Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 89


__ADS_3

"Eh, Theo?" tanya Lili heran, ketika telah sampai di dekatnya. Jae masih berada di sebelah Lili. Mata Lili mengerjap-ngerjap. "Ngapain masih di sini? Kan ...."


"Ibu lo nyuruh gue jemput lo. Udah malem. Batre lo pasti habis, kan?" Theo memotong dengan nada tak suka. Sedikit memaksa. "Ayo, naik."


"Batrenya masih ada, kok." Lili menunjukkan ponselnya yang masih menyala pada Theo dengan wajah polos. Kemudian tersenyum bangga saat menjanjikan. "Gue kan sedia power bank. Hehehe."


"Apapun itu, ayo cepet." Theo tampak bosan untuk berdebat lagi. Tangan kanannya segera menyodorkan helm pada Lili.


Lili mengambil helm itu dari tangan Theo, namun tak langsung naik ke atas motor Theo.


"Ngapain diem?" tanya Theo tak sabaran.


"Ish, bentar dulu." Lili melotot pada Theo dan tersenyum lembut saat beralih pada Jae, "Ini temen sekelas aku, Kak. Namanya Theo."


"Jae." Jae membalas dengan berwibawa. Senyumnya tercipta simpul. "Sebenarnya aku udah tau. Kalian kan yang kemarin menang fashion show. Keren, deh."


Lili merasakan pipinya menghangat. Kalau ada matahari pasti kelihatan merahnya. "Lah ... Kakak liat?"


"Siapa yang nggak ngeliat? Gara-gara itu sekolah jadi tau siapa yang cantik di kelas kamu."


Serius barusan Jae memuji Lili? Lili jad salah tingkah. Hanya mampu menundukkan kepalanya dengan wajah malu yang sudah memerah sampai akhirnya suara Theo menginterupsi adegan bunga-bunga Lili.


"Ekhm."Theo berdeham. "Lili."


Lili mendongak dengan wajah penuh tuntutan pada Theo.


"Buruan naik." Theo balas menuntut pada Lili.


"Padahal tadi Kakak mau anterin kamu, lho." Jae berkata begitu waktu Lili mulai berjalan untuk naik ke motor Theo. "Jadi, mau sama Theo aja?"


Lili menoleh pada Jae dengan wajah yang kita-kita menyiratkan, Pengennya sama Kakak, tapi nggak deh, takut ngerepotin. Kasian Theo juga udah rela datang


"Nggak apa-apa, Kak. Aku sama Theo aja." Itu yang keluar dari mulut Lili akhirnya.


"Yaudah kalau gitu." Jae mengangguk-angguk sambil mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar yang menawan dengan taburan lesung di kedua pipinya. "Hati-hati."


Lili balas mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar. "Iya, Kak."


"Dah!" Jae melambai seraya mulai menyeberang untuk melakukan perjalanan pulang.


"Dah, Kak Jae!" balas Lili seraya melambaikan tangannya dengan semangat. "Hati-hati juga, Kak!"


Jae sudah hilang dari pandangan waktu Lili selesai memakai helmnya dan naik ke atas motor Theo.


"Udah?" tanya Theo datar.


"Let's go." Lili memegang tali tasnya erat-erat. Sebenarnya tiap kali menaikki motor, Lili merasakan ketakutan.


Tak ada pintunya soalnya.


Meski begitu, Lili menahannya. Dia bisa, dia bisa. Kalau ada polisi tidur, Lili sekali berpegangan dengan bagian belakang motor.


Iya, setakut itu Lili.


Perjalanan malam mereka sangat dingin dan sepi karena tak ada obrolan. Lili hampir bersin-bersin, namun tak kesampaian karena mereka sudah sampai di depan gerbang Lili duluan.


Setelah motornya berhenti Lili turun, melepaskan helmnya dan mengembalikannya pada Theo. Ketika Theo mau pergi setelah mengambil helm dan memakainya kembali, Lili menahan lengannya.


"Makasih ya, Yo." Lili berkata cepat-cepat.


Theo hanya mengangguk. Dia mau mau, saat Lili makin mencengkram tangannya. Kening Lili mengerut tak suka "Bentar, dong. Main kabur-kaburan aja."

__ADS_1


"Kenapa lagi?" Dibalik helmnya, Theo memutar bola mata.


Lili berdeham. "Yang tadi, Kak Jae."


Kemudian Lili menarik napasnya dalam-dalam. Menatap Theo dengan sorot super serius.


"Gue suka sama dia."


Meski sebenarnya sudah menduga sebelumnya, tapi tetap saja ada tsunami dalam dada Theo saat mendengar pengakuan Lili itu.


***


Hari Minggu menyapa.


Setelah menitipkan Titi ke rumah Lili, Theo menempuh perjalanan ke rumah Ayahnya, Tamrin. Tak lama karena letaknya lumayan dekat dengan rumah Lili.


Setelah menekan bel, Tamrin membukakan pintu dan langsung menyuruh Theo untuk ke kamar khusus untuknya belajar. Kamar itu tak ada apa-apanya selain meja belajar dan satu jenderal yang kecil. Hanya sekitar 10x30 sentimeter.


Tak pengap karena lumayan luas, namun jika berada di sini, Theo merasa sangat tersiksa.


Dia harus membaca ribuan kata, menulis ratusan lembar, mengetik berjam-jam, menghafal tak tahu waktu sampai tahu-tahu ia tertidur. Ketika tiba-tiba pintu dibuka, Theo langsung mengangkat kepalanya, terjaga lagi.


Wajah Tamrin langsung kelihatan marah saat memergokinya Theo tertidur. Tamrin menaruh sebuah rice box yang barusan di pesan ke meja Theo dan menatap anaknya itu lurus-lurus.


"Kamu tidur?"


"Iya, Yah." Theo menunduk dalam-dalam.


Tamrin tertawa sumbang. "Enak tidurnya?"


"Yah, aku capek." Theo memberanikan diri untuk menyuarakan apa yang dia rasakan. Meski mata Tamrin sudah sangat bergejolak penuh amarah, Theo tetap menatapnya lurus-lurus. "Aku nggak minat untuk belajar seperti ini."


"Siapa yang bilang kamu boleh berhenti?!" Mata Tamrin langsung melotot. Tanpa bisa ditangan, tangannya mencengkram ujung kerang kemeja yang Theo pakai dan membuatnya berdiri berhadapan. "Kenapa, nih? Mau melawan, kamu?"


"Ya terus hubungannya apa? Ayah juga dari kecil capek. Kakak kamu juga begini waktu kecilnya. Kamu nggak usah bantah! Ini tradisi!" seru Tamrin berapi-api. Kemudian melepas cengkeraman tangannya sehingga Theo hanya bisa berdiri dengan lunglai. "Keturunan Ayah itu harus jadi seperti Ayah! Harus!


"Aku mau berhenti begini. Aku nggak mau jadi penerus Ayah." Theo membantah lagi. "Tanpa Ayah tekan pun, aku bisa jadi orang berguna. Aku udah punya cita-cita. Aku mau berjuang mewujudkan cita-cita aku."


"Dan apa cita-cita kamu?" tanya Tamrin dengan tatapan meremehkan.


"Jadi guru olahraga," balas Theo penuh keyakinan.


Tamrin tertawa hambar. "Ngelawak ya kamu?"


"Nggak, Yah." Theo menatap Tamrin penuh tekad. Tatapan yang membuat Tamrin terperangah. "Aku serius."


"Ayah punya kenalan. Dia juga guru olahraga. Waktu dia cidera, dia nggak berguna lagi." Tamrin menggelengkan kepalanya dengan wajah penuh tuntutan. "Bisa nggak turutin ayah aja?"


"Aku tau kenapa ayah begini." Theo menatap Tamrin dengan penuh pertimbangan. "Dulu Ayah—"


"Tau apa kamu?" Tamrin bertanya emosi. "Mulai berani melawan? Kenapa? Leo berbeda sama kamu. Dia penurut. Cobalah untuk menjadi dia. Paham?!"


"Pasti karena Bang Leo." Theo tak mau menyerah begitu saja. Sudah basah, dia aja berenang sekalian. "Aku nggak akan seperti Bang Leo, Yah. Aku nggak akan hamilin anak orang. Tapi, aku nggak mau menuruti perintah Ayah karena aku punya cita-cita."


Perkataan Theo, beberapa dari mereka, membuat Tamrin sempat membisu untuk beberapa saat. Hingga akhirnya dia menatap Theo penuh curiga. "Kamu tau ... tentang Bang Leo?"


"Iya, aku tau." Theo membalas cepat. "Berhari-hari yang lalu, aku ketemu mantan pacarnya. Bang Leo bikin aku jijik dan pastinya aku nggak akan seperti dia."


"Memang." Tamrin menukas penuh penekanan. "Kamu tidak boleh seperti Bang Leo. Kamu harus seperti Ayah."


"Aku nggak aku jadi seperti Ayah!"

__ADS_1


"Berani kamu?"


"Aku punya jalan hidup sendiri, Yah. Tolong dukung aku--"


Plak!


Tamrin menampar pipi kanan Theo karena sudah geram. Kepala Theo berpaling dengan dramatis dengan rambut jadi acak-acakan karenanya.


"Jangan membantah kalau nggak mau Ayah semakin marah." Suara Ayah terdengar rendah, namun penuh bahaya.


Theo menyunggingkan senyumnya. Meski perih dan panas, Theo merasa geli pada kelakuan Tamrin kini.


"Ayah dapat untung apa kalau aku menuruti perintah Ayah? Yang ada, aku malah makin membenci dan dendam sama Ayah!" seru Theo berapi-api.


"Ini sialnya punya anak!" urat leher Tamrin semakin kencang. Matanya memerah marah. "Diberi makan tidak berguna. Malah nyolot aja kerjaan! Sini kamu!"


"Ayah ...." Theo merengek saat Tamrin menarik kerah kemeja belakangnya seperti sedang menyeret seekor kucing.


Theo digiring ke sebuah ruang. Ruangan yang itu. Ruangan tempat di mana Theo selalu mendapatkan penyiksaan. Ketika telah melepas cengkeraman pada kerah belakang Theo dan mendorongnya, Tamrin mulai melakukan aksinya.


Plak! Plak! Plak!


Bugh! Bugh! Bugh!


"Ayah!" jerit Theo tak tahan lagi. Air mata, air hidungnya telah meleleh bersamaan dengan sakit yang mulai menyiksanya.


"Sebaiknya kamu menurut kalau tak mau aja menjadi kejam." Tamrin berjongkok, menarik dagu Theo dan menatapnya lurus-lurus dengan penuh seringai kejam. "Kamu itu bibit yang masih bagus. Kamu harus terus begitu kalau tidak mau menjadi bibit yang buruk dan terpaksa dibuang seperti Bang Leo. Paham?"


"Apa?" Kening Theo mengerut dalam. "Terpaksa ... dibuang?"


"Ayah yang memaksanya minum pembersih lantai." Tamrin tertawa kecil, terdengar seperti iblis. "Udah nggak berguna, bikin malu, mending mati saja. Kamu setuju, kan?"


Theo menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan tatapan tak percaya. Perlahan, ia mundur ketakutan. "Ayah gila."


"Apa?"


"Ayah gila."


Plak! Plak! Plak!


Bugh!


"Dasar anak kurang ajar!" seru Tamrin seraya terus menggunakan tangan dan kakinya pada Theo.


"Aku akan lapor polisi." Theo mendesis penuh amarah. Rahangnya mengeras. "Aku akan membeberkan semuanya. Aku akan membuat Ayah dipenjara saja!"


"Akh!" Tamrin menendang kepalanya. Rasanya pening sekali sampai kelihatannya pandangan Theo buram.


"Kalau sampai itu terjadi ... adikmu akan Ayah lenyapkan dulu." Tamrin mengancam dengan suara rendah yang menusuk telinga Theo.


Theo meringis. Kesakitan. Tak berdaya lagi. Dia berusaha berdiri, namun tak bisa. Tamrin menatapnya dengan rendah.


"Paham?" tanya Tamrin penuh tuntutan.


"Jangan pernah sentuh Titi." Adalah kata-kata terakhir Theo yang disuarakan dalam nada lemah sebelum akhirnya benar-benar hilang kesadaran. Sebelum benar-benar seluruh pandangannya menghitam.


Meski begitu, samar-samar ia mendengar suara Tamrin.


"Lebih baik kamu tidur dulu supaya pikiran kamu jernih."


Sebelum akhirnya Tamrin melangkah meninggalkannya sendirian.

__ADS_1


***


__ADS_2