Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 55


__ADS_3

Lucas terkejut saat tahu-tahu Theo berdiri dibalik pintu kelasnya. Pantas saja tadi anak-anak cewek sedikit berisik saat keluar. Lucas harusnya bisa melewatinya saja, namun hatinya berkata tidak.


Ketika berada di hadapannya, Lucas berhenti melangkah. Menatap Theo dengan tatapan tanya. "Kenapa?"


"Gue mau tau, semalem lo sama Ten kenapa dan kenapa Regan bisa marah," kata Theo tanpa basa-basi.


"Lo udah tau jawabannya." Lucas memutar bola matanya dengan jengah. "Semuanya gara-gara lo."


"Nggak mungkin dia tiba-tiba kayak gitu." Theo menatap Lucas lurus-lurus. "Tolong kasih tau gue yang sebenar-benarnya."


"Setelah egois dan nggak mau minta maaf, sekarang lo ngira gue sama Ten ngarang? Gitu?" balas Lucas jadi emosi.


Theo berdecak. "Nggak gitu."


"Gue ada jadwal shooting sekarang, nggak bisa lama-lama," cetus Lucas sebelum akhirnya meninggalkan Theo.


Namun, Theo tak menyerah. Dia menahan Lucas. "Kasih gue waktu sepuluh menit. Lo kasuh tau gue, supaya gue bisa melakukan hal benar nantinya."


"Hal benar kayak gimana maksud lo?" Lucas bertanya sarkastik. "Balas nonjok Regan? Maaf-maaf nih, pasukan Regan ada dua puluh kalau gue hitung-hitung kemarin. Bukan lagi masuk rumah sakit, lo bisa masuk liang lahat kalau nekat nantangin dia sendiri buat balas dendam gue sama Ten. Nggak usah sok peduli lagi, lah, gue jadi jijik liat muka lo."


Theo menarik napas berat, wajannya sangat keruh. Dia telah merenungkan segalanya untuk berucap dengan tulus bahwa dia menyesal atas kejadian kemarin. "Oke, ... maaf."


Lucas termangu. Dia jarang sekali mendengar Theo meminta maaf, sebab laki-laki itu jarang melakukan kesalahan dan selalu penuh perhitungan. Mendengar tulusnya ia berkata-kata, Lucas tersenyum tipis.


"Gue egois. Iya, gue akuin itu." Theo mengangguk kecil. "Gue nggak ada otak kemarin. Gue nggak seharusnya biarin kalian. Gue salah dan gue minta maaf."


"Jangan lupa ke Ten juga."


Theo terdiam lama.


"Eh? Kenapa lo?" Tanya Lucas heran.


"Iya," balas Theo. "Gue banyak salah ke Ten."


Lucas menepuk pundak Theo dengan bangga.


"Sekarang, bisa ceritain malam di mana gue nggak bisa datang?"


Dengan begitu, Lucas mengingat malam itu.


Regan telah berada di tempat sewaktu Ten dan Lucas datang. Laki-laki itu memakai jaket kulit dengan teman-temannya di belakang. Wajah-wajah mereka tampak sangat sangat dan pastinya mereka dari Australia, sama seperti Regan, sebab wajah mereka berbeda dari gen Indonesia.

__ADS_1


Ten tersenyum, menyapa Regan. "Malem, Gan."


"Yo," balas Regan singkat. Sejurus kemudian, Ten dan Lucas sudah duduk di hadapan Regan. "Theo mana?"


Ten tertawa ringan. "Bentar, gue telepon dulu."


Sayangnya, entah ponsel Theo yang memang mati atau laki-laki itu sengaja tidak menjawab panggilan Ten yang sudah dilakukan berkali-kali. Lucas juga membantu, laki-laki itu mengirimi banyak pesan pada Theo, namun tak ada satupun balasan dari Theo setelah satu jam menunggu.


Wajah Regan dan beberapa orang di belakangnya membuat Ten dan Lucas sangat merasa bersalah.


"Kenapa?" tanya Rehan berubah dingin, jelas-jelas menahan amarah.


Ten meringis. "Gue nggak tau, tapi dia nggak jawab."


"Kalian udah cek kan Theo ready hari ini?"


"Udah. Kita siang tadi udah sepakat. Theo bukan pengecut yang suka kabur gitu aja setelah menyetujui sebuah balapan," jelas Ten jujur.


"Apa gue susul dulu ke rumahnya?" tanya Lucas memberi saran.


Regan mengeraskan rahangnya. Sebentar, dia berdiskusi dahulu dengan teman-temannya. Begitu selesai, Regan kembali menatap Ten dan Lucas. "Boleh. Lo susul aja. Pokoknya hari ini nggak boleh sampai nggak jadi."


"Oke."


"Gue boleh tanya sesuatu?" Izin Ten merasa perlu.


Regan mengangkat kedua bahunya. "Silahkan."


"Kenapa lo sebegini tertariknya ke Theo sampai kasih sepuluh juta buat gue sama Lucas biar Theo mau balapan?"


"Malam ini Theo nggak balapan satu kali, dua puluh kali sama temen-temen gue," jelas Tegas, membuat Ten melotot dan terkejut super duper. "Kemarin gue hampir aja kalah. Gue rasa, Theo bisa jadi pembalap juga di tempat asal gue kalau dia banyak menang malam ini. Gue nggak suka liat orang dengan kemampuan bagus, tapi nggak dihargai."


"Gue salut dengan niat lo buat Theo. Tapi, lo nggak pernah bilang Theo harus balapan dua puluh kali," balas Ten tak terima.


"Sepuluh juta cuma dp," tukas Regan santai. "Kalau lo berhasil ajak Theo malam ini dan dia balapan tanpa nolak, seratus juga bisa ada di tangan lo."


Mata Theo membulat lagi dengan alasan berbeda.


"Gue hari ini taruhin dua puluh juta sama mereka. Kalau Theo nggak dateng, abis lo berdua."


"Wah, main ancam-mengancam, serem," tukas Ten dengan tawa kecil. "Tenang, Theo bakalan ada. Mungkin harus bikin adiknya tidur dulu, baru dia ke sini. Anaknya emang sayang adik banget."

__ADS_1


Regan mengangguk kecil, garis wajahnya tampak tak senang karena harus menunggu lama. "Gue harap begitu.",


Sayangnya, baru saja bicara begitu, Lucas sudah hadir. Tanpa Theo dan hanya sendirian. Hal itu membuat Ten langsung berdiri dengan wajah khawatir.


"Theo mana?" tanya Ten langsung


Lucas menggeleng lemah. "Dia nggak ada di rumah, Ten."


"Kok bisa?"


"Ya, mana gue tau?"


"Lo nggak cari ke club?"


"Udah," balas Lucas sama frustasinya. "Tapi, nggak ada."


"Kok bisa?"


"Haduh, mana gue tau!"


"Ada apa ini?" Regan bersuara tak suka saat mendengar perdebatan Ten dan Lucas. Membuat Ten dan Lucas menatapnya dengan kalut. "Jangan bilang Theo nggak bisa balapan malam ini."


Ten langsung maju dengan wajah menyesal. "Maaf, Gan. Kayaknya malam ini--"


Buagh!


Ten diberi sebuah uppercut oleh Regan. Membuatnya langsung terpental karena kehilangan keseimbangan. Sebelum Lucas membantu Ten untuk bangun dengan keterkejutan yang nyata, dia lebih dulu dihajar habis-habisan oleh teman-teman Regan. Tak sampai di sana, Ten juga diinjak-injak sampai lemas akhirnya.


Ten dan Lucas tak mengira jika Regan sebahaya ini. Mereka kira Regan benar-benar tulus untuk berteman dengan Theo dan menjadi partner balapan mereka seperti Dika, ketika dahulu.


"Kalian gue kasih waktu satu Minggu," kata Regan dengan penuh penekanan. "Ajak Theo ke sini dan jadi pembalap di tempat gue. Kalau nggak, tamat riwayat kalian."


Ten dan Lucas sama-sama tak bisa menjawab karena sudah kelelahan dan kesakitan.


"Dan gue nggak main-main."


"Gue nggak mau jadi pembalap," cetus Theo cepat. Dengan wajah serius dan tak mau dibantah.


Lucas membuang napas panjang. "Jangan bilang itu ke gue, bilang ke Regan."


Theo mengepalkan tangannya kuat-kuat saat Lucas akhirnya berbalik pergi meninggalkannya sendiri dengan cahaya sore yang pekat mulai menyoroti wajahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2