
Sejak dia selalu menitipkan Titi ke rumah Lili, catatan merah di buku kedisiplinan Theo berkurang. Sudah dua minggu dan bukunya tampak kosong tanpa catatan merah atau pengurangan poin.
Begitupula dengan tugas-tugas Theo yang terselesaikan sesuai waktunya.
Banyak sekali dampak positif semenjak dia mengenal Lili lebih dekat dari sebelumnya. Namun, kenyataannya, kini dia harus menjaga jarak lagi dengan Lili.
Theo tersenyum tipis, ketika tiba-tiba Ten dan Lucas menghampiri. Dua orang itu tampak selalu bersama-sama dan kadang, Theo merasa iri. Ten dan Lucas memiliki banyak kesamaan dibandingkan dengan Theo. Ten dan Lucas sama-sama suka bolos dan menggoda pada perempuan hingga tak bisa dipisahkan.
Kapan ya, dia punya sahabat sejati seperti mereka?
"Liatin apa nih, sampai senyum-senyum sendiri gitu?" Lucas langsung memberinya pertanyaan begitu.
"Dari pada itu, kemarin malam lo ke mana? Ditelepon nggak diangkat, di-sms nggak dibales, maunya apa?" Ten langsung menyambung dengan wajah super dongkol.
"Gue lupa."
"Ck, semudah itu?"
__ADS_1
"Kalau iya kenapa?"
"Harusnya lo minta maaf." Ten memejamkan matanya seraya menekan gigi atas pada gigi bawahnya, menahan emosi. Lucas yang melihatnya memberi tatapan siaga satu pada Theo.
Namun, tampaknya Theo tak peduli. "Lupa bukan suatu kejahatan."
"Lo bisa mengendalikan itu," balas Ten tak habis pikir. "Gue sama Lucas malu kemarin, Yo. Regan bawa temen-temennya buat ketemu lo, tapi lo nggak datang."
"Ten," tegur Lucas. "Kantin buat makan. Ayo dah, makan aja dulu. Tubir mulu nih anak."
"Diem lo," tukas Ten tajam, pada Lucas. Kemudian dia kembali beralih pada Theo. "Gue pengen ngomong dulu. Sekali aja bisa nggak lo sadar, ngerti dan minta maaf? Kenapa harus gue atau Lucas duluan yang selalu ngalah atau beresin masalah yang lo buat."
Jika dulu Lucas juga turut melawannya, laki-laki itu kini hanya diam dan mungkin akan menjadi penengah.
Anak-anak yang berada di kantin langsung menaruh perhatian lebih pada dua anak tampan berwajah marah itu.
"Gue nggak pernah nyuruh lo buat beresin masalah yang gue buat," kata Theo dingin.
__ADS_1
Ten membuang napas panjang, tak paham mengapa Theo dilahirkan begitu keras kepala. Ten menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. "Gue nggak paham lo anggap gue atau Lucas apaan."
Theo termenung. Dia ingin menjawab, namun tak punya jawaban yang ingin dia keluarkan.
"Diamnya lo sekarang bikin gue yakin gue atau Lucas cuma hiasan buat hidup lo," kata Ten dengan senyum hambar. "Gue kira kita temen, Yo."
Lucas tak memberi kata-kata karena merasa terwakili oleh Theo.
"Nyatanya, lo cuma orang yang bareng-bareng sama kita. Bareng-bareng nakal. Nggak lebih. Ya, kan?" Ten bertanya dengan nada menuntut.
Theo masih diam.
"Jawab, Yo." Ten menggebrak meja di depan Theo. "Jawab, supaya kita nggak perlu lagi bingung sama lo."
"Kenapa harus bingung?" tanya Theo sarkas. "Lo boleh pergi sekarang seolah-olah lo nggak kenal gue. Gue nggak pernah nahan lo atau Lucas buat terus ada di samping gue."
Ten menggeram. "Serius lo bakal begini?"
__ADS_1
"Terus gue harus gimana?"
Buagh!