
"Anak didik bapak bikin masalah lagi, ya?" Pak Amar bertanya ketika Theo sedang menambah catatan kenakalan salah satu anak yang berada di kelas di mana Theo yang menjadi wali kelasnya.
Anak itu hari ini memecahkan kaca jendela karena bertengkar dengan temannya. Theo sudah pusing sendiri dengan kelakukannya, tetapi ia harus terima karena bagaimanapun ini tugasnya sebagai wali kelas yang baik dan dapat bertanggungjawab.
Ditanya seperti itu oleh seseorang yang memiliki status sebagai wali kelas dari kelas unggulan yang pernah dengan bibit emas membuat harga diri Theo sedikit tersentil. Pak Amar jarang sekali menulis catatan pada kolom kenakalan anak asuhannya.
Theo tersenyum sangsi. "Iya, nih, Pak. Kayak udah hobi aja anak didik saya bikin masalah."
"Masalah apa sekarang yang dibikin sama anak didik bapak?"
"Kaca jendela kelas kan pecah tadi siang." Theo membalas agak malas. "Anaknya berantem karena nggak dikasih pinjem buku paket yang jumlahnya terbatas sama anak yang lebih pintar."
"Jaman sekarang anak-anak pake okol ya," balas Pak Amar seraya mengepalkan tangannya, menunjukkan pada yang dimaksud okol olehnya adalah kepalan tangan. "Nggak pake akal. Miris saya."
"Namanya juga masih muda, Pak." Theo membalas, membela anak didiknya meski sudah berbuat salah. "Bapak juga waktu masih muda pasti pernah lah berantem tonjok-tonjokkan sedikit."
Dibalik kaca mata bulatnya, mata Pak Amar melotot. "Mana ada waktu saya buat berantem? Saya sibuk siapin buat Olimpiade waktu masih SMA. Di perpus terus."
"Oh." Theo tertawa sopan seraya menutup lembaran perkejaannya dan mulai bangkit setelah mengambil jaket dan tas gendongnya.
Melihat itu, Pak Amar menaikkan alis. Karena meja mereka sebelahan, Pak Amar merasa dekat dengan Theo karena mereka juga tak beda jauh jenjang usianya. Pak Amar hanya tiga tahun lebih tua dari Theo. "Mau pulang, Yo?"
"Iya, Pak." Theo tersenyum lebih lebar, kemudian mengangguk kecil. "Mari."
"Saya masih harus bikin soal buat siswa olimpiade, nih. Duluan saja, Yo."
"Oke, Pak." Theo mengangguk lagi. "Kalau begitu, saya pamit."
Theo tak menunggu lagi tanggapan dari Pak Amar. Laki-laki berumur dua puluh tujuh tahun itu berbalik dan segera berjalan untuk keluar dari ruang guru yang sudah sepi sejak dua jam berlalu setelah bel pulang sekolah berdenting.
Pekan O2SN mulai menunjukkan dirinya, Theo disibukkan dengan persiapannya. Oleh karena itu, baru-baru ini Theo terpana dengan langit sore yang senantiasa menyambutnya selepas ia keluar dari ruangan.
Langit yang menjadi jingga karena sorot sang surya dengan beberapa awan serta burung-burung yang terbang dengan rukun selalu menjadi penyembuh bagi Theo di harinya yang melelahkan dan seolah tak mau pisah dengan masalah.
Kian hari berlalu sebagai guru olahraga di sekolah yang pernah Theo singgahi dulu kian menunjukkan balasannya. Theo bertemu guru-guru dulu yang mengajarnya yang kini sudah pensiun dan ia merasakan bagaimana rasanya menjadi guru.
Dulu Theo sering membuat masalah, kini dia juga dipertemukan dengan anak-anak yang hobi bikin masalah. Setiap hari ada saja yang harus Theo tambahkan pada catatan kenakalan anak-anak.
Entah itu perusakan fasilitas sekolah seperti yang terjadi hari ini, kekerasan, pembully-an, pencurian sampai masalah sepele seperti mengotori mobil guru yang tidak disukai.
Namun, berkat itu, Theo menjadi seseorang dengan mental kuat. Ia tak mudah menangis dan menyerah jika dihadapkan pada suatu masalah, bahkan masalah seberat apapun. Theo sudah sering berhadapan dengan masalah. Mungkin, sekarang dia sudah menjadi teman dekat masalah.
Ya, masalah sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Theo.
"Theo!"
Langkah Theo terhenti saat ia mendengar namanya tiba-tiba dipanggil. Suara itu. Suara itu sangat Theo kenali. Bahkan sangat Theo rindukan.
Jika sekarang Theo sedang berilusi, maka Theo tak mau menoleh atau memalingkan wajahnya hanya untuk mencari keberadaan seseorang yang bahkan sangat mustahil untuk dapat berada di sini. Theo menunduk, kemudian tertawa hambar.
__ADS_1
Sudah lama sekali Theo tak melihatnya. Jelas sekali ia rindu sampai mendengar suaranya hari ini.
Wajar untuknya berilusi.
Theo berdecak, kemudian membuka kunci mobilnya untuk setelahnya membuka pintu mobilnya. Theo sudah pasti akan masuk ke mobilnya saat sebuah tangan menahan tangannya. Terasa dingin, tetapi juga terasa hangat. Terasa tidak nyata, tetapi juga terasa amat nyata.
Mata saat Theo menatap wajah pemilik tangan polos itu, air mata Theo tak terbendung lagi.
"Kok dipanggil nggak balas-balas?" Lili bertanya dengan kecewa. "Padahal udah dari lama aku tungguin kamu keluar."
Theo tertawa. Kemudian menutup kembali pintu mobilnya. Baiklah, mari kita sedikit berilusi. Theo merasa kehadiran Lili ini mimpi, tetapi secara bersamaan, Lili yang berdiri di depannya kini dengan balutan manis—kaos putih polos dan rok tutu berwarna hijau pastel—seperti anak remaja yang tengah menunggu pacarnya.
Theo tersenyum miris.
Indahnya halu.
"Hai," sapa Theo kaku seraya mengangkat satu tangannya.
Kemudian, dia mengulurkannya tangannya, dengan sengaja menjawil pipi Lili. Untuk memastikannya sungguhan atau tidak.
Mata Theo melotot saat dia merasakan sensasi seperti pipinya itu sungguhan. Tak berhenti di sana, Theo menggunakan kedua tangannya untuk memainkan kedua pipi Lili. Ditepuk-tepuk, digoyang-goyang, dipencet-pencet seolah pipi Lili itu sebuah adonan donat.
Ketika memutuskan untuk mendiamkan Theo dan menganggap Theo begini karena rindu, Lili diam saja. Namun, karena Theo semakin menjadi-jadi, bahkan sampai memutar-mutar bahu Lili seperti dokter yang mengecek pasiennya ada luka atau tidak, Lili tak tahan dan akhirnya menepis yang Theo dan mundur satu langkah dengan wajah tak suka.
"Ngapain, sih?"
Plak! Theo menampar pipinya sendiri. "Aw!" ringisnya seperti orang bodoh.
Lili menatapnya dengan kebingungan yang sama seperti sebelumnya. "Kamu kenapa, Theo?"
Lagi-lagi Theo terkejut karena Lili lagi-lagi bersuara. "Jadi, semua ini bukan mimpi?"
"Bukan." Lili menjawab gemas. "Ini seriusan aku."
Theo speechless.
Dengan malu-malu, Lili mengangkat kedua tangannya. Awalnya Theo tak paham, tetapi saat Lili menggerak-gerakan kesepuluh jarinya yang polos, senyuman lebar tidak bisa ditahan untuk berkembang di wajah Theo yang telah matang usianya.
Senang, haru dan tak percaya bercampur di wajahnya yang tampan. Hal itu tak ayal membuat Lili turut tersenyum lebar. Ikut senang. Ikut bahagia.
"Semoga ini bukan mimpi." Theo menggeleng-gelengkan kepalanya dengan penuh tekad dan dengan semangat membawa tubuh Lili ke dalam sebuah dekapan erat.
Lili terkejut untuk beberapa saat, tetapi selanjutnya ia membalas pelukan Theo dengan penuh rasa.
Selama bertahun-tahun, setelah tanpa Theo ketahui, Lili kabur dari acara pernikahannya yang akan dilaksanakan esok hari. Lili merasa ada yang ganjal di hatinya. Karena itu, dia memutuskan untuk pergi dan merenungkan segalanya untuk beberapa lama.
Ayah dan Ibunya jelas sangat kecewa pada Lili, amat marah dan tidak habis pikir dengan keputusan yang Lili ambil pada usia dewasanya. Lili sedikit kasar waktu menjelaskan bahwa ini hidup miliknya dan Ayah serta Ibunya tidak perlu pusing-pusing untuk mengatur lagi karena Lili sudah merasa sangat cukup diatur-atur waktu dia remaja.
Saat dewasa kini, Lili ingin benar-benar lepas dan menjalani kehidupannya sesuai dengan yang ia inginkan.
__ADS_1
Hingga akhirnya kini, ia dipertemukan kembali dengan seseorang yang telah berpisah lama dengannya. Dengan seseorang yang telah Lili rindukan sejak mereka berpisah di masa SMA.
Lili agak gugup sebenarnya, saat menunggu Theo dan apakah jari-jari tangan laki-laki itu masih polos atau justru ada sesuatu yang menghiasinya. Namun, saat melihat jari-jari tangan kekar Theo masih sama seperti dulu—polos dan indah—Lili tak bisa menahan senyuman leganya.
"Kamu benar-benar nyata, Li" bisik Theo dengan senangnya. Laki-laki itu menghirup dengan penuh rasa lekuk leher Lili sambil memejamkan matanya.
Lili hanya tersenyum. Dia bisa menebak bagaimana lebarnya senyum Theo sekarang. Pelukan ini terasa nyaman dan Lili terima jika mereka seperti ini sampai fajar datang.
Tahu-tahu, Theo mengangkat tubuh Lili dan membawanya untuk berputar-putar dengan bahagia. Lili agak terkejut lagi, namun setelahnya dia turut tertawa senang.
"Ini benar-benar ...." Theo tak bisa berkata-kata lagi setelah mereka berhadapan seperti awal tadi. Napas Theo sedikit terengah-engah. "Kamu kapan ke sini?"
"Jam lima kayaknya."
Theo tertawa kecil. "Ngapain ke sini?"
Lili melihat ke atas, tampak seperti tengah berpikir. "Aku denger di sekolah ini ada guru olahraga yang ganteng. Aku penasaran ... apa dia temenku, atau bukan. Aku ngecek aja. Eh, ternyata betulan kamu, Theo."
"Terus?" Theo benar-benar tak bisa menghilangkan senyuman bahagia kini.
"Can I sing for you?" Lili balas bertanya.
"Nyanyi apa?"
"A, B, C, D, E, F, G ...." Lili mulai menyanyikan abjad dalam bahasa Inggris.
Entah kebetulan atau takdir, hari ini Theo baru saja mendengar salah satu anak didiknya yang bernyanyi seperti Lili untuk modus ke anak yang disukainya. Maka tanpa tanggung-tanggung, Theo tersenyum penuh percaya diri dan ikut bernyanyi bersama Lili.
"H, I love you," nyanyi Theo mengikuti Lili. Lili melotot terkejut, tetapi kemudian keduanya melanjutkan, "Will you marry me?"
**TAMAT HORE YEYEYE LALALA
Finally, kisah Lili dan Theo sudah mencapai akhir yang bahagia
Tapi, apakah selanjutnya mereka juga bahagia? Nggak ada yang tau
Intinya, terimakasih karena kalian telah membaca WABBL sampai detik ini, sampai akhir ini
Cerita ini dibuat untuk hiburan saja, tidak untuk menjelek-jelekkan satu pihak atau menyugesti anda-anda semua untuk melakukan sebuah tindakan tak baik
Jika ada waktu, tempat, nama atau kejadian serupa, itu pasti murni kebetulan karena cerita ini bukan berdasarkan kisah nyata. Ini murni karangan saya semata.
Oke, sekian.
Ketemu lagi di The Last Story of Dari Korea; Luhan si FuckBoy**.
See you soon.
__ADS_1