Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 15


__ADS_3

sebelum membaca, mari kita intip sepupu Ily yang banyak tingkah itu


ini dia Elvan...



dan ini Eza



oke happy reading~^^


___


"Tadi ada yang ke rumah, ya, Ly?"


Ily mendongak dari ponselnya yang sedang menampilkan obrolan dari grup. Isinya tiga orang; dirinya, Elvan dan Eza yang sedang berusaha membuat Elvan untuk cerita keluhnya.


Keluarga kecilnya sedang berkumpul di ruang keluarga, dengan televisi menyala. Ily tidur di paha ibunya, sementara ibunya bersandar ke tubuh ayah. Ibu bertanya ketika melihat satu sampah kuaci di atas meja.


"Iya, Elvan sama Eza dateng. Sama Raihan juga," balas Ily enteng.


"Raihan?" tanya ayah penasaran.


"Siapa itu? Perasaan baru denger, deh," kata ibu ikut penasaran, namun kemudian matanya membelalak saat ingat sesuatu. "Eh, apa Raihan yang itu? Yang jadi pengantin bareng sama kamu?"


Ily langsung bangun, menatap ibu dengan mata tak percaya. "Kok ibu inget? Iya, Raihan yang itu."


Segera, Ily bangkit dan berjalan menuju lemari di pinggir televisi. Di sana terdapat banyak sekali foto-foto bersejarah keluarga. Salah satunya saat Ily melakukan upacara adat untuk perpisahan SD, di sana ia menjadi pengantinnya. Perwakilan dari seluruh anggota angkatan bersama Raihan untuk melakukan sungkem pada ibu bapak guru.


Di foto itu ada dirinya yang memakai kebaya merah darah, ibunya, ayahnya lalu Raihan, Elvan serta Eza yang jongkok di bawah dengan jas hitam rapi. Mereka tersenyum polos, lebar, khas anak kecil yang bahagia.


Mengingat itu, hati Ily berdebar tanpa alasan yang jelas.


Ily memperlihatkan foto tersebut pada kedua orang tua yang duduk mengapitnya. Ibu dan ayah segera memerhatikan anak yang ditunjukkan oleh Ily dengan seksama.


"Oh, yang itu! Iya, iya, ayah inget! Soalnya waktu dulu, dia nggak datang sama orang tuanya, kan. Jadi sama ayah ditemenin, ditanya-tanya," cetus ayah kemudian. "Anaknya agak pemalu, tapi baik-baik sama sopan."


Senyum Ily tercipta tipis. "Sekarang jadi beda, yah, bu. Jadi nggak pemalu lagi, bahkan sifatnya hampir mirip sama Elvan Eza. Sama-sama pecicilan kayak nggak tau malu gitu."


"Lah? Serius?" Ayah tampak tak percaya.


"Iya, gitu," balas Ily seraya mengangguk-anggukan kepalanya dengan cepat.


"Jadi pengen ketemu," kata ayah berandai-andai dengan senang.

__ADS_1


Ibu tertawa. "Iya, bener. Penasaran."


Ily menahan senyum, mengingat masa waktu itu.


***


"Ily!"


"Chilly!"


Ily yang waktu itu baru saja turun dari mobilnya langsung disambut Eza dan Elvan dengan riang. Dari kecil, Eza sudah sangat menyebalkan tentang bagaimana cara memanggilnya. Dua laki-laki itu sudah rapi dengan jas hitam masing-masing, namun karena berlarian tak mau diam, rambut keduanya sudah amat acak-acakan dicampur pelipis penuh keringat.


Kebaya merah darah yang Ily kenakan membuat keduanya terpana. Mulut mereka terbuka lebar seakan dapat menyedot segala yang ada. Ily kikuk dibuatnya, malu sekali.


"Apa sih," gerutu Ily malu-malu. "Emangnya aku aneh banget, ya?"


Eza tertawa seperti setan. Maksudnya, dulu tawanya memang sangat cempreng dan terdengar seperti kuntilanak atau setan perempuan. "Nggak, sih, cuman sedikit cantik aja."


Pujian itu kian membuat Ily malu. Sampai kedua orangtuanya turun dan mendampinginya. Membuat Ily sangat berterimakasih dan nyaman.


"Eh, tante, om," sapa Elvan seraya tersenyum sopan. Anak itu dulunya memang sangat baik dan polos, berbeda dengan saat ini. Benar-benar berubah total.


Ibu Ily tersenyum. "Elvan," katanya ramah, pada Elvan. Kemudian beralih pada Eza dengan tatapan yang sama. "Eza."


"Kalian abis marathon, ya?" tanya ayah dengan senyum geli. "Itu rambut sama keringet udah nggak bisa dikondisiin lagi."


Eza balas tertawa. "Iya, om begitu."


"Ngapain sih begituan?" tanya Ibu seraya tertawa juga. Ia mengambil sisir dari tasnya untuk setelahnya berjongkok di depan Elvan dan mulai merapikan rambutnya.


Elvan hanya diam ketika diperlakukan seperti itu. Orang tuanya kebetulan hari ini berada di luar kota karena ada urusan. Perlakuan ibu Ily membuat hati Elvan meleleh.


Sementara itu, Eza menatap dengan pandangan sulit diartikan. Sama seperti Elvan, kedua orang tuanya hari ini tak bisa datang.


Ketika selesai, ibu tersenyum dan mengelap keringat Elvan dengan tisu yang sebelumnya ia ambil dari tas yang sama. "Nah, gini kan ganteng."


"Iya, makasih, tante," balas Elvan sopan. Kemudian mundur, seolah tahu bahwa selanjutnya ibu Ily akan menarik tangan Eza untuk berhadapan dengannya. Untuk melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Elvan.


Setelah itu, Eza berterimakasih dan semua orang berjalan berjajar untuk masuk ke lapangan sekolah di mana sudah banyak orang yang datang. Lapangan luas itu sudah disulap menjadi tempat kegiatan perpisahan. Panggung, tempat duduk serta atap yang dihiasi sedemikian rupa memenuhi pandangan setiap orang yang datang.


Ibu masih menuntun Ily agar tak tersandung karena memakai hills yang lumayan tinggi. Sementara ayah beserta Elvan dan Eza berjalan ke rahim berlawanan, ke arah kumpulan laki-laki.


Seperti biasa, menceritakan kehidupan masing-masing dengan santai.


***

__ADS_1


"Oh, iya, bu, Raihan ini anaknya Bu Rima. Pastes agak nggak asing gitu waktu denger namanya," kata Ily memberitahu.


"Oh, anaknya, toh?" Ibu membulatkan matanya, tanda penuh ketertarikan. Ia mengambil foto berbingkai dari tangan Ily dan memerhatikan anak bernama Raihan itu dengan seksama. "Aduh, ibu lupa. Nggak bisa ingat. Udah lama banget."


"Ayah inget, nih!" seru ayah semangat. Membuat perhatian Ily dan ibu teralih padanya. "Raihan itu pernah cerita kalau dia selalu kangen sama ayahnya karena tinggal di luar kota. Makanya waktu ngobrol sama ayah, dia seneng banget sampe meluk-meluk gitu. Anaknya kayak pendiem banget, tapi kalau kita ajak ngobrol, lumayan asik, kok."


"Serius?" Ily baru tahu mengenai apa yang ayah utarakan.


Ibu mengulum senyum dengan wajah perihatin. "Kasian juga, ya. Harusnya kita bawa aja waktu selesai perpisahan itu. Pasti rumahnya sepi banget waktu dia pulang."


"Iya," balas ayah setuju.


"Ya, sekarang udah enam taun, udah beda," kata Ily seraya mengela napas kecil. "Ily udah liat tadi. Raihan beda banget sekarang. Kayak... ada bandel-bandelnya gitu, tapi masih pinter juga kayak dulu."


Ayah menatap Ily dengan ragu. "Kok bisa tau gitu?"


"Jangan asal, ah, Ly." Ibu mengingatkan. "Nggak baik."


Ily meringis kecil. "Nggak, Bu. Ily nggak asal. Gini, yah, tadi Ily liat ada tato di jempolnya. Terus telinganya bolong gitu, kayak bekas tindikan. Kayak nakal banget, Elvan yang suka berantem aja nggak punya tato, apalagi tindik. Tapi, Raihan mau masuk hukum di UI. Masuk akal nggak sih, tebakan aku?"


Mata ayah melebar. Mulutnya juga. "Cius kamu?"


Tak seperti ayah, ibu tak bereaksi selama beberapa saat. Justru membiarkan otaknya berpikir lebih dalam, lebih jauh dan matang-matang. Pada akhirnya, justru mengungkit sesuatu yang tak tepat untuk Ily.


"Terus Yohan gimana kabarnya?"


Ily sangat terkejut dengan pertanyaan itu. Ia tak bisa langsung menjawab. Justru menipiskan bibirnya, menahan air mata yang mungkin akan tiba-tiba turun.


"Eh, iya, itu anak Korea gimana kabarnya? Bukannya kalian itu deket banget, ya? Malah udah janjian sama ayah. Kok sekarang kamu malah bahas Raihan, sih?"


Mata Ily mengerjap beberapa kali. "Ayah sama Yohan janjian? Kapan? Janjian apa? Kok Ily nggak tau?"


Ayah menaik-turunkan alisnya. "Ada deh. Kisah lelaki."


"Sok banget," ledek ibu sambil tertawa kecil.


Ily cemberut.


"Itu, waktu ayah bilang pengen ketemu sama Yohan. Waktu itu juga ayah sama dia bikin sebuah perjanjian," balas ayah akhirnya menyerah untuk sok misterius. "Kamu jangan ambil pusing tentang perjanjian itu. Sekarang kasih tau aja kabar Yohan. Ayah penasaran."


"Ibu juga," timpal ibu semangat.


Berbeda dengan kedua orang tuanya, Ily justru lemas saat mengutarakannya. Tak ada yang perlu Ily rahasiakan pada orang tuanya, meski pahit, ia harus menyuarakannya.


"Yohan ninggalin Ily, ibu, ayah. Yohan nggak mau ketemu Ily lagi. Yohan nggak mau hubungin Ily lagi. Yohan nggak mau temenan sama Ily lagi."

__ADS_1


"...apa?"


***


__ADS_2