
"Oke." Langit segera mengangguk, kemudian membenarkan sedikit tatanan rambutnya. "Ekhm ...."
Lethan dan Luhan jadi berhenti bersuara sesaat kemudian. Mereka berdua ikutan fokus memerhatikan Langit sebagaimana yang dilakukan oleh Lingga.
"Gue udah siap-siap nih dari rumah weheheheeh. Udah kayak mau bacain biografi aja gue." Langit menjelaskan dengan sedikit malu-malu. Biasanya dia take video rekaman buat tiktok itu sendirian, jadi nggak malu. Kalau ada teman-temannya, Langit merasa malu. "Jangan ketewa ya lo pada. Soalnya gue bakal nggak bisa serius lagi kalau lo pada udah pada ketawa."
"Oke, sip." Luhan menjawab sekenanya.
"Iya, iya. Buruan lah. Gue nggak sabar nunggu giliran." Lethan mendesak Langit.
Langit menarik napas dalam-dalam.
"Ekhm." Langit berdeham, kemudian tersenyum tipis pada lensa kamera. Langit melambaikan tangannya sesaat. "Halo semua. Gue Langit, sebut saja member pertama dari Lalilule. Gue suka dunia editing. Mau foto, mau video. Di kelas, gue nggak begitu menonjol. Ya, cuma anak biasa-biasa aja. Gue nggak begitu suka musik, tapi gue suka karaoke. Aneh, ya, hiya-hiya gue juga ngerasa gitu. Gue juga suka makan, tapi nggak kuat makan pedes kayak Luhan atau Lethan. Gue lebih suka yang manis-manis, yang gurih-gurih, ya standar-standar aja lah. Meski nggak banyak skill yang gue punya Tapi gue bisa nurunin suara nyamuk. Denger nih, ya."
Baik Luhan, Lingga maupun Lethan, ketiganya menahan tawa mereka kuat-kuat. Mereka sudah berkali-kali mendengar kebiasaan Langit tentang kebolehannya dalam menyuruh suara nyamuk malah malah sama sekali nggak terdengar mirip.
"Ngiung, ngiung, ngiung, ngiung, ngiing, ngiing, ngiing." Langit tertawa bangga steleha memamerkan keahliannya. "Nah, gitu, temen-temen. Maaf ya kalau ujung-ujungnya kedenger kayak suara ambulans rusak. Itu sih kata temen-temen laknat gue. Tapi menurut gue, itu suara nyamuk. Nah, segitu aja dari gue. Bye."
Luhan menahan bibirnya untuk tak terbuka. Lingga segera memasang poker fase. Lethan segera memalingkan wajahnya saat Langit selesai.
"Huufh." Langit akhirnya berbalik dan membuang napas panjang. "Lega banget."
"Bwa ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha!" Tawa Lethan tak bisa ditahan lagi.
"HA HA HA HA HA HA HA HA!" Beda dengan tawa Luhan yang langsung meledak luar biasa keras.
"HA HA HA HA HA HA HA HA HA!" Lingga tertawa paling akhir, namun paling membahana.
Langit menatap ketiga teman luck nutnya dengan wajah tersakiti. Dia hanya bisa pasrah saja.
"Gue nggak nyangka lo pamerin skill dukun lo ha ha ha ha ha ha ha lol anjuir kocak banget!" seru Luhan meledek.
"Bomat lah." Langit mengangkat kedua bahunya dengan tak acuh. Laki-laki segera memakai tasnya. "Gue mau pulang duluan dah. Soalnya kata emak gue bakal ada makan-makan besar soalnya adek gue ultah." Langit tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya dengan gerakan alay khas emak-emak sosialita saat akan berpisah dengan kawanannya. "Dadah para idiot!"
"Sue lo!" Luhan hampir meludahi Langit.
"Besok gue edit, yaw." Langit berkata begitu sebelum akhirnya pergi dari kelas.
"Oke!" seru Lingga menyanggupi.
"Wah, giliran gue nih." Lingga bangkit dari duduknya, menghampiri kameranya yang masih menyala. Dia mengangkat-angkat bahunya, melakukan pemanasan agar tak terlalu canggung dan kaku. "Oke. Gue udah lumayan sering sih coba-coba bikin blog gitu. Jadi nggak terlalu canggung lah. Si Langit, itu anak juga suka main tiktok makanya nggak kaku-kaku amat."
"Gue jadi khawatir sama lo berdua, dah." Lingga berbalik lebih dahulu sebelum memulai rekaman. Dia menatap Luhan dan Lethan dengan khawatir, ya khususnya pada Luhan. "Live di IG juga kagak pernah lo."
Meski banyak pengikut dan pemberani dalam menyapa cewek-cewek dengan kedok modus, Luhan jarang sekali hadir mewarnai layar suatu video.
__ADS_1
"Kenapa nggak langsung aja lo take punya lo?" tanya Lethan tak suka, membela Luhan sekaligus mewakili kata-kata yang hendak Luhann luncurkan. "Nggak usah mikirin kita lah. Udah pro gue. Kalau kalian nggak percaya, gue latihan semaleman."
"Wow. Rajin bet dah." Luhan memuji secara refleks.
"Gue tebak lo sama sekali nggak nyiapin perkenalkan, kan?" tanya Lethan menuduh tanpa berpikir panjang.
Luhan menggerak-gerakkan tangannya dengan wajah santai lantas berdecak meremehkan. "Gampang lah, gue anak OSIS. Udah pengalaman tentang speaking-speaking mau tatap muka atau tatap lauar. Ntar tinggal improve. Santai aja."
Lingga mengangguk-angguk. Jawaban Luhan dan Lethan sedikit membuatnya lega.
"Oke, deh. Gue mulai." Lingga berbalik dan menghadap kameranya lagi. Dia tersenyum lebar dan mengangkat tangannya dengan akrab. "Yo, apa kabar?"
Lingga mulai mendengar suara-suara tawa yang ditahan sedemikian rupa di belakangnya tak lama kemudian, meski begitu Lingga tetap fokus untuk bicara di depan kameranya.
"Kenalin, gue Lingga. Gue adalah member kedua dari Lalilule. Kalau kita berempat dibandingin, gue yang paling muda soalnya gue lahirnya Desember tanggal terakhir. Yang lainnya di atas gue, tapi masih di tahun yang sama. Gue suka videografi. Jadi, kebanyakan dari video-video selanjutnya tentu gue jadi kameraman-nya." Lingga tersenyum tipis. Malu juga kalau sudah berhadapan. Lingga kagum pada Langit yang bisa lancar bicara sebelumnya. "Oke, sip? Cukup nggak? Yo dah lah. Ba bai!"
"Bye-bye, Bro." Ketika selesai dan Lingga berbalik menghadapnya, Lethan langsung mengoreksi. "Bukan ba bai."
"Serah gue dong." Lingga membalas tak mau kalah, malah membalas dengan wajah percaya diri karena dia merasa telah melakukan hal yang benar. "Setiap member tentu harus punya keunikan tersendiri buat bikin penonton tertarik. Sono giliran lo. Jangan bikin gue pusing, ya. Harus satu kali take, maksimal dua."
Luhan yang ditatap sedemikian rupa gaya mampu pasrah saja. "Iye, iye."
"Kalau nggak, terpaksa lo harus out dari membership Lalilule." Lingga menambahkan tanpa tega.
"Nanti jadi Lalile, ya." Luhan sempat-sempatnya membalas dengan bercanda. "Jadi kedengaran kayak lari, Le! Nyuruh lele buat lari, dong. Ha ha ha ha ha ha ha ha ha kocak bener."
"Lo doang yang anggap itu kocak. Artinya lo gila, Man." Langit mencibir pedas.
"Diam!" seru Luhan tak terima, menempatkan jari telunjuknya di atas bibirnya. "Sang Pangeran dari Negeri Bunga akan take. Shuuuuuuut!"
Lingga dan Lethan diam saja saat akhirnya Luhan berbalik dan mulai menghadap pada kamera.
"Halo, semuanya, selamat datang di channel kami. La Li Lu Le. La dan Li selaku rekan saya sudah memperkenalkan dirinya tadi. Maka, kini giliran saya memperkenalkan diri sebagai seseorang yang mewakili suku kata Lu!" seru Luhan dengan lancarnya, membuat Lingga takjub karena Luhan memecah ekspetasinya.
"Nama saya adalah Luhan Kim! Ya, anda tidak salah lihat. Saya ini dari Korea. Jadi, mirip sama idol-idol favorit kalian, kan? Mirip oppa-oppa, kan? Nah, kalau kalian penasaran lebih lanjut tolong subscribe, like dan comment sebanyak-banyaknya. Kalau bisa, bawa teman-teman kalian semuanya buat berlangganan ke channel ini karena ke depannya Lalilule akan sangat-sangat keren!" Luhan tersenyum segaris dan mengakhiri perkenalannya.
Waktu Luhan berbalik menghadap Lingga dan Lethan, kedua temannya itu langsung ....
Prok prok prok!
"Wah, gila sih!" seru Lingga bangga sambil masih bertepuk tangan. "Skill advertising lo bagus banget, Han! Gue takjub banget! Salut, lah!"
"Gila, Han. Belajar dari mana dah lo?" tanya Lethan ikut-ikutan. Dirinya merasa harus tampil lebih-lebih karena semalam dia sudah berlatih.
"Luhan Kim dulu, dong!" sombong Luhan dengan dada membusung penuh percaya diri. "Laki-laki keturunan Korea yang serba bisa! Mue he he he he he he he he he!"
__ADS_1
"Sombong amat." Lethan meledek cepat.
"Maaf sebelumnya gue meremehkan lo." Lingga merasa perlu berkata begitu.
Seringai miring tercipta di wajah Luhan. "Nggak apa-apa lah. Gue anaknya murah hati."
"Hiya-hiya." Lingga mengangguk-angguk kecil. Kemudian menetap Lethan penuh arti. "Giliran lo, Sob. Ayok, udah ini kita cabut."
"Oke." Lethan bangkit dari duduknya dan mulai berjalan mendekati kamera. "Gue mau cepet aja, ya."
"Iya, Bro. Silahkan. Mau lambat juga kita nggak bakal ninggalin kayak seseorang yang bahkan cuma karena mau makan-makan di acara ultah adeknya." Luhan membalas dengan santai
Mendengarnya, Lingga langsung menuding Luhan dengan tatapan julid. "Bilang aja lo mau diundang."
"Lo kalau ngomong, ergh," kesal Luhan dengan gemasnya, membentuk cakaran di tangannya seperti mau mencakar wajah Lingga, "suka bener aja."
"He he he." Lingga langsung tertawa renyah. Wajah juludnya berganti menjadi wajah orang bodoh. "Gue juga ngerasain yang sama soalnya."
"Kalau lo berdua ngomong terus ya kapan gue bisa mulai?" tanya Lethan dongkol sendiri.
Luhan langsung menatap Lethan. "Mulut." Kemudian tangannya bergerak seperti menutup mulutnya dengan resleting. "Locked."
Lethan mengangguk kecil, kemudian membuang napas panjang. "Oke. Huuuuuuuft."
Kemudian, Lethan berbalik menghadap kamera dengan gerakan sedemikian rupa.
Belum apa-apa, tawa Luhan sudah mau nyembur saja melihat Lethan di depannya itu. Ya gimana ya, soalnya Lethan serius banget. Udah kayak mau ijab qobul nikahan aja.
"Hai, guys. Swadikhab? Niaho? Annyeong!" seru Lethan menyapa dengan berbagai gerakan sapaan tangan. "Gue Lethan, member terakhir, tapi bukan yang paling muda. Kalau dilihat-lihat dari bulan lahir, gue keluar dari rahim Ibu itu bulan Januari, otomatis gue jadi paling tua di antara Lalilu."
Lingga dan Luhan kompak menahan tawa, tak percaya bahwa Lethan bawa-bawa umur.
"Tentunya gue yang paling dewasa di sini. Gue selalu jadi penengah, gue paling kalem dan ya bisa dibilang paling waras lah di sini. Gue suka fotografi dan gue pernah menjuarai sebuah kontes di bidang itu. Gue suka warna hitam, jadi hampir semua benda di sekeliling gue warnanya hitam-hitam. Tak terkecuali dengan warna kulit temen-temen gue. He he he. Canda, deng. Kalau kalian penasaran lebih-lebih tentang gue, bisa DM di IG gue setelah lo follow akunnya. Namanya—"
"Nggak bisa promosi secara pribadi gitu, Bro. Maaf-maaf, nih." Lingga langsung angkat suara dan membuat perkataan Lethan terpotong. "Waktu lo perkenalan barusan, akun-akun medsos lo bakal dicantumkan sama Langit nanti waktu diedit."
Lethan menatap Lingga dengan mata membulat. "Lah, terus gue harus take ulang lagi gitu?"
"Nggak bisa. Batre-nya udah mau abis." Lingga membalas cepat. Dengan cepat pula, ia mengambil kameranya dan menatap Lethan dengan polos. "Kita pulang aja."
Kening Lethan mengerut dengan wajah frustasi. "Terus punya gue gimana nasibnya anjuir?"
"Kan ada fitur cut." Lingga menjelaskan agak jengah. "Tinggal di-cut aja bagian akhirnya. Beres. Selesai. The end."
Lethan cemberut. "Teganya kau, Mas."
__ADS_1
***