Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 16


__ADS_3

"Tau nomor gue dari mana, deh?"


Ditanya mendadak saat dirinya menyodorkan helm kepala Ily membuat Raihan tertawa kecil. Mereka berdua sepakat untuk mulai belajar bersama di perpustakaan dan bertemu di depan sekolah Ily. Semalam Raihan menelepon Ily dan mengajaknya.


Tak pernah ingat pernah memberi teleponnya pada Raihan, jelas membuat Ily heran dan penasaran.


"Lo punya Eza, Ly," jawab Raihan singkat. Meski begitu, jawabannya cukup untuk membuat Ily mengangguk paham.


"Nggak kaget, sih," tukas Ily seraya mengangkat kedua bahunya. "Itu anak emang gampang banget jualan. Lo ngasih apa?"


"Ceban nggak bikin gue rugi, Ly."


"Apa?" Mata Ily terbuka lebar. Beberapa pejalan kaki menoleh padanya karena suaranya yang agak tinggi. Beruntung hari ini Minggu, tak ada teman sekolah yang memergokinya bersama Raihan.


Secara, siapapun yang melihatnya keduanya, pasti mengira Ily memakai pelet untuk dapat berada di samping Raihan.


"Kok lo mau sih dimanfaatin sama itu Raja Judi?" Ily berprotes tak suka. Wajahnya yang berubah kesal itu membuat Raihan tertawa karena lucu.


"Gue niatnya sedekah, kok," balas Raihan kalem. "Nggak rugi jadinya."


"Padahal langsung aja bilang ke gue, Han," balas Ily tak enak. "Balikin aja uangnya, nanti gue marahin itu si Eza. Ya kali nomor gue dijual kayak begini."


"Kalau minta ke lo feel-nya beda lagi. Udahlah, nggak usah diperpanjang." Raihan tertawa, menatap wajah khawatir Ily yang terlihat berlebih. "Kok gitu aja ribet, sih. Ayo, naik."


"Ish, gue kan nggak enak," keluh Ily dengan wajah prihatin. "Kayak... gue tuh mahal banget gitu buat lo."


Wajah Ily sudah memerah karena menyuarakan kepercayaan diri yang berlebihan itu. Namun, rupanya Raihan tak begitu terlihat memikirkan artian yang sebenarnya.


"Mau mahal mau murah, gue nggak peduli, Ly. Ayo, gue nggak sabar buat ngobrol panjang sama lo," jelas Raihan semangat.


Ily menahan tawa. "Bukannya kita mau belajar?"


"Belajar sambil main maksudnya," balas Raihan dengan senyum jahil.


***


"Ke sana dulu, yuk, baru ke perpus."


Ily tak pernah menyangka jika Raihan akan berubah sedrastis ini. Entah Ily yang jarang main dan bergaul, atau memang pertumbuhannya dan perkembangan lelaki bisa sesignifikan ini. Ily hanya merasa kepribadian dirinya sendiri sejak kecil sampai sekarang sama saja.


Tak seperti Raihan. Anak laki-laki sopan yang lembut dan rajin itu berubah menjadi seseorang berbeda. Laki-laki itu tumbuh menjadi seorang pemberani dan lebih playfull.


Sejak dirinya dan Raihan berboncengan dari sekolah, tempat pertama yang dikunjungi adalah bakery. Raihan belum sarapan dan mereka membeli masing-masing satu roti untuk dimakan.


Tak jarang Raihan mengajak Ily berbicara seraya menghabiskan rotinya. Karena masih pagi, pengunjung belum banyak berdatangan. Hal itu membuat Ily dua kali lipat merasa canggung karena bingung harus bersikap bagaimana.


Bagaimana pun, Raihan adalah teman lama yang baru ia temui enam hari lalu. Sangat sulit untuk merasa nyaman dan akrab kembali seperti enam tahun yang lalu.


Namun, rupanya Raihan berbeda. Laki-laki itu tak tanggung-tanggung bertanya banyak hal padanya. Entah itu tentang Elvan dan Eza, sampai pada guru-guru serta pengalaman sekolah SMA-nya. Seolah Raihan memang orang yang tak pernah berpisah dengannya selama enam tahun ke belakang.


Beberapa kali Ily mengetuk hati serta pikirannya karena merasa bodoh dan berpikiran sempit. Kenapa harus canggung dan tak enak saat Raihan sangat terbuka padanya?


"Apa sih yang salah?" Ily tak sadar menyuarakan pikirannya hingga membuat Raihan mengerutkan keningnya dengan bingung.


"Hah? Itu cuma cafe buat ngopi biasa. Nggak ada yang salah, sih. Di sana asik ngobrolnya, adem, bagus-bagus juga segi artistiknya," jawab Raihan seadanya.


"Ah?" Ily tersadar dengan canggung. Tangan kirinya mengaitkan anak rambutnya ke telinga. Raihan mengajaknya ke Abnormal, cafe anak muda yang sedang hits di Instagram, dan Ily tak begitu fokus padanya tadi. "Oh, ayo. Sebelum ke perpus, kita duduk-duduk aja sebentar."


Kening Raihan mengerut lagi. Selain karena matahari yang mulai bersinar terik, perkataan terakhir Ily membuatnya berpikir keras.


"Minta ditraktir, ya?" tebak Raihan tiba-tiba.

__ADS_1


Mata Ily membulat. "Kapan gue bilang gitu?"


"Barusan lo ngode."


"Lah? Ngode gimana?"


Raihan berdecak dengan wajah meremehkan. "Berusan lo bilang, kita duduk-duduk aja sebentar, itu artinya lo nggak bakal beli kopi dan artinya yang lain adalah buat dibeliin. Iya, kan?"


Ily memaksakan senyumnya. "Kok level menyebalkan lo bisa selevel sama Elvan-Eza, sih?"


"Lah? Gue salah, ya?"


"Ya... kalau lo mau traktir, gue nggak nolak."


***


Pesanan keduanya telah sampai di hadapan masing-masing setelah sepuluh menit menunggu. Abnormal memang sudah sangat sesak bahkan sebelum matahari berada tepat di atas kepala. Cafe itu berada di puncak ketenaran dan beruntungnya Ily dan Raihan dapat tempat duduk.


Meski tempat duduk itu sebenarnya sangat canggung bagi keduanya. Bagaimana tidak? Di meja yang berada paling ujung, Ily dan Raihan harus duduk di depan pasangan suami-istri yang sedang mengobrol mesra tanpa canggung. Kebetulan, istrinya sedang hamil sehingga pembicaraan antara dua orang dewasa itu terdengar sangat menggelikan untuk dua remaja di depan mereka.


Tak ada pilihan lain untuk duduk. Ini adalah kursi terakhir yang kosong. Jika terlambat sedikit saja, mungkin Ily dan Raihan harus menikmati kopinya di tempat lain, di luar Abnormal.


Sangat di sayangkan jika begitu, sebab interior Abnormal memang sebagus itu. Dengan cat abu serta emas yang membuatnya elegan, beberapa hiasan 3d di dindingnya membuat mata membelalak kagum. Tak pernah bosan untuk menatapnya.


Kaca besar di depan, jelas menjadi mata untuk melihat dunia luar yang menyejukkan. Beberapa mobil lalu lalang serta pejalan kaki selalu menjadi background indah untuk perbincangan dengan kopi.


Namun sayang, semua itu tak bisa dinikmati Ily dan Raihan secara maksimal karena mereka berdua justru lebih fokus pada percakapan suami dan istri di depannya.


"Tau nggak kenapa aku pilih nama Rose buat anak kita?"


"Nggak, tuh. Emang kenapa, ay?"


"Biar dia cantik kayak kamu, Rosa. Biar wangi kayak bunga mawar, alias Rose. Biar kepribadiannya juga sama kayak buang mawar. Cantik, tapi kuat dengan duri yang selalu melindunginya."


"Ya, pasti dong."


"Semoga aja."


"Eh, kita beli baju-bajunya, ya, beres ini."


"Ayo, ay."


"Beli yang warna pink merah aja, deh, semua. Lucu pasti."


"Aku yang hamil, aku yang ibu, aku yang wanita, tapi rasanya kamu lebih excited, ya."


"Nggak sabar akutu. Unch. Cup. Cup."


Istrinya tertawa dan ketika itu pandangannya bertemu Ily dan Raihan. Senyumnya berkembang dengan wajah ramah dan hangat. "Pacaran, ya?"


Mata Ily sontak membulat dan tangannya bergerak-gerak, tanda tak setuju dengan pertanyaan ibu hamil di depannya. "Nggak, Bu. Kita nggak pacaran, cuma temenan."


"Iya, bu. Nggak, kita buka sepasang kekasih kayak ibu sama bapak," tambah Raihan, memberi kejelasan lebih lanjut.


Ibu itu tertawa. "Kami juga awalnya cuma temenan."


"Eh, sekarang jadi suami-istri," lanjut bapaknya seolah sudah melakukan kontak batin.


Ily mau tak mau tertawa canggung. Kemudian, menoleh perlahan dengan Raihan dan menatapnya penuh kode. Berharap Raihan mengerti.


"Pak, Bu, kami permisi dulu, ya, ada tugas mendadak," pamit Raihan tak enak. Bahkan ditambah tawa canggung yang anehnya tak menyinggung dua pasangan di hadapannya.

__ADS_1


"Oh, silahkan, santai aja kali," balas sang suami itu.


Raihan mengangguk, kemudian Ily mengikuti dengan canggung. Keduanya bahkan belum sempat menghabiskan kopi masing-masing, kini harus berada di luar dengan wajah kecewa dan sedih.


"Sayang banget," kata Ily lemas.


"Canggung banget," kata Raihan dengan tawa kecil khasnya. "Gue pengennya ngobrol panjang, tapi malu banget di depan mereka. Lo ngerasain yang sama, nggak?"


Ily mengangguk cepat. "Bener. Malunya sampai ubun-ubun, sih. Canggung banget. Nggak paham lagi."


Tawa kecil Raihan kembali mengudara. Ia menatap Ily dengan penuh arti. "Mau nonton?"


"Kok nonton?" Ily mengerutkan keningnya dalam. "Kita kan mau belajar, ege. Ke perpus, dong."


Raihan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Seperti ingin mengutarakan sesuatu yang membuatnya akan malu. Ily dibuat sangat penasaran dan berdebar karenanya.


"Sebenarnya gue nggak ada niatan buat belajar bareng hari ini sama lo," aku Raihan akhirnya. Jika Ily memerhatikannya lebih teliti, telinga Raihan mulai memerah kini.


"Lah? Maksudnya?" Ily terkejut, matanya terbuka sempurna. Tak percaya dengan arah jalan pikiran Raihan. "Terus kita sekarang ngapain?"


"Main aja. Refreshing. Kapan lagi coba jalan sama cowok seganteng gue?"


Ily mendelik. "Sifat Eza-Elvan emang udah merasuki lo, ya?"


Raihan tertawa, berikutnya menari sambil bernyanyi dengan gerakan super canggung. "Entah apa yang merasukiku, hingga ku tega membohongimu~~"


Ily menatapnya dengan wajah yang sulit dideskripsikan lagi. Entah terkejut, jijik, ingin tertawa atau malu.


"Lo ngapain, sih, Han?" tanya Ily yang sudah tak bisa mengerti lagi. 


Raihan berdeham. Berhenti menari ala-ala dan bersikap tegas lagi. "Maaf, Ly. Gue bohong soal mau ajak lo belajar bareng hari ini, tapi---"


Tenenonenet~~


Suara ponsel Ily membuat perkataan Raihan terpotong. Ily segera membuka tas selempangnya dan mengambil benda kotak yang canggih itu.


"Iya, kenapa, Van?"


"Sini."


Suara Elvan yang tak biasanya itu membuat Ily terdiam agak lama. Suara yang menyiratkan putus asa dan kesedihan itu jelas sangat Ily kenali. Suara itu buka suara Elvan yang biasanya.


"Lo di mana?"


"Gudang sekolah."


Tanpa berpikir panjang, Ily mengambil helm dari Raihan dan meminta dengan serius, "anterin gue, ya?"


***



**aku mau cerita dikit ya, tentang sisipan gambar dari karakter-karakter Dari Korea 2. gini, aku kan bikin juga kolase Elvan sama Eza, tapi entah kenapa, punya mereka itu nggak bisa diupload alias selalu gagal prosesnya gitu


yaah, intinya kolase Elvan dan Eza nggak ada. agak sedih, sih, soalnya tiap kolase itu ada arti, teori dan maksudnya


biar sama kayak bighit gitu yang banyak banget teorinya, aku juga mau bikin heheheheh


bagi yang tau apa teori atau arti maupun maksud gambar karakternya, bisa komen


dan bagi yang membuat aku 'woah' akan dapat benefit heheheheh

__ADS_1


semangattt**^^^


__ADS_2