Gue sefrustasi ini karena gue emang sesayang itu sama lo, Ly. Dulu juga begitu, bedanya waktu itu ada penghalang yang nggak bisa gue handle sendiri." Raihan menjelaskan dengan nada yang lebih tenang, tatapan matanya melembut dan harus wajahnya meneduh. "Sekarang gue merasa lebih terjamin dan akan memastikan lo selalu ada di jangkauan gue, Ly."
Ily menggigit bibirnya, berpikir. Lumayan lama, hingga akhirnya ia mengela napas. "Masalahnya bukan gitu, Raihan."
"Terus apa?"
"Gue.... gue rasa perasaan gue sama lo nggak akan pernah sama lagi kayak dulu." Ily menjelaskan dengan hati-hati, takut salah kata-kata dan akhirnya membuat hubungannya dengan Raihan menjadi lebih rumit. "Apa yang gue utarakan waktu dulu, hanya terjadi pada masa itu. Setelahnya, semuanya berubah total. Gue udah benar-benar lupain lo sampai lo tiba-tiba muncul lagi entah kenapa."
"Oh...." Raihan speechless.
"Apalagi itu cuma pernyataan cinta anak SMP, yang kaya orang-orang cuma perasaan labil yang nggak disertai pemikiran matang untuk masa depan. Seharusnya nggak menjadikan lo sebegini lebaynya."
"Gue lebay?" Raut wajah Raihan tampak sangat terpukul dan Ily menyesal karenanya.
"Iya." Namun, Ily tak bisa menyerah sekarang untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Damn." Raihan mengalihkan pandangannya ke arah lain, dan melihat Raihan bisa mengumpat, Ily semakin merasa tak nyaman di dekatnya. "Gue nggak ngerti jalan pikiran lo."
"Gue mau pikir-pikir dulu, Han. Rasa itu bukan permainan. Nggak bisa berubah secepat membalikkan buku, nggak bisa dipaksakan, nggak bisa dipalsukan apalagi ditekankan hanya untuk penuhi ego sendiri," jelas Ily dengan sabar.
"Gue egois?" Lagi, Raihan merasa terpukul, tertohok dan harga dirinya turun drastis di depan Ily.
"Sekarang, iya." Ily menjawab tegas.
Dan raut wajah Raihan langsung turun, kecewa, menyesal dan malu. Ia terdiam lama, kemudian bergumam pada Ily. "Oke, maaf."
Ily memutar bola matanya. "Sebenarnya lo baik, Raihan. Kenapa bisa berubah kayak gini, sih? Lo terlalu agresif dan gue nggak suka. Gue nggak pernah suka ada gagasan pacaran, kalau lo mau itu, apalagi saat ini gue belum mencapai apa-apa buat orang tua gue bahagia."
Raihan menipiskan bibirnya, hilang sudah semua harapannya.
"You got, it?" tanya Ily menelan, seperti lelah karena menjelaskan terlalu banyak.
"Oh, I see." Raihan menelan ludahnya, pahit.
"Good," tukas Ily lega. Saking merasa amat leganya, ia menyenderkan dirinya ke kursinya, kemudian menatap selain wajah Raihan.
Keheningan melingkupi keduanya hingga pesanan ramennya datang. Ily tak berkata-kata lagi, langsung memakannya dengan lahap. Rupanya, rasanya tak begitu mengecewakan dan pas di mulut Ily. Raihan menambah banyak pedas dan Ily teringat seseorang karenanya.
Dia ingin bilang sesuai sebagai reaksi, namun hatinya menyarankan untuk diam saja. Raihan pun tampaknya tidak terlalu peduli, fokus menikmati ramen yang rasanya berbeda saat ia makan bersama Ily.
Sepertinya Raihan harus mengajak Ily setiap kali pergi dengan ibunya ke sini. Hati Raihan merasa penuh, begitu juga perutnya. Segalanya terasa lengkap, namun ia tak begitu yakin apakah Ily merasakan hal yang sama.
Lima belas menit berikutnya, ramen keduanya sudah kandas. Keduanya terdiam, sampai Raihan berkata.
"Kalau begitu, gue akan menunggu dan kita terus dekat, oke?"
Masih membahas hal yang tadi.
"Kenapa nggak? Kita teman." Ily menukas tanpa berpikir panjang.
Raihan tersenyum miris. Namun, cukup lebar untuk ditangkap Ily sebagai bentuk persetujuan dan apresiasi.
Ily mengira pertemanan itu lebih bagus dan terjamin dibandingkan pacaran. Meski begitu, menurut Raihan, lebih menyakitkan daripada kenyataan cinta bertepuk sebelah tangan.
Serius.
Dan hari-hari mereka berlanjut begitu seterusnya. Masih sebagai teman jika keluar bersama-sama, atau melakukan perjalanan yang seharusnya dilakukan dua insan yang saling mencintai.
__ADS_1
***