Dari Korea

Dari Korea
LSF - 9


__ADS_3

"Makin lancar, Bro?"


Lethan bertanya saat melihat Luhan yang tersenyum begitu lebar saat tengah memainkan ponselnya. Pasti sedang berkirim pesan dengan seseorang. Ya, dengan siapa lagi kalau bukan sang pujaan hati yang baru-baru ini nyangkut di hati Luhan?


"Yoi." Dengan senyuman bahagia, Luha mengiyakan.


"Udah di-dor?"


Luhan menggeleng pelan. "Belum."


"Tumben nggak gercep." Lethan tertawa kecil.


"Ya, kalau udah pro juga harus tetep hati-hati, Than." Luhan berkata dengan wajah bijaksana. "Buat nyaman dulu, buat senang dulu, buat suka dulu, buat cinta dulu. Baru di-dor. Jangan tiba-tiba juga."


"Oh ... gitu, ya." Lethan mengangguk-angguk, merasa mendapatkan pelajaran yang baru. "Maklum lah, gue newbie."


"Kemarin, jujur aja, gue geli liat gimana lo deketin Dara." Luhan berkata dengan senyuman geli. "Kayak om-om pedofil, Anjuir."


"Sa ae lo." Lethan hanya bisa tertawa. Dia juga tak begitu yakin cara PDKT-nya itu ampun untuk Dara. "Gue bingung harus gimana soalnya."


"Anggap temen aja dulu lah. Jangan kelihatan banget demennya. Ntar dia ilfeel duluan." Luhan memberi saran seraya menunjuk wajah Lethan dengan sorot mata serius. "Soalnya muka lo kayak om-om. Tanya aja Sari." Luhan segera memutarkan badannya untuk menoleh pada Sari yang tengah mencatat sesuatu di bukunya. "Ya, nggak, Babe?"


Sari berdecak keras. Menatap Luhan dengan datar setelah berhenti menulis dan menutup bukunya. "Nggak ada bahasan yang lebih berfaedah apa?"


"Cie yang dari tadi nguping." Luhan tersenyum dengan mata menyipit penuh arti.


"Bacot, Nyet." Sari mengumpat tanpa segan. Kemudian, Sari pergi keluar kelas karena berdebat atau mengobrol dengan topik tak jelas bersama Luhan adalah hal yang terakhir dalam hidupnya untuk Sari ingin lakukan.


"Dih." Luhan yang ditinggal begitu saja jelas jadi kesal. "Cantik-cantik kasar. Sayang banget."


"Hah? Lo sayang Sari?" Lethan bertanya begitu karena begitu yang dia dengar dari suara Luhan barusan.


"Sayang dari mananya, Supratman?" Luhan menatap Lethan dengan wajah mengolok-olok. Matanya berputar dulu saat membayangkan dia menyayangi Sari sebelum akhirnya menjelaskan lebih lanjut, "Dari pada Sari, gue lebih demen Nutrisari kali. Seger-seger dah di kerongkongan, apalagi rasa jeruk."


***


Reisya bukan tipe anak yang begitu ambisius dalam mendapatkan pacar. Meski kerap kali ada seseorang yang mendekatinya, namun tak sampai pada tahap yang begitu serius hingga Reisya merasa sangat beruntung jadi perempuan.


Selama hidupnya, Reisya lebih fokus untuk mengukir prestasi dan membanggakan kedua orang tuanya. Bagu Reisya, menjadi kebanggaan dan penyebab senyuman di wajah kedua orang tuanya tercipta adalah hal paling baik yang pernah Reisya lakukan.


Dari pada punya teman seru atau pacar pengertian, makan malam hangat bersama keluarga dan canda tawa yang pecah selama malam berlalu lebih-lebih berarti bagi Reisya.


Reisya terus hidup seperti itu. Dengan tujuan membanggakan dan membahagiakan kedua orangtuanya. Baik itu dengan prestasi akademik yang diraihnya, atau prestasi non akademik seperti menari dan mendapatkan piagam kejuaraan.


Sampai kedua orang tua Reisya meninggal karena kecelakaan di saat Reisya lulus SMP, hidup Reisya terasa amat gelap. Cahaya yang menjadi arah tujuannya hilang. Tujuannya juga seolah hilang.


Reisya hampa. Amat hampa.

__ADS_1


Dia menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja. Tak berprestasi, tak membanggakan. Hanya benar-benar sekolah saja hanya untuk mendapatkan sebuah ijazah kelulusan.


Punya teman pun hanya sebatas teman, tak pernah benar-benar mengenal dekat. Soal pacar, Reisya tak pernah benar-benar berniat untuk memilikinya karena dia pikir jatuh cinta akan sangat rumit.


Sampai kemudian, ketika dia memutuskan untuk mengikuti sebuah lomba tari tradisional. Lomba terakhir yang akan dia ikuti. Prestasi terakhir yang akan ia ukir di tahun ini.


Setidaknya, Reisya harus mengukir sebuah kenangan di SMA-nya kini. Sampai kemudian, Luhan turut hadir, lebih-lebih mewarnai hidupnya karena dengan dirinya, Reisya bisa tersenyum dan tertawa lagi.


Luhan seperti cahaya saat Reisya tengah mengambil senter yang telah kehabisan baterainya untuk menyala dan menunjukkan jalan yang benar untuk Reisya mencapai tujuannya.


Hari ini Reisya latihan lagi. Lombanya diadakan sebentar lagi. Reisya harus benar-benar mendapatkan kejuaraan untuk menciptakan torehan kenangan di tahun-tahun SMA-nya yang selama ini hanya kosong, putih, seperti kertas yang baru diproduksi.


Ketika dia telah telah, ketika latihan telah selesai, Luhan hadir di ambang pintu ruangan seni. Tersenyum lembut dan mengajaknya untuk pulang.


Reisya yang kerap kali pulang sendiri, kini mendapatkan seorang teman yang rela mengantarkannya sampai rumah. Teman-teman satu tim tari tradisional-nya sontak menatap Reisya dengan penasaran.


"Pacar lo, Sya?" tanya salah satunya.


Reisya langsung menggeleng."Bukan."


"Ganteng, deh. Kenalin, dong."


"Gue duluan, ya." Reisya tersenyum tak enak dan segera pergi melangkah mendekat pada Luhan.


Setelah berada di hadapannya, Reisya tersenyum. "Yuk," anaknya.


"Mau ke mana?" tanya Reisya dengan wajah bingung.


"Ada, deh." Luhan tersenyum misterius dan menyerahkan helm-nya. Saat Reisya hendak mengambilnya, Luhan segera menariknya lagi hingga Reisya tak jadi mengambil helm tersebut. Luhan tersenyum lucu. "Eits. Biar aku yang pasangin."


Reisya diam saja ketika Luhan memasangkan helm padanya kepalanya. Kemudian, mengancing tali di bawah dagunya hingga wajah mereka berdekatan dengan jarak yang signifikan. Reisya perlu menahan napasnya saat Luhan berkonsentrasi untuk mengancingkan tali pengaman helm-nya.


Saat benar-benar selesai dan Luhan kembali berjalan normal dari wajah Reisya, barulah Reisya dapat bernapas seperti biasa lagi.


"Biar apa coba. Aku bisa sendiri padahal." Reisya sedikit menggerutu saat kini Luhan memakai helm pada kepalanya sendiri.


"Biar lebih sayang." Luhan menjawab enteng.


"Uhuk!" Reisya tersedak ludahnya sendiri.


Luhan menahan senyum geli, kemudian menaikki motornya yang mempersilakan Reisya di belakangnya. "Ayo, naik."


Beberapa saat kemudian, keduanya membelah jalanan di atas satu kendaraan yang sama. Melewati trotoar-trotoar, pohon-pohon hijau dan beberapa kendaraan lainnya.


Reisya mencipta sebuah senyuman. Melihat punggung Luhan saja sudah cukup baginya. Entah mengapa rasanya hatinya kini penuh, tak hampa lagi. Rasanya membahagiakan dan Reisya harap waktu berhenti saat ini juga.


Dengan memandangi punggung Luhan, dia merasa seluruh dunia mendukungnya dan mengatakan bahwa hidupnya harus bisa kembali berjalan dengan baik-baik meskia tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

__ADS_1


Baiklah. Reisya mengangguk. Dia akan menuruti kata hatinya.


Waktu terasa cepat saat Reisya menghabiskannya bersama Luhan. Memang terdengar berlebihan dan terlalu imajinatif, namun apakah kalian pernah jatuh hati pada pandangan pertama?


Sebab itu yang Reisya rasakan kini pada Luhan.


Tak lama kemudian, Luhan menghentikan motornya di sebuah cafe yang bernama Always Happy. Setelah membuka helm dan memarkirkan motornya, Luhan mengajak Reisya untuk masuk.


Apa yang pertama kali Reisya pikirkan saat melihat bagian dalam cafe ini adalah; pantai. Diluar, cafenya berwarna hitam dan bersuasana dark. Di dalamnya, sangat cerah dengan dinding yang dilukis seperti pantai.


Di pojok-pojoknya ada pohon kelapa bohongan, minuman dari kelapa yang juga tidak asli, serta beberapa hiasan seperti kerang-kerangan, kepiting dan pasir di beberapa titik di lantai.


Reisya benar-benar tak bisa berkata-kata lagi untuk mendeskripsikan betapa indah dan memukaunya tempat ini. Reisya terlalu sibuk pada kesedihannya sehingga tak peduli pada tempat-tempat indah seperti ini.


Reisya masih tak bisa berkata-kata saat Luhan memesankan brownies dan donat cokelat untuknya. Tanpa basa-basi, Reisya mengambil satu potong brownies dan ia language jatuh cinta.


Reisya memakannya sampai melupakan kehadiran Luhan.


"Waduh." Luhan tertawa saat Reisya makan tanpa memerhatikan apakah makan brownies cepat-cepat seperti itu tak meninggalkan titik cokelat di sisi bibirnya. Dengan senyum kecil, Luhan mengangkat tangannya, menyentuh bagian pipi Reisya yang kotor dan membersihkannya. "Suka banget sama brownies?"


Reisya jadi malu. Namun, secepat itu, matanya berubah dengan binaran luar biasa. "Ini brownies yang paling enak yang pernah aku makan! Nggak bohong!"


"Iya-iya." Luhan tertawa renyah lagi. Dia senang kalau Reisya bisa menyebarkan senyiman kebahagiannya yang cantik itu. "Bagus kalau gitu."


Reisya mengangguk-angguk, kemudian fokus untuk makan brownies yang tersisa. Luhan memakan donat saja sambil menatap Reisya dengan senyum kecil.


"Kamu kenapa suka yang manis-manis kayak gitu sih?" tanya Luhan, sudah pastinya dia bertanya untuk gombal. "Padahal udah manis gitu."


Reisya menunduk sesaat, ada rasa malu saat dia mendengar gombalan Luhan yang sebenarnya sangat pasaran. "Bisa aja."


"Bukan bisa aja." Luhan menukas, tak setuju. "Ini fakta. Apa yang aku bilangin barusan itu fakta."


"Kamu tanya kenapa aku suka yang manis-manis?" tanya Reisya dengan wajah serius. Saat Luhan mengangguk, barulah Reisya menjawab dengan senyum sedih, "Soalnya hidup aku ini pahit."


"Hah?"


"Sebenarnya ... sebenarnya aku tertekan banget." Reisya berhenti memakan brownies di tangannya dan menatap Luhan dengan lurus-lurus."Lombanya sebentar lagi."


"Aku bakal semangatin." Luhan langsung mengangguk dengan mata penuh tekad, menyemangati Reisya. "Aku bakal datang di tempat di mana kamu lomba. Aku bakal bawa bala tentara kalau kamu nggak keberatan. Aku bakal jadi penyemangat garis terdepan buat kamu. Tenang aja. Jangan merasa tertekan. Apapun hasilnya nanti, yang penting kamu udah berusaha."


Reisya mengangguk dan tersenyum senang. "Oke."


Seperti itu saja sudah cukup buat Reisya.


"Iya." Luhan balas tersenyum meyakinkan.


***

__ADS_1


__ADS_2