Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 59


__ADS_3

Lucas masuk ke dalam rumahnya dengan langkah lesu. Rumah besarnya biasanya tak terdapat seorang pun di dalamnya, namun keberadaan Ibunya saat ini membuat langkah Lucas berhenti, tubuhnya membeku.


"Udah pulang, Cas?" Ibu bertanya lembut, namun sama sekali tak terdengar menyenangkan di telinga Lucas.


Lucas yakin ada yang salah hari ini.


Namun, Lucas buru-buru menguasai diri dan melangkah mendekati Ibu dengan senyum lebar. "Ibu kenapa ada di sini? Bukannya ada rapat buat majalah Lucas bulan depan?"


"Kamu kayaknya nggak seneng Ibu ada di sini," balas Ibu sarkas.


"Eh, bukan begitu, Bu," balas Lucas jadi serba salah. Dia mengusap tengkuknya yang tak gatal. "Lucas cuma heran aja. Nggak biasanya Ibu di sini sore-sore."


Ibu membuang napas panjangnya, terdengar mendebarkan untuk Lucas. Kemudian Ibu menatap Lucas lurus-lurus. "Kamu pake seratus juta buat apa?"


Lucas merapatkan mulutnya kuat-kuat.


"Lucas, jawab."


Lucas menatap Ibu takut-takut. "Kalau Lucas jawab, Ibu jangan marah."


"Ya, tergantung." Ibu membalas tak santai. "Kalau kamu pake uang itu buat keburukan, jelas Ibu bakal marah. Tapi, kalau kamu pake itu buat kebaikan, kemungkinan besar Ibu nggak akan marah."


"Lucas nggak yakin ini berhubungan dengan sesuatu yang baik."


"Jadi, uangnya kamu pake buat apa?"


Lucas menarik napas berat. "Lucas pake buat selesaikan masalah temen Lucas yang sebenarnya terjadi karena Lucas juga."


Ibu membulatkan matanya dengan sempurna.


"Bentar dulu, Bu," tahan Lucas, ketika Ibu sudah siap menyemburkan ribuan kata-kata dengan nada tinggi. "Lucas jelasin dikit dulu. Lucas bakal janji untuk turutin semua keinginan Ibu abis ini, temen Lucas juga bakal bantu sedikit-sedikit buat ganti rugi."


Alis Ibu terangkat sebelah. "Yakin temen kamu bisa ganti rugi?"


"Paling nggak setengahnya, atau sepertiganya," balas Lucas tak yakin. "Tapi dia anak artis, ibu kenal Luna? Selain itu, ayahnya juga anggota DPR RI, Bu. Lucas yakin--"


"Ibu nggak pernah mau terima janji kosong," tukas Ibu cepat. "Kalau dia biarin kamu tanggung sendirian tanpa minta maaf juga ke Ibu, Ibu yakin ayah ibunya juga nggak bener, nggak bisa dipercaya."


Wajah Lucas berubah marah. "Ibu nggak perlu bilang begitu tentang temen Lucas."


"Temen?" Ibu tertawa hambar. "Mereka bukan temen. Kamu nggak pernah bisa punya temen. Daripada temen, mereka lebih tepat disebut orang yang manfaatin uang kamu, Lucas."


"Mereka beda."


"Kamu pasti tau nanti," jelas Ibu yakin. "Yah, gimanapun, Ibu udah buat keputusan buat kamu."


Mata Lucas membulat, khawatir. "Keputusan apa? Jangan bilang Ibu bakal lapor polisi?"


Ibu tersenyum manis. "Awalnya iya, tapi nggak ada gunanya mengurusi kutu-kutu itu. Lebih baik kamu menjauhinya dari sekarang."


"Apa?"


"Mulai besok, kamu nggak perlu sekolah lagi." Ibu menukas serius, menatap Lucas lekat-lekat, tak mau dibantah. "Kamu fokus saja di dunia entertainment."


***


Theo memang masih lebih-lebih dingin dari biasanya, namun dia tak melarang Lili untuk pulang bersamanya dengan motornya. Namun, Theo bilang ini kali terakhir mereka bersama. Lili jelas tak terima.

__ADS_1


Langit mendung saat motor mulai melaju dan udara mulai dingin. Lili tak yakin sebentar lagi tak akan hujan. Perjalanan mereka bahkan belum setengahnya.


"Theo," tegur Lili. Lili ingin memberi tahu bahwa dia merasakan titik air membasahi punggung tangannya. "Yo."


Theo bahkan tak berbalik, justru mempercepat laju motornya dan bersamaan dengan itu, hujan deras tiba-tiba turun. Lili memejamkan matanya, refleks memegang erat baju seragam Theo.


Meski begitu, Theo rupanya tak nekat menerobos hujan. Ketika menemukan sebuah pelataran depan rumah kosong yang bisa dipakai untuk berteduh, Theo menghentikan motornya di sana. Lili segera turun dari motor Theo dan berlindung di tempat yang lebih aman dari jatuhan air.


Theo menstandarkan motornya lebih dulu sebelum akhirnya turut berdiri satu meter dari Lili. Menunggu hujan lebih reda dalam diam.


Lili berdeham, tak suka dengan kediaman Theo. "Yo."


Theo berlagak tak mendengar, dia justru memainkan ponselnya. Entah senang apa.


"Theo." Lili berdecak, lagi-lagi diabaikan. "Yo, gue nggak suka kacang."


Theo akhirnya menoleh padanya. Sebuah senyum tercipta di wajahnya, namun bukan jenis senyum yang membuat Lili senang. Senyuman itu miring dan penuh ejekan.


"Emang gue peduli?"


"Lo tau nggak sih artinya kacang?" tanya Lili dengan senyum geli. "Bukan kacang asli, tapi itu mewakili kata 'diabaikan'. Dikacangin, dianggurin, sama aja artinya dengan diabaikan."


Theo mengerjap, kemudian memalingkan wajahnya sendiri karena malu. Dia kira barusan Lili curhat acak. Bodoh, Theo.


Lili tertawa. "Kelihatannya lo nggak ngerti arti kacang sebelumnya sampai gue kasih kejelasan barusan."


Theo fokus lagi pada ponselnya.


"Yo, kalau lo ada masalah, lebih baik kasih tau aja ke gue." Lili berkata serius. "Udah terlanjur lo kasih tau hampir semuanya ke gue, kenapa nggak tanggung-tanggung aja kasih tau segala-galanya?"


"Gue udah kasih tau semuanya ke lo."


Hanya angin dingin yang menyambut perkataan Lili.


Tarikan napas berat yang Lili lakukan menjadi satu-satunya suara selain rintik hujan yang terdengar. "Gue harus gimana buat bikin lo cerita, Yo? Gue butuh lo, gue benar-benar mau bikin cerita lo sebuah buku yang bisa dikenang dan dibaca orang banyak. Bukannya lo bakal ikut seneng kalau itu kejadian?"


Merasa Theo tak akan menjawabnya dalam waktu dekat, Lili memilih untuk melanjutkan. "Ini cita-cita gue, Yo. Lo tau itu. Dari dulu, gue pengen banget membuat sebuah buku. Alasan kenapa gue butuh lo buat riset gue adalah karena awalnya gue mau buktiin bahwa cerita Bad Boy itu bukan seperti yang ada di Wetfed kebanyakan. Gue mau buktiin semua itu salah dengan bener-bener riset seseorang yang dicurigai sebagai Bad Boy."


Theo termangu karena dia baru tahu tentang itu. Ada marah, kecewa dan sedih yang dia pendam dalam dadanya. Meski dikeluarkan pun Theo rasa itu tak ada gunanya, sebentar lagi dia dan Lili harus benar-benar tak berhubungan lagi.


"Awalnya gitu, Yo," tegas Lili sekali lagi. Dia menoleh pada Theo yang menyibukkan diri dengan ponselnya. Entah pura-pura atau tidak. "Tapi sekarang nggak. Gue tau lo bukan Bad Boy, lo cuma anak baik yang berubah karena lingkungan keluarga lo. Gue tau lo sedih dan butuh seseorang buat cerita."


Penilaian Lili sebenernya tepat sekali menggambarkan apa yang Theo rasakan.


Apa Theo jujur saja?


"Gue ada buat itu, Yo," lanjut Lili tulus.


Theo menggerak-gerakkan kepalanya, menatapnya dengan tatapan lurus-lurus. Sesaat, dia tenggelam dalam mata hangat Lili.


"Kamu bahaya."


"Bagaimanapun, jauhi anak saya setelah urusannya selesai."


Mengingat kata-kata itu, wajah Theo langsung berubah. Menunjukkan ketidaksetujuannya pada perkataan Lili.


"Gue nggak ada urusan lagi sama lo setelah hari ini selesai." Theo menunjuk Lili penuh peringatan. "Jangan pernah ganggu gue lagi."

__ADS_1


"Kenapa, sih?" tanya Lili muak.


Theo menatapnya tak mengerti.


"Apa susahnya buat cerita? Apa susahnya buat berbagi kisah? Apa susahnya, Yo?" Lili bertanya frustasi.


"Nggak ada cerita lagi yang perlu gue kasih tau ke lo," Balas Theo sama frustasinya. "Apa yang diharapkan dari seseorang yang nggak punya cita-cita, nggak ada yang suka, nggak ada orang yang sayang dan dibenci orang tua sendiri?"


Lili terdiam lama. Dia terguncang atas kata-kata putus asa yang disuarakan Theo. Apa hidup Theo sesusah itu?


"Lo masih ada Titi, Yo," balas Lili pelan.


"Sekarang dia jadi kelemahan gue." Theo memberitahu tanpa diminta. Tanpa sadar, dia telah bercerita. "Ayah gue ancam keselamatan Titi kalau gue nggak turutin apa yang dia mau."


"Turutin keinginan orang tua itu bisa membuahkan sebuah pahala, lho," balas Lili positif. "Apa susahnya?"


"Bagus kalau gue sesuai keinginannya," tukas Theo dingin. "Kalau nggak ...." Theo berbalik dan menyingkap baju seragam yang menutupi kulit punggungnya. Ketika tersibak, kulit punggung penuh guratan merah yang mengerikan terlihat.


Lili membulatkan matanya seraya menutup mulutnya yang terbuka refleks. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. "Theo ...."


Theo berdeham kecil, kembali menutup punggungnya dan berbalik lagi. Dia menghadap Lili dengan pandangan lurus. "Paham sekarang?"


"Gue nggak paham kenapa ...."


"Ini hidup gue, ini takdir gue," jelas Theo cepat. "Kehidupan gue beda jauh sama lo. Lebih baik jangan ikut campur lagi atau nasib baik lo bakal berubah."


"Yo," kata Lili seraya menggeleng pelan. Wajahnya memerah, menahan tangis. "Gue nggak mau biarin lo sendirian, Yo."


Theo mendengus kecil, meremehkan pada mental Lili yang selemah itu. "Lo nggak usah sok peduli."


"Ish, gue peduli beneran, Yo." Lili menggerak-gerakkan kakinya dengan gemas. "Gue mau jadi temen lo, gue mau banget jadi temen curhat lo. Lo boleh curhat kapan aja, di mana aja ke gue. Ya, oke?"


Kenapa di saat Theo harus benar-benar menjauhinya, Lili bersikeras mendekatinya?


"Jangan bercanda."


"Gue serius, Yo."


"Hidup ini bukan main-main, Li," balas Theo tegas. "Kalau lo salah langkah, lo bisa mati."


Lili terdiam lama. "Kok ... bawa-bawa mati, sih? Serem banget omongan lo."


"Lihat? Lo main-main dengan kata-kata gue."


"Ha? Ah, oke-oke, maaf, maaf." Lili salah tingkah. "Maaf, Yo, gue keceplosan, aduh. Maaf, maaf."


Dengusan Theo menjadi balasannya.


"Kalau ada apa-apa, cerita ke gue, ya." Lili menepuk pundak Theo dengan akrabnya. Lili tersenyum lebar dan membuat matanya menyipit di balik kacamata bulatnya. "Bro Theodoric."


Theo menatap Lili dengan geli.


"Why, Bro?" tanya Lili heran.


"Lo nggak waras."


***

__ADS_1


hi, bro ;)


__ADS_2