Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 10


__ADS_3

"YO, ILY! WHAT'S UP?"


Suara sapaan nyaring dari Elvan langsung terdengar sewaktu Ily baru saja menutup matanya dengan kepala yang dijatuhkan pada tangan yang dilipat. Ily hendak tidur untuk merilekskan suasana hatinya yang baru saja hancur berantakan.


"Lah, kok tidur, sih?" Elvan langsung bertanya setelah Ily mendengar laki-laki itu duduk di kursi depan mejanya.


"Udahlah jangan diganggu, Van, kasian," tahan Eza pengertian. Sebenarnya, ia paham bagaimana Ily jika tidurnya diganggu dan takut karenanya. Ditambah lagi dengan kata-kata perempuan kemarin tentang pernyataan untuk musuhan dengannya, membuat Eza benar-benar menjaga jarak.


Ily selalu judes sejak keluar dari Ricis dan menjawab pertanyaan serta candaannya dengan kata-kata pedas yang tak santai. Eza jadi trauma.


"Bentar, kayaknya dia nggak tidur, liat kakinya gerak," timpal Elvan masih bersikeras untuk bicara dengan Ily. "Padahal baru sepuluh menit yang lalu kayaknya gue telpon dia. Masa udah ngorok lagi?"


"Pulang sekolah juga bisa, kan, bayarnya," balas Eza ketakutan sambil hendak melangkah pergi.


"ILY, WOI!"


Langkah Eza langsung terhenti dan menatap Elvan dengan horor ketika laki-laki edan itu justru berteriak tepat di telinga Ily hingga membuat sepupu perempuannya itu bangun dengan wajah mirip singa lapar.


"APASIH ELVAN *******?!"


Mata Elvan sama terbelalaknya dengan Eza. Terkejut sangat dengan teriakan luar biasa keras dan kasar itu. Ily tak seperti Ily saja, perempuan lemah lembut yang lucu.


"Kok ngegas sih, mbaknya, kaget abang," kata Elvan tanpa dosa. Segera menyodorkan uang untuk membayar utangnya karena pulsa. "Ini gue mau lunasi utang."


Ily menatap Elvan tajam, kesal dan marah. "Ganggu aja lo." Kemudian tangannya mengambil uang dari Elvan dan memasukkannya dalam kantong seragamnya. "Yaudah sana balik lagi. Gue mau tidur."

__ADS_1


"Pulang sekolah kita bioskop, ya," ajak Elvan dengan senyuman lebar.


Eza kembali mendekat karena merasa Ily sudah kembali jinak dan tak akan mengamuk seandainya ada kesempatan. Lagipula, Ily merupakan pribadi yang terlalu malu untuk bersikap bar-bar terhadap dirinya dan Elvan seperti saat di rumah.


"Nggak," tolak Ily cepat.


"Eits, tunggu dulu." Elvan menahan kepala Ily saat perempuan itu hendak menidurkan kepalanya di lipatan tangan seperti sebelumnya. Ily dibuat marah lagi.


"Apa sih?" tanyanya tak sabar. Alisnya menukik tajam dan membuat Eza mulai bersiaga.


"Kenapa nggak mau? Biasanya lo paling semangat," heran Elvan, kemudian menoleh pada Eza, menyiratkan untuk memintanya ikut bicara membujuk Ily agar mau.


"Iya, Ly. Ini kan film kesukaan lo. Yang thriller-thriller gitu. Ayo, Ly, semua akomodasi ditanggung Elvan, kok," kata Eza menyuarakan pendapatnya asal-asalan.


Dengan berat hati, Elvan mengangguk. Meski dengan menggigit bibirnya tak rela, Elvan menatap Ily serius dan tulus. "Gue yang bayarin, Ly. Ayo!"


Ily menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. "Gue nggak bisa."


"Kenapa, Ly?" tanya Elvan frustasi juga akhirnya. Bahkan sampai mengambil tangan Ily dan memohon-mohon dengan tangan itu. "Ayo, Ly. Kita refreshing dikit."


"Gue nggak minat," balas Ily tegas. Melepas tangannya dari genggaman Elvan dengan kasar. "Atau jangan hari ini. Gue lagi banyak pikiran."


Elvan dan Eza saling berpandangan. Kemudian tertawa bersamaan seolah itu ditangkap sedemikian rupa.


"Pikiran apa, Ly?" tanya Elvan dengan tawa khasnya yang menyebalkan. "Lo mana ada pikiran. Temen aja nggak ada, apalagi musuh. Apalagi..."

__ADS_1


"...pacar!" sambung Eza dramatis. Tawanya yang menyebalkan itu kembali terdengar setelah terakhir kali Ily mendengarnya kemarin di Ricis. "Mikirin apa sih, Ly?"


"Gue kan lagi musuhan sama lo." Ily mendelik pada Eza, kemudian beralih cepat menatap Elvan. "Udahlah, gue lagi nggak minat hari ini apalagi ada si Eza."


Elvan berganti pandang untuk menatap Eza. "Lo gimana ceritanya bisa musuhan sih sama Ily, hah?"


"Ya, gitu deh," balas Eza sambil cengengesan. "Si Ily aja baperan."


Ily mendengus geli. Ia berdecak kesal, kemudian bangkit dari duduknya sambil membawa tas. Tanpa menjelaskan apa-apa lagi, ia melangkah cepat keluar kelas setelah berkata singkat, "jangan ikutin gue."


Dengan nada tegas dan penuh ancaman yang membuat Elvan juga Eza diam di tempatnya, menuruti perkataannya.


"Ada yang aneh sama Ily," kata Elvan sambil mengusap-usap dagunya seperti seorang detektif sedang menganalisis TKP.


"Gue juga ngerasa gitu," timpal Eza sama dengan apa uang Elvan rasakan.


"Gimana nih?" Elvan menoleh pada Eza dengan wajah bingung.


Eza tersenyum penuh arti. "Mau pake cara jitu kayak biasanya?"


Elvan langsung berdiri dengan wajah penuh tekad. "Gas!"


"Asyiappp!"


***

__ADS_1


**maaf telat hehe:3


kalian mau tau nggak visual Yohan, Ily, Eza, Elvan dan Raihan waktu aku bayangin nulis? tapi semuanya itu wajah orang-orang asia**


__ADS_2