Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 94


__ADS_3

Theo berada di sebuah taman lapang dengan langit super cerah.


Tak ada siapapun di sana kecuali dirinya. Theo celingukan. Kemudian, tahu-tahu ada sebuah mobil berhenti tak jauh di depannya.


Setekah pintu mobil itu terbuka, turun seorang anak yang disusul Laura. Itu Theo waktu kecil. Anak itu memakai tas Batman dan sepatu merah khas anak kecil.


Ah, sekarang Theo ingin. Dia berada saat hari pertama Theo pergi ke TK.


Theo mengedarkan pandangannya lagi. Dia baru sadar tengah berada di lapangan Taman Kanak-kanaknya. Ada beberapa anak dan orang tua juga yang tengah berbincang-bincang di selasar ruangan kelas.


Theo menatap dirinya yang kecil itu dan Laura. Tiba-tiba, langkah Theo kecil berhenti ketuka sampai di depan gerbang hingga Laura menatapnya dengan heran.


"Kenapa, Theo?"


"Aku takut, Bu." Theo merengek dan memegang kuat-kuat tangan Laura sambil menyembunyikan diri di balik tubuh Ibunya itu. "Mereka tinggi-tinggi."


Theo tertawa melihatnya. Dia tak ingat pernah bilang begitu waktu kecil. Konyol sekali dia takut orang yang tinggi, sementara kini ia bersahabat dengan Lucas yang satu jengkal lebih tinggi dari tingginya Theo.


Laura membungkuk pada Theo, menatap matanya dengan lembut. "Theo harus berani. Kalau ada apa-apa, kalau takut apa-apa, ingetnya Ibu."


"Kenapa begitu?" tanya Theo polos.


"Ibu bakal selalu ada buat Theo." Laura mencium kening Theo. "Pokoknya, sebahaya atau setakut apapun Theo, Ibu selalu ada. Jadi, jangan ...."


"... takut," sambung Theo dengan bibir yang mulai melengkung membentuk senyuman. "Kalau ada Ibu, Theo nggak takut!"


"Yeay, bagus!" Laura bertepuk tangan dengan riang. "Ini baru anak Ibu!"


Baru saja Theo tertawa lagi, tiba-tiba dirinya terasa ditarik paksa dan itu membuatnya berpindah tempat secara dramatis. Theo merasa agak pusing, kemudian perlahan menyadari bahwa dirinya berada di dekat meja makan rumahnya yang dulu.


Rumah yang masih lengkap anggotanya.


Meja makan itu diisi oleh Tamrin, Laura, Leo dan Theo. Titi masih belum lahir waktu itu. Theo baru berusia tujuh tahun dan Leo empat tahun di atas Theo.


Mereka sedang sarapan. Sarapan hangat kayaknya keluarga yang harmonis.


Laura duduk bersampingan dengan Theo, sementara Tamrin duduk di sebelah Leo. Sama-sama saling tertawa dan bercanda.


Sejak kecil, Ayah dan Leo memang sangat dekat.


Ayah selalu bangga dengan nilai-nilai Leo.

__ADS_1


Namun, Ibu juga memerhatikan Theo.


Melihat bagaimana perhatiannya Laura saat ada remeh nasi di pipi Theo, melihat bagaimana Laura selalu menemani Theo saat Leo dan Tamrin bermain di luar, melihat bagaimana Laura kerap kali bermain gambar-gambaran dengan Theo, membuat Theo paham bahwa dia juga disayangi.


Tak hanya Leo yang mendapatkan perhatian.


Theo juga.


Theo ditarik lagi ke tempat yang berbeda. Kini ia berada di kamarnya sendiri. Dia melihat dirinya yang lain sedang tertidur di atas sebuah rapor sekolah. Dilihat dari besar tubuhnya, Theo pikir dirinya yang lain itu berada di kelas lima SD.


Theo awalnya tak tahu apa yang akan terjadi sampai akhirnya pintu kamarnya terkuak oleh Laura. Theo SD belum menyadari karena masih terlelap, di sana berdiri Laura yang memegang sebuah kue lengkap dengan lilin menyala.


Ah, Theo ingat sekarang. Laura mau apa.


"Theo, bangun," kata Laura lembut, seraya mengguncang pelan bahu Theo. Hingga tak lama kemudian Theo SD membuka matanya. "Ta-ra! Kejutan!"


Theo SD mengernyit melihat itu. Setahunya ia tidak berulang tahun hari ini. Melihat Laura dengan kue ulang tahun, Theo SD bertanya heran, "ini buat Theo, Bu? Kan ulang tahun Theo masih delapan bulan lagi."


"Kata siapa ini buat ulang tahun kamu?" Laura tersenyum lebar. "Ini karena kamu berhasil naik kelas lagi! Yaey! Satu tahun lagi kamu sekolah SD-nya. Udah besar, nih!"


Theo SD tersenyum lebar. Senang sekali. Laura selalu perhatian padanya.


Seusai kenangan indah itu, Theo ditarik kembali. Theo masih berada di ruangan yang sama, namun di waktu yang berbeda. Hujan deras dan petir yang bersahutan menjadi latarnya. Di mana dirinya yang masih kecil lagi sedang ketakutan seraya memejamkan mata rapat-rapat dan menutup telinga.


"Tenang, Theo, tenang." Laura mengusap-usap kepala Theo kecil. "Ibu di sini, Ibu di sini."


Jedarrrrr! Zzzzrssssss!


"Ibu ...." Theo mencengkram erat lengan Laura dan memeluknya erat.


Laura tetap ada di sana, setidaknya untuk waktu yang lama hingga Theo bisa tenang.


Sebab hanya di pelukan Laura, dia bisa tertelap.


Dan Theo kecil bisa mimpi indah juga.


Belum sempat Theo tersenyum karena menyadari betapa sayangnya Laura padanya, dirinya sudah lebih dulu ditarik lagi. Kini ke sebuah tempat yang gelap dan kotor. Banyak genangan air ... bukan, ini ... darah.


"Theooooo."


Suara mengeringkan itu masuk ke gendang telinga Theo, membuat buku kudungnya merinding seketika. Itu sudah ayahnya, Tamrin.

__ADS_1


Ketika Theo melihat ke depannya, perlahan, Tamrin menunjukkan dirinya. Kakinya bengkok, dilapisi jins robek-robek bercorak darah. Tak memakai alas kaki dan kukit kalinya luka-luka.


Lama kelamaan, Tamrin benar-benar menunjukkan seluruh tubuhnya.


Bagaimana Theo menjelaskan keadaan Tamrin kini, jelas kata zombie adalah yang paling pas.


Perlahan-lahan, Theo mundur-mundur. Terus mundur sebagai Tamrin terus melangkah mendekat pada Theo pada Theo dengan seringai lebar. Tahu-tahu, otaknya yang memang sudah bolong itu, isinya diambil dan dimakan sosok monster yang mengerikan.


Tamrin semakin melotot, tersenyum amat lebar hingga sosoknya jadi amat mengerikan. Langkahnya kembali mendekati Theo.


Mata Theo membulat, pupilnya bergetar ketakutan. Napas Theo terengah-engah. Keringat terus menetes di pelipisnya hingga rasanya seluruh tubuhnya itu basah karena keringat dingin.


Tamrin semakin mendekat, dan ketika Theo akhirnya memilih untuk berbalik dan berlari menjauh, kakinya tersandung sesuatu.


Hingga akhirnya Theo jatuh dalam sebuah pelukan hangat.


Theo berakhir di pelukan ibunya.


Theo merasa damai sekali. Setelah berada di suasana mengerikan, dia lega karena bertemu ibunya.


Aroma menenangkan segera menyambut hidungnya. Napas Theo perlahan kembali normal dan matanya refleks terpejam dengan senyum yang mulai berkembang di wajahnya.


"Kamu baik-baik aja, Theo?" suara Laura bertanya kelewat lembut.


Sampai rasanya ada lelehan di hati Theo. Theo membuka matanya, menjawab. "Aku sekarang baik-baik aja karena ada Ibu."


Pelukannya terasa mengerat.


Pandangan Theo terasa salah saat ini. Dia mengerjap-ngerjap berkali-kali. Namun, apa yang dia lihat kini, di sana, masih sama.


Artinya Theo tidak salah melihat. Tak ada yang salah dengan matanya.


Ada Lili di belakang sana. Membawa sebuket bunga Bugenvil dan sedang tersenyum padanya. Wajahnya sudah agak matang. Mungkin Lili yang di sana sudah dewasa dan bekerja.


Theo sepertinya sedang berkhayal karena perlahan, Lili melangkah mendekatinya.


"Selamat karena udah menjadi Pak Theo, guru olahraga favorit di sekolah."


Sambil memberikan buket bunga itu, Lili berkata lembut yang penuh dengan perasaan senang dan bangga.


"Tapi sekarang, kamu harus bangun."

__ADS_1


Seketika, segalanya jadi hitam.


***


__ADS_2