Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 35


__ADS_3

Elvan diberitahukan untuk datang jam 8 atau dirinya akan push-up sepuluh kali tiap kali di telat satu menit. Elvan benar-benar takut, karenanya dia datang satu jam lebih awal untuk menghindari hal-hal buruk.


Perkataan Bang Jefri memang tak bisa dianggap remeh. Tepat pukul delapan pagi, Bang Jefri sudah datang dan menatap Elvan yang sudah siap-siap sebelum dirinya.


Senyuman miring Bang Jefri tercipta. "Awal yang bagus."


Elvan tertawa kecil dengan canggung. "Takut, bang."


"Jangan jadikan takut sebagai alasan untuk menjadi kuat," balas Bang Jefri dengan tegasnya. "Itu hanya akan bertahan sementara dan pastinya akan lebur perlahan-lahan."


Elvan mengangguk, mulai mengumpulkan keberanian untuk mengubah mindset. "Oke, bang."


"Sekarang keluar. Kita latihan silat."


"Silat?" Elvan bertanya bingung.


"Iya, silat. Tau nggak?" Bang Jefri balik bertanya dengan nada yang sarkastik. 


"Ya, tau dong, bang!" seru Elvan cepat. "Itu bela diri dari SD sampai SMA juga ada. Cuman, yah, gue nggak ada keterampilan gede di bidang itu. Cuma tau tebas, tendang, tangkis dan tangkap."


"Itu cuma gerakan dasarnya," tukas Bang Jefri remeh. "Sekarang gue bakal ajarin tentang gerakan menantang yang ampuh dan legendaris."


"Legendaris?"


"Dari bapak gue."


Elvan membulatkan mulutnya dengan wajah paham. "Oh, gitu."


Sejurus kemudian, mereka berdua latihan silat. Pada saat pertama-tama, Bang Jefri hanya mencontoh posisi badan yang bagus untuk kuda-kuda, cara memukul dengan jitu, menendang telak dan terakhir mengajarkan gerakan legendaris dari ayahnya.


Rupanya, Elvan tak begitu buta sial persilatan. Meski kurang cekatan dan mudah dikelabui, Elvan berhasil bertahan dua jam sparing dengan Bang Jefri hingga membuat tubuh Elvan kehilangan staminanya hampir seluruhnya.


Gerakan legendaris yang dimaksud Bang Jefri adalah menyergapnya bahu, kemudian menekannya kuat-kuat. Hal itu otomatis membuat Elvan langsung meringis dan perlahan kakinya luruh ke tanah gersang.


"AAAAA! BANG, SAKIT, AAA!"


Bang Jefri tak mendengarkan. Bahkan terus menambah tekanan pada baju Elvan seiring berjalannya waktu.


"Bang....." Elvan kini sudah amat lemah, tak kuasa bahkan hanya untuk berteriak kesakitan. Bahunya perih, berat dan sakit. Seperti ada satu ton besi yang memukulnya sekaligus, kemudian terus berada di sana tanpa kepastian kapan akan pergi. "Ba.... B... a... n.... ..g."


Ketika dirasa Elvan akan menutup matanya secara total, Bang Jefri melepaskan tangannya dari bahu Elvan. Tubuh Elvan terasa ringan seketika, terasa damai dan bahagia. Meski bekas tekanan itu menciptakan sakit yang luar biasa, setidaknya Elvan bisa tersenyum lega karena sudah dapat memastikan rasa sakit itu akan berangsur pergi.


Meski butuh banyak waktu, sakitnya pasti akan pulih kembali.


"Itu jurus andalannya," kata Bang Jefri kemudian, saat Elvan terbarunya kelelahan. "Kalau lo ketemu orang dengan badan gede dan nggak ada kemungkinan buat lo menang, lo bisa pake jurus legendaris itu. Asal tangan lo kuat dan tenaga lo besar, lo pasti menang."


Elvan tersenyum susah-susah. "Ke-keren, Bang. Sakitnya sampai ke ginjal."


Bang Jefri tertawa, kemudian ikut duduk di samping Elvan untuk menatap langit yang mulai sangat cerah, matahari mulai berada tepat di atasnya dan mengirim terik panas yang menyengat. Mata Bang Jefri mengernyit karenanya.


"Latihan lo selesai. Besok siap untuk bertugas."


"Wuanjir, buset, kok cepet banget, Bang?" Elvan bertanya dengan keterkejutan yang nyata di wajahnya.

__ADS_1


"Mau setiap hari gue gituin bahu lo?"


"Ya, nggak, dong!"


"Dan gue juga nggak punya waktu buat itu."


"Lah, jadi gimana, dong?"


"Ya, nggak gimana-gimana," balas Bang Jefri dingin. "Sebagai laki-laki, udah kodratnya punya nyali sekuat baja. Mau lo tempur satu menit yang akan datang, lo harus sedia. Dunia ini nggak butuh cowok yang pengecut dan penakut."


Elvan terdiam seribu bahasa.


"Lo takut?" tanya Bang Jefri tiba-tiba, suaranya berubah lebih lembut dan bersahabat. Tidak seperti saat-saat latihan sebelumnya, di mana Bang Jefri sangat dingin dan tegas.


Garis wajahnya berubah lembut, tak lagi datar dan kejam. Perubahan ini membuat Elvan merasa lebih damai, merasa memiliki teman yang mungkin akan menemaninya menjalani hidup, atau setidaknya memberinya petuah untuk hidupnya yang telah terasa hancur.


"Takut, Bang," jawab Elvan tanpa malu-malu. "Takut banget, malah."


Kening Bang Jefri mengerut dalam, menatap Elvan dengan tatapan tanya. Wajah Elvan yang selalu terlihat lembut dan bersahabat itu jelas membuat siapapun yang melihatnya akan mengira hidup Elvan itu bahagia-bahagia saja, bahkan diisi oleh keonaran yang membuat orang-orang gila.


Mereka tak mungkin berpikir kalau hidup Elvan sangat sulit hingga harus berurusan dengan preman seperti dirinya. Elvan mungkin sedih, namun wajahnya tak menyuarakan rasa itu.


"Terus kenapa lo ada di sini?"


"Gue memilih untuk menghadapi rasa takut ini, Bang. Gue nggak mau menyerah dan akhirnya menyesal tanpa bisa berbuat apa-apa."


Bang Jefri tertawa kecil. Sesuatu yang tak Elvan duga akan keluar dari mulut Bang Jefri yang tak pernah terlihat tersenyum, atau bahkan tak bisa tersenyum. "Persis kayak bocah sok kuat yang percaya diri."


"Gue nggak sok kuat, Bang."


"Terserah."


"Oke, gue sok kuat. Gue berusaha buat terlihat baik-baik saja, padahal ini hati rasanya udah kacau banget. Gue pernah berpikir buat keluar tengah malem dan berdiri di jalan buat ketabrak kendaraan supaya gue nggak perlu lagi liat dunia ini."


Bang Jefri melayangkan suatu tatapan yang tak bisa Elvan artikan maksudnya. "Terus?"


"Gue keinget ibu, gue keinginan Ily, gue keinget Eza, gue keinget mereka yang mungkin masih peduli ke gue. Gue memutuskan buat berjuang dan nggak membuat mereka menyesal karena udah peduli."


"Ge-er banget lo merasa dipedulikan."


Elvan tersenyum tipis. "Gue juga nggak tau kenapa bisa dipedulikan sebesar itu."


"Heleh." Bang Jefri menolak untuk percaya. Biasa jadi Elvan saat ini sedang bermulut besar hanya untuk menyenangkan hatinya sendiri.


"Bilang aja iri, Bang."


"Najis."


"Idih, sok jual mahal gitu."


"Terserah."


Elvan tertawa singkat. Kini mulai merasa lebih santai dan nyaman berinteraksi dengan Bang Jefri daripada kemarin. "Gue udah melakukan uji coba buat menguji seberapa pedulinya temen-temen gue, Bang. Bahkan kepada ibu sendiri, gue melakukan uji coba yang sama."

__ADS_1


"Ayah lo?"


Elvan terdiam seketika. Hal ini membuat Bang Jefri yakin bahwa akar masalah Elvan kini berada pada seseorang yang terlibat dalam proses kehadiran Elvan.


"Gue nggak tau apakah bisa maafkan ayah gue, Bang." Elvan tersenyum pahit, setelah mengumpulkan keberanian untuk bercerita lagi pada Bang Jefri. "Dia selingkuh setelah dipecat dari manajer sebuah pabrik sepatu yang pemiliknya orang Korea. Pulang-pulang dia marah-marah ke ibu, bahkan mukul ke ibu. Suatu hari, gue udah nggak tahan dan adu bacot campur aduk jotos sama ayah. Sampai akhirnya ayah dan ibu putusin buat cerai. Gue sedih, Bang. Gue mencoba untuk berdamai sama semuanya. Tapi... tapi nggak bisa."


Bang Jefri mendengarkan dengan seksama.


Bang Jefri mulai menaruh ketertarikan terhadap Elvan yang semangatnya begitu membara. Jika banyak sekali aktifitas yang lebih baik yang bisa dilakukan oleh remaja sesehat dan sebugar juga semuda Elvan, mengapa anak laki-laki itu menempuh jalan ini? Bang Jefri perihatin karenanya.


Semuanya disebabkan oleh keadaan yang tak bisa dirubah.


Dia tak ingin ada penerusnya di masa depan. Yang harus menjadi anak nakal hanya untuk meraup sesuap nasi. Ketika dirinya telah merasa tercukupi kebutuhannya, Bang Jefri tak bisa lepas begitu saja karena sudah terlanjur merasa berhutang jasa yang tak pernah bisa dibayar sampai kapanpun olehnya pada ayah Juna.


Sekarang, Elvan hadir. Sebagai bukti bahwa kehidupan yang dialaminya akan terus dialaminya oleh orang-orang di generasi berikutnya. Hingga takdir pahit ini akan selalu ada tanpa akhir.


"Berhari-hari kemarin gue mencoba buat cari siapa yang patut di salahkan. Waktu ayah sama ibu cerai, gue tinggal sama ibu. Tapi, kita pindah dari rumah sebelumnya karena tiba-tiba udah dijual sama ayah yang sekarang hilang entah kemana. Ibu gue akhirnya menyerah cari ayah hanya untuk berdebat atau memperburuk masalah. Ibu gue maafkan ayah, kemudian membuka lembaran baru di sini, di rumah ibunya sendiri, kakek nenek gue." Elvan meneguk ludahnya kasar. "Ibu gue kerjanya nggak pasti. Kadang jadi guru les privat, kadang jadi tukang nyuci, kadang jualan di warteg, pokoknya sulit buat cari kerja karena usianya sekarang udah kepala empat dan nggak ada pengalaman kerja banyak buat jadi pekerja tetap. Gue merasa tak berguna, sampai akhirnya gue ketemu Juna."


Bang Jefri mengangguk-angguk.


"Kata Juna, ayahnya kenal pemilik pabrik sepatu yang orang Korea itu."


"Terus hubungannya sama lo apa?"


"Gue udah memutuskan. Kalau ayah gue nggak di PHK tiba-tiba, pasti semua ini nggak akan terjadi. Gue akan cari pemilik pabrik itu dan tanya kenapa dia PHK ayah gue." Elvan menjawab jelas. "Dan pastinya, sulit buat ketemu dia karena gue cuma rakyat jelata. Berkat Juna, gue setidaknya bisa ketemu ayahnya dan minta buat punya kesempatan bicara sama pemilik pabrik sepatu Korea itu."


"Kim Yongjun?" tanya Bang Jefri memastikan.


"Oh, Bang Jefri kenal?"


"Pernah, satu kali ketemu."


"Woah. Bagus, nih. Gue jadi nggak sabar buat itu."


Bang Jefri mendengus. Ingin mengatakan sesuatu, namun rasanya tak pantas untuk didengar Elvan sekarang. Hingga akhirnya ia hanya berkata begini. "Daripada itu, mending lo fokus buat misi besok."


"Oh, iya, misinya apa?"


Melihat binar mata semangat Elvan membuat Bang Jefri merasa sedih karena sebenarnya, masa depan Elvan tak akan secemerlang yang lainnya yang hidup normal. Sama seperti Bang Jefri sendiri.


"Lo udah bilang ibu lo kalau lo akan hidup seperti ini?"


"Hidup seperti apa yang Bang Jefri maksud? Gue hanya akan membasmi orang-orang jahat, kan?"


"Ck."


"Kata Juna, gue cuma perlu bisa berantem aja."


Bang Jefri tertawa meremehkan. "Nggak cuma berantem, seharusnya."


"Lah, terus apa dong?"


"Lo harus siap untuk hidup seperti binatang."

__ADS_1


***


__ADS_2