Dari Korea

Dari Korea
LSF - 8


__ADS_3

"Woi!"


Sari berseru sambil mengetok kepala Luhan dengan pensil secara tiba-tiba saat Luhan sedang fokus menyalin catatan bahasa Inggris di papan tulis dengan cepat. Kelakuan Sari membuatnya berdecak keras dan merasa kesal hingga akhirnya laki-laki itu menolehkan kepalanya ke belakang.


Menatap Sari dengan penuh kebencian. Matanya melotot pada Sari. "Shit. Sakit, begi!"


"Kepala lo halangin papan! Pendekkin dikit napa!" seru Sari emosi.


"Santai, bos." Luhan menatap Sari dengan sorot ketakutan. Entah kenapa, tiap kali Sari berseru, Luhan merasa akan ada badai besar yang menyerang dunia. "Kenapa lo nggak tinggian aja?"


Kringgggg!


Beruntung suara bel istirahat sekolah berbunyi hingga Sari tak jadi meluapkan amarahnya secara radikal pada Luhan.


"Baiklah anak-anak. Kerjakan yang belum selesainya di rumah aja. Di pertemuan selanjutnya, akan bapak cek dan nilai."


"Baik, Pak." Anak-anak dalam kelas menjawab serempak. Ketika guru yang mengajar bahasa Inggris itu keluar, anak-anak kompak berseru lagi, "Bapak, terimakasih!"


"Kantin!" Luhan langsung berdiri. Memberi tanda pada Lethan, Langit dan Lingga. "Let's go!"


"Kata temen gue, Clara liat lo jalan sama kakak kelas kemarin waktu pulang sekolah." Langit langsung memberi laporan setelah turut berdiri dan berjalan beriringan menuju kantin.


Kening Luhan mengerut dalam. Matanya menatap Langit dengan penuh kecurigaan. Setelah paham sesuatu, baru dia bersuara. "Oh, jadi lo yang cepu-in foto gue sama Mbak Titi ke temen Clara dan temen Clara bilang ke Clara dan akhirnya juga gue sama Clara diputusin." Luhan tersenyum miris pada Langit. "Hm, gitu temen."


"Ya dia pake hp gue nggak bilang-bilang. Gue nggak sadar juga." Langit segera membela diri. "Bukan sengaja gue gitu, Han."


"Iya-iya." Luhan membalas kalem, kepalanya mengangguk-angguk kecil. "Gue paham. Santai aja."


"Lo deketin kakak kelas, Sob?" Kini, giliran Lingga yang bersuara setelah dia mendengar kabar dari Langit. Mereka sudah berada di kantin dan sudah dengan satu mangkok masing-masing di hadapan.


"Kalau iya, emang kenapa?" tanya Luhan dengan wajah berani.


"Nggak takut masuk neraka?"


"Hah?"


"Lo bikin berapa cewek nangis coba? Nggak kapok? Kalau lo nggak tau, itu namanya dosa." Lingga memberi nasehat lagi. Seperti biasa, dia yang paling anti dengan kebiasaan Luhan mempermainkan hati para perempuan. "Nggak sayang sama diri sendiri kalau masuk neraka nanti?"


Luhan malas membalas. Dia mengangkat kedua bahunya dan berjalan lebih cepat untuk meraih bahu Lethan dan berbincang seru tentang Dara dengannya tanpa merasa bersalah. Lingga melihat itu dengan wajah lelah.

__ADS_1


"Gue nggak habis pikir, Han." Lingga bersuara setelah berjalan teoat di samping Luhan.


"Ribet amat hidup lo." Luhan menoleh pada Lingga dan menatapnya dengan tak suka. "Urusin aja tuh Putri. Ngapa pake sok ikut campur hidup gue, deh."


"Seriusan lo bilang gitu?" Lingga tampak tersakiti.


"Ya ini hidup gue, Ga." Luhan memutar bola matanya dengan jengah. "Kalau gue masuk neraka, ya gue yang masuk neraka. Kalau gue masuk surga, ya gue juga yang masuk surga. Apa ada hubungannya sama lo? Apa ada sesuatu dalam hidup gue yang bikin lo rugi?"


"Ck." Lingga menatap Luhan lurus-lurus, tanda dia benar-benar serius. "Sebagai teman yang baik, gue cuma mau lo ada di jalan yang benar. Gue mau lo ada di jalan yang lurus."


Luhan menatap Lingga sama seriusnya. Lethan dan Langit yang berada di dekat kedua orang yang memang sering berdebat itu hanya menonton saja.


Seru, kok.


Luhan menyeringai saat Lingga menatapnya dengan mata melebar, mungkin Lingga sudah lelah menghadapinya. "Dan menurut gue, dari dulu, saat ini maupun masa yang akan datang, gue ada di jalan yang benar. Gue ada di jalan yang lurus."


Lingga menatap Luhan lama. Dengan sorot mata lurus-lurus dan penuh perhitungan. Kemudian, saat dia tak melihat tanda-tanda penyesalan dari Luhan, baru lah Lingga memalingkan wajahnya. "Ck. Percuma aja gue ngomong sama batu."


"Udah, anjuir, jangan dilanjut dah." Langit bersuara dengan nada suara tegas. "Bakso lo pada dingin nggak enak, Bro."


"Udahlah. Gue capek." Lingga berkata pasrah. "Hidup semau lo aja, Han."


Lingga menatap Luhan dengan penuh peringatan, begitu juga dengan Luhan. Kalau ini komik, pasti ada petir yang menyambungkan dua mata yang sedang adu sorot tajam itu.


Lethan mengangguk. Dari pada berada satu meja dengan dua orang saling bersitegang, Lethan lebih baik menjauh. Tiba-tiba, dia berdiri.


"Gue bakal beliin lo es jeruk sesuai janji gue kemarin." Lethan berkata saat Luhan dan Langit menatapnya dengan bingung.


"Wah, bener juga! Oke, langsung gas, Than! Haus gue gara-gara ngomong sama seseorang." Luhan membalas cepat.


"Apa lo?" tanya Lingga, merasa ter-pe-la-tuk.


"Lo yang apa!" Luhan melotot pada Lingga.


"Weh, Weh, udah napa jadi ribut mulut. Sumpek gue dengernya." Langit lagi-lagi menengahi karena entah kenapa hari ini Lethan tak melakukan tugasnya untuk mendamaikan. Omong-omong soal Lethan, laki-laki itu malah sama Dara di penjual jus. Kayaknya ngobrol seru gitu sampai tertawa-tawa bahagia. Langit tak habis pikir melihatnya. "Itu liat ***** si Setan—Lethan maksudnya, lagi modusin cewek, anjuir. Kocak!"


"Sumpah. Ck ck ck." Perhatian Luhan teralihkan. Melihat Lethan yang sedang berdiri bersebalahan dengan Dara. "Itu orang kayak om-om yang lagi godain degem."


***

__ADS_1


"Capek nggak, sih?"


Di salah satu sore di mana Luhan telah mengantarkan Reisya ke depan gerbang rumahnya, Reisya bertanya begitu seriusnya hingga membuat Luhan menatapnya dengan bingung.


"Ya ...." Reisya menipiskan bibirnya. "Lo anterin gue rajin begini udah kayak supir pribadi aja. Rumah gue nggak deket, lho. Butuh lima belas menit kalau nggak macet. Bisa setengah jam kalau macet. Lo nggak apa-apa, kan?"


"Yang harusnya nanya ya aku." Luhan menanggapi dengan santainya. Dia menatap Reisya dengan lembut dan penuh perhatian. "Kamu capek nggak latihannya? Kalau capek, besok aku bisa ajak kamu refreshing dulu. Aku tau tempat yang bagus. Aku traktir, deh."


Reisya mengernyit keningnya. Menatap Luhan dengan satu alis terangkat. "Kok berubah?"


"Apanya?"


"Ngomongnya. Pake aku-kamu."


"Emang nggak boleh? Emangnya salah?" tanya Luhan ringan.


"Ya, nggak juga." Reisya menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Rasanya agak canggung dan malu untuk Reisya "Aneh aja."


Luhan menipiskan bibirnya. "Yaudah, aku bakal ganti kalau kamu nggak nyaman."


"Nggak, kok! Nggak!" seru Reisya cepat. Tangannya bergerak-gerak, menjelaskan bahwa bukan begitu maksudnya, bukan Reisya tak suka dengan aksen baru yang dimulai Luhan. "A-aku bukannya nggak nyaman. Ta-tapi kayaknya harus ada kebiasaan dulu, baru kedengarannya nggak aneh lagi."


Luhan tersenyum senang. Ia menatap Reisya dengan hati menghangat. Perempuan di depannya ini sangat lucu. "Iya, nggak apa-apa. Dibiasain aja dulu.."


"Yaudah, a-aku masuk dulu." Reisya cepat-cepat berkata, meski kedengarannya sangat kikuk dan canggung. "Ka-kamu hati-hati pulangnya."


"Iya."


Reisya melambai dengan kaku.


Luhan balas melambai dengan senyum lembut. Matanya sampai menyipit karena gemas dengan tingkat Reisya.


Tanpa menunggu lagi, Reisya segera berbalik dan membuka gerbangnya. Dia berjalan di halaman rumah menuju pintu rumah dengan langkah cepat dan jantung yang seperti sedang terjadi tsunami di dalamnya. Reisya mengambil kunci di saku roknya dan membuka pintu rumahnya.


Setelah masuk dan menutup pintu rumahnya, Reisya menyenderkan tubuhnya di pintu tersebut. Jantungnya berdebar kencang dan semakin waktu berlalu, pipinya semakin terasa panas.


Apa kah ini ... yang namanya cinta?


***

__ADS_1


__ADS_2