Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 87


__ADS_3

"Yo, Yo, Theo. Yo, Theo, Yo, Yo, Yo, Theo. Yo, Theo, Yo, Yo."


Berhari-hari ini Lili mendapati Theo yang lebih-lebih pendiam dari biasanya. Lebih-lebih serius dari biasanya. Dan lebih-lebih dingin dari biasanya.


Saat istirahat, Theo tak langsung pergi ke kantin seperti biasanya. Theo justru membuka buku catatannya, membacanya beberapa saat dan meminta Adit untuk membelikannya makanan. Begitu selama setidaknya satu minggu.


Theo jadi rajin.


Lili merasa ada yang aneh. Dia sudah menahan diri untuk tak bertanya selama satu minggu ini karena takut menganggu kerahasiaan kehidupan Theo. Namun, hari ini Lili tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya lagi.


Sebelum mereka masuk ke rumah, Lili menunggu kedatangan Theo dengan bersenandung riang. Ketika melihat Theo, senyum Lili terkembang lebar.


"Yes, akhirnya datang juga! Juranganku!"


Lili tak langsung membuka gerbang rumahnya. Sambil melipat tangan, dia menatap Theo. "Hai, Theo."


"Ngapain lo?" Wajah Theo langsung tak suka dan menatap Lili dengan tajam. "Buka gerbangnya.


"Jawab dulu kek." Lili memutar bola matanya dengan kesal. Menutup akses untuk membuka gerbang rumahnya. Senyumnya tercipta lebar agar setidaknya Theo bisa betah dengannya lebih lama."Hai, Lili. Gitu."


"Hai, Lili." Theo berkata datar. Kedua alisnya kemudian terangkat. "Puas?"


"Nggak sih sebenarnya." Lili langsung nyengir. "Tapi lo lucu juga. Jadi penurut gitu. Suka ngerjain tugas lagi. Waktu ada guru, jarang tidur dan bahkan ngasih beberapa pertanyaan. Gue kaget tau. Anak-anak kelas juga."


Theo memutarkan bola matanya. Mulai bosan. Lili jadi panik.


"Lo cuma perlu jawab satu pertanyaan aja dari gue. Abis itu langsung masuk rumah dan gue nggak akan tanya-tanya lagi." Lili menjelaskan kelewat cepat, dengan panik dan gugup. "Lo kenapa berubah?"


"Kepo banget ini netizen." Theo menyunggingkan senyumnya tanpa bisa ditahan..


"Barusan lo senyum?"


Meski begitu, senyum Theo masih bertanya. Lili yakin senyum ini adalah senyum terlebar yang pernah Theo tunjukkan. "Nggak boleh?"


"Jadi makin ganteng." Lili balas tersenyum lebar dengan wajah penuh kekaguman. Dia menyentuh dadanya dengan malu-malu. "Lo bikin jantung gue dugem tau."


"Ck. Dasar perempuan lemah." Theo meledek. Mengalihkan pandangannya dari Lili karena tiba-tiba dia merasa malu saat melihat Lili.


"Emangnya ada perempuan kuat? Semua perempuan itu lemah, tau." Lili membalas kesal.


"Ada." Theo menukas cepat. "Perempuan kuat."


"Siapa?" tanya Lili penasaran.


Theo berbalik lagi. Menoleh ke arah Lili dan menatapnya lurus-lurus. Kening Lili mengerut saat Theo diam saja.


"Wonder woman?" tebak Lili gemas.


"Strong Woman Do Bong Son."


Sesaat, ada hening yang tercipta secara signifikan. Sampai suara burung camar yang lewat terdengar jelas.

__ADS_1


"Apaan tuh?" tanya Lili akhirnya, setelah lama berpikir. Dia menatap Theo dengan bingung. "Eh, siapa tuh? Kok namanya agak korea-korea gitu?"


"Emang nama orang Korea, bege." Theo menukas tak santai.


"Eh?"


"Itu judul drama Korea." Theo membalas dengan emosi mulai meningkat. "Lo nggak tau?"


"Ha ...." Lili menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Emangnya ada ya yang begituan?"


"Bukannya lo orang Korea?" tanya Theo balik, dengan nada tak mengerti.


"Bukan." Lili segera menggeleng dengan wajah polos. "Gue orang Indonesia."


"Maksudnya, bokap lo kan dari Korea." Theo menjelaskan dengan nada kesal.


"Ya, cuma sebatas itu. Urusan yang lainnya gue Indonesia banget." Lili mengangguk kecil. Wajahnya polos saat menjelaskan, "Gue nggak bisa ngomong pake bahasa Korea, nggak bisa tulis Hangul, nggak bisa baca Hangul juga. Gue nggak begitu tertarik sama drama Korea juga. Kalau Idol, gue lumayan tertarik. Mereka ganteng-ganteng soalnya."


"Kayaknya lo sama kayak Ten."


"Hm?" Lili mengerutkan keningnya."Emangnya Ten kenapa?"


"Dia ngaku-ngaku orang Thailand." Theo mulai menjelaskan dengan nada datar. "Padahal baca, tulis sama ngomong Thailand aja nggak bisa. Terus dia bilang mau ke Thailand buat cari orang tuanya."


Lili membuka mulutnya karena terkejut. "Waduh, kok bisa begitu?"


"Kalau lo nggak tau," jelas Ten. "Ten itu waktu kecil ditemukan di pelabuhan waktu orang-orang Thailand berlibur. Orang tuanya ninggalin dia. Jadi Ten sekarang anak panti asuhan. Itu sih yang Ten ceritain ke gue. Gue nggak tau itu beneran atau nggak."


"Entah emang takdirnya atau cuma keberuntungan, Ten mau kuliah di Jepang. Dia didorong Pak Toto buat ambil beasiswa." Theo menjelaskan lebih lanjut. Tanpa sadar dia nyaman untuk berbagi cerita lagi pada Lili. "Setidaknya itu bikin keinginannya sedikit lebih realistis untuk dicapai. Ten bisa keliling dunia, tepatnya ke Thailand kalau udah sukses."


"Hebat banget." Lili bertepuk tangan kecil.


"Bikin iri." Tiba-tiba Theo berkata begitu.


"Bener." Tanpa diduga, Lili justru mendukung perkataan Theo barusan. "Temen gue juga bikin gue iri, Yo. Dia udah bisa terbitin buku. Bukan cuma satu, tapi udah tiga. Salah satunya difilmin dan tau apa yang lebih-lebih mengejutkan lagi?"


"Apa?" tanya Theo, tanpa sadar menjadi penasaran.


"Dia juga jadi pemeran utama dalam film yang diadaptasi dari novelnya itu." Lili menatap Theo dengan sorot penuh arti. Matanya melebar karena semangat berapi-api. "Wah banget nggak sih?"


"W. A. W." Theo pura-pura terjoed semata-mata agar menyenangkan Lili saja.


"Kan." Lili menjentrikkan jarinya serta mengangguk mantap. "Padahal gue sama temen gue itu udah bareng-bareng. Mulai dari suka baca buku, mulai tulis dan kirim ke penerbit. Waktu punya dia lolos, gue nggak. Gue kecewa berat dan gue rasa gue ini mudah iri dan nggak mau liat orang sukses."


Theo menyunggingkan senyuman miring. Menatap Lili dengan sorot tak percaya. "Lo jahat juga ternyata."


"Iya, Yo. Gue sadar itu banget-banget-banget." Lili mengakui dengan ringan hati. "Gue nggak seneng liat orang menang, sementara gue kalah, masih diam di tempat, terbelakang. Gue benci begitu. Gue juga berusaha buat kejar dan berada di tempat yang sama. Tapi rasanya sulit dan panjang banget perjalanan yang harus gue tempuh."


Theo hanya diam mendengarkan. Dia juga merasakan hal yang sama atas perkataan yang Lili suarakan itu.


"Gue pengen banget-banget-banget menyerah," lanjut Lili dengan nada sedih, mulai melemah dan memelan, "tapi itu artinya gue mati. Dan gue nggak mau mati sekarang-sekarang ini."

__ADS_1


Ada jeda sesaat yang terjadi. Lili menunduk dengan semangat yang seperti pupus seraya menggerak-gerakkan sepatunya, Theo menatapnya dengan sendu.


"Gue rasa gue sama lo punya kesamaan."


Perkataan Theo membuat Lili mendongakkan kepalanya. Mata Lili jadi penuh binar. Tertarik karena tak menyangka Theo akan bilang begitu.


"Oh, ya?" tanya Lili ingin memastikan lebih lanjut.


"Gue nggak suka ditinggal." Theo mengangguk dan mengalihkan pandangannya dari Lili ke langit. Melihat burung-burung berterbangan ke atas sana seperti melihat Ten dan Lucas yang mulai pergi ke tujuan mereka masing-masing. "Ten mau kuliah di di Jepang, Lucas udah bener-bener fokus jadi artis. Gue nggak mau diem di tempat juga. Gue juga nggak suka melihat mereka punya jalan sukses, tapi bukan berarti gue mau menghalangi mereka. Justru gue juga mau ikut ngejar. Gue nggak mau terus dapet remedan, gue juga nggak mau menyia-nyiakan waktu. Gue mau jadi sesuatu."


"Lo ...." Lili termenung. Dia senang sekaligus masih terkejut karena Theo mau terbuka lagi padanya, "mau jadi apa?"


"Lo udah tau cita-cita gue." Theo menukas santai.


"Jadi guru?"


"Iya."


"Guru apa?"


"Olahraga."


"Kenapa lo mau jadi guru olahraga?" tanya Lili tanpa bisa mengendalikan rasa penasarannya.


"Karena dari semua nilai ulangan gue, yang selalu menjadi yang terbesar itu olahraga."


"Wah, pasti lo bisa jadi guru olahraga yang hebat." Lili mengacungkan jempol dengan wajah penuh keyakinan.


"Kenapa lo bisa yakin?" tanya Theo heran.


"Gue barusan liat mata lo." Lili tersenyum tipis. Menunjuk mata hitam Theo dengan telunjuknya. "Tekadnya kuat banget. Jangan sampai menyerah, Yo. Lo pasti bisa."


"Thanks." Theo tersenyum puas, seperti seluruh energinya yang telah terkuras oleh hari ini menjadi penuh lagi.


"Semangat, Yo!" seru Lili lagi. Kemudian menghadap ke Theo dengan semangat. "Kita berjuang sama-sama. Gue pikir kalau gue ada temen, gue bisa lebih bersemangat. Tos dulu, dong?"


Theo menggerakkan badannya. Menghadapi Lili yang mengangkat telapak tangannya. Kemudian, Theo turut mengangkat telapak tangannya. Setelah itu, telapak tangan keduanya saling bertepuk dan menciptakan senyum lebar.


Untuk sesaat, waktu terasa dibekukan.


"Lo juga." Tepukan tangan mereka masih berlangsung saat Theo bilang begitu.


"Hm?"


"Gue barusan liat mata lo." Perlahan namun pasti, Theo mulai menggerakkan jari-jarinya untuk menggenggam tangan Lili dan mendekatkan diri pada Lili. Mata mereka saling bertatapan, dalam jarak hanya satu jengkal. "Cantik banget. Jangan sampai lo juga menyerah."


"Eh ... apa?" Lili mengerjapkan matanya. Dengan cepat, melepas tangannya dari genggaman Theo dan mundur dua langkah. "Barusan lo bilang gue cantik?"


"Kenapa? Nggak boleh?" tanya Theo sambil tertawa hambar.


"Bentar, bentar." Lili menatap Theo dengan penuh kecurigaan dan ketakutan. "Jangan bilang lo beneran suka sama gue?"

__ADS_1


__ADS_2