
Alis Theo terangkat bersamaan. "Kalau gue suka emangnya salah?"
Lili melongo.
Theo hanya tersenyum miring melihatnya.
"Au ah, pura-pura nggak denger gue." Lili mengira Theo hanya bercanda saja. Namun tiba-tiba dia teringat sesuatu dan mulutnya gatal untuk tak bertanya. "Eh, bentar. Waktu lo teleponan sama gue dan pake aksen Kak Theo-Kak Lili yang bikin geli itu cuma bohongan, kan?"
"Oh, yang itu." Theo tertawa kecil. Satu hal yang bisa Lili putuskan sebagai salah satu keajaiban dunia.
"Iya. Waktu muka lo kayak orang sakit. Lo emangnya dari mana waktu itu?" tanya Lili jadi khawatir. "Ah, pokoknya tingkah lo aneh banget. Lo nggak niat begitu kan? Malem itu lo kenapa? Pasti lo lagi mabuk kan?"
Theo melangkah mendekati Lili lagi. Senyumnya terulas penuh arti, membuatnya kelewat tampan. "Kalau gue memang niat, kenapa? Kalau gue nggak mabuk, kenapa?"
"Iiiiiiiiii ...." Lili menjauhkan diri dengan perlahan. Mundur-mundur hingga mentok banget ke gerbang rumahnya. "Theo ...."
"Kalau nggak, kenapa? Kalau gue emang mabuk, kenapa?" tanya Theo menuntut.
"Ha ... tau ah, Theo lo ...." Lili mengerutkan keningnya dengan raut wajah takut. Dia tak bisa berkata-kata.
Hingga akhirnya langsung membuka gerbangnya dan berlari untuk masuk ke dalam rumah cepat-cepat.
"TITI KAK THEO MAU JEMPUT!"
***
"Lili, dicariin!"
Fahmi tiba-tiba berseru begitu saat Lili tengah membereskan alat tulis ke tempatnya. Refleks, Lili menoleh seraya memasukkan tempat alat tulisnya ke tas dan menggendong tasnya untuk bersiap pulang.
"Eh," Lili menatap Fahmi heran, "siapa yang nyariin gue?"
Fahmi mengangkat kedua bahunya. "Kakak kelas kayaknya." Kemudian Fahmi pun pergi keluar kelas.
"Waduh, Gem." Lili langsung menoleh pada Gema dengan wajah tak enak. "Kayaknya itu Kak Jae. Lo duluan aja kalau nggak mau jadi nyamuk."
"Ye, gue emang mau duluan." Gema tersenyum ringan. Menepuk kecil bahu Lili. "Mau bantu Ibu."
"Oke, bagus," tukas Lili senang. Kemudian dia beralih pada Theo yang masih tengah memakai tasnya. Wajahnya tampak datar seperti biasa, namun tatapannya tajam tak bersahabat saat Lili melihatnya.
Meski begitu, Lili tetap tersenyum padanya saat tatapan mata mereka bertemu sekian detik.
"Yo, lo duluan aja. Bilang ke Ibu gue--" suara Lili harus terputus karena pada kenyataannya Theo sudah berlalu pergi begitu saja. "Ck, ck, ck. Itu anak emang kayak bunglon. Gampang berubah-ubah. Huh, dasar."
Dengan perasaan agak kesal, Lili berjalan bersamaan dengan Gema keluar kelas. Di depan kelasnya sudah ada Jae yang tengah menunggu Lili dengan senyuman lebar. Hati Lili meleleh.
__ADS_1
Sementara itu, Gema berjalan ke arah berlawanan setelah melambai untuk pamit pergi pada Lili.
Lili turut menyunggingkan senyumnya pada Jae. Dengan dehaman kecil, Lili melangkah mendekati Jae.
"Halo, Kak," sapa Lili basa basi.
"Hai, Li." Jae menjawab santai. Tatapan matanya hangat dan bersahabat. Membuat hati Lili semakin mencair. "Kamu ada waktu luang nggak?"
"Ada, Kak. Banyak malah." Lili menjawab kelewat cepat dan semangat. Mata bulatnya berbinar senang. "Mau ada apa emangnya?"
Jae makin tersenyum lebar. "Rencananya hari ini gue dan tim perfilman mau nonton hasil filmnya bareng-bareng."
"Wah, yang ada akunya?" tanya Lili senang, penuh ketertarikan.
"Iya." Jae mengangguk-angguk. "Kalau mau, ayo ikut. Udah mau mulai."
"Oke." Lili mengacungkan jempolnya. "Ayo!"
Dengan begitu, keduanya berjalan. Melewati koridor-koridor yang sudah agak sepi karena bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa saat yang lalu. Berjalan berdua saja seperti ini bagaikan mimpi bagi Lili.
Mimpi indah yang tak akan Lili lupakan sampai kapanpun.
Mereka tak bisa sepanjang perjalanan. Lili terlalu malu dan Jae yang merupakan tipe orang yang berbicara seperlunya saja.
Kebanyakan cowok.
Sepertinya kedatangan Lili dan Jae adalah yang terakhir karena setelah mereka tiba, tanpa basa-basi lagi, film pun diputar.
Filmnya berdurasi tiga puluh menit. Bukan waktu yang terlalu lama. Bukan waktu yang terlalu singkat juga. Filmnya seperti paket komplit saat Lili menontonnya.
Film itu dimulai dari Abdul, pemeran utama yang gendut dan kerap kali diejek oleh orang-orang karena bentuk badannya yang bulat dan gempal. Namun, Abdul sama sekali tidak rendah diri dan terus menatap ke depan bagaimana pandangan orang-orang terhadapnya.
Abdul memiliki cita-cita menjadi koki, sementara ekonomi keluarganya sangat terbatas dan bahkan mengungkapkan bahwa Abdul tak bisa melanjutkan pendidikannya lagi. Ayahnya sudah sakit-sakitan dan Ibunya memaksa Abdul untuk berhenti sekolah saja agar uangnya digunakan oleh Ayah untuk berobat.
Akhirnya, dengan paksa, Abdul berhenti sekolah. Merelakan cita-citanya yang sudah bagaikan jantungnya sendiri.
Di adegan itu, Abdul menangis dengan Ibunya. Video mereka sangat bagus dan Lili juga ikut menangis karenanya.
Awalnya Abdul sangat marah. Dia menjadi murung. Sangat marah hingga akhirnya tak bisa mengungkapkannya. Selama satu minggu, Abdul tidak makan ataupun minum.
Ibunya sempat cemas, namun ia lebih cemas dengan suaminya.
Ketika akhirnya Abdul keluar, dia seperti pribadi yang berbeda. Berat badannya turun drastis. Bahkan bisa dikatakan kurus kering. Ibunya sangat khawatir, namun Abdul tak peduli lagi.
Dia berjalan-jalan untuk menyegarkan diri. Kebetulan sekali, dia bertemu dengan staf di perusahaan modelling yang tertarik padanya.
__ADS_1
Kemudian, Abdul pun menemukan jalan barunya yang akan dia lewati dengan senyuman.
Endingnya, Abdul dipuja-puja oleh orang-orang dan selalu mendapatkan perhatian di manapun kakinya melangkah.
Setelah selesai dibuat, tepuk tangan segera memenuhi ruangan itu. Lili pun bertepuk tangan heboh. Jae yang berada di sebelahnya tersenyum lebar dan menoleh pada Lili.
"Gimana?" tanya Jae meminta pendapat.
"Bagus, banget, Kak!" seru Lili semangat seraya mengacungkan jempol di kedua tangannya. Matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru saja dibelikan gulali. "Pesan moralnya dapet banget. Aku hampir nangis, aduh. Kakak ini ceritanya terinsipirasi dari apakah?"
Jae mengalihkan pandangannya dari Lili. Terdiam sejenak.
"Ya, gitu deh." Jae akhirnya bersuara seraya mengangkat kedua bahunya. "Datang sendiri awalnya. Harus besarnya. Tentang anak yang terbully, kan. Ditambah-tambah sama cerita temen, tetangga dan ya pokoknya semua orang di sekitar."
"Ooh, begitu." Lili mengangguk-angguk. "Gimana pun, Kakak keren banget!"
"Oke, makasih." Jae tersenyum kemudian bangkit berdiri untuk melangkah ke depan.
Jae memberi pengarahan singkat dan ucapan terimakasih pada semua yang telah berpartisipasi. Suaranya lembut dan tidak tinggi, membuat Lili seperti mendengar lagu pengantar tidur.
Anggota ekskul perfilman merapikan lagi ruangannya. Lili beserta cameo-cameo yang lain juga ikut membantu. Butuh waktu tiga puluh menit untuknya selesai karena banyak barang-barang yang harus dibereskan.
Lili juga tak menyangka akan selama itu menghabiskan waktu hingga malam tau-tau telah menjemput.
Ketika selesai, Jae memberitahu pada seluruh orang yang ada di sana untuk segera pulang. Lalu, mereka pun berjalan bersamaan ke gerbang.
Entah takdir atau kebetulan, Lili dan Jae berjalan bersisian. Karena tak mau menyia-nyiakan waktu, Lili pun berdeham untuk mendapatkan perhatian Jae.
Jae jadi menoleh. "Kenapa?"
"Aku juga sebenarnya penulis, Kak." Tahu-tahu Lili bilang begitu. Ya, bodo amat ya mau dibilang gaje juga, Lili hanya ingin Jae tau
"Oh, ya?"
"Iya." Lili mengangguk. "Tapi belum pernah nerbitin buku."
"Tunggu aja." Tanpa diduga, Jae justru memberi respon sebagus itu. Bahkan sampai menepuk pundak Lili, berlaga menyemangati. "Pasti ada saatnya kamu punya buku sendiri."
"Oke, Kak." Lili menahan diri untuk tak melompat kegirangan dengan mengepalkan tangannya ke samping wajah. Bertekad kuat. "Aku juga bakal berjuang."
"Kalau udah jadi, jangan lupa kasih Kakak, ya."
"Pasti, Kak."
Tak terasa, Lili sudah berada di depan gerbang sekolah. Waktu dia mengedarkan pandangannya, matanya jatuh pada sosok di atas motor yang menatapnya lurus-lurus.
__ADS_1