
Elvan menepati janjinya malam ini.
Ketika jarum jam merembet ke angka delapan, ponsel Ily berdering. Tepat di sampingnya yang sedang mengerjakan soal Bahasa Indonesia. Awalnya, Ily kira itu nomor iseng. Berkali-kali Ily abaikan dan hampir mengaktifkan mode pesawat jika pikiran itu tak terlintas.
Mungkin saja telepon ini akan penting tujuannya. Sebab sudah sepuluh kali panggilan telepon tersebut tak Ily jawab, nomor asing itu masih juga mencoba menghubungi lagi.
Akhirnya, Ily mengangkatnya dan terdengarlah suara Elvan yang mendengus dan menggerutu setelahnya.
"Lama bener angkatnya. Ini hp punya temen soalnya."
"Ya maaf, gue nggak tau ini rupanya elo, Van."
"Yaudah, gue males debat juga," balas Elvan di telepon dengan helaan napas panjang, seperti sedang bersiap-siap. "Jadi, mau cerita aja langsung."
"Gue dengerin."
Kemudian, meluncurlah sebuah cerita yang mengejutkan dari mulut Elvan. Mulai dari hubungan Alina dan Fajar yang kian hari kian memburuk. Awalnya, keduanya memutuskan untuk bekerja masing-masing supaya kebutuhan keluarga terpenuhi. Belum lagi Elvan yang mesti kuliah dan beberapa nominal hutang yang belum sempat dilunasi karena kejadian masa lalu.
Ketika Ily bertanya kejadian masa lalu itu maksudnya apa, Elvan enggan menjelaskan lebih lanjut dan Ily mencoba untuk memahaminya. Lalu, cerita pun berlanjut. Fajar yang bekerja di sebuah sekolah swasta sebagai teknis dicurigai Alina memiliki hubungan yang lebih dari kelihatannya dengan seorang guru muda di sana, yang makin mencurigakan lagi adalah bahwa guru muda itu berjenis kelamin perempuan dan memiliki status belum menikah.
Seperti yang bisa diduga, Fajar menyangkalnya, namun Alina tak percaya. Hampir setiap malam keduanya berdebat dan berakhir Fajar yang marah-marah dan bahkan sempat mendorong Alina yang menghalanginya untuk keluar.
Malam-malam berlalu, selalu seperti itu. Makin hari makan parah. Elvan sempat melindungi Alina, namun apa yang ia dapatkan adalah pukulan dari ayahnya yang bukan sebatas dorongan, bahkan ayahnya sempat menendang perut Elvan hingga rasanya organ dalamnya hendak keluar.
Fajar yang keluar malam-malam setiap hari itu selalu kembali dalam keadaan mabuk, yang mana membuatnya emosi kala ditanya, bahkan dalam nada yang lembut sekalipun. Entah apa yang terlah merusak Fajar hingga berubah seperti itu, namun suatu pagi Elvan marah.
__ADS_1
Marah pada ayahnya yang keseringan membuat saki hati serta fisik ibunya, juga dirinya. Waktu itu adalah tepat di hari perpisahan sekolahnya yang bahkan ayah dan ibunya tak ingat.
Elvan juga sebenarnya tak peduli lagi dengan pendidikannya, apalagi kelulusannya yang sebenarnya tak penting-penting amat itu. Yang ia peduli pagi ini adalah melawan ayah, menyadarkan ayah dan apabila perlu menghajarnya supaya sadar.
Namun, yang didapatkan justru amukan, disertai pukulan dan tendangan. Bahkan beberapa kali, Fajar mengacak-acak barang-barang di rumah yang membuat Alina kian frustasi.
Alina berteriak kencang, meminta Fajar untuk sadar. Namun, tentu balasan Fajar tak akan semudah itu membuat suasana kembali tenang. Fajar mengeluarkan kata-kata yang sontak saja membuat Alina menangis.
Fajar mengaku bahwa dirinya akan menikah dengan Safira, guru muda di sekolah swasta itu, sekitar tiga bulan lagi. Jika Alina tidak kuat, Fajar akan senang hati menceraikannya.
Elvan sama terkejutnya, namun ia tak mengeluarkan air mata. Terlalu marahnya baginya untuk sedih saat ini. Ayahnya memang brengsek, namun saat ini Elvan tak bisa lagi melawan sebab seluruh tubuhnya terasa sakit sekali.
Tadi, beberapa kali Fajar membenturkannya pada tembok, mendorongnya kuat-kuat ke ujung meja yang lancip dan sempat menggores tangannya dengan kuku saat memukul.
Di sana, dengan air mata berlinang, Alina membuang cincin yang melingkar di jari manisnya selama dua puluh tahun itu dan membentak Fajar keras-keras, sebagai jawaban bahwa dirinya sudah tak mau lagi hidup dengan Fajar dan akan pergi dengan Elvan.
Alina pergi lebih dulu, entah pergi ke mana. Yang pasti, mungkin ibunya itu ingin mencari udara segar di luar. Kemudian, Fajar mengambil foto keluarga dengan emosinya yang tersisa. Dibantingnya foto itu sampai serpihan kacanya menggores kulit tangan Elvan, untuk setelahnya pergi menyusul kepergian ibu yang sudah lebih dulu.
Di rumah bak kapal pecah itu, Elvan dibiarkan sendiri. Sepi, dingin. Namun, hatinya bergemuruh, badannya panas dan otaknya lelah.
Segera, Elvan menutup pintu rumahnya untuk menangis sejadinya setelah itu. Tak lama setelah Elvan menangis, dia menatap kosong pada rumahnya yang berantakan ini. Kemudian, Ily dan Eza datang.
Cerita berakhir di sana dan air mata Ily menggenang mendengarkannya.
"Ly," kata Elvan memastikan Ily masih ada di bumi karena perempuan itu sudah terdiam hampir lima belas menit lamanya. "Pulsa temen gue mau habis, nih. Udahan ya, dah."
__ADS_1
"Eh, Van, jangan dulu dimatiin!" seru Ily panik, membuat Elvan tak jadi mematikan sambungan teleponnya.
Ily memikirkan cepat-cepat kata-kata yang tepat untuk menenangkan Elvan saat ini. "Gue selalu open buat lo, Van. Jangan malu buat cerita apapun keluh kesal hidup lo. Oke?"
Elvan tertawa di seberang sana. "Oke."
"Sip."
Sambungan terputus. Ily mengela napas lega. Setidaknya, Elvan tak berubah seperti yang ia duga sebelumnya. Meski beberapa hari yang lalu Elvan berkata mungkin saja dia kan berubah, nyatanya dia tak berubah sedrastis itu. Meski kedepannya mungkin akan ada perubahan, namun Ily berharap perubahan itu tak begitu buruk.
Rasanya lega sekali setelah tahu bagaimana keadaan Elvan, bagaimana penyebab kepindahan Elvan yang jelas dari mulutnya langsung. Seperti, batu yang sejak malam mengganjal di hatinya, kini luntur entah ke mana.
Satu ganjalan di hati memang sudah selesai, tapi satu ganjalan di tangan masih belum hilang. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan Eza.
Hari ini Eza seperti menghilang dari muka bumi. Tak mengirim pesan ataupun menganggu Ily untuk video call seperti biasanya.
Kemarin, Eza memang terdengar agak kesal pada Ily dan nampaknya ingin menyerah saja untuk Elvan. Eza seakan tak peduli lagi karena Elvan pergi begitu saja tanpa basa-basi. Eza tak mau berusaha untuk temannya.
Sesaat, itu membuat Ily kesal dan marah. Bagaimana bisa seorang teman yang telah hidup bersama semala hampir seumur hidupnya dibiarkan saja saat sedang menghadapi masalah. Harusnya Eza lebih berusaha dan sabar menghadapi Elvan.
Namun, nyatanya ia kini khawatir juga pada Eza.
Mau bagaimana pun, Eza masih temannya.
Dengan berat hati dan agak gengsi, Ily mengirim sebuah pesan untuk setidaknya membuat dia tahu bagaimana kabar Eza di dunia ini.
__ADS_1
Ily: Mati belum?
***