Dari Korea

Dari Korea
WABBL - 83


__ADS_3

"Kata Ten lo suka sama gue."


"OHOK!" Theo langsung keselek ludahnya sendiri.


Lili makin yakin karena reaksi Theo. "Jadi, itu ... beneran, ya?"


"Ngaco." Theo kembali normal lagi dan mulai menyalakan motornya.


"Udah gue duga." Lili menyahut lemah. Kemudian dia mundur saat Theo memutar balikkan motornya. Selama itu, Theo menatap wajah sedih Lili dan memikirkan sesuatu berulang kali.


Biasanya Theo akan langsung meluncur. Namun yang laki-laki itu lakukan justru diam di depan Lili. Lili menatapnya dengan pandangan tak mengerti.


"Mau ngajak bareng?"


"Lo masih sedih?" tanya Theo tak ragu-ragu lagi.


"Iya?" Lili masih bingung.


"Mau gue tunjukin suatu tempat?" tanya Theo lagi


"Woah? Ada?" Mata Lili langsung berbinar. Membuat hati Theo terasa lega sekali. "Boleh-boleh!"


"Nih." Theo menyodorkan helm dari tangannya pada Lili.


Lili menerima helm itu dan memakainya secepat kilat. Dia mendekat ke arah motor Theo, kemudian menatap Theo dengan binar bahagia. "Udah lama gue nggak naik motor lo."


"Hm." Theo hanya bergumam. Menunggu Lili selesai duduk di belakangnya.


"Udah?" tanya Theo kemudian.


"..."


"Li?"


"Hah?"


"Udah?"


"Boleh pegangan nggak?" Lili akhirnya mengatakan itu. Pipinya langsung memerah karena bisa jadi Theo salah paham atas keinginannya itu. Karenanya, Lili menjelaskan kemudian. "Gue selalu takut jatuh, tapi nggak berani pegangan selama ini. Takut lo nggak nyaman."


"Peluk aja."


"Eh?" Mata Lili membulat. "Gue nggak salah denger, nih?"


"Peluk aja." Theo mengulang agak kesal.


"Hg ...." Lili tak tau harus apa. Tubuhnya membeku, pemirsa.


Tak suka berlama-lama, Theo mengambil kedua tangan Lili dan membawanya untuk memeluk perut datarnya. Theo terlihat santai-santai saja, berbeda dengan Lili yang sudah semerah tomat dan sekujur tubuhnya terasa melepas setelah menerima ribuan volt aliran listrik dari tangan dingin Theo.


Kemudian, Theo menyalakan motor dan melesat pergi.


Tanpa Theo dan Lili sadar, di seberang jalanan sana ada sepasang mata tajam milik Dika yang menatap kepergian mereka dengan pandangan penuh siasat.

__ADS_1


Dika tersenyum miring, kemudian melesat untuk turut pergi juga dengan motornya.


***


Tak berkendara lama, Theo dan Lili sampai di sebuah taman bermain anak-anak yang terdapat air mandur di tengah-tengah. Ada lima tempat duduk berupa kursi kayu yang cukup untuk tiga orang dengan pohon jambu air di masing-masing belakang kursi itu.


Mata Lili segera berbinar setelah memelas helm dan melihat dengan jelas tamannya.


Ada pot-pot besar dengan bunga-bunga cantik di samping setiap kursi. Udaranya sangat sejuk karena banyak yang hijau-hijau. Ketika keduanya berjalan dan duduk di salah satu kursi, tak ada suara selain decakan kagum dari Lili dan burung-burung sore yang melintas.


Apalagi ada kolam berukuran sedang dengan air mancur di depan mereka yang bagaimana pun memanjakan mata. Ketika Lili melihatnya, ada kura-kura dan ikan koi di kolamnya.


Taman ini ada di seberang jalan besar, namun jarang sekali pengunjungnya. Jelas sekali, taman ini akan ramai dengan anak-anak di pagi dan siang hari.


Sore-sore begini anak-anak pasti akan diam di rumah jika tak mau bahaya.


"Ini taman yang suka gue kunjungi sama Titi kalau dia kali bosen di rumah." Theo berkata setelah jeda lama sekali. "Titi suka mainin air mancurnya. Waktu dia sedih, gue langsung bawa ke sini dan kesedihannya itu langsung hilang."


Lili tersenyum. Dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Gue harap lo juga begitu," kata Theo lembut.


"Hm?" Lili mengerjapkan kurang mengerti.


"Gue harap kesedihan lo bisa hilang juga di sini kata Titi." Theo bersuara lebih panjang, membuat Lili tersenyum lebar saat mengerti maksudnya.


"Ini bagus banget, sih, Yo." Lili berkata tulus. "Sejuk. Bagus pemandangannya. Tenang juga. Gue seneng."


"Boleh minta fotoin nggak?" Lili bertanya seraya menyodorkan ponselnya pada Theo. "Kali ini batre HP gue masih oke. Oh ya, yang foto-foto kemarin kirimin ke WA gue, dong."


"Udah gue hapus."


Wajah semangat Lili langsung luntur. "Jahatnya."


"Sekarang gue fotoin lagi." Theo mulai membuka kamera di ponsel Lili dan bersiap untuk memotret.


"Oke deh!" seru Lili akhirnya. Mereka fotonya yang waktu lalu dan bersiap menciptakan potret baru yang lebih bagus lagi. Lili berlari ke tengah-tengah taman, di depan kolam air mancur. "Waktu gue loncat, langsung foto, ya! Harus berhasil pokoknya."


"Iya." Theo membalas singkat.


"Sip!" Lili mengacungkan jempolnya. "Gue bakal loncat, ya. Satu ... dua ... tiga!"


Jepret.


"Bagus, nggak?" tanya Lili setelah melompat dan membernarkan tatanan rambutnya.


Theo mengacungkan jempolnya.


"Yes!" seru Lili puas.


"Ganti," kata Theo bak fotografer pribadi Lili.


Lili berganti pose. Mengangkat tangannya yang membentuk huruf V ke kedua sisi pipinya sambil tersenyum lebar dan memejamkan matanya.

__ADS_1


Cekrek.


"Ganti."


Lili kini menangkup kedua pipinya dengan tangan. Matanya melirik ke samping. Bibirnya cemberut kecil. Jujur, gaya seperti itu sangat lucu untuk Theo lihat.


"Ganti."


Lili tertawa malu. "Udah aja, ah."


Kemudian Lili berjalan mendekati Theo, mengambil ponselnya dan melihat-lihat hasil jepretan Theo. Matanya berbinar. "Wah, bagus-bagus, Yo. Keren. Makasih, ya."


"Hm." Theo mengangguk


"Jangan sayang," kata Lili tanpa sadar. Fokusnya masih ke ponsel.


Theo berdeham kikuk. Kemudian berjalan ke kursi dan Lili mengikuti tak lama kemudian.


Mereka duduk kembali di kursi. Lili bersenandung kecil sambil mengayun-ayunkan kakinya seraya melihat lagi fotonya yang diambil barusan. Theo hanya menenangkan diri sambil memejamkan matanya.


"Di sini lucu, Yo." Lili melihat bunga matahari di sebelahnya. Kemudian berjongkok untuk mendapatkan bunga matahari itulah sebagai latar fotonya. Lili hendak mengambil selfi saat dia menatap Theo. "Lo mau ikutan foto nggak?"


"Nggak."


"Oke deh."


Lili mengambil beberapa foto selfi. Setelahnya dia memasukkan ponselnya dan duduk lagi di sebelah Theo. Menikmati suasana taman.


"Ah, segarnya." Lili tertawa renyah. Dia melihat langit sore yang indah di depan sana. "Sunset emang selalu jadi pilihan terbaik."


Ketika Lili berkata begitu, Theo menatap ke arahnya. Pandangan lembut, namun Lili tak melihatnya karena matanya sedang terpejam.


"Jangan sedih-sedih lagi, Li."


Mendengar suara Theo yang tiba-tiba, Lili membuka matanya dan saat dia melihat Theo, laki-laki itu sudah mengalihkan pandangannya ke kolam air mancur di depannya.


"Waduh, ada apa gerangan tiba-tiba manis gini kayak gulali?" tanya Lili agak takut karena Theo bersikap tak biasanya.


"Nggak suka aja liatnya." Theo berdecak. "Risi."


"Khawatir, tepatnya." Lili mengoreksi dengan senyum geli.


"Iya. Begitulah." Theo malas untuk berdebat.


Lili sudah kegirangan sendiri dibilang begitu sama Theo. Saat tiba-tiba ada seseorang perempuan dengan rambut sebahu yang mengingatkan Lili pada Rasha. Mungkin mereka seumurannya.


Awalnya perempuan itu berjalan biasa dan hendak melewati Theo dan Lili dengan normal. Namun, wajannya langsung berubah saat melihat wajah Theo.


Perempuan itu langsung menghampiri Theo dan menangkap kedua pipi Theo degan mata berkaca-kaca.


Theo mau menghindar, namun terlalu terkejut saat perempuan itu memanggilnya dengan sesuatu yang lain.


"Leo!" seru perempuan itu lirih. "Leo! Kamu ke mana aja ... aku ...."

__ADS_1


__ADS_2