Dari Korea

Dari Korea
LSF - 10


__ADS_3

"Bajunya kita sewa aja. Harganya tujuh ratus ribu. Udah plus make-up juga. Jadi, kalian tinggal bawa diri kalian yang mentahnya aja. Semangat!"


Begitulah kata pelatih setelah sesi latihan hari ini selesai. Beberapa anak di timnya sudah menyediakan dana. Tentu saja dari orang tua mereka sendiri.


Tapi, bagaimana dengan Reisya? Kedua orang tuanya telah meninggal dalam urusan keuangannya diatur oleh Raksya, Kakak laki-lakinya yang jelas-jelas menentang Reisya untuk ikut lomba tari tradisional ini.


Lalu ... dari mana Reisya punya uang sebesar itu?


Reisya hanya tinggal bersama Kakak laki-laki yang bekerja sebagai pegawai kantoran biasa yang gajinya pas-pasan.


Pusing memikirkan itu hingga larut sendiri, akhirnya Raksya pulang. Reisya sengaja menunggu malam tiba dan Raksya pulang untuk makan malam bersama.


Tentu saja Reisya akan membicarakan tentang dana untuk lomba terakhirnya yang mungkin akan membuat Reisya sangat menyesal jika tak mengikutinya.


"Kak." Reisya memanggil dengan nada pelan-pelan.


"Hm."


Reisya mengepalkan tangannya, mengumpul energi untuk berani. Setelah menaruk napas dengan panjang, baru dia bersuara lagi. "Aku mau minta uang."


"Buat apa?" Nada suara Raksya sudah tak enak didengar.


"Buat baju sama make-up." Reisya menjelaskan takut-takut. "Aku mau ikut lomba tari tradisional, Kak. Kakak jangan khawatir, aku bisa ganti kalau aku memang nanti."


Raksya tertawa meremehkan. Daripada meremehkan, lebih tepat dikatakan pesimis. "Kalau kalah?"


"..."


"Jangan ikutan hal-hal yang nggak berguna." Raksya berdecak keras. Dia menatap Reisya lurus-lurus dengan mata lelahnya karena habis bekerja seharian. "Jangan buang-buang waktu. Kamu fokus aja untuk kerja setelah lulus. Lulus juga harusnya kamu punya nilai bagus dan kalau bisa berpeluang cari beasiswa. Meski kuliah dengan beasiswa, kebutuhan sehari-hari kamu harus tetap ada. Intinya, harus sambil kerja juga."


Reisya hanya mampu menundukkan kepalanya.


"Uang kita nggak sebesar itu buat kamu sia-siain cuma buat lomba tari-tarian nggak berguna itu." Raksya melanjutkan perkataannya. Mencoba untuk memberi pengertian pada Reisya bahwa setelah kedua orang tuanya meninggal, hidup tak bisa seramai dan semudah ketika mereka ada. "Fokus belajar aja. Kakak nggak bisa jamin masa depan kamu kalau kamu bantah ucapan Kakak sekarang. Ngerti?"


"Iya, Kak." Reisya akhirnya hanya mampu menurut. Dia tak seberani itu untuk mendebat Raksya. "Reisya ngerti."


"Bagus."

__ADS_1


***


"Gue liat lo udah ada incaran baru."


Clara muncul di samping kanan saat Luhan sedang memesan es jeruk favoritnya. Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa saat yang lalu dan hari ini adalah hari terakhir Luhan melaksanakan tugas alias hukuman bersih-bersih dari Pak Abdul.


Luhan tak tahu mengapa Clara belum pulang saat ini. Namun, dia tak begitu peduli karena dia dan Clara tak punya hubungan untuk saling peduli lagi.


"Iya, nih." Luhan menyunggingkan senyum miring dan menatap Clara dengan tatapan meremehkan. "Lo cemburu?"


"Ha ha." Clara tertawa sumbang atas pertanyaan Luhan yang terdengar seperti kotoran di telinganya. Clara balas menatap Luhan dengan pandangan remeh. "Najis."


"Lo bilang najis, tapi kedengarannya jadi, 'iya gue cemburu. Banget. Banget. Banget' di telinga gue." Luhan menatap Clara penuh arti.


Clara mengangkat ujung bibirnya dengan mata datar. "Lo gila."


"Iya, gue emang ganteng." Luhan mengangguk-angguk bangga.


"Iya, lo emang ganteng." Clara mengakui dengan ringan. Dia tersenyum manis, namun matanya menyorot tajam pada Luhan. "Gangguan telinga."


"Aw." Luhan menyentuh dadanya dengan wajah dramatis. "Sakit gue digituin."


"Lo salah paham soal itu." Luhan masih sedia menegaskan.


"Salah paham di mananya padahal lo jelas-jelas peluk itu cewek pake caption sayang, Nyed!" seru Clara emosi. Tak peduli berkat seruannya itu Ibu penjual jus jadi menatapnya dengan wajah terkejut. Fokusnya di sini adalah Luhan si ******** sok polos. "Mau ngelak apa lagi, hah?"


Luhan menatap Clara dengan tak suka. "Lo jadi kasar semenjak putus dari gue."


"Mau gue gimana pun, itu bukan urusan lo?!"


"Mantan gue harusnya nggak begitu." Luhan menukas santai. Menatap Clara dengan tatapan lembut. "Apalagi yang secantik lo. Sayang banget kalau jadi kasar."


Clara mengerutkan keningnya. Dia sudah mau emosi dan meledak lagi saat tiba-tiba muncul seseorang.


"Bu, air putihnya satu." Reisya berkata datar, tepat di sebelah punggung Luhan yang tengah berhadapan dengan Luhan.


"Eh?" Mendengar suara yang amat familiar di telinganya, Luhan segera berbalik dan sangat terkejut saat menemukan siapa yang ditemukan matanya kini. "Reisya?"

__ADS_1


Luhan jadi khawatir saat Reisya hanya menoleh padanya sesaat dengan wajah datar, kemudian mengambil air putih dari ibu penjual jus.


"Cewek baru, hm?" Clara bertanya dengan nada meremehkan saat melihat Luhan ada sesuatu dengan perempuan lain. "Dasar buaya! ****** lo ketahuan manggil sayang ke mantan."


"Dua ribu, Neng." Ibu penjual itu menyuarakan harga yang harus dibayar Reisya.


Reisya menyerahkan uangnya. "Ini, Bu. Makasih, ya." Kemudian segera berlalu pergi.


"Ck." Luhan kesetanan. Dia turut menbayar untuk jus jeruknya dan segera menyusul Reisya setelah berkata, "Makasih, Bu. Reisya, tunggu!"


Melihat Luhan yang tak mempedulikan dirinya lagi sedemikian rupa dan telah memiliki perempuan baru yang berbeda dari foto yang menyebabkan Clara memutuskannya membuat Clara sangat-sangat geram. "Dasar bayar darat." Clara memalingkan wajahnya, kenyataan, "Ciuh!"


Meludah di samping tempat sampah milik ibu penjual jus


"Ih, Neng! Cantik-cantik lo ngeludah sembarangan?" Ibu penjual jus itu menegur saat melihat apa kelakuan yang dilakukan Clara.


"He he, maaf, Bu." Clara tersenyum menyesal dan mengentak-hentakkan kakinya dengan tempo cepat dan kuat-kuat. "Kesel soalnya. Ergh!"


***


"Reisya," panggil Luhan dengan nada putus asa seraya melangkahkan kakinya untuk menyusun Reisya yang kini tengah berlari.


Reisya tak kunjung berhenti atau menoleh untuk sekedar memberi tanda bahwa ia mendengarkan panggilan Luhan. Perempuan itu terus berlalu hingga membuat Luhan makin tak enak.


"Reisya," kata Luhan setelah dia bisa menyejajarkan langkah dengan Reisya. Reisya tak terpengaruh dengan keberadaan Luhan, ia terus berlari dan menatap lurus-lurus ke arah depan.


"Reisya," mohon Luhan dengan sangat. Tangannya secara perlahan menyentuh pundak Reisya, berharap perempuan itu berhenti berlari dan mendengarkannya.


"Say," ujar Luhan lembut.


Berkat itu, langkah Reisya akhirnya berhenti. Tubuhnya menegang dan seperti patung. Meski senang karena akhirnya Reisya mau mendengarkannya, Luhan merasa makin khawatir saat Reisya menatap kosong ke arahnya.


Kuat-kuat, Luhan mencengkram kedua bahu Reisya. Berharap perempuan itu bisa sadar. "Hei, sayang!"


Reisya menatapnya. Tak kosong seperti beberapa saat yang lalu, namun menjadi berkaca-kaca dan Luhan sangat berasa bersalah saat melihatnya. Dia tak tahu harus melakukan apa saat Reisya mulai menunduk dan terisak. Luhan celingak-celinguk seperti anak kucing yang terpisah dari induknya, sampai kemudian Luhan mengarahkan Reisya untuk duduk di tepi jalanan.


Bahaya kalau sampai orang-orang melihat.

__ADS_1


"Aduh, kenapa kamu nangis begini?" tanya Luhan setelah keduanya duduk. Luhan merendahkan kepalanya, mencoba untuk mengintip wajah Reisya.


"Huaaaaaaa."


__ADS_2