Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 34


__ADS_3

Ily, aku rindu


Yohan berdecak, tangannya menari di atas keyboard ponselnya untuk menghapus isi pesan yang akan ia kirimkan pada Ily. Kemudian ia berpikir lagi, mencari dan memilih kata-kata yang sesuai dan tidak berlebihan untuk dikirimkan. Sepertinya satu bulan sudah berjalan sejak dirinya tidak mengabarkan kabarnya pada Ily.


Terakhir kali dirinya menghubungi Ily adalah saat-saat di mana tak ada pengawasan dari ayahnya. Itu pun tak berjalan begitu lancar karena setelahnya Yohan justru mengatakan hal yang tidak tepat pada Ily.


Bukan maksud Yohan untuk memutus hubungan, namun ia tak mau Ily menunggu tanpa kepastian karena Yohan akan sangat susah dihubungi dalam kurun waktu lima tahun.


Hati ini, tiba-tiba ayah terserang demam yang mengharuskannya tidur sepanjang hari di atas ranjang. Jadi, tak ada perintah atau tuntutan yang harus Yohan laksanakan.


Sekarang, masalahnya Yohan bingung untuk memulai. Jika dirinya menelepon, rasanya sangat tiba-tiba dan takutnya Ily sedang ada kesibukan lain. Berkirim pesan pun, Yohan agak kesulitan merangkai kata-kata.


Entah kenapa, rasanya dia dan Ily menjadi sangat jauh dan berat untuknya bersikap biasa saja. Yohan merasa sangat bersalah.


Hai, Ily


Yohan menarik napas dalam-dalam. Kemudian berpikir lagi untuk membuat pesan pertamanya itu lebih panjang dan menarik untuk dibaca hingga menimbulkan senyum di wajah Ily.


Ah, Yohan membayangkannya.


Seketika, kupingnya terasa panas.


Hai, Ily


Apa kabar?


Yohan menggeleng-gelengkan kepalanya, menangkal imajinasi yang terlalu tinggi itu. Bisa saja sekarang Ily tengah marah padanya karena telepon terakhir kali. Yohan menepuk-nepuk kepalanya supaya bisa berpikir lebih cepat.


Aku baik-baik saja di sini. Tapi, cuacanya mulai agak tak beraturan. Ayahku sakit demam karenanya. Semoga kamu baik-baik saja, ya, Ly.


Yohan menarik napas lagi. Kemudian menyentuh opsi kirim hingga beberapa saat kemudian ia menunggu.


Malam telah menyapa dan tentu hawa dingin mulai masuk ke jendela kamarnya. Jika biasanya Yohan sengaja membuka jendela kamarnya setiap malam meski dingin untuk melihat kamar Ily, sekarang ia cepat-cepat menutupnya karena udara dingin mulai menyerangnya.


Kehidupannya di tempat ayahnya lebih tidak seru daripada saat ia hidup di tempat asal ibunya.


Tentu, itu tidak bukan dan tidak lain berkat adanya Ily.


Yohan belum pernah bertemu dengan seseorang seperti Ily. Yang ia lakukan di sini hanya belajar, makan, tidur dan mandi. Begitu setiap hari. Tak ada makan bersama teman, mengobrol sambil tertawa dengan teman, naik motor dengan teman atau adu mulut dengan teman karena suatu perbedaan pendapat.


Di sini, semuanya tampak serius. Sangat kompetitif dan Yohan sangat-sangat kelelahan karenanya. Belum lagi masih ada beberapa orang di kampusnya yang teringat tentang kasus dirinya dengan anak-anak yang terbunuh dan narkoba.


Semuanya butuh perjuangan keras, namun Yohan berhasil melaluinya karena ia teringat akan Ily. Perempuan yang selalu mengisi hatinya, mengingatkannya akan senyum saat hadapi kesulitan dan senang saat dihadapkan pada makanan.


Jika ada makanan, apapun mood Ily asalnya, pasti hilang tergantikan oleh senyum bahagia yang mengembang lebar.


Hal itu tanpa sadar juga melekat pada diri Yohan. Entah mengapa, setiap kali ia makan, emoticon senyum seperti mengganti darahnya yang menjadikannya hidup.


Senyum Yohan selalu terkembang sepanjang ia menghabiskan makanannya. Terutama makanan pedas khas Korea yang panas dan nikmat.


Tak sadar melamunkan makanan dan Ily, Yohan sampai tak sadar bahwa ponselnya sudah bergetar dari tadi, menandakan bahwa ada pesan masuk.


Yohan segera membukanya, kemudian mematung setelah membukanya.

__ADS_1


Aku baik-baik, Yohan. Katanya tak usah hubungin lagi lima tahun ke depan, kok sekarang begini?


Yohan benar-benar bingung harus membalas apa.


Kini, Ily marah sepertinya. Mungkin kesal karena diberitahukan seperti itu oleh Yohan.


Maka dari itu, Yohan mencoba untuk memperpanjang obrolan sebisanya.


Yohan: Aku terpaksa bilang begitu waktu itu, Ly


Awalnya, Yohan kira Ily akan mencemoohnya. Namun, nyatanya perempuan itu hanya membalasnya dengan singkat.


Ily: Oh


Senyum Yohan perlahan mengembang. Sepertinya Ily tak begitu kesal saat dirinya tiba-tiba menghubungi.


Yohan: Kamu sekarang sibuk?


Yohan membalas seperti itu.


Ily: Nggak.


Ily menjawab begitu.


Yohan: Oh, bagus. Ah, ya, soal waktu itu aku mau minta maaf, Ly


Yohan menggigit bibirnya, menunggu balasan Ily dengan harap-harap cemas. Masalahnya, mereka kini terhalang jarak yang amat jauh hingga Yohan tak bisa menyogok Ily untuk memaafkan dirinya dengan makanan.


Beruntunglah Ily sekarang agak jinak. Yohan kembali mengetik setelah merasa lega.


Yohan: Kamu marah, ya, Ly.


Yang Yohan kirim selanjutnya justru sebuah pernyataan untuk memastikan apakah Ily benar-benar tulus memaafkannya.


**Ily: Nggak, aku nggak marah


Yohan: Serius**?


Mata Yohan membulat saat membacanya, kemudian langsung membalasnya seperti itu.


**Ily: Iya, Yohan. Serius.


Yohan: Aku khawatir**


Yohan meringis, butuh keberanian besar untuk memastikan bahwa Ily tak akan kesal lagi padanya hari ini karena banyak bertanya mengenai perasaan Ily atas sikap buruknya satu bulan yang lalu.


Ily: Khawatir kenapa?


Balas dari Ily membuat Yohan buru-buru membalasnya.


Yohan: Kamu benar-benar tak marah padaku, kan?


Dengan pertanyaan yang intinya sama dengan beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


**Ily: Nggak, Yohan. Eh, dikit, deng.


Yohan: Kan**.


Kini, Yohan merasa lebih lega karena Ily sudah mau jujur dan jawaban dari Ily sesuai dengan dugaannya.


Ily: Hehehe. Aku kira pertemanan kita sudah terputus waktu itu...


Mata Yohan membulat lagi, langsung cepat-cepat mengetik untuk membalasnya.


**Yohan: Heh, bisa-bisanya kamu berpikir seperti itu, ya!


Ily: Kamu juga waktu itu bilangnya serius banget. Dingin lagi. Ketus gitu kayak bener-bener berubah jadi orang lain**.


Yohan mengela napas kecil. Dirinya mengakui hal yang dikatakan Ily, namun itu semua ia lakukan karena terpaksa dan tekanan dari ayahnya. Jauh dalam lubuk hati Yohan, ia tak pernah mau mengatakan hal itu pada Ily.


**Yohan: Aku nggak akan berubah, Ly


Ily: Jelas. Kamu bukan Superman**


Rasanya Yohan bisa melihat Ily sedang tertawa saat mengetiknya. Sebab kini, Yohan juga tersenyum seulas saat membacanya.


Yohan: Serius, Ly. Aku akan tetap ingat kamu, tetap suka kamu dan akhirnya mau melamar kamu kalau urusanku dengan ayah sudah selesai


Kuping Yohan agak memanas lagi setelah sebelumnya agak reda. Jika ia bercermin, Yohan yakin kupingnya sekarang akan merah.


Ily: Ya ampun, kita baru satu bulan lulus SMA. Jangan bicara hal-hal yang ngaco, deh, Yohan


Sebenarnya Yohan juga berniat bercanda dan hanya sekedar berkata-kata sebab ia sudah sangat terlanjur cinta dalam-dalam pada Ily. Namun, yang ia kirimkan selanjutnya justru diluar kuasanya.


Yohan: Aku serius, Ly.


Dehaman Yohan mengudara, mencoba untuk menghilangkan rasa gugupnya yang dipikir-pikir terlalu lebay untuk ditunjukkan. Malam yang sepi menjadi saksi bagaimana Yohan berkata konyol pada Ily.


Yohan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bersenandung kecil saat menunggu balasan Ily yang nyatanya tak kunjung datang, bahkan setelah tiga puluh menit berlalu.


Menatap ponselnya dengan sedih, Yohan akhirnya mengela napas seraya mematikannya. Kemudian beranjak untuk tidur dengan hati yang rasanya retak.


Ily tak lagi membalas pesannya.


Bahkan setelah fajar kembali hadir.


Yohan tidak menyadari, jauh bermil-mil di sana, Ily tak bisa tidur karena jantungnya terus berdebar berkat pesan darinya. Menjadi sebuah kebahagiaan yang akan Ily simpan sendiri.


Yang nyatanya membuat Ily semakin semangat habiskan hari.


***


**Nih, Yohan nih Yohan


5 comments panjang, aku langsung post part selanjutnya


see youuu**

__ADS_1


__ADS_2