
Beberapa hari kemudian, hari di mana kelas XI akan pergi untuk study tour tiba. Luhan bangun kesiangan waktu mau berangkat. Sebelum benar-benar berangkat, Ily menahan Luhan di ambang pintu. Ibunya itu memberi serentetan pepatah yang masuk ke telinga kanan Luhan dan langsung keluar melalui telinga kirinya.
Luhan ingin langsung pergi saja, namun mana mungkin ia mau menjadi Malin Kundang.
"Hati-hati, ya." Ily akhirnya menyudahi ceramahnya dengan senyuman lembut seraya menepuk-nepuk pundak Luhan.
"Siap, Bu." Luhan hormat seperti anak tentara yang mau pergi ke medan perang berhari-hari di sana.
"Obat maag, obat migrain, obat masuk angin, obat mabuk, obat muntah udah ada, kan?" tanya Ily memastikan lagi. Kalau Luhan menghitung dengan teliti, Ily sudah bertanya hal itu lima belas kali.
Luhan mengangguk yakin. "Udah. Obat-obatan udah lengkap di sini. Ibu tenang aja."
"Kalau sakit langsung bilang ke guru. Jangan disembunyi-sembunyiin, oke?" Ily memberi petuah lagu dengan mata yang tak bisa dihilangkan khawatirnya.
"Iya, Bu."
Ily langsung memeluk Luhan dengan erat. Luhan membalas pelukan ibunya itu dengan senyuman lebar. Pelukan terasa hangat dan nyaman. Luhan bersyukur ia memiliki ibu, apalagi ibu yang seperti Ily. "Aduh, ibu bakal kangen banget sama kamu."
"Tenang, Bu. Luhan bakal balik lagi dalam waktu empat hari tiga malam." Luhan membalas, menenangkan.
"Oke." Ily akhirnya memelas pelukannya dengan Luhan. Kini, benar-benar menatap Luhan dengan rela akan kepergiannya. "Selamat bersenang-senang."
"Sip, Bu." Luhan mengacungkan jempolnya dan berlari menuju mobil yang sudah terdapat Yohan di dalamnya setelah berseru pada Ily. "Luhan berangkat!"
"Hati-hati!" seru Ily dari depan gerbang.
Luhan masuk ke mobil dan memakai sabuk pengamannya. Ketika selesai, ia segera menoleh pada Yohan. "Ayo, Yah. Berangkat. Luhan udah siap."
__ADS_1
"Oke."
Yohan tak bicara banyak saat perjalanan. Luhan juga merasa lega karena dia bisa fokus untuk membalas teman-temannya yang berkata pada Luhan untuk cepat-cepat ke sekolah karena mereka akan segera berangkat.
Yohan juga sepertinya paham bahwa Luhan sudah telat, karenanya dia mengendarai mobil dengan cepat dan tak lama kemudian, mobilnya sampai di depan sekolah Luhan yang sudah ramai dengan orang-orang serta bus-bus.
Luhan membuka sabuk pengamannya dan menatap Yohan. "Luhan pamit, Yah."
"Hati-hati, Nak." Yohan tersenyum tipis.
"Oke, Yah." Luhan mengangguk. "Luhan berangkat."
"Nggak bawa barang-barang aneh, kan?" Pertanyaan Yohan membuat Luhan batal membuka pintu mobil.
Luhan menoleh perlahan pada Yohan dengan wajah kebingungan. "Maksud Ayah?"
Tawa Luhan langsung mengudara, sangat keras sampai air matanya jatuh di ujung matanya. Menurut Luhan, Yohan terlalu konyol saat ini.
"Ya ampun, Ayah pikir aku siapa, sih?" tanya Luhan dengan nada seperti bintang iklan yang ditanya apakah dia ingin jadi duta iklan lain. "Aku Luhan, Yah. Anak laki-laki tersuci dan terpolos, juga terpintar dan terbaik di muka bumi. Ayah jangan khawatir. Oke?"
Yohan mengerjap-ngerjap, sebelum bisa membalas, Luhan sudah membuka pintu mobilnya dan turut.
"Udah, Luhan kayaknya bakal telat! Dadah!" seru Luhan sebelum akhirnya berlari cepat masuk ke dalam sekolahnya, kemudian seperti kilat bergabung dengan barisan kelasnya yang menonjol karena seperti kata Lingga sebelumnya, anak itu membawa bendera khas Lalilule.
Ketika melihat Luhan berlari ke arahnya, Langit langsung menepuk Lingga dan Lethan untuk menatap ke arah yang sama.
"Weh, lama bener lo nyampenya. Barusan beres diabsen, Bro. Mau berangkat seandainya lo telat sepuluh menit lagi." Lingga langsung berkata begitu waktu Luhan sudah benar-benar berada di hadapannya dengan napas sedikit memburu karena berlarian.
__ADS_1
"Biasalah, my parents has so much long talking-talking." Luhan menjawab asal-asalan.
"Sakit telinga gue denger Bahasa Inggris eedanan lo, Han." Lethan meringis keras. Merasa harga dirinya sebagai siswa paling pintar di Bahasa Inggris terinjak-injak karena yang Bahasa Inggrisnya buruk justru adalah temennya sendiri.
"Ya, pokoknya omongan bokap nyokap gue panjangnya ngalahin rel kereta dari Anyer sampai Panarukan. Apalagi nyokap gue. Dah nyampe dah gue di gunung Everest kalau terus dengerin." Luhan menjelaskan kembali dengan kata-kata yang semakin terdengar absurd di telinga teman-temannya.
"Gue mah apa atuh. Abi sama Umi masih bobo, gue diurus sama Teteh aja, ****." Lingga cemberut karena tak sarapan dengan benar di hari yang penting ini karena kedua orang tuanya masih tertidur.
"Nggak apa-apa. Itu mending, Bro. Ada yang ngurusin." Langit menukas cepat dengan nada iri. "Lah gue? Ditemenin di Cimol saja udah bersyukur sampai bersujud ke tanah-tanah."
Langit memang tinggal sendiri. Orang tuanya ada di Bandung. Lagi ngapain? Ya kerja lah, Bos. Kalau mereka nggak kerja, mana bisa Langit sekolah ... sampai ikut study tour juga. Cimol sendiri adalah kucing jalanan yang kemudian diadopsi Langit sebagai temannya di kala sepi. Ya, sebenarnya setiap saat juga sepi, sih
"Cimol belum mati?" tanya Lingga dengan kurang ajarnya. Bukan tanpa alasan dia berkata begitu, Lingga alergi kucing. Jadi, setiap ada kucing, dia bersin-bersin.
"Ya nggak lah! Lo doain kucing gue mati, hah?!" tanya Langit jadi emosi.
"Sewot amat. Kucing doang." Lingga mencibir santai.
"Gue pecahin kamera lo baru tau Rasa, Nyed." Mata Langit yang melotot dengan berapi-api.
"Lo nggak bakal bisa ngedit kalau kamera gue pecah, Chaplin!" seru Lingga tak mau kalah dalam membalas.
"Udah, woi!" Lethan menengahi seperti biasa. "Rebutin apa, sih? Heran gue. Masih pagi. Harusnya hidup udara segar dengan tenang. Kayak gini nih."
"Tariiiiiiik," kata Lethan memberikan arahan. Membuat tanpa sadar, Langit, Lingga dan Luhan mengikuti gerakan tarik napasnya. "Hembuskan. Nah, kan enak kalau begini. Sehat. Tentram. Sepi. Mantul jiwa."
Luhan langsung tersadar sesuatu, membuat tiga orang yang berada di dekatnya menatapnya. "Eh, omong-omong tentang sehat, gue bawa rokok, ****," bisiknya kemudian.
__ADS_1