
Tanpa ketiga diva--Theo, Ten dan Lucas--itu ketahui, Lili dan Gema berada dua meja dari mereka dan menguping dari awal sampai akhir. Lili dan Gema saking berpandangan ketika akhirnya tiga orang yang menjadi sasaran mereka untuk diperhatikan sibuk dengan soto masing-masing hingga tak ada pembicaraan lagi.
Lili berdecak. "Kok mereka nggak ada Bad Boy-Bad Boy-nya sama sekali?"
"Lah, emang Bad Boy menurut lo kayak gimana?" Gema bertanya heran.
"Yang itu, lho," jelas Lili gemas. "Yang di tubuhnya tuh banyak tatonya, bentuknya kayak tengkorak gitu, pokoknya serem deh. Terus kesukaannya itu bukan soto tapi narkoba atau rokok; mereka sukanya di gudang sepi belakang sekolah, bukan di tempat ramai kayak kantin begini tongkrongannya; terus Bad Boy itu punya tindik, entah itu di telinga, em ... atau di hidung mungkin; pokoknya Bad Boy itu matanya kayak panda; bibirnya item; terus nggak punya temen. Theo itu punya dua temen. Yang saty yang, pinter satu lagi artis, *****."
Gema tersenyum tipis, berusaha sabar mendengarkan ocehan Lili.
"Berarti, The itu bukan Bad Boy. dia cuma anak nakal biasa, Gema. Lo sebut Theo itu Bad Boy dari mana coba?" lanjut Lili dengan pandangan menuntut.
"Ya, ampun, Li. Kalau cuma lihat kovernya doang gimana ngerti. Dari mana lo menyimpulkan Theo bukan Bad Boy? Gimana kalo sebenernya dia itu ... dia itu punya kehidupan rahasia?" Gema menyipitkan matanya dengan pandangan serius saat spekulasi-spekulasi mulai bermunculan di pikiran liarnya.
Membuat Lili turut memikirkan hal tersebut. Gema tersenyum puas melihat ekspresi Lili.
"Gue rasa Theo beneran Bad Boy soalnya ya, dia di kelas nggak ada temen, dia di kelas selalu tidur, terus kalau ada guru yang marah-marah dia langsung kabur gitu aja kayak dia tuh ada masalah sama orang yang marah-marah ... atau mungkin kericuhan!" Gema semakin melotot. "Kebisingan! Berisik!"
Lili langsung berdecak saat mendengar kata terakhir dari Gema. Wajahnya tampak tak terima dengan perkataan Gema.
"Ya, terus ngapain dia ke kantin? Kantin berisik, ricuh sama sumpek gini, *****! Lo kalau ngomong suma nggak masuk akal, Gem. Gimana sih? Aduh pusing gue." Lili memegang kepalanya dengan frustasi. "Kayaknya gue nggak ada harapan deh jadi penulis Bad Boy kayak di Wetfed."
Lili mengeluh dengan suara seperti hampir menangis dan Gema langsung gegalapan.
"Hei, jangan jangan nyerah gitu dong, kayak bukan temen gue aja," kata Gema tak terima. "Gini, gue ada saran lagi!"
Lili menatapnya datar. "Kalau nggak bener, gue nggak mau terima lagi, Gem. Gue mau nyerah aja."
"Serius nih? Lo nyerah jadi penulis?" tanya Gema terkejut dengan polosnya.
Lili berekspresi seperti ingin menelan Gema hidup-hidup. "Nggak, Gema sayang. Gue mau nyerah aja buat riset tentang Bad Boy, gue mau nulis tentang yang lain. Ya, mungkin tentang gue dan Kak Jae, tentang pengagum Rrhasia gitu."
"Alah, pasaran banget," ledek Gema tanpa berpikir panjang. "Gini. Lo coba buntutin Theo kemana-mana selama satu minggu ini, gue yakin ada sesuatu dari yakin 100% gue, soalnya dia juga main balapan liar jam sebelas malem. Bayangin, betapa liarnya dia, Li?"
Berkat perkataan itu Lili terdiam. Ciri-ciri Bad Boy yang dia ketahui adalah suka berkeliaran malam untuk menghabiskan rasa bosannya.
Sepertinya perkataan Gema ada benarnya juga.
"Oke deh, gue buntutin dia satu Minggu ini, Gem," Cetus Lili penuh tekad.
"Kalau sampai ketahuan, mati lo, Li," pesan Gema penuh khawatir.
"Nggak bakalan. Intip-intip secara rahasia adalah keahlian gue," balas Lili yakin. "Udah pengalaman dong gue sama Kak Jae."
***
__ADS_1
"Ini lima poin kenapa, deh?" Ily bertanya setelah melihat buku kedisplinan sekolah Lili yang punya coretan merah.
Lili yang sedang membereskan buku-buku pelajarannya kontan meringis. Ily selalu masuk tanpa izin dan tak disadari Lili. Lili pernah berpikir ibunya memiliki kekuatan untuk berkamuflase.
"Tadi Lili telat, Bu."
"Lah, kok bisa? Kamu ini tidurnya selalu larut, sih. Kata ibu juga jam sembilan, udahan baca bukunya. Mata nggak bagus, kena sekolah juga nggak baik!"
Dimarahi seperti itu, gejolak dalam dada Lili mendidih. "Ya, kan ibu juga nyuruh Lili jagain Luhan. Kalau Lili nggak jagain Luhan, Lili pasti masuk tepat waktu!"
"Oh, kamu nyesel udah jagain adik sendiri?" Ily menaikkan satu oktaf suaranya. Dia tak habis pikir dengan anak perempuannya yang berani membalasnya.
"Nggak," balas Lili cepat. "Tapi aku kesel karena ibu nyalahin aku, padahal ibu juga salah."
"Apa?" Ily kehabisan kata-kata.
"Ibu bisa buang sampah waktu ayah udah bangun. Nggak peduli truk sampah datang atau nggak, pasti sampah ibu diangkut juga." Lili menjelaskan dengan napas memburu.
Lili tak pernah bayangkan ada hari di mana ia berdebat dengan ibunya sendiri. Ketika sadar perubahan wajah Ily yang signifikan, Lili langsung menunduk.
Lili menggigit bibirnya. Apa sih yang merasukinya hingga membuat ibunya terlihat terluka?
"Ada apa ini? Kok pada diem, ayo kita makan malam. Ly, ayo." Suara ayah Lili terdengar, namun saat Ily langsung berbalik pergi, Yohan langsung mengerti ada yang tidak beres.
"Ada apa sebenarnya, Lili?" tanya Yohan langsung.
"Lili salah, Yah," kata Lili dengan mata mulai berair. Dia membuka kaca mata bulatnya dan mengusap air yang turun itu. Dengan tangis kecil, Lili menceritakan segalanya.
Mendengar itu, Yohan kontan menarik Lili dalam sebuah pelukan yang menghangatkan. "Ayah juga salah. Harusnya ayah bangun pagi-pagi buat anterin kamu."
"Tapi ayah capek, udah kerja kan. Lili nggak mau ngerepotin."
"Dibuat repot oleh anak yang ayah sayang adalah amal terbaik yang pernah ayah lakukan," balas Yohan lembut. "Jangan merasa terbebani begitu, Lili."
Lili bersyukur sekali punya ayah seperti Yohan. Yohan sangat pengertian dan membuatnya nyaman sekali.
Yohan membelai rambut panjang Lili dengan sayang. "Sekarang, saling minta maaf aja ke ibu. Lili siap?"
Pelukan mereka terlepas. Lili mengangguk kecil. "Iya, Ayah."
"Pintar anak ayah." Yohan tersenyum bangga. "Besok bangunin ayah aja. Kalau nggak bangun-bangun, siram aja ayah rela. Pokoknya besok Lili harus dianterin ayah biar nggak telat."
Lili tersenyum penuh haru. "Oke, Yah!"
Sejurus kemudian, Lili dan Yohan duduk di kursi meja makan. Wajah Ily sangat datar dan ia sibuk dengan Luhan sampai kelihatan sekali tidak mau melihat Lili.
__ADS_1
Lili menarik napas, ia menguatkan niat. "Ibu ...."
Panggilan lembut itu tak kuasa untuk menahan wajah datar Ily. Sedetik kemudian, Ily menoleh dan memandang Lili dengan teduh.
"Maafin Ibu, ya, Li."
"Maafin Lili, ya, Bu."
Keduanya bersuara bersamaan dan membuat haru membuncah di dada Yohan. Dia bangga memiliki orang-orang berhati lembut dan terbuka seperti Ily dan Lili.
Lili tertawa kecil. "Lili salah, Bu."
"Ibu juga salah," balas Ily dengan senyum teduh. "Maaf, ya, padahal kamu cuma telat satu kali, tapi ibu marahnya kebangetan."
"Dulu Ibu nggak pernah telat soalnya, catatan kedisiplinannya bersih kayak tembok baru di cat," jelas Yohan dengan nada jenaka.
Lili membulatkan matanya. "Woah, keren! Hebat!"
"Ah, biasa aja," tukas Ily agak malu. "Kamu juga hebat, Li. Udah ada berapa cerita yang kamu bikin dan udah tamat?"
"Udah dua!" balas Lili senang. "Tahun ini aku akan bikin yang ketiga dan semoga aja banyak yang baca."
"Semoga," tukas Yohan cepat, mengacak-acak kecil rambut lurus Lili. "Ayah doakan, ya."
"Woah, makasih, ayah!"
"Ibu juga akan doakan." Ily ikutan berkata. "Katanya, Minggu ini Imel bakal launching di mal. Lili tau nggak?"
"Ya, Lili temen deketnya masa nggak tau, Bu." Lili menukas agak malas. "Lili diundang jalur khusus lagi, Bu. Jadi pengawalnya katanya. Hahahaha, lucu ya."
Yohan menatap Lili dengan khawatir. "Lili nggak lagi iri, kan?"
"Ha? Lili? Iri?" Lili tertawa hambar untuk menghibur dirinya sendiri, untuk setelahnya tawa itu meredup sering pahit wajahnya tercipta, "iya, Lili iri."
"Lili tenang aja. Harus selalu semangat. Di sini, ayah sama ibu selalu mendukung."
Lili tersenyum sedih, kemudian mengangguk kecil.
Iya, di sini ayah dan ibunya mendukung secara penuh, namun tangan dan keberuntungan Lili tak begitu mendukung dengan porsi yang sama.
Kadang, Lili ingin menyerah, namun dia tak bisa.
Buku dan tulisan bagaikan jantung dan paru-paru. Jika mereka hilang, maka Lili juga akan hilang.
***
__ADS_1