
"Ayah aku mau ke Korea, dong." Lili yang masih berusia enam tahun itu merengek-rengek pada Yohan yang sedang menatap layar laptopnya. "Mau liat nenek juga. Kangen."
"Nanti, ya. Ayah masih sibuk minggu ini." Yohan mengecup kening Lili singkat untuk setelahnya kembali fokus pada laptop. "Kapan-kapan deh kita ke sana, ya."
Lili cemberut. Namun, tak memaksa lagi karena takut mengganggu Yohan. Hingga sebulan kemudian, Ibu Yohan meninggal.
Yohan dan keluarganya pergi ke Korea. Bukan untuk alasan yang bagus. Mereka ke sana hanya untuk menghadiri kepergian seseorang yang dicintai. Duka. Sedih. Hitam. Kelam. Tak ada ceria atau senyum bahagia di sana.
Maka, Korea menjadi momok buruk untuk Lili.
"Ayah, aku nggak mau ke Korea lagi. Aku mau tinggal di sini aja selamanya." Lili menangis saat mengatakannya. "Aku takut."
"Ya udah, kamu tinggal di sini aja selamanya." Yohan yang sangat menyesal karena tak mendengarkan permintaan Lili lebih awal, memeluk Lili dengan erat. "Ayah juga bakal di sini terus sama kamu."
Yohan menunduk.
Apakah sekarang dia akan kehilangan seseorang yang ia cintai lagi?
Lili sudah tak sadarkan diri hampir dua hari. Yohan tak bisa menyadarkan diri dan terus menunduk sampai lupa untuk mandi, sarapan dan bicara selayaknya manusia normal.
"Sayang, makan dulu." Beruntung ada Ily yang setia menemaninya dan memberi perhatian padanya. .
"Nggak bisa, Ly." yohan menoleh pada Ily dengan wajah sedih dan penuh penyesalan. "Aku ... gagal menjadi Ayah yang baik."
Yohan bahkan tak lagi kuat untuk berada di samping Lili. Hanya untuk menatapnya yang sedang tak sadarkan diri dan terluka. Terlalu sakit bagi Yohan untuk melihatnya.
Karenanya, kini Yohan berada di kursi depan pintu kamar Lili. Menunduk dengan putus asa, bersedih dalam hening dan tak henti-hentinya menyesali apa-apa yang tak sempat ia lakukan untuk Lili.
Menyesali apa-apa yang sempat ia sepelekan.
"Hush ...." Ily mengusap-usap punggung Yohan, menenangkannya. Ily menyodorkan sebuah kotak makan. "Makan dulu. Kamu belum makan seharian. Kalau kamu sakit juga, bukan hanya Lili yang sedih, tapi aku juga."
Yohan tak membalas. Terlalu lemah.
"Mau aku suapin?" tanya Ily dengan nada pelan yang lemah. "Ayo. Buka mulutnya."
Tahu jika ia membantah lagi, Ily akan marah padanya dan membuat segalanya semakin rumit, Yohan akhirnya membuka mulutnya. Ily menyuapinya. Yohan tersenyum saat mengunyah dengan lemah dan menatap Ily penuh arti setelah dia menelannya.
"Makasih, Ly."
Ily tersenyum lembut. "Selalu."
Wajah Yohan langsung berubah saat dia melihat sosok Theo yang baru saja keluar dari kamarnya. Laki-laki itu memakai kursi roda, menggerakkannya susah payah sendirian. Yohan mendengar ada tulang kakinya yang terluka hingga laki-laki itu tidak bisa berjalan normal.
Meski begitu, Yohan sama sekali tak bisa menatapnya dengan kasihan. Yohan marah saat melihatnya. Urat-urat di lehernya seketika menonjol karena emosinya.
"Kenapa ...." Yohan bersuara tajam saat Theo benar-benar berhenti di hadapannya. Entah apa maksud kedatangan Theo kini, namun Yohan sudah buta dengan egonya. Wajahnya tak bisa bersahabat lagi saat menghadapi Theo. Tak bisa ada toleransi lagi untuk Theo. "Kalau kamu mau celaka, lebih baik jangan bawa-bawa Lili."
"Saya nggak bermaksud begitu, Om." Theo segera menukas sopan. Ada senyum tipis di wajahnya yang lelah dan sedih. Air matanya mengalir dan membuat suaranya serak dan lirih. "Saya juga merasa sangat bersalah karena telah membuat Lili begitu."
"Nggak ada gunanya lagi." Yohan menipiskan bibirnya. Dadanya sesak meski dia memaksa untuk tetap tegar.
Theo menatapnya dengan penuh penyesalan.
"Nggak ada gunanya lagi kamu nangis-nangis, memasang wajah menyesal, anak saya sudah terbaring lemah begitu." Yohan meneruskan perkataannya dengan air mata mengalir di pipinya. Ily refleks menyentuh punggung tangan Yohan yang panas, menenangkannya. "Belum lagi tangannya ... tangannya retak."
Jantung Theo seperti ditonjok ribuan kali saat mendengarnya. Dia menunduk, menangis tanpa suara.
"Lebih baik kamu pergi," kata Yohan penuh penekanan, "sebelum saya mengamuk karena satu-satunya yang bisa disalahkan atas semua ini adalah kamu."
Mata Theo membulat. Hatinya sakit. Namun, satu-satunya penyelesaian adalah dia harus segera pergi sekarang juga. Meski berat, Theo terus menggerakkan kursi rodanya dengan air mata terus mengalir.
Melihat kepergian Theo, mata Yohan memerah. Dia mengepalkan tangannya.
Harusnya Yohan tidak mempercayai Theo lagi.
Saat kedatangan pertama Laura ke rumahnya.
"Theo menyukai anak Anda dengan tulus." Laura tersenyum senang dan penuh keyakinan. "Saya yakin itu. Saya Ibunya. Theo belum pernah terlihat penuh harapan seperti sekarang. Saya pikir, itu semua karena Lili. Saya harap, kedepannya Lili dan Theo bisa akur lagi."
Laura berdeham. "Terlepas bagaimana masa lalu, Theo, kini, anak itu sudah berbeda. Berbeda dalam artian yang positif. Saya merasakannya dengan jelas."
Harusnya Yohan tak langsung mengangguk waktu itu. Dia tidak seharusnya percaya sepenuhnya tentang perasaan Theo pada Lili. Yohan kira Theo seperti dirinya, yang mencintai Ily dan tak ingin perempuan itu terluka.
Namun, ternyata Yohan salah. Dia terlalu menaruh percaya pada Theo.
Ini salahnya.
***
Untuk meredakan semua kesedihannya, Theo memilih untuk tertidur.
Kemudian bermimpi.
__ADS_1
Di mimpinya, dia berada di sekolah. Tepatnya di koridor depan suatu kelas yang dekat dengan kelasnya.
Waktu Theo berjalan, tahu-tahu dia ditabrak seseorang dari belakang. Tak keras, namun mampu membuat Theo berbalik dan merasa terganggu.
"Aduh ...." Itu Lili. Kini, perempuan itu sedang bersimpuh sambil menggerak-gerakkan tangannya, mencari sesuatu di lantai. "Eh, kaca mata ... kaca mata ... kaca mata gue? Aduh ... mana, sih—eh?"
Theo yang mengambilkannya kaca mata dan menyodorkannya pada tangan Lili.
"Makasih. GEMA TUNGGUIN!" Lili cepat-cepat pergi setelah itu.
Theo menatap kepergiannya, kemudian saat dia menunduk, tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu.
Di dekat kakinya, Thao menemukan sebuah buku diari. Di luar kebiasaannya, Theo mengambil buku diari itu dan membaca diari tersebut. Lembar per lembarnya.
Hai, namaku Lili.
Cita-citaku jadi penulis. Aku suka pisang. Aku suka warna ungu. Aku suka boneka beruang. Aku suka membaca. Aku punya keluarga yang hangat. Lucu kalau nama-nama kita disatuin
Ibu - Aku - Adikku - Anjing Adikku - Ayah
Ily - Lili - Luhan - Luvi - Yohan
I - L - L - L - Y
Jadi, i love love love you
Penuh cinta pokoknya! Aku bahagia lahir sebagai Lili :)
Hai, aku Lili lagi.
Hari ini aku makan anggur dan ternyata rasanya lebih-lebih enak dari pisang. Maaf ya pisang, aku beralih hati. Waktu Ayah beliin buku buku baru, aku seneng banget dan semoga aja nantinya aku punya buku sendiri.
Halo, Hai, aku Lili.
Hari ini aku agak bete. Teman aku lulus seleksi di penerbit. Bukunya bentar lagi terbit, dong. Huffft, irinya~~ apa naskahku juga akan dikasih balasan? Haaaah, tak sabar menantinya
Hai, Lili. Maaf aku nangis hari ini. Soalnya naskahnya ditolak huaaaa.... Wajahku sekarang banjir air mata, lhoo. Habisnya kakak editor bilang gini: bahkan saya nggak mengerti arah jalan ceritanya bagaimana. Sinopsisnya acak-acakan sekali.
HUAAAA
Hai, Lili. Jangan menyerah! Udah, gitu aja!
Hai, Lili. Buku Imel udah ada di Gramedia. Laku keras.
Dan masih banyak lagi catatan-catatan yang ditulis Lili dalam dirinya. Theo tak membaca semuanya, namun dia menangkap intinya. Lili selalu menceritakan kesehariannya yang ceria dan menyenangkan, cita-cita sebagai penulis dan kisah cinta dalam diamnya pada Jae.
Pagi-pagi sekali, Theo mengembalikannya ke kolong meja Lili.
Frame tiba-tiba berubah seperti sebuah film. Kini menunjukkan Theo yang berada di kelas. Ada guru di depan. Ada Lili duduk di meja sebelahnya.
"Eh, itu, pinjem penghapus, dong." Lili tiba-tiba berusaha kepadanya. Theo terdiam. "Punya nggak?"
Theo tersadar dan menyodorkan penghapusnya pada Lili.
"Oke. Makasih."
Adegan berganti lagi. Mereka masih di kelas, namun waktunya berbeda. Yakni waktu istirahat pertama. Theo belum lapar terlaljadi dia diam saja di kursinya sambil memejamkan matanya di lipatan tangan.
"Gem, gue bawa bekel lumayan banyak, nih." Suara Lili terdengar di sebelahnya. "Makan bareng, yuk!"
Theo kira Lili berseru pada Gema.
"Hei." Tahu-tahu lengan Theo dicolek oleh Lili.
Theo terbangun dari tidurnya yang pura-pura dan menatap Lili dengan heran. Lili berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eh, eh, lo kok tiduran terus, sih? Sini makan bareng, udah istirahat juga."
Keadaan berganti lagi. Waktu kelas XI IPA 3 akan ada ulangan harian Matematika. Theo sih tak peduli dan tidur saja dengan santainya, tapi seseorang menegurnya.
"Hei, hei, hei," tegur Lili seraya mengguncang kecil badan Theo, "bangun, hei," Lili berdecak kesal saat akhirnya Theo menatapnya dengan jengah, "ada ulangan juga abis ini. Nanti lo diremedial lagi, duh."
Adegan berganti lagi. Kini waktu pulang sekolah. Theo mau pergi pulang saat Lili menahan tasnya.
"Eitsh, mau ke mana?" Lili bertanya tajam. "Piket dulu napa. Kabur mulu. Kesel gue. Angkatin bangku, kek."
Belum sempat Theo tersadar, tempatnya berubah lagi. Kali ini ketika kelas mereka ada di GOR. Sedang melakukan lempar bola karena pelajaran olahraga.
Siapapun yang terkena lemparan bola akan kalah dan nilainya kecil sesuai dengan waktu dia bertahan untuk terhindar dari lemparan teman-temannya yang sudah kena. Yang sudah kena juga bertugas untuk membuat teman-teman yang lainnya terkena lemparan bola.
Waktu berlalu. Anak-anak berlari dengan seruan-seruan dan suara-suara riang. Hanya tinggal beberapa anak saja yang belum kena. Theo dan Lili salah duanya.
"Wuu, nggak kena! Wle!" Lili menggoda dengan puas saat Gema berlari ke arahnya dengan lelah. Gema sudah kena, omong-omong. "Hahahaha, eitsh!"
__ADS_1
Lili mengelak waktu ada bila yang hendak mengenai pinggangnya. Namun, rupanya Lili terlalu santai hingga tak sadar ada bola yang datang dari arah lain.
"Aaaa!"
Lili memejamkan matanya dengan refleks. Ketakutan. Bahkan itu pasti menyentuh kepalanya dengan keras.
Duk!
Ada suara, namun Lili tak merasakan sakit di manapun. Hingga akhirnya dia membuka mata, yang dia lihat adalah sosok Theo. Laki-laki itu memblokir bola dengan punggungnya.
"Eh?"
Lili masih mengerjap takjub saat tahu-tahu Theo turut melemparinya bola hingga Lili pun kalah.
"Aduh." Lili mengasuh kecil. Sementara Theo segera berlari ke arah lain untuk memangsa yang belum kena sementara Lili masih mematung di tempatnya.
Apa Theo baru saja mengobankan diri untuk Lili? Pikir Lili sudah kege-eran duluan.
"Lili kena, woi!" seru Gema, menyadarkan Lili. "Wuuuuu! Ngelamun aja, sih!"
"Ish!" Berkat itu, Lili tersadar bahwa Theo bukan mengorbankan dirinya, tapi mengorbankan Lili dan dirinya sendiri.
Lili jadi kesal.
Frame mimpinya tak berubah lagi.
Theo tersenyum. Mengingat cinta bertepuk sebelah tangannya. Lili selalu berkata-kata tentang Jae. Menyukai Jae. Mengangumi Jae. Menguntit Jae.
Theo juga ingin ada di posisi Jae.
Waktu Theo memejamkan matanya dengan putus asa, dia merasa dirinya berteleportasi lagi, berpindah lagi.
Tahu-tahu, Theo ada di sebuah pantai. Tempat di mana tujuannya bersama Lili waktu hari kecelakaan.
Di bibir pantai, sambil melihat burung-burung, ombak tenang dan langit sore serta matahari yang hendak terbenam, Theo duduk dengan kaki selonjoran dan kedua lengan di belakang, menahan beban tubuhnya yang sedang rileks menikmati indahnya pantai.
Seharusnya itu tampak biasanya saja.
Jika tak ada Lili duduk di sampingnya dengan kedua kaki ditekuk dan dipeluk. Wajahnya tampak ceria dan bahagia.
"Li, gue suka sama lo." Tiba-tiba Theo mengaku.
"Apa lo mau ngajak gue pacaran?" Lili tak tampak begitu terkejut, namun tampak takut dan tak enak. "Kalau itu maksud lo, maaf ...."
"Gue nggak ajak lo pacaran." Theo menggeleng sambil tersenyum lembut. "Gue cuma ngaku aja."
"Oh." Lili bingung harus berkata apa.
Theo membuang napas berat. "Kalau ... kalau di masa depan, ada kemungkinan lo suka balik sama gue nggak?"
"Gue nggak tau."
"Seandainya ...." Tenggorokan Theo tiba-tiba terasa tercekat. Sulit untuknya melanjutkan. Terlalu berat untuk dikatakan.
"Seandainya?" Lili memiringkan kepalanya pada Theo.
"Ah, nggak." Theo memalingkan wajahnya dari Lili. "Lupain aja. Liat, tuh. Sunsetnya benar lagi mulai."
"Ini pertama kalinya, Yo."
"Hm?" Theo berbalik lagi. Pandangannya tertuju pada wajah Lili yang diterpa sinar hingga senja yang indah dan lembut.
Lili turut menatapnya. Sorot matanya tampak bahagia. "Gue liat sunset sama seseorang."
Theo senang dengan itu. Meski hanya sebuah mimpi belaka.
***
**karena kemarin aku post dikit banget, hari ini aku post banyak banget hehe
semoga kalian terhibur setelah membaca ini
Pokoknya, terimakasih telah sampai di sini, telah membaca sampai sini, telah bersabar sampai sini, telah menanti sampai sini
jujur, aku kaget karena aku udah menulis sampai 104 bagian cerita Writing About Bad Boy's Life dan lebih kaget lagi karena kalian bisa baca sampai detik ini
sungguh, kalian luar biasa
terimakasih atas kebersamaannya selama ini ............ ya, kalian pasti tau .... bentar lagi kalian akan berpisah dengan Lili dan Theo
siap-siap ya he he he he he he he
see you
__ADS_1
Komen yang banyak biar aku post part yang lebih panjang**