Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 67


__ADS_3

Sebenarnya Theo senang hari ini. Namun, dia tetap memasang wajah datar pada situasi apapun. Bahkan ketika bertemu Lili di rumahnya, diperhatikan Lili dari kursinya tanpa alasan yang Theo ketahui dengan jelas, sampai berada di kelas sore hari dengan lima orang lainnya.


Tak ada lagi alasan untuk Theo menolak. Semua orang sudah ada posisi masing-masing untuk berpartisipasi dalam acara peringatan hari Kartini ini. Theo tak bisa mengacaukannya hanya karena perasaan pribadi.


Theo sudah berjanji pada dirinya untuk berubah.


Mila selaku pelopor baju dari koran dan kantung plastik bekas, sudah mengumpulkan banyak sekali barang-barang. Empat asistennya tak jauh beda. Mereka membawa banyak sedotan, CD bekas, tali rafia dan beberapa karung beras berwarna putih.


Mata Lili membulat takjub. "Mil, emang tahun lalu lo seniat Ini, ya?"


Mila yang sudah memisahkan sedotan dan koran bekas mendongak, menatap Lili. "Nggak, sih. Tahun lalu gue asal aja bikin baju dari kresek dan hasilnya nggak banget. Sekarang, gue udah lumayan pro, lah. Kayaknya enjoy juga soalnya lo yang jadi modelnya."


"Emangnya kalau gue jadi modelnya kenapa?" tanya Lili penasaran. Tangannya turut bergerak untuk membantu Mila membentuk sedotan menjadi bunga-bunga.


"Jangan bilang-bilang, ya." Mila berdeham dengan tatapan penuh perhitungan. Ketika Lili mengangguk, ia melanjutkan perkataannya dengan nada yang lebih pelan. "Tahun lalu, waktu Fella yang jadi model, itu anak nggak banyak diem. Mulutnya nyerocos mulu. Nggak nyaman lah, gini lah, gitu lah. Najis banget, dah, pokoknya. Modal cantik doang intinya mah."


Lili tertawa kecil, menatap Mila dengan tatapan meledek. "Di belakang baru berani lo."


"Ya gue mana berani ngomong langsung. Pasti langsung diterjang Fella yang ada. Itu anak jadi tomboi juga, kan," balas Mila dengan mata menyorot takut. Dia bergedik membayangkan bagaimana jika Fella sampai mendengar perkataannya barusan. "Serem pokoknya."


"Makanya gue seneng lo yang jadi modelnya," lanjut Mila, menatap Lili dengan senyum senang.


"Bisa aja lo." Lili jadi malu.


"Apalagi lo bikin Theo mau juga ikutan, kan. Udah ganteng, terkenal, beuh, kayaknya kita juara favorit, deh!" seru Mila makin senang. Theo yang duduk tak jauh darinya langsung menoleh, membuat Mila balas menatapnya dengan tatapan tak bersalah. "Gue nggak berani gini kalau nggak ada Lili, karena kayaknya kalau ada Lili lo jadi jinak, Yo."


"Jangan gitu, Mil. Nanti kalau dia marah, berabe," peringat Lili agak takut sebenarnya.


"Iya, iya." Gema tersenyum penuh arti, kemudian menepuk paha Lili. "Ih, gemes gue sama lo berdua. Emang beneran jadian, ya?"

__ADS_1


Mata Lili membulat terkejut. "Ih, kata siapa?"


"Kata Gema sih begitu," jawab Mila enteng. Menatap Lili dengan penuh harapan. "Bener nggak?"


"Apasih? Omongan anak itu nggak usah didengerin." Lili langsung menjadi tidak atas pertanyaan Mila. "Gue sama Theo sama sekali nggak jadian, kok."


"Tapi keliatan gitu, tau."


"Ha ha."


"Ya udah. Sini gue ukur dulu pinggang lo," kata Mila kemudian. Dia bangkit dan mulai mengukur pinggang Lili dengan meteran yang dia bawa dari rumah. Bersamaan dengan itu, Theo juga diukur oleh teman-temannya yang lain.


Mila kembalikan tubuhnya dan mengukur punggungnya. Lili tersenyum tipis saat bertatapan dengan Theo. Tubuh Lili kembali diputar dan Mila mengukur lebar bahunya.


"***** kok bisa pada kecil gini, Li? Lo punya body goals juga ya ternyata." Mila berdecak kagum saat menuliskan ukuran pinggang, perut dan dada; panjang tangan; lebar bahu dan panjang tubuh bagian atas Lili. "Bagus deh, cocok."


"Apaan duh, kok bisa ya? Perasaan gue makan mulu di rumah." Lili tertawa kecil. Dia kembali duduk setelah Mila melakukan hal yang sama.


Theo masih diukur, namun temen-temen itu sempat-sempatnya membalas. Memang, Theo tak begitu ditakuti anak-anak kelas sebagaimana dia ditakuti anak-anak satu sekolah. Di kelas, Theo lebih terkenal dengan sifat pendiamnya daripada sifat mengintimidasinya.


Bagi anak-anak kelas, tatapan tajamnya itu sudah menjadi konsumsi sehari-hari.


"Iya, nih." Teman nomor satu menjawab.


"Lo pake apa, Li?" Yang nomor dua menyahuti.


"Ada jurus rahasia, ya?" tanya yang nomor tiga.


"Orang Korea emang pada gitu, ya? Udah cantik, punya kulit bagus, body goals lagi. Jadi pengen lahir kembali," curhat teman nomor satu dengan wajah sedih.

__ADS_1


"Ih, apasih!" seru Lili tak terima. "Kalian juga cantik! Jangan suka banding-bandingin gitu, ah. Gue jadi nggak enak." Lili berdecak, memandang seluruh tubuhnya semungkin yang dia bisa. "Emangnya gue cantik, apa?"


Dengan gemas, karena greget, Mila mencubit paham Lili.


"Aw! Sakit!"


"Lo cantik, bege," kata Mila dengan mata melotot. Kemudian menunjuk kata mata bulat Lili. "Cuma ini kaca mata aja bikin cantik lo ketutupin."


"Iya, kah?" tanya Lili tak percaya langsung.


"Perlu gue ambil cermin biar lo ngaca dan sadar?" Mila tertawa kecil. Bersamaan dengan itu, Theo selesai diukur dan laki-laki duduk lagi di tempat yang tak jauh dari tempat cewek-cewek duduk. Laki-laki itu memilih menyandarkan tubuhnya di tembok dan bermain ponselnya.


Meski begitu, telinganya aktif mendengar percakapan cewek-cewek.


Lili cemberut. "Tapi gue pernah ngaca dan b aja, kok."


"Itu pandangan lo. Pandangan gue beda. Iya, kan, temen-temen?"


"Iya." -temen nomor satu


"Gue pernah deket sama lo. Gue liatin muka lo baik-baik. Beuh, kok bisa cantik gitu?" -temen nomor satu langsung bersuara lagi waktu temen nomor dua mau ngomong.


"Bener, bener!" Temen nomor dua akhirnya bisa bersuara. "Gue pernah liat lo waktu tidur. Awalnya mau difoto buat koleksi aib, tapi muka lo masih cantik aja jadi nggak jadi gue foto."


"Gue cantik dari mana, sih?" tanya Lili bingung. Dia merasa dirinya biasa-biasa saja selama ini.


"Mata lo tuh bulet, lucu. Warna cokelat lagi. Itu alis rapi bener kayak artis. Bibir lo tipis, warnanya pink tapi keliatan natural gitu. Rambut panjang, kurus, keliatan selalu lembut." Mila ambil alih untuk menjelaskan. "Siapa yang nggak melihat lo sebagai cewek cantik?"


Lili menipiskan bibirnya. Bukan hanya bangga dan senang dia dipuji-puji sedemikian rupa, Lili juga malu setengah mati. Belum pernah ada yang memuji fisiknya sejauh ini, selain Yohan dan Ily tentunya.

__ADS_1


"Theo," panggil Mila tiba-tiba, hingga mau tak mau Theo mendongak dari ponselnya untuk menyapa Mila dengan pandangan tanya. "Menurut lo Lili cantik nggak?"


Mata Lli langsung membulat panik, rasanya sangat malu. "Ih, apasih, malu gue, Mil. Jangan digitu-gitu dong."


__ADS_2