
"Halo?"
"Hng ... halo?"
"Ini Ibu Lili, kan?"
Sore menjelang malam ketika Ily sedang membersihkan buah-buahan, tahu-tahu Laura menelponnya. Dengan kening mengernyit bingung, Ily menerima telepon itu.
"Iya, Ibunya Theo. Kenapa?"
"Gini, Bu. Coba Ibu tarik napas dulu." Laura memberi jeda di sela suaranya yang lebih lemah dari biasanya. Terdengar hampa dan sedih.
Ily tiba-tiba ingat bahwa Lili belum pulang.
Namun, Ily berusaha untuk terus berpikir positif. Mungkin Lili sedang belajar tambahan atau ada kerja kelompok.
"Rileks ya, Bu. Saya mau ngasih kabar tentang sesuatu." Laura melanjutkan.
"Eh, kenapa ya, Bu? Saya jadi deg-degan gini." Lili berusaha tertawa.
"Lili ada di rumah sakit, Bu." Laura tak main-main dengan perkataannya. Kata-kata itu menusuk hati Ily dengan telak.
Pandangan Ily mendadak kosong dan jiwanya seperti ditarik paksa sekaligus.
"Saya kirim alamatnya sekarang."
__ADS_1
Ponsel yang dipegang Ily langsung luruh ke bawah karena tangannya tiba-tiba terasa lemas. Bukan, seluruhnya tubuhnya lemas. Tubuh Ily selanjutnya luruh. Bersimpuh lemah.
Kemudian menangis sejadinya.
***
"Syukurlah, kamu udah bangun, Theo."
Laura tersenyum saat Theo mengerjapkan matanya setelah satu hari tak sadar. Sungguh menyakitkan melihat anaknya sekali lagi terbaring di salah satu bangsal rumah sakit.
"Lili ... Lili di mana, Bu?" Theo tersadar bahwa terakhir kali sebelum kegelapan merenggut kesadarannya ... dia melihat tubuh Lili yang mungkin saja terjatuh berguling ke tangga (jalan masuk sebuah taman bermain anak-anak) dan tak sadarkan diri.
Mereka kecelakaan waktu Theo mau mengajak Lili ke sebuah tempat.
"Lili masih ada di kamarnya. Di sebelah kamu. Belum sadar."
"Tenang, Theo." Laura menahan tubuh Theo dengan lembut. Menatapnya khawatir. "Jangan bergerak-gerak dulu. Tangan sama kaki kamu ada yang patah. Bersabarlah, nak."
Air mata Theo menetes tanoa bisa dicegah. "Lili ... Lili baik-baik aja kan, Bu?"
Laura tak mampu menjawabnya.
"Bu ...," lirih Theo tak berdaya.
"Mending kamu istirahat dulu, Theo. Udah malam." Laura mengalihkan pandangannya seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh Theo. Laura tersenyum lembut. "Mimpi indah."
__ADS_1
"Aku rasa aku nggak akan bisa mimpi indah kalau aku belum tau gimana keadaan Lili sekarang."
"Kamu yakin mau tau?" tanya Laura frustasi.
"Jangan bilang ... jangan bilang Lili ... udah nyusul Bang Leo, Bu." Theo berkata tak lama frustasi. Wajahnya sudah penuh air mata. Dadanya sakit."Theo mohon ...."
"Lili belum membuka matanya, Theo." Laura menukas cepat. "Tapi Ibu yakin dia baik-baik saja. Kamu tenang aja. Sekarang tidur. Biar cepat sembuh ...."
"Gimana bisa, Bu?" tanya Theo penuh putus asa. "Gimana bisa aku tidur dengan tenang sementara orang yang aku cintai belum pasti akan turut membuka matanya?"
***
**hai hai hai, semuanya
apa kabar?
baik-baik aja, kan? gimana puasanya bagi yang menjalankan? lancarkan?
semoga kalian tetap sehat di tengah pandemi ini ... Jangan pernah malas untuk mencuci tangan kalian apalagi kalau mau menyentuh wajah
semakin hari, jumlah orang yang terjangkit virus ini semakin banyak
aku harap kalian tidak termasuk salah satu yang terjangkit virus tersebut, ya
stay healthy
__ADS_1
oke, oke?
jadi, aku mau umumkan kalau bulan Juni depan, aku bakal lanjutin Dari Korea musim 4, tebak deh siapa pemeran utamanya 💥😏😏**