
Pada tanggal sepuluh bulan terakhir dalam satu tahun, hari berbahagia berlangsung. Di mana dua insan menyatu dengan segenap hati.
Dengan banyak saksi dan pasang mata menjadi bukti, keduanya bersiap mengucap janji di altar pernikahan.
Cincin pasangan sudah terpasang cantik di jari manis masing-masing. Senyum lebar dan sarat kebahagiaan terpancar di wajah Yohan dan Ily, nama kedua pasangan yang akan mengikat janji suci detik ini.
"Saya akan setia menemani ...."
"Baik suka maupun duka ...."
"Akan menghormati dan mengasihi sepenuh hati ...."
"Tak akan pergi, tak akan melarikan diri ...."
"Selalu setia sampai maut menghampiri."
Begitu selesai terucap, tepuk tangan dan riuh rendah orang-orang terdengar. Satu pasangan hidup dan ... semoga juga mati, telah terbentuk.
"Icikiwir!" seru Elvan, sepupu sang pengantin wanita, terdengar sangat lantang di salah satu kursi yang ada di gedung sewaan ini. "Cium, dong, cium! Hahahaha!"
"Udah resmi aja nih, besok nyusul, ah!" Eza, temannya, turut memberikan seruan jahil.
Mendengar pacarnya berseru tanpa berpikir panjang, Ayla menyikut rusuk Eza. "Hush, jangan besok."
"Bercanda sayang. Kamu kan masih harus kuliah, ya."
Elvan berdecak melihat pemandangan itu. "Putus aja napa. Temenin masa jomblo gue."
"Sirik ae, ampas kelapa."
Yohan dan Ily hanya mampu menahan senyum atas kejahilan Elvan dan Eza di depan sana. Mereka menatap penuh arti, namun masih ada malu-malu di sana.
Orang tua mereka melihatnya, teman-teman mereka juga turut melihat. Yohan dan Ily sama-sama belum berani, hingga akhirnya Yohan membawa Ily ke dalam pelukan erat.
Sontak saja, membuat suasana semakin berisik dari sahutan-sahutan memuji, meledek, iri ataupun gemas mengudara dari segenap orang yang hadir.
"Kalau kamu belum siap, aku nggak akan memaksa, Ly," kata Yohan berupa bisikan.
Ily menarik napas dalam-dalam.
Memejamkan matanya sesaat dan akhirnya melepaskan pelukan mereka. Dengan mata menatap lekat-lekat mata Yohan, Ily mengangguk. "Aku siap, Yohan. Jangan suka meremehkan."
Dengan beraninya, Ily mendekatkan wajahnya dan membuat suara yang menghiasi gedung pernikahannya semakin banyak dan bernada tinggi.
Membuat berisik, namun terdengar nyaman dan membahagiakan di telinga, khususnya bagi Yohan dan Ily yang kini sama-sama memejamkan matanya.
"Gila sih, Ily sekarang udah dewasa banget," komentar Elvan selaku sepupu yang telah mengenal Ily luar dan dalam. "Nggak nyangka, ****."
Eza mengangguk-angguk di sebelahnya. "Kayak polos, tapi itu anak berani juga."
"Kak Yohan manis banget sih, dicium duluan dong." Ayla ikut-ikutan bersuara saat menyaksikan momen romantis pasangan baru menikah di depan sana.
"Bukan manis gitu mah, nggak gentle namanya," balas Eza seraya merangkul Ayla dengan mesra. Dengan begitu, Ayla dan Eza larut dalam romantis yang tiba-tiba tercipta.
Elvan mendengus keras melihat itu. Jika di samping kanannya ada Eza dan Ayla yang sudah love-bird, maka di samping kirinya ada
Raihan serta Shasi yang sudah resmi menikah satu setengah tahun yang lalu dan kini Shasi tengah mengandung anak pertamanya yang sudah tujuh bulan hingga mereka berdua pun saling memberi kasih sayang. Tangan Raihan mengusap-usap perut buncit Shasi dan Shasi menatap Raihan dengan senyum sayang.
__ADS_1
Di belakangnya, Juna dan Tiffany tak jauh beda dengan Eza dan Ayla.
Tak punya pasangan, Elvan benar-benar merasa sangat kesepian di tempat yang amat menyedihkan.
***
Hari ini Yohan dan Ily pindah ke seberang rumah orang tua Ily. Rumah itu kosong dan Yohan serta ibunya adalah penghuni terakhir dari rumah tersebut.
Semula, Ily menolak karena rumahnya terlihat angker. Namun dengan beberapa faktor pendukung seperti dekat dengan orang tuanya sendiri serta lingkungan yang sudah nyaman, maka Ily setuju untuk tinggal di sana. Bersama Yohan, suaminya kini.
Sebenarnya semuanya masih terasa mimpi bagi Ily.
Dia bertemu Yohan saat SMA, anak laki-laki keturunan Korea yang kemudian pindah menjadi tetangganya, teman satu bangkunya dan kini teman satu rumahnya.
Ayah Yohan yang telah meninggal dua tahun yang lalu membuat Yohan memutuskan untuk membuka sebuah toko kecil-kecilan di pinggir kota sana. Di dalamnya Yohan menjual baju rancangan Ily, sepatu yang sketsanya dibuat Juna--sepupunya, alat musik rekomendasi Eza serta brownies, donat, roti, cookies dan makanan manis sejenisnya yang dia buat bersama ibunya.
Toko yang awalnya hanya toko kecil-kecilan itu kini sudah punya lima puluh cabang di lima kota besar. Yohan dan Ily bekerja sama untuk membangun semua itu, hingga kini nyaman dengan hasilnya.
Toko yang bernama Always Happy itu sering menjadi sorotan anak muda karena suasananya yang estetik dengan makanan harga terjangkau serta lengkap. Bahkan Ily berniat untuk mengacak Tiffany berkolaborasi dengan Always Happy, karena sahabatnya itu punya brand obat anti jerawat hasil racikannya. Ily ingin Always Happy jadi tempat buruan cewek-cewek gila skincare.
Namun, itu harus ditunda dulu karena ... dia dan Yohan menikah.
"Besok aku mau ke Tiffany," kata Ily waktu mereka akan tidur satu ranjang untuk pertama kalinya. Ily melihat dirinya di cermin saat tengah mengoleskan krim malamnya.
"Mau bicarakan tentang penambahan item di AH."
AH adalah singkatan dari Always Happy.
"Boleh," balas Yohan cepat. Dia sudah berbaring seraya mengeluarkan napas lelah. "Besok aku mau buatin cookies buat ibu soalnya ibu mau datang buat cek."
"Aduh, aku belum bersih-bersih semua," keluh Ily khawatir. Hari ini mereka hanya selesai membereskan barang-barang, meletakkannya di tempatnya dan sama sekali belum bersih-bersih. Rumahnya masih berdebu dan kotor. "Apa aku tunda dulu aja buat ketemu Tiffany?"
"Belum, sih," balas Ily pelan. "... tapi pengen cepet-cepet buat upgrade AH."
"Terserah kamu sih." Yohan mulai memejamkan matanya untuk tidur. "Tapi aku bakalan capek kalau bersih-bersih rumah sendirian."
Ily sudah paham kebiasaan memberi kode Yohan itu dipelajari dari siapa. Kebanyakan main sama Ayla--pacar Eza, jika kalian lupa, Yohan jadi sedikit manja.
"Iya, iya, aku nggak bakal ke Tiffany dulu. Aku mau bantu dunia bersih-bersih rumah baru dulu," cetus Ily akhirnya.
Senyum Yohan langsung tercipta lebar dan Ily tertawa geli karenanya. Ketika hendak tidur di samping Yohan, Ily mematikan lampu.
Tak berselang lama, Ily tak terkejut lagi ketika tangan Yohan sudah bergerak untuk memeluk perutnya.
"Senangnya punya istri pengertian."
***
"Ini kok belum bersih, sayang?" Yohan bertanya heran saat melihat kaca jendela depan masih kotor di sudut atasnya.
Ily yang sedang mengelap sofa serta mejanya jelas memutarkan bola matanya dengan jengah. "Kamu bisa pikir sendiri kenapa masih belum bersih."
Alis Yohan terangkat, namun beberapa detik setelahnya dia tersenyum penuh arti. "Oh, aku paham."
"Kalau paham diem, aja."
"Kok kamu jutek, sih?"
__ADS_1
"Ya pikir aja kenapa aku jutek."
"Capek, ya?" Yohan bertanya memastikan.
"Iya jelas dong, Yohan sayangku!" seru Ily tak habis pikir. "Aku udah hampir bersihkan semuanya waktu kamu akhirnya bangun. Ini gara-gara semalem kamu ... ergh, aku jadi nggak bisa tidur dan akhirnya bersih-bersih aja buat menyegarkan pikiran! Tapi, enaknya kamu tidurnya nyenyak-nyenyak aja, ya!"
Yohan tertawa renyah. Kemudian mengelap kaca dengan tangannya yang memegang kanebo di bagian yang sebelumnya tak teraih Ily. "Oh, gara-gara semalem."
Pipi Ily memerah.
Melihat, Yohan tersenyum geli. "Mau lagi, nggak?"
"Yohan!" seru Ily protes. "Jangan main-main terus, bersihin semuanya."
Yohan cemberut saat Ily akhirnya berdiri setelah jongkok untuk mengelap bawah meja. Ily telah selesai dan sudah banyak penuh di dahi dan pelipisnya.
"Aku mau mandi, Yohan. Bagian halaman aku serahkan ke kamu, ya."
"Mau bareng nggak?" tanya Yohan dengan senyuman penuh harap.
"Nggak!" seru Ily dengan pelotoan tajam.
Yohan tampak menciut, menatap kepergian Ily dengan wajah sedih. "Kenapa sih Ily masih malu-malu begitu? Apa aku terlalu agresif?"
***
Jadi, semakin itu Yohan mengajak Ily Terus bicara. Bukannya tertidur, keduanya jadi terus bersuara sampai setidaknya tengah malam menjemput.
Yohan bertanya seputar pekerjaan Ily, hubungannya dengan Raihan ketika Yohan tidak ada, bagaimana ulang tahun ayah Ily dirayakan kembali, kabar ayah dan ibu Ily saat Yohan sibuk mengembangkan Always Happy serta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang sebagian sudah dijawab Ily pada masa sebelumnya.
Sampai Yohan menyangkut sebuah topik yang membuat jantung Ily berdegup kencang tak keruan.
"Ly, kalau kita punya anak kamu maunya laki-laki atau perempuan?"
Ily menipiskan bibirnya. Semenjak menikah, pemikiran miliki anak bukanlah yang sering muncul. Justru pemikiran hidup bahagia hanya berdua bersama Yohan-lah yang selalu muncul.
"Apapun nggak masalah buat aku, Han. Mau laki-laki atau perempuan, aku pasti menyayanginya," balas Ily setelah lama berpikir.
"Kalau aku inginnya dua-duanya aja, sih." Yohan menjawab seraya menyelipkan rambut Ily dengan gerakan pelan. "Dua aja, cukup kan?"
"Iya," balas Ily dengan tawa kecil yang kedengaran gugup.
"Kalau nama? Udah kepikiran?" Yohan masih seru membahasnya.
"Kamu kayaknya nggak sabaran ya jadi ayah?" Ily bertanya geli. "Aku pikir satu tahun dulu biarlah berlalu, deh. Baru kita datangkan malaikat kecil kita."
"Ya, itu terserah kamu, Ly," balas Yohan tegas. "Aku siap kalau kamu siap."
"Kamu tau nggak apa yang bikin aku nggak mau pisah sama kamu?" Ily bertanya pelan.
"Apa, deh?"
"Karena kamu Yohan." Ily berbalik untuk menatap Yohan dengan senyuman lebar. Tangannya menyentuh pipi Yohan dengan lembut. "Kalau nanti kita punya anak, aku ingin namanya ada 'Kim'-nya kayak kamu. Biar sifat pengertiannya nular."
Yohan turut tersenyum lebar sampai matanya menyipit. "Kalau kita punya anak, aku mau namanya ada 'L'-nya biar anak itu 'love' ke aku kayak kamu ke aku."
Ily menepuk pelan dada Yohan, tertawa geli untuk setelahnya memikirkan masa depan mereka bersama anak-anak dan akhirnya tak bisa tidur karena terlalu bersemangat.
__ADS_1
***