
"Gue punya anak buah baru," jawab Theo dengan seringai penuh kemenangan ketika Lucas bertanya kenapa Adit yang biasanya mengerjakan tugas di meja pojok kantin sana tidak mengejakan tugas remedial Theo hari ini.
Justru Adit tampak berseri-seri saat membeli minuman. Tanpa kata, melewati meja Theo begitu saja tanpa ketakutan seperti dahulu kala.
"Siapa, tuh?" Lucas mengernyit bingung saat mendengar jawaban Theo.
"Ada di kelas."
"Cewek?"
"Iya."
"Ajib, dah." Lucas langsung bertepuk tangan heboh.
"Ini sih keajaiban dunia." Ten turut takjub
"Kenapa?" Di sini, satu-satunya yang tak mengerti adalah Theo.
"Biasanya lo nyuruh cowok. Kok sekarang pindah haluan?" tanya Ten heran.
Theo hanya mengangkat bahunya tak acuh.
Ten langsung menatap Theo lamuh arti. "Suka lo ya sama ini cewek?"
Lucas menjentrikkan jarinya. "Bener, tuh."
"Ngaco lo berdua." Theo menukas tajam. "Dengerin manajer lo," katanya pada Lucas. "Dengerin juga apa kata Pak Toto," katanya lagi, kini pada Ten.
Lucas dan Ten kompak memutar bola matanya.
__ADS_1
"Heran gue. Ibu gue tuh ngebet banget pengen gue ikutan casting film lagi dan jadi manajer gue. Lelah hayati bang, gue nggak minat begituan asli," keluh Lucas secara refleks.
"Mending itu Ibu lo, ada kaitan darah yang jelas," balas Ten turut kesal. "Lah gue? Ini Pak Toto, secara dia bukan siapa-siapa gue tapi lengket banget kayak bokap sendiri."
Lucas jadi tertawa, terhibur dengan serentetan cerita dari Ten.
"Tiap hari itu bapak-bapak kasih gue uang jajan, tiap hari anterin pulang, en, taunya disuruh latihan matematika sampai dua buku tebal harus tamat satu Minggu." Ten menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kadang, gue pengen berontak, tapi dikasih duit jadi gue nurut."
"Dasar mata duitan," ledek Lucas.
"Semua orang begitu, BTW," balas Ten tak mau kalah. "Nggak ada orang di dunia ini yang nggak suka uang."
"Ya, tapi nggak ada yang setebal suka lo ke uang," tukas Lucas cepat.
"Bodo lah, Cas," balas Ten, enggan berdebat.
Theo hanya diam. Selalu begitu. Setiap kali dua temannya ini bercerita tentang ada orang yang peduli pada mereka, Theo selalu diam.
Dia sendirian di dunia ini.
Ya, tidak benar-benar sendirian karena ada Titi di dalamnya.
***
"Lo mau jemput Titi kan?"
Bagi Theo, pertanyaan itu berarti sama dengan apakah lampu yang akan dinyalakan saat matahari telah pergi ke peraduannya? Karenanya, Theo mendengus sarkas.
"Lo bege apa bege?" Theo menatap Lili dari atas sampai bawah dengan pandangan penuh cercaan. "Jelas gue nggak mau Titi jauh-jauh dari gue kalau gue ada di rumah."
__ADS_1
Gema yang hanya menyimak percakapan Lili dan Theo, merasakan aura berbeda dari Theo. Ternyata, laki-laki itu sayang sekali pada adiknya.
Kini giliran Lili yang mendengus. "Ya ampun, gue cuma nanya. Sensi amat, sih. Ini tugas lo udah selesai dua. Besok jadi tinggal satu lagi, ya."
Theo hanya bergumam, kemudian mengambil buku tugasnya dari meja Lili untuk dimasukkan ke dalam tasnya sendiri. Setelahnya, Theo berlalu pergi.
"Ayo, Gem," kata Lili mengajak Gema yang masih ada urusan dengan tugas yang dia lewatkan karena dispensasi lomba minggu kemarin, meski begitu Lili berjalan duluan.
Gema sendiri menggeleng-gelengkan kepalanya. "Katanya penulis, tapi pake kata-kata aja masih salah. Harusnya, 'duluan, Gem!' karena lo pulang duluan, nggak nungguin gue agak ajak gue bareng!"
Lili mengikuti langkah Theo kemudian. Bel baru saja berbunyi dan orang-orang kini ramai sekali keluar kelas. Beberapa kali Lili berusaha menerobos tubuh orang-orang yang menghalanginya untuk mengejar Theo.
Ketika sampai di parkiran dan di dekat motor Theo, Lili berdiri dengan senyum malu-malu.
Theo menoleh sekilas, kemudian menyodorkan helm-nya.
Lili menerimanya dengan senang hati. "Theo, gue boleh minta anterin ke suatu tempat dulu nggak? Tenang, gue traktir lo, kok."
Theo menaikan kedua alisnya, kelas sekali tak setuju dengan permintaan Lili.
Namun, Lili buru-buru menjelaskan.
"Plis, Theo. Deket kok sama rumah, satu arah juga." Lili menipiskan bibirnya. "Nggak bakal lama juga di sana. Gue ada urusan bentar. Plis, Theo. Ya, ya, ya?"
Theo membuang napas kecil. Melihat Lili, dia selalu ingat Titi.
Semenjak mengenal Lili, Titi menjadi lebih ceria dan meski menjadi bergantung pada Lili, Theo tak bisa mengelak perasaan bahagia bercampur lega karenanya. Saking senangnya dengan Lili dan keluarga perempuan itu, Titi sampai merengek padanya.
Karena itu, Theo akan mencoba membalas kebaikan Lili untuk Titi.
__ADS_1
"Oke. Lo mau ke mana?"
***