
Waktu Disa masuk ke kelasnya dan duduk di bangkunya, teman-temannya langsung mengerubunginya. Apalagi saat Disa membuka ponselnya dan berkirim pesan dengan Luhan.
Teman-temannya itu tampak sangat tertarik padanya. Disa mengerutkan keningnya saat teman-temannya menjadi seperti ini.
"Woah, jago bener udah dapat gandengan padahal baru masuk, Sa!"
"Kak Luhan, lagi! Dari masuk ke sini, aku juga udah demen-demen gimana gitu!"
"Gila, seneng banget deh! Akhirnya punya temen yang dideketin sama cowok ganteng!"
Disa hanya bisa tersenyum dengan pipi yang tersipu. Dirinya sendiri juga tak tahu kenapa dirinya ini bisa jatuh cinta secepat ini pada Luhan. Dan dia tak paham mengapa Luhan juga bisa tertarik begini padanya.
Ya ... masalah hati, siapa yang tahu? Ya, kan? Semuanya tempe.
Hahahahaha.
***
Bahu Luhan langsung ditahan oleh seseorang saat Luhan mau keluar kelas setelah bel pulang sekolah berbunyi. Yang menahan bahunya dengan keras ini siapa lagi kalau bukan Sari, sang Ketua Kelas tersadis yang pernah Luhan temui?
"Woi, mau ke mana?" tanya Sari dengan nada tajam.
Dengan menahan kesal dan akhirnya menutup wajah kesalnya itu dengan senyum lebar yang amat dipaksakan, Luhan berlatih menatap Sari dengan pura-pura lembut dan ramah.
"Ke KUA, Beb." Luhan membalas dengan santai, tak terpengaruh dengan tatapan tajam Sari yang sepertinya bisa mengoyak tubuh Luhan menaksir dua. Lebih tepatnya, Luhan sudah kebal berhadapan dengan Sari." Mau ikut? Kebetulan gue belum ada gandengan, nih."
Sari langsung mencubit lengan Luhan dengan rahangnya mengeras emosi.
"AW!" seru Luhan kesakitan.
"Piket dulu! Jangan beraninya buat kabur, ya!" seru Sari memperingati. Tanpa membiarkan Luhan membalas atau kabur lagi, Sari memberi Luhan sebuah sapu. Kemudian, perempuan itu berbalik untuk menyapu bagian belakang karena hari ini dia juga piket.
Dengan wajah datar yang tampak menyedihkan karena kepasrahan, Luhan memegang sapu dari Sari.
Langit, Lingga dan Lethan yang tidak kebagian piket hari ini jelas langsung menyeringai lebar dengan wajah puas meledek.
"Ya ha ha ha ha ha ha ha ha ha, kasian bener lo." Lingga jelas menjadi yang pertama dalam perkara mengejek dan mengatai Luhan. Lingga menepuk ke il bahu Luhan dengan cara yang membyKuhan emosi jiwa yang membara. "Kita duluan ya. Semangat."
Luhan menahan emosi jiwa yang membaranya dengan mengepakkan tangannya kuat-kuat.
"Bha bhai!" Giliran Langit yang mencolek dagu Luhan dengan jahilnya.
Luhan masih menahan diri. Dia memejamkan matanya dan membuang napas secara perlahan-lahan.
"Dadah sayangku, semangat piketnya, jangan kabur, ya. Aku sayang kamu, mwah!" pamit Lethan menjadi yang terakhir dan membuat Luhan meledak.
"Najong!" Luhan terpaksa melampiaskan amarahnya pada sapu di tangannya dengan menggenggam sapu itu dengan erat seraya membayangkan bahwa batang sapu yang sedang dia genggam erat-erat ini adalah leher milik Langit si mulut pedas dan terkutuk, Lingga si mimin akun lambe dan Lethan si diam-diam menghanyutkan. "Mati lo, *nama binatang berkaki empat*!!!!!!"
Ketika Luhan sedang asyiknya melakukan ritual melampiaskan emosinya, Sari yang sedang menyapu dan kini sudah membawa banyak debu serta sampah dari bagian belakang kelas sampai di depan, melihat Luhan dengan mata tajam yang heran.
"Lo lagi ngapain?" tanya Sari. "Gue kasih lo sapu buat lo gunain alat itu buat lo nyapu. Apa itu kurang jelas buat lo?"
Luhan mendesah putus asa. Ogah banget dia piket hari ini, dia dan Disa sudah berjanji tentang sesuatu yang sangat-sangat penting. Matanya jadi memelas.
"Sari manisku, aku izin tidak piket dulu ya hari ini soalnya ada meeting penting," pinta Luhan dengan sangat-sangat.
__ADS_1
"Nggak ada!" seru Sari tegas, tak mau dibantah. "Gue udah lunak sama lo selama ini. Gue nggak bisa lebih lunak lagi. Piket atau gue aduin ke Pak Dani."
"Cepu banget sih, jadi gemes," kesal Luhan, namun dengan senyum manis yang jelas-jelas dipaksakan."Pengen nyatet."
"Nih, lo pel lantainya aja, soalnya udah kepalang gue sapu semuanya. Lo harus p sampai bersih." Saru mendekat dan menatap Luhan lurus-lurus dengan mata tajamnya. "Oke?"
Luhan meneguk ludahnya dengan susah payah. Kadang, Luhan merasa Sari lebih-lebih menyeramkan dari boneka Annabelle. "O-oke, Nyai."
***
"Maaf ya aku agak telat. Harus piket dulu tadi." Luhan segera meminta maaf saat dia sudah melihat Disa berdiri di sebelah motornya sambil memainkan ponsel.
Ketika mendengar suara Luhan, Disa langsung mendongak dan tersenyum lebar. Wajahnya berubah cerah dan membuat Luhan merasa seperti sedang berhadapan dengan anak kecil yang baru berusia lima tahun.
Aduh, lucunya.
Bukannya marah seperti perempuan kebanyakan kalau disuruh menunggu, Disa justru tersenyum dan merasa bangga pada Luhan.
"Wah, rajin banget." Disa menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya satu salah lain dengan wajah gembira. "Aku aja jarang piket. Jadi malu sebagai perempuan yang harusnya punya tangan yang lebih rajin."
Luhan tertawa terhibur. Ingin sekali dai mencubit pipi tembam Disa lagi, namun dia menahannya karena tangannya kotor bekas air keruh pel-an. Luhan lupa cuci tangan karena dia ingin cepat-cepat bertemu Disa.
"Ya nggak apa-apa buat merasa malu. Kan orang-orang berkembang sesuai case-nya, sesuai waktunya, perlahan-lahan tapi pasti," kata Luhan lembut.
"Bijak juga ya Kakak." Disa memuji lagi.
Luhan memejamkan matanya dan membungkuk sedikit, khas orang Korea saat akan mengucapkan terimakasih. "Makasih atau pujiannya."
Disa tertawa renyah saay, sebelum akhirnya turut membungkuk kecil seperti Luhan. "Iya, sama-sama."
"Oke." Luhan menahan senyumnya. Dia menatap Disa dengan penuh kebahagiaan."So, shall we go?"
***
Seperti yang dibilang Luhan kemarin tentang kesediaannya bertemu Ayah Disa, hari ini Luhan benar-benar akan melakukannya.
Membayangkan akan masuk ke rumah yang lebih-lebih mewah dan besar dari rumahnya saja sudah membuat Luhan gugup luar biasa, apalagi membayangkan bahwa dirinya akan bertemu seseorang yang bisa saja menjadi calon mertua kelak.
Agak kejauhan memang, tetapi Luhan tidak mau menyembunyikan apa yang tengah dipikirkannya sekarang.
Karena gugupnya, Luhan sampai lupa secara bernapas dengan baik dan tak menyadari bahwa Disa sudah turun dari motornya dan menyimpan helm yang sebelumnya dia pakai di tempat biasa Luhan menaruhnya.
"Siap ya, Kak?" tanya Disa kemudian, benar-benar membuat Luhan kaget dan tersentak. Kedua bahunya yang mengangkat refleks saat terkejut membuat Disa mengerutkan keningnya. "Kakak kenapa?"
Luhan meringis. Setelah membuang napas dan menariknya kembali dengan wajah tegas, Luhan menatap Disa seraya menyentuh dadanya yang berdebar kencang. "Nggak tau kenapa, aku agak gugup, nih."
"Tenang aja, Kak." Disa menyentuh tangan Luhan dan menepuk-nepuk pelan dengan senyum lembut tercipta di wajahnya yang manis. Mata hitam bulatnya menyorot meyakinkan Luhan. "Aku akan ada di sebelah Kakak. Aku akan duduk di sebelah Kakak nantinya. Menemani Kakak."
Luhan akhirnya bisa tersenyum lega. Ia mengangguk-angguk, menyakinkan diri sendiri bahwa dia bisa. "Iya."
Ketika akhirnya Luhan masuk melewati gerbang rumah Disa, melewati jalan setapak yang indah dengan halaman hijau yang asri, serta pepohonan dan kolam ikan kecil di satu titik, Luhan tak bisa mengatakan apa-apa lagi selain berdecak kagum dalam hati.
Luhan sudah pernah melihat rumah dari banyak teman-temannya, tetapi rumah Disa jelas yang paling bagus.
Sampai akhirnya Luhan masuk ke dalam rumahnya, dikejutkan dengan interior bak istana dengan dekorasi luar biasa mewah serta estetik, kemudian duduk di sofa yang selembut sutra, Luhan baru bisa bernapas normal karena Disa menyentuh punggung tangannya yang kini menjadi terasa dingin.
__ADS_1
Luhan memang segugup itu.
"Aku panggil Ayah dulu, ya." Disa mengatakannya dengan suara pelan. Namun tegas. Disa begitu karena tak mau terdengar terlalu memaksa Luhan, tetapi tak mau membuat Luhan terlalu mengulur-ulur waktu lagi.
"Oke." Luhan menekankan bibirnya dalam satu garis lurus. Dia bernapas secara cepat menggunakan hidupnya, kemudian bernapas normal setelah membuka bibirnya yang sebelumnya saling menekan. "Huft ...."
Setelah melihat Luhan seperti itu, Disa bangkit berdiri. Memanggil ayahnya yang biasa ada di kamarnya. Luhan menunggu dengan was-was. Berkali-kali, dia membuang napas keras-keras supaya gugupnya hilang.
Ketika akhirnya gugupnya itu perlahan mulai hilang, gugup Luhan kembali menyerang seperti di saat awal ketika melihat penampakan ayah Disa.
Seraut wajah tegas, brewok dan rambut cepak dengan sepasang mata tajam menjadi kombinasi sempurna membentuk pribadi yang tegas dan kejam. Ayah Disa pasti mantan TNI atau pekerjaan sejenisnya karena badannya tegap dan tak tampak dapat dikalahkan dengan mudah.
Ketika Ayah Disa duduk di depannya saja sudah membuat napas Luhan tertahan di tenggorokan. Matanya tak bisa menatap langsung pada sepasang mata milik Ayah Disa. Luhan menunduk dengan gaya sok cool.
'Buset, buset, buset.' Luhan memejamkan matanya sambil merutuk dan berdoa dalam hati. 'Selamatkan hamba, selamatkan hamba, selamatkan hamba. Amin.'
"Oh, jadi kamu yang suka sama anak saya." Suara berat Ayah Dara langsung terdengar. Efeknya bagaikan sebuah guntur super kencang di sore hari yang tenang.
Luhan menelan ludahnya dengan kasar, kemudian mengangguk kecil. "Iya, Om."
"Coba berdiri." Ayah Disa langsung menyuruh.
Kening mengerut samar. "Eh?"
"Berdiri aja, Kak." Disa langsung berkata, memberi Luhan arahan.
Luhan akhirnya tak kebingungan lagi. Laki-laki kemudian berdiri. Ayah Disa turut berdiri dan melangkah mendekati Luhan. Luhan yang biasanya paling tinggi di antara orang-orang, kini hanya sebahu Ayah Disa, dirinya merasa sangat kecil.
Luhan sudah mengira-ngira apa yang akan terjadi padanya di detik selanjutnya, tetapi dia tak pernah mengira bahwa Ayah Disa akan menendang kakinya dengan keras
"AW!" Luhan tak bisa menahan teriakan kesakitannya. Secara refleks, ia menjauh sambil mengangkat kakinya yang sakit itu.
"Ayah!" Disa langsung menghampiri Luhan dan membantunya untuk duduk saat Luhan sibuk meringis, menikmati rasa sakit yang menjalar di kakinya. "Ayah, kenapa begini?!"
"Sssttt. Disa diam dulu, ya." Ayah Disa berkata dengan lembut. Wajahnya yang tegas itu tampak tak merasa bersalah saat Luhan tatap lurus-lurus dengan tatapan minta tuntutan.
"Ssshhhh, sakit." Luhan terus meringis untuk melampiaskan apa yang dirasakan kakinya kini. Meski takut, Luhan masih menatap Ayah Disa dengan wajah tak terima. "Om kenapa tendang kaki saya?"
"Untuk mengecek apakah kamu kokoh apa tidak." Ayah Disa menjelaskan dengan kata-kata tajam dan nada menusuk. "Kalau menyukai putri saya, seseorang itu harus kokoh dan kuat. Tidak lemah seperti kamu."
Luhan terheran-heran. "Eh, Om?"
"Ayah," rengek Disa. Padahal Luhan hanya ingin bertemu dengan ayahnya sebagai teman, bukan sesuatu yang lain hingga ayahnya itu harus bersikap keras seperti ini. Bila harus diperjelas, Ayahnya bertindak sangat keras pada Luhan.
Namun, Ayah Disa tak mengindahkan tatapan memelas Disa.
"Sekarang kamu pulang aja." Ayah Disa berkata tegas pada Luhan. "Saya nggak setuju Disa disandingkan dengan laki-laki lemah nggak tau malu kalau kamu."
'Et dah, dikira gue mau ajak Disa nikah apa?' Luhan bertanya dalam hati dengan tak percaya. Masih kaget sebenarnya, kok ada gitu orang tua seperti ini. Memang ... sebuah kehormatan untuk mengenal Dia dan mengalami hal baru ini. Pikir Luhan. 'Kan cuma baru suka. Udah segini parahnya. Gimana kalau berkelanjutan.'
Tanpa mendebat lagi, Luhan berbalik pergi untuk pulang dengan langkah terseok-seok karena kakinya masih berdenyut-denyut sakit. Meninggalkan Disa yang matanya mulai berkaca-kaca.
Disa menatap Ayahnya dengan mata terluka. Dengan air mata menetes untuk pertama kalinya, membasahi pipi putih tembamnya.
Sebab Disa merasa buruk karena dia telah membuat seseorang terluka. Ah, bukan hanya seseorang, tapi seseorang yang menyukainya untuk pertama kali bagi Disa.
__ADS_1
Disa menatap marah pada Ayahnya. Kemudian berlalu pergi dalam langkah cepat untuk pergi ke kamarnya. Menangis hebat di atas telat tidurnya, dengan wajah tenggelam dalam bantai yang tak lama kemudian menjadi basah karena air mata derasnya.
***