Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 42


__ADS_3

"Menteri Perhubungan."


Mata Lili membulat sampai tampak akan keluar dari wadahnya. "Serius, Yo."


"Percaya aja lo." Theo menatap Lili dengan pandangan meledek. "Gue nggak tau Lucas anaknya siapa, tapi gue temenan sama dia bukan karena hartanya."


Lili tak diberi kesempatan untuk membalas lagi karena Lucas sudah menghampiri keduanya ketika laki-laki itu baru saja keluar dari salah satu rumah yang ada di kawasan lapangan.


Lucas sudah siap dengan baju balapannya. Sudah memakai pelindung siku dan lutut serta satu helm khusus di genggamannya. Dia menatap Theo dengan semangat.


"Wei, Theo," sapa Lucas seraya mengajak tidak pada Theo yang dibalas Theo sekedarnya. Mata Lucas beralih pada Lili dengan senyum simpul. "Bawa anak buah lagi. Yakin kali ini nggak bakal kabur lagi?"


"Kabur?" Lili bertanya bingung.


Theo mendengus kecil.


"Lo kabur kan waktu kita mau clubbing." Lucas tertawa geli.


"Oh!" Lili membulatkan mulutnya. "Oh, oh, oh, oh! Waktu itu! Gue nggak kuat sama angin malem, langsung meler gitu ini hidung, bersin-bersin juga, pokoknya nggak enak. Gue nggak cocok clubbing."


"Oh, nggak apa-apa, dong. Santai," tukas Lucas santai.


"Gue nggak enak karena pulang gitu aja." Lili meringis, benar-benar merasa bersalah.


"Aduh, lo lucu banget, sih," puji Lucas jadi gemas.


Lili menahan senyumnya, malu. "Makasih. Oh ya, gue Lili," kata Lili kemudian seraya mengulurkan tangannya.


"Ck." Theo menatap Lili tajam, penuh peringatan dan khawatir.


"Kenapa?" tanya Lili tak paham.


Lucas menyambut uluran tangan Lili dengan senyum hangat. "Oh, namanya Lili. Gue Lucas."

__ADS_1


"Udah tau. Lo kan aktor muda."


"Aduh, jadi malu."


"Hahaha."


Theo ingin melepaskan tangan Lili dan tangan Lucas yang terus bertaut. Namun, dia menahan diri.


"Lo tau nggak Lili apa yang cantik?" tanya Lucas basa-basi.


Pipi Lili bersemu. Sontak melepas tangannya yang bertaut dengan tangan Lucas sebelumnya karena refleks memegang pipinya. "Nggak tau, tuh. Emangnya apaan?"


"Lili ini." Lucas menepuk kecil pundak Lili. "Lo."


Lili main bersemu dan bergerak malu-malu seperti ulat.


"Ten belum dateng?" tanya Theo mengambil alih topik pembicaraan.


"Haah, belum nih." Lucas membuang napas bosan. "Telat kayaknya, ditelepon nggak diangkat juga."


"Yoi." Lucas mengangguk, kemudian memberi Theo sebuah tas yang semula dia bawa.


Theo mengambilnya dan bersiap-siap. Theo membuka jaket jins yang sebelumnya ia pakai untuk menunjukkan crop tank yang memamerkan otot seluruh lengannya. Tanpa peduli tatapan Lili yang tercengang, Theo memakai rompi khusus, pelindung lutut, pelindung siku, sapu tangan dan memakai handband yang jelas saja membuat laki-laki itu tampak lebih tangguh, keren dan tempan.


Lili terkesima. Tak bisa berkata-kata. Apa dia sedang melihat tokok komik sekarang ini?


"Lo duduk di sini aja." Theo berkata santai pada Lili. "Kalau kudanya ada tanda-tanda mau ngamuk, lo kabur aja oke?"


Theo lanjut berjalan ke arah lapangan tanpa menunggu balasan Lili, menghampiri Lucas yang sudah berada di sebelah kudanya.


"Li, sadar, Li," kata Lili seraya duduk di atas beton dengan pipi memanas. "Lo ada Kak Jae, sih. Lili, woi."


Memutuskan untuk melupakan bagaimana tampannya Theo, Lili melihat pertandingan balapan kuda itu dengan seksama. Ketika Theo dan Lucas melakukan pemanasan singkat dengan berlari dua putaran lapangan, Lili tak bisa mengalihkan pandangannya dari Theo.

__ADS_1


Bagaimana wajah seriusnya, bagaimana tegap tubuhnya dan bagaimana wajah itu bisa sangat tampan.


Plak! Lili menampar pipinya sendiri. "Inget, Kak Jae, Li!"


"Eh, tapi kalau liat doang mah nggak apa-apa, kali. Wajar, cewek kan suka cogan."


Iblis dan malaikat dalam diri Lili langsung merasuki Lili.


Pada akhirnya, iblis menang. Lili terus senyum-senyum ketika Theo akhirnya naik kuda. Lili belum pernah melihat pertandingan balapan kuda, karenanya waktu dia melihatnya, jantungnya berdebar tegang.


Lili takut diseruduk karena kuda yang dinaiki Theo maupun Lucas tampaknya sangat agresif dan sulit untuk dikendalikan hingga membuat Theo jatuh dari atasnya. Sementara Lucas sampai di ujung lainnya saat mereka memulai dengan selamat; Lucas masih ada di atasnya.


Theo kalah. Di sana, Lili bisa melihat wajah tak senang Theo. Theo berdiri lagi, berjalan ke pinggir, sementara kudanya sudah dikejar penjaga. Lucas berkata sesuatu pada Theo hingga akhirnya laki-laki berhandband itu berjalan ke arahnya. Kemudian duduk di sebelah Lili.


Keringatnya mulai menghiasi pelipisnya, napasnya agak memburu dan wajahnya tampak lelah. Wajahnya agak kemerahan dan membuat Lili berdeham karena gugup. Jelas, ada cogan di sebelahnya.


Sementara Lucas masih berada di lapangan. Laki-laki itu terlihat mendengarkan arahan pelatih dan tak tampak kelelahan seperti Theo.


"Kalau capek ya jangan dipaksain, Yo," kata Lili seraya melihat Theo dengan raut wajah sedih.


Theo mendengus kecil. "Gue cuma istirahat sebentar."


"Harus banget lo menang?" tanya Lili merasa harus begitu karena wajah Theo sekarang tampak sangat kecewa dan kesal.


"Gue nggak pernah menang sebelumnya," jelas Theo datar. "Gue pengen setidaknya satu kali buat kalahin Lucas."


"Ya, Lucas mungkin setiap hari latihan," kata Lili mencoba untuk menghibur.


"Gue bisa." Theo bertekad bulat.


"Ya, semangat deh," balas Lili seraya mengangkat kedua tangannya yang mengepal, menyemangati.


Theo menatapnya lurus-lurus, namun tak ada kata yang keluar dari mulutnya hingga membuat Lili kebingungan sedikit.

__ADS_1


Kemudian Lili tersenyum penuh arti. "Gue boleh nanya, nggak?"


__ADS_2