Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 77


__ADS_3

Berkat lomba fashion show, kepopuleran Lili di sekolah meningkatkan.


IG-nya mendadak banjir followers. Awalnya hanya tiga ratus, jadi melonjak dua kali lipat hingga Lili merasa dirinya sedang mimpi.


Usut punya usut, rupanya foto setiap peserta dipost di IG sekolah dan berkat itu, orang-orang yang tak sempat melihat lomba itu jadi turut mengetahui. Semua peserta bagus, namun yang paling banyak like dan komentarnya adalah postingan kelas Lili.


Ada beberapa komentar yang Lili sempat baca.


Eh, itu kelas berapa?


Heh, itu kan ada keterangannya, dodol. XI IPA 3.


Ceweknya siapa, deh. Kok nggak pernah liat?


Itu, lho. Yang keturunan Korea. Anaknya pendiem sih, nggak ikutan OSIS atau aktif di ekskul. Jadi kurang dikenal orang-orang, padahal pas lomba ini bersinar banget


Gayanya keren, sih. Tatapannya itu lho, nubles langsung ke ati


Cantik, tapi tertutupi sama kaca mata


Tetep aja jadi yang paling wah


Bajunya bagus banget, sih. Kreatif banget.


Terniat memang kelas ini


Punya IG nggak yang ceweknya?


Ada, namanya Lilililili


Lili senang. Dia mendapatkan banyak pujian. Akhirnya, Lili mengetahui dengan jelas bagaimana rasanya terkenal dan dipuji-puji.


Pengumuman lombanya diumumkan minggu depan, saat upacara. Lili sangat tidak sabar karenanya.


Tak melulu orang-orang berkomentar tentangnya. Justru jika dilihat-lihat, banyak sekali pujian yang dilontarkan untuk Theo.


Yang cowok mirip Jack Frost


Ganteng banget ya ampun, kakakkkk

__ADS_1


Iri sama ceweknya


Kak Theoooookuuuuu


Nggak nyangka Theo ikutan, kalau dah semua yang cowok


Muka garangnya kok hilang? Makin jatuh cinta akuuu


Gila sih, tatapannya meluluhkan hati banget


Ini sih blasteran malaikat wajahnya


Nggak ada akhlak ya, sebar-sebar senyum penuh racun cinta


Sumpah, pengen melukkk


Gema beberapa kali menggodanya karena kini jadi viral di sekolah. Mila sendiri sangat heboh karena dia juga kebanjiran followers karena keahlian tangannya dalam menulis wajah. Banyak suka yang didapatkan, namun Theo hanya menampilkan wajah datarnya.


Ya, Theo tak punya IG, jadi dia agak kurang update.


Begitu semuanya tersebar, Ten turut terkejut. Ketika bertemu Theo di kantin, Ten langsung menggodanya.


"Seneng pasti nih, sama si dia," katanya dengan senyum lebar penuh arti.


"Kok bisa lo ikutan yang begituan? Tahun kemarin kan lo ikut futsal lawan kelas gue." Ten berkata heran. "Gue bingung karena kemarin lo nggak ada. Eh, taunya ikutna fashion show, anjuir. Kerasukan setan apa, nih?"


"Bacot, ah."


"Yeee," keluh Ten kecewa. "Jadinya kelas gue menang kan karena nggak ada lo."


Mata Theo membulat. "Kelas gue kalah?"


"Lo nggak tau?"


Theo menggeleng lemah. "Harusnya gue ikutan."


"Tapi karena bareng di dia, lo nolak ikut futsal dan lebih pilih fashion show bareng dia," lanjut Ten dengan nada meledek.


"Sialan," tukas Theo tak suka. "Bukan gitu, bege."

__ADS_1


"Terus apa dong?" tanya Ten dengan wajah penuh ledekan.


"Gue cuma bantuin kelas biar nggak susah." Theo menjawab jujur. "Dari dulu gue nggak ada kontribusi sama sekali. Anak cowok pada ambis pengen futsal, jadi gue mundur aja."


"Karena bareng dia lombanya lebih bikin seneng," balas Ten, tak bosan-bosannya menggoda Theo.


Theo memasukan sedotan bekasnya dengan paksa saat Ten tertawa, berharap mulutnya berhenti mengatakan hal yang tidak.


***


Lili sengaja tak memesan ojek online dari kelasnya. Lili ingin melihat Theo lebih dulu di gerbang. Tepatnya, Lili ingin bertanya sesuatu pada Theo.


Kalau Theo ingin privasi, maka waktu pulang sekolah di mana mayoritas anak-anak sekolah sudah pulang dan membuat sepi tempat adalah waktu yang tepat untuk Lili beraksi.


Theo didapati tengah menunggunya lagi di sisi gerbang. Hati Lili terasa menghangat saat matanya bertatapan dengan Theo.


Lili menghampiri Theo dengan langkah cepat, membuat Theo menatapnya heran dan menunda niatnya untuk langsung meluncur.


Ketika telah berada di dekatnya, Lili tersenyum tipis.


"Masalah antara lo, Sherin sama Dika itu apaan sih?" Lili bertanya langsung pada intinya. Theo tak suka basa-basi dan Lili juga tak sedang ingin bermain-main dengan kata-kata.


Theo menatapnya dingin. "Batre HP lo masih ada kan?"


"Masih," jawab Lili cepat.


Dengan begitu, Theo segera memakai helm-nya. Jelas sekali tak mau menjawab pertanyaan Lili barusan.


"Oke, oke." Lili buru-buru bersuara. Membuat gerakan Theo yang hendak memakai helm terhenti dan jadi menatap Lili dengan lekat. Lili memejamkan matanya sesaat, menyiapkan tekad. "Gue tau harusnya gue nggak nanya. Tapi, kenapa kita nggak terus berteman tanpa peduli pandangan Ayah gue? Lagian Ayah juga nggak tau dan gue merasa sama sekali nggak bahaya waktu di deket lo."


Perkataan Lili seperti angin lalu bagi Theo. Laki-laki itu akhirnya lanjut memakai helm dan hendak menyalakan motornya, saat tangan Lili menahan tangannya.


Lagi-lagi Theo jadi menoleh pada Lili dan menatapnya dengan kening mengerut samar.


"Selama nggak terjadi apa-apa, kenapa harus takut?" tanya Lili tak paham. "Lo nggak ada niatan buat bom juga, kan?"


Sebelum Theo sempat membalasnya, Lili lebih dulu meneruskan perkataannya.


"Gue ... bisa terus jadi tempat buat lo curhat." Lili menatap Theo dengan penuh keyakinan. "Lo tau? Kalau memendam masalah terus-menerus, bisa bikin orang penyakitan. Setidaknya harus disalurkan juga. Entah ke bentuk tulisan atau ke orang. Lo harus punya wadah pelampiasan. Nggak baik menyimpan masalah hanya dalam hati."

__ADS_1


"Nggak ada yang perlu gue kasih tau ke lo." Theo tetap kukuh pada pendiriannya. Dia menolak mentah-mentah usulan Lili. "Jangan pernah ikut campur lagi. Entah itu urusan gue, urusan Ten, urusan Dika atau urusan Sherin. Semuanya nggak akan bikin lo beruntung."


"Kadang gue bingung," kata Lili lelah.


__ADS_2