Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 116


__ADS_3

namun wajahnya masih pucat dan mendeskripsikan seseorang yang masih tak sehat.


Kening Lili mengernyit saat melihat Theo. Ada iri dalam mata Lili saat melihat Theo memakai seragam sekolah. Kentara sekali laki-laki itu baru pulang sekolah.


Ah, Lili kangen sekali sekolah. Dirinya belum pulih sepenuhnya, sepertinya harus melakukan penyembuhan sekitar beberapa minggu lagi.


"Ngapain ke sini, Yo?" tanya Lili penasaran. Dia mengeratkan jaket yang dipakainya dan menyenderkan tubuhnya pada gerbang rumah.


Tujuan Lili keluar adalah mencari udara segar. Dia tak menyangka akan bertemu Theo juga sekarang ini.


"Pengen liat lo."


Lili mendengus kecil. Menatap Theo dengan geli.


"Harusnya gue nggak ada di sini." Theo turut menyandarkan tubuhnya pada gerbang rumah Lili, berdampingan dengan Lili. Dengan begini, jantungnya terasa kembali hidup. "Pasti Ayah lo marah kalau liat gue."


Lili menunduk kecil. Memain-mainkan sepatunya dengan canggung. "Ayah gue lagi kerja. Nggak ada rumah sekarang."


"Baguslah." Theo akhirnya bisa menyunggingkan sebuah senyuman. Tanda kelegaan menyiraminya hatinya. Kemudian, ia menoleh pada Lili yang fokus menatap ke depan. Theo bisa melihat wajah cantik Lili dari samping dan rasanya bahagia sekali. "Lo ngapain keluar? Nggak mungkin kan karena merasakan perasaan gue?"


Lili langsung memukul lengan Theo. Lili mendengus kecil. Tak suka dibercandain dengan cara begitu.


"Aw!" ringing Theo pura-pura. Ia memegang tangannya dengan wajah kesakitan yang dramatis. "Sakit."


"Itu mulut kalau ngomong dikontrol dulu makanya." Lili menukas kesal. Melipat kedua tangannya di depan dada.


"Hehe." Theo mengusap tengkuknya yang tak gatal. Jadi canggung karena dia menyesal telah berkata-kata tanpa berpikir panjang.


"Gue mau cari angin aja. Suntuk di dalem terus." Lili menjawab pertanyaan Theo sebelumnya. Kepalanya mendongak pada langit berawan yang bersih dan indah. "Langit sore suka bagus."

__ADS_1


Theo turut mendongakkan kepalanya. Melihat apa yang Lili lihat. Dan benar kata Lili, langitnya bagus sekali hingga membuat hati Theo terasa lebih sehat. Theo menciptakan sebuah senyuman di wajahnya, senang sekali bisa seperti ini.


Berdiri bersebelahan, melihat apa-apa yang indah, hanya berdua, tanpa kata, bersama dia yang dia cinta. Bagi Theo, detik ini adalah detik paling bahagia dalam hidupnya.


Ini cukup.


"Selain ngeliat gue, pasti lo ada sesuatu lo ke sini." Lili bersuara saat beberapa saat telah berlalu dengan keheningan.


"Gue mau ceritain sesuatu." Theo berdeham kecil. Langsung menyampaikan inti dari kedatangannya waktu ini. "Cerita terakhir gue buat novel lo."


"Lo pernah bilang begitu waktu yang lalu," balas Lili agak tak suka. Dia menoleh dan menatap Theo dengan kening berkerut dalam. Theo juga balas menatapnya, namun wajahnya tak berubah, tetap datar meski ada sebuah senyum di sana. "Tapi sekarang ada cerita terakhir lagi?"


"Ini yang paling terakhir." Theo mengangguk sungguh-sungguh. Menatap Lili lurus-lurus. "Cerita yang lo kepoin banget sejak dulu, tapi gue nggak mau ceritain karena cerita itu belum punya ending dan nggak begitu berpengaruh sama hidup gue."


Wajah Lili masih sama. Tak tampak begitu tertarik seperti dulu.


Ya, jelas, begitu. Mana bisa Lili kembalikan semangat sementara baru-baru ini ia telah mengubur mimpinya untuk menjadi penulis?


"Sekarang cerita itu udah punya ending, Li." Theo kembali berkata. Meyakinkan dan mencoba untuk meningkatkan ketertarikan Lili. Bahkan matanya berbinar-binar saat bersuara. "Yang berpengaruh juga di kehidupan gue. Jadi, masukkin ya ke novel lo."


Melihat semangat Theo yang jarang kelihatan membuat Lili tak tega untuk menolak. Semudah itu.


Jelas bukan, menulis itu jantung Lili. Sebenarnya masih sulit untuk Lili melepasnya. Namun, dia mencoba untuk melupakannya. Lili akan bangkit dan memilih jalan baru.


"Yaudah, cerita tentang apa emangnya?" tanya Lili akhirnya. "Gue dengerin. Nanti dipertimbangkan untuk dimasukkan ke novel."


"Tapi nggak di sini." Theo langsung menukas. "Lo mau ikut gue ke suatu tempat nggak?"


Wajah Lili agak terperangah. Agak takut dan trauma. Namun mencoba untuk terlihat biasa saja. "Ke mana?"

__ADS_1


"Ada pokoknya." Theo menatap Lili dengan penuh keyakinan. "Lo jangan khawatir. Kita nggak bakal naik motor lagi. Kita jalan. Lumayan jauh tapi."


"Yaudah deh, ayo." Lili mengangguk kecil. "Gue butuh udara segar buat merefresh otak juga."


"Oke." Theo turut mengangguk. Kemudian memimpin jalan menuju suatu tempat yang telah ia rencanakan sebelumnya. "Ayo."


Mereka melangkah bersampingan melewati trotoar.


Theo tak pernah menyangka jika berjalan berdua bersama orang yang dia cinta tanpa berkata-kata akan sedamai ini rasanya. Jika bisa, Theo ingin begini selamanya.


Mungkin hanya mimpi pun tak apa.


"Masih jauh, Yo?" tanya Lili ketika setidaknya mereka sudah berjalan lima menit lamanya.


"Bentar lagi, kok."


Lili hanya mengangguk. Kemudian perjalanan keduanya diisi oleh keheningan. Kendaraan-kendaraan yang lalu lalang, pohon-pohon jalanan, beberapa pejalan kaki mereka lewati. Udara sore yang tak dingin dan tak panas menjadi faktor yang membuat nyaman.


"Oh, ya." Lili akhirnya bersuara. Memecah kediaman keduanya. Membuat Theo menoleh dengan segera. "Di sekolah tadi belajar apa aja?"


Theo meringis pelan. Tersenyum tak enak. "Sejujurnya gue juga nggak begitu perhatiin."


"Kok bisa?" Kening Lili mengerut samar. "Bukannya lo udah berubah jadi rajin?"


Ya, gimana lagi? Gue nggak bisa konsentrasi ke yang lain karena gue sibuk mikirin lo. Batin Theo.


"Berubah nggak semudah itu, Li." Theo tertawa kecil. Merasa dirinya ini bodoh sekali dan sok pintar. "Konsisten juga nggak gampang kedengarannya."


Namun, Lili justru mengangguk-angguk. Tak mencela Theo sama sekali. "Ah, gue ngerti."

__ADS_1


Theo tersenyum karenanya. Mereka berjalan beberapa langkah lagi sampai akhirnya Theo berkata, "Bentar lagi nyampe. Ayo."


__ADS_2