Dari Korea

Dari Korea
21


__ADS_3

Ily heran kursi Yohan masih saja kosong meski bel masuk telah berbunyi tiga puluh menit yang lalu dan kini Bu Ami telah masuk untuk memulai tes. Yohan tidak diajak Elvan seperti kemarin. Jadi, ke mana dia?


Kemarin Ily sudah bertanya pada Elvan, barang kali laki-laki itu menyeret Yohan, namun jawabannya tak sesuai yang Ily duga. Elvan tak bertemu lagi dengan Yohan sejak terakhir kali cowok itu mengajak Yohan untuk bicara sebelum masuk sekolah.


Ily berdecak. Mengapa dia jadi memikirkan Yohan seperti ini?


"Baiklah, anak-anak, kita langsung saja. Siapa yang sudah siap?"


Ily langsung mengacungkan tangannya dengan percaya diri. Dia sudah besar, tak ada waktu lagi untuk berpikir panjang saat dirinya telah berlatih habis-habisan. Ily tak mau ada penyesalan.


Bu Ami melihatnya, kemudian tersenyum lebar. "Silahkan Ilyssa. Bawa kursi kamu, tampil di depan, di tengah-tengah."


Ily mengangguk, membawa kursi beserta gitar milik Eza dan anak kelasnya bertepuk tangan saat itu. Ily mulai gugup, namun ia mengepalkan tangannya kuat-kuat supaya gugup itu hilang.


Ketika Ily duduk, ia memangku gitarnya dengan mantap, kemudian langsung memainkan senar membentuk melodi intro lagunya.


Lalu mulai bernyanyi.


"Ah, sebentar, Ily. Kamu mau menampilkan apa?" tanya Bu Ami membuat permainan Ily berhenti.


"In My Blood, Bu. Punya Shawn Mendes."


Anak-anak langsung berseru kagum, ada yang antusias mendengar nyanyian Ily. Pasalnya tak banyak dari mereka yang berani bernyanyi bahasa Inggris.


Bu Ami mengangguk. Berpikirlah bahwa penampilan Ily akan mendapatkan banyak nilai tambahan. Mulai dari keberaniannya tampil pertama, menyanyikan lagu berbahasa asing dan terlihat berani memainkan gitar meski Bu Ami sendiri tak pernah tau Ily bisa memainkan gitar.


Kemudian Ily memulai intro lagi, ketika beberapa saat berlalu, mulailah ia bernyanyi. Suaranya lembut, pelan, penuh perasaan dan seketika hening kelasnya membuatnya merinding. Seolah Ily masuk, menyerap dan memahami lagu tersebut dengan sangat baik.


Sometimes I feel like giving up


No medicine is strong enough


Suara Ily beralih menjadi merintih, amat pedih jika mendengarnya. Bahkan Ily hampir menitikan air matanya jika tak ia tahan kuat-kuat.


Someone help me


I'm crawling in my skin


Sometimes I feel like giving up


But I just can't


Ily menghela napas panjang, mempersiapkan diri untuk memasukkan chorus yang menggunakan nada tinggi yang terdengar menyayat tetapi juga membuat seseorang semangat.


It isn't in my blood


It isn't in my blood


Ily berteriak dalam nyanyiannya, menyuarakan keinginannya untuk keluar dari kelam. Lagu ini sangat cocok dengan dirinya. Yang pernah mengalami kesulitan, namun dia tak ingin, tak mau dan tak berniat untuk menyerah sebab itu tak ada dalam tulangnya, darahnya ataupun dirinya.


Semua yang mendengarkan tampak terperangah, tak percaya Ily bisa sehebat ini. Ily sangat menjiwai, sampai kemudian dia mulai menyanyikan bait kedua lagu tersebut.


Suaranya dibuat pelan lagi, namun kali ini lebih bersemangat seolah menyimpan harapan. Ritmenya agak cepat dan hampir terdengar seperti rap.


I'm looking through my phone again feeling anxious


Afraid to be alone again, I hate this


I'm trying to find a way to chill, can't breathe, oh


Is there somebody who could...


Petikan gitarnya selaras dengan nyanyiannya. Suara lembut Ily cocok dengan lagu. Kini, Ily memasuki bagian pre-chorus yang masih terdengar lirih dan menyiratkan seseorang yang butuh pertolongan.


Help me, it's like the walls are caving in


Sometimes I feel like giving up


No medicine is strong enough


Someone help me


I'm crawling in my skin


Sometimes I feel like giving up


But I just can't


Suara Ily meninggi, menyuarakan ketidakmauannya untuk menyerah meski keadaannya dirinya sangat sulit baginya.

__ADS_1


It isn't in my blood


It isn't in my blood


I need somebody now


I need somebody now


Ily merintih lagi, merasa ingin menyerah dan butuh seseorang di sampingnya. Ia berharap, menyuarakannya dengan nyanyian bernada tinggi.


Someone to help me out


I need somebody now


Ily menatap seluruh teman satu kelasnya dengan tatapan sendu, seolah benar-benar sedang meminta pertolongan.


Help me, it's like the walls are caving in


Sometimes I feel like giving up


But I just can't


It isn't in my blood


It isn't in my blood, oh


Ily mengerahkan semua suaranya. Mengerahkan semua tenaganya untuk memetik senang giat, menciptakan melodi menutup setelah dia bernyanyi.


It isn't in my blood


I need somebody now


It isn't in my blood


I need somebody now


It isn't in my blood


Suara Ily memelan. Kemudian gitarnya tak lagi ia petik. Hening menguasai beberapa saat sampai ketika dia membuang napas lega, tersenyum pada Bu Ami dan teman satu kelasnya, riuh tepuk tangan langsung menggema dan benar-benar membuat Ily tertawa lega.


Napasnya agak terengah-engah, tangannya mulai mendingin dan dengan senyum lebar ia menjelaskan apa yang barusan ia tampilkan.


Bu Ami bertepuk tangan lagi. Benar-benar mengapresiasikan penampilan Ily. "Kamu sangat hebat, Ily. Harus tampil di pensi tahun depan!"


Ily tersenyum malu. "Ibu biasa aja."


"Ibu serius!" Bu Ami berseru antusias. Namun kemudian matanya berubah khawatir. "Tapi, kamu nggak benar-benar depresi kan?"


"Nggak, Bu," jawab Ily dengan gelengan pelan. "Hanya ada kisah masa lalu yang membuat saya kuat hari ini. Itu motivasi saya untuk menunjukkan penampilan ini. Sangat-sangat menyuarakan hati saya."


Bu Ami mengulas senyum lebar. "Baiklah. Kamu hebat dalam memilih lagu. Kamu boleh duduk, Ly."


"Terimakasih, Bu."


"Sekarang, siapa lagi yang mau tampil?"


***


"Baguslah kalau gitu," puji Eza dengan roti yang memenuhi mulutnya setelah mendengar Ily bercerita mengenai dirinya dan tas Seni Budaya tadi pagi. "Lo kayaknya punya bakat, deh."


"Jangan gitu, gue malu."


"Yaudah kalau malu," kata Eza tak memikirkan lebih lanjut. Ia mengambil es tehnya dan meneguknya seperti tak mendapat minum tiga hari.


Ily berdecak melihatnya, mulai khawatir akan isi dompetnya karena berani mentraktir Eza sebagai balasan karena Eza mau membimbingnya belajar gitar dan menyelaraskannya dengan lagu. Mereka ada di warung Bi Inah dan masing-masing memesan seblak untuk dimakan di tempat.


"Gue cuma bayarin seblak aja, ya," kata Ily mengingatkan. "Ah, sama es teh satu. Udah. Nggak ada tambah-tambah lagi."


Eza cemberut. "Pengen dibayarin rotinya juga," pintanya dengan mata yang disengaja disendu-sendukan. Bahkan cowok itu menyatukan kedua tangannya dengan memohon. Mendekat pada Ily supaya Ily luluh dan menyetujui permintaannya.


Ily mendelik jijik, mendorong jauh-jauh wajah Eza dengan telapak tangannya secara kasar. "Gak!" tolaknya tegas.


"Ah, nggak seru. Awas lo," balas Eza terlanjur kesal dan malah mengancam.


"Idih," kata Ily tak mengerti dengan apa yang menyebabkan Eza seperti itu. "Mulai lagi lo ah, absurdnya."


Eza tak membalas perkataan Ily. Mereka menunggu dalam hening sampai akhirnya pesanan mereka sampai dengan keadaan panas mengepul. Tak langsung memakannya tentu saja, Eza memilih untuk membuka pembicaraan.


"Sori, ya, gue sama Elvan sibuk mulu jadi nggak merhatiin lo. Elvan aja sekarang ada remedial, bego kan." Eza berkata serius dalam nada yang seperti bisikan. "Kalau ada yang bikin lo terganggu, bilang aja ke gue sama Elvan. Kita bakal bantu. Jangan sampai kejadian lo sama Vini-Villy terulang lagi."

__ADS_1


Mendengar dua nama itu disebut lagi, Ily langsung terdiam. Rasa antusiasnya pada seblak mendadak lebur dan perasaan Ily menjadi campur aduk hingga kini tak jelas lagi. Wajahnya berubah datar, namun ada air mata yang membendung di matanya, siap meluncur kapan saja tanpa bisa dicegah.


"Sekarang gue lega karena lo nggak deket siapa-siapa. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Lebih baik lo sama gue sama Elvan aja. Bertiga. Udah."


Eza akhirnya menoleh setelah mengatakan itu. Namun bukannya melihat wajah terharu Ily, ia dibuat gegalapan ketika melihat wajah merah Ily yang rupanya menahan tangis.


"Lo kenapa?" Eza dengan sigap mengambil sendok dari tangan Ily dan beralih menggenggam tangan itu dengan erat. "Mau pulang sekarang?"


Perlahan, kepala itu mengangguk. Membuat Eza segera mengemas seblak untuk dibawa pulang, membayarnya sendiri dengan terpaksa dan membawanya sambil menarik tangan Ily. Dalam hati, Eza mengutuk diri mengapa bisa dengan santai mengungkit kembali masa yang telah usang, yang menjadi kesedihan utama gadis itu.


Eza membuka pintu mobilnya untuk Ily. Setelah gadis itu masuk tanpa bicara, ia dengan segera masuk dan menjalankan mobil secara perlahan.


Dengan gugup, Eza menoleh pada Ily. "Sori, Ly. Gue nggak bermaksud bikin lo sedih karena ingat kejadian itu lagi. Tapi, asli, itu hanya masa lalu--"


"Za, gue nggak mau bahas itu. Itu masa lalu. Jangan bikin gue ingat lagi."


Bibir Eza tertarik, menciptakan senyum menawan yang bisa saja membuat seorang gadis menjerit kegirangan. "Baru saja gue mau bilang itu."


"Udah, Za." Ily bersuara tegas.


"Iya, iya," balas Eza pasrah saja. "Gue langsung aja ke inti, ya."


"Ha?"


"Jangan deket siapa-siapa, Ly," kata Eza sambil fokus pada jalanan, membuat Ily hanya menatap wajah sampingnya tanpa tau dengan jelas ekspresi seperti apa yang sedang cowok itu itu pasang.


Ily jelas tak mengerti dengan maksudnya. "Jangan bilang lo cemburu gue deket sama Yohan?"


"Lo bawa-bawa nama seseorang yang nggak jelas. Gue nggak suka," balas Eza tampak marah.


"Nggak Elvan, nggak lo. Kenapa, sih? Kalian benci banget sama Yohan. Emangnya dia jahat sama kalian?"


Eza menggeram, memilih untuk menepikan mobilnya agar bisa berbicara lebih intens dengan Ily. Ily sendiri dibuat terkejut dan was-was ketika Eza mendekat dengan wajah keras.


"Lo nangis waktu balik dari toilet cewek. Diapain sama Tiffany?" Eza bertanya dengan rahang mengeras.


Mata Ily mengerjap, memundurkan tubuhnya dengan perlahan. "I-itu gue ... gue..."


"Hm?" Eza semakin menekan Ily dengan tatapan tajamnya, membuat Ily susah untuk membuat alasan palsu.


"Oke, lo tau darimana?" akhirnya Ily mengaku seraya mendorong kedua bahu Eza agar jarak mereka terkontrol dan membuat Ily gugup serta takut.


Eza menunjuk matanya dengan jari telunjuk. "Gue liat sendiri, Ly."


Ily menipiskan bibirnya, bingung mau menjawab apa. "Harusnya lo nggak perlu ngikutin gue sampai segitunya," katanya justru mengomel. "Gue bukan anak kecil."


"Ly," kata Eza serius, kesal karena merasa dipermainkan. "Gue nggak melihat lo sebagai anak kecil. Masalahnya sekarang karena lo bukan anak kecil, gue merasa harus lebih waspada. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa. Dulu aja lo mau lompat--"


"Eza, gue udah berubah!" potong Ily murka. Wajahnya tampak memerah, menahan tangis. "Jangan bahas itu lagi, Za. Gue bukan Ily dua tahun yang lalu. Gue udah berubah, Za!"


"Iya, lo udah berubah. Gue seneng. Elvan seneng. Orang tua lo seneng. Semua orang seneng, tapi nggak lagi saat lo deket sama seseorang lagi." Eza menggertakkan giginya, menatap Ily dengan lebih serius. "Gimana kalau tetangga lo itu bahaya dan membuat sesuatu yang tak diinginkan terjadi? Kita nggak tau masa depan akan gimana."


"Lo mau gue menjauh dari Yohan?"


Eza mengangguk. "Gue harap lo mengerti. Awalnya gue juga nggak berprasangka buruk, tapi makin lama tetangga lo itu makin aneh. Dia punya maksud tertentu, Ly."


"Gue nggak ngerti, Za." Ily menggeleng cepat, menatap Eza dengan pandangan bingung. "Yohan keliatan orang yang baik-baik, dia polos dan baru di sini. Nggak mungkin melakukan sesuatu yang berbahaya seperti yang lo sangka."


Mendengar penuturan Ily, Eza tertawa hambar. Mengingat kembali tentang pembicaraan dirinya dengan Elvan tadi pagi. "Lo nggak tau apa yang ditemukan Elvan kemarin."


Ily mengernyit, jelas terkejut dan takut jika mengetahui sesuatu yang tak diinginkan. "Apa?"


"Gue sama Elvan belum tau pasti, tapi coba lo pikir." Eza menunjuknya sebagai jari telunjuk kemudian mulai mengingat-ingat seiring ia bicara. "Tetangga lo itu selalu terlibat masalah. Pertama sama Elvan. Lo tau kan mereka pernah tanding basket? Menurut lo alasannya apa?"


Ily mengernyit, dia tak mengetahui apapun, ingin bertanya namun Eza tak memberinya kesempatan.


"Kedua, sama gue. Ketiga, sama Tiffany," kata Eza melanjutkan perkataannya. "Tiga-tiganya orang yang udah terkenal di sekolahnya. Lo tau? Berkat ini, tetangga lo itu udah dikenal satu sekolah. Apalagi waktu jalan sama Tiffany, lo pasti udah menduga betapa hotnya berita itu."


"Terus?"


"Tetangga lo dapat popularitas, tapi Lo yang kena dampaknya. Tiffany langsung datang pada lo, buktinya. Lo nangis," balas Eza sambil mengela napas pendek. "Lihat? Pada akhirnya, dia cuma memanfaatkan lo, Ly. Jangan deket-deket sama dia lagi."


Ily mengernyit lagi, masih tak mengerti dengan pembahasan dari Eza. "Gue nggak pernah ngerasa begitu."


Eza berdecak, terlihat lelah menghadapi teman sejiwanya itu dan lebih memilih untuk menghidupkan kembali mobilnya. "Terserah lo, Ly. Gue udah memberitahu dan memperingatkan."


"Yohan nggak berbahaya," bantah Ily percaya diri.


"Jangan sampai lo nangis gara-gara dia. Gue nggak akan segan-segan untuk menghajarnya langsung."

__ADS_1


***


__ADS_2