Dari Korea

Dari Korea
Dari Korea 2 22


__ADS_3

Raihan sudah pulang lebih dulu. Eza dan Elvan tinggal sebentar di rumah Ily untuk berganti pakaian, tentu Elvan meminjam celana ayahnya Ily untuk dipasangkan dengan baju kuning noraknya. Beruntung ayah punya Levi's yang tak begitu sering dipakai.


Mereka berdua berniat pergi dari rumah Ily setelah selesai menyejukkan diri, namun Ily menahannya. Ily juga sudah berganti pakaian, namun belum mencuci wajahnya karena masih malas.


"Elvan, cerita sama ayah ibu gue dulu," kata Ily, terdengar mengancam dan sarat khawatir.


"Bener, Van," sambung Eza setuju. "Lo belum cerita juga lengkapnya ke kita. Sekalian aja sekarang."


"Ayah ibu lo mana?" tanya Elvan langsung.


"Lagi mandi dulu kalau ibu. Ayah lagi cek kerjaan di kamarnya." Ily menjawab cepat. Menatap Elvan lekat-lekat. "Jangan pulang dulu, Van. Bentar lagi mereka datang, kok. Lo tunggu aja. Nggak apa-apa, kita semua ada buat lo."


Elvan tersenyum lebar. "Makasih."


Ily mengela napas kecil. "Iya, sama-sama."


"Tapi, gue harus pergi sekarang."


Elvan langsung berlari keluar dari pekarangan rumah Ily, amat cepat hingga Eza dan Ily dibuat melongo dan terdiam tanpa sempat mengejar. Eza dan Ily memang sempat berdiri, namun saat berlari keluar gerbang rumah Ily, tanda-tanda atau bekas jalan yang dilalui Elvan tak tampak sekalipun.


Wajar, Elvan jago futsal. Larinya sangat cepat dan ringan. Tak bersuara, juga tak meninggalkan jejak.


Atas perginya satu laki-laki itu, Eza dan Ily berpandangan khawatir.


"Gimana, nih?"


"Elvan, kalau ketemu mati lo." Eza mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Penuh tekad dan ambisi.


***


Ily selesai mengeringkan rambutnya saat ponselnya bergetar di atas meja belajar. Bergetarnya benda itu tanda ada sebuah telepon. Ily mengeceknya, kemudian langsung mengangkatnya saat membaca nama Eza di display call.


"Apa, Za?"


"Lo udah telepon Elvan?" tanya Eza khawatir.


"Belum. Gue dari tadi sibuk bersihin muka sama cuci baju. Kenapa emangnya?"


"Itu anak ganti nomor kayaknya. Nggak aktif mulu dari tadi. Gue udah seratus kali kayaknya coba telepon dia. Di rumahnya juga kagak ada."


Mata Ily membulat khawatir. "Elvan itu kenapa sih sebenarnya?"


"Nggak tau, lah. Lo kan sepupunya."


"Lo kan temennya."


"Orang yang meninggalkan temannya tanpa penjelasan nggak bisa disebut temen lagi, Ly."


"Semudah itu lo mengklaim Elvan bukan lagi temen lo?" tanya Ily tak percaya. Tak mendengar balasan Eza selama beberapa saat membuat Ily mengela napasnya panjang. "Za, sekarang bukan itu masalahnya. Elvan butuh kita, kalau perlu kita paksa habis-habisan."


"Kalau dianya lari dan menjauh, kita bisa apa?"


"Kita ikut lari dan mendekat."


"Pertanyaan gue satu deh." Eza tertawa kecil, tampak meremehkan perkataan Ily yang penuh tekad. "Lo tau di mana Elvan sekarang?"


Kening Ily mengerut tak suka. "Gue bisa cari dia besok. Semuanya perlu proses panjang, Za."

__ADS_1


Dalam satu menit, tanpa menjawab ataupun berpamitan, Eza menutup sambungan teleponnya sepihak. Sebelum Ily sempat mengatakan rencana mereka besok untuk mencari Elvan.


Atas sikap teman dekatnya itu, Ily mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Dia kenapa, sih? Bikin mumet aja. Udah Elvan bikin masalah, yang satunya bikin lagi. Emang, ya, temenan dekat sama kalian berdua itu adalah sebuah kesalahan."


Entah apa yang mendorong Ily mengatakannya, namun hatinya tak merasa salah saat ini. Ucapan dan hatinya selaras.


***


"Raihan tidur!"


Suara nyaring ibunya terdengar sewaktu Raihan merapikan buku-bukunya yang digunakan untuk latihan sebagai persiapan untuk masuk universitas. Jam baru menunjukkan pukul 9, Raihan belum berniat tidur.


"Iya, Bu!" Namun tetap membalas begitu dan segera menutup pintu kamarnya, menguncinya dan mengambil ponsel untuk setelahnya rebahan di atas ranjang empuknya.


Raihan membuka kunci ponselnya, membuka galeri dan melihat satu foto di mana dirinya dan Ily tadi siang bersama. Ily tampak cantik dan lucu dengan efek kumis kucing di pipinya yang merona seperti senja. Dengan senyum tipis dan mata menyipit karena panas, Ily sukses membuat Raihan tersenyum lebar seperti orang gila kini.


Jika yang dilakukannya kini salah, maka Raihan tak akan menyesal.


Tanpa berpikir lagi, ia memposting foto itu dalam story Instagramnya dengan caption yang mungkin membuat orang-orang salah paham. Namun, Raihan tak merasa khawatir akan itu, yang penting suasana hatinya tersampaikan.


Dalam beberapa detik berjalan, sudah banyak yang melihat dan mengirim pesan langsung padanya, namun Raihan mengabaikannya karena belum ada seseorang yang dinantinya.


@shasi.afwaaaaa: heh, itu siapa?


Jantung Raihan bagai meletus saat itu juga untuk setelahnya berdegup kencang tak karuan melihat direct message dari seseorang yang bernama Shasi itu. Matanya melirik ke atas, berusaha mencari-cari jawaban yang benar untuk membalas.


Sesaat kemudian, keduanya terlibat obrolan online.


raihn_


shasi.afwaaaaa


Temen tapi caption-nya calon paket love-love sekuintal. Maksudnya apa sih?


raihn_


Calon temen curhat gitu deh, Si. Pokoknya cuma sebatas temen. Nggak lebih. Seriusan.


shasi.afwaaaaa


Cantik nggak orangnya?


raihn_


Hah?


shasi.afwaaaa


Maksud gue aslinya cantik nggak?


raihn_


Kenapa nanya?


shasi.afwaaaa


Soalnya di foto cantik, takutnya aslinya jelek

__ADS_1


raihn_


Dia cantik gitu pake make-up, Si


shasi.afwaaaa


Cantikan gue ya?


raihn_


Iya. Jelas.


shasi.afwaaaa


:*


raihn_


:*


Hanya begitu, percakapan dua insan yang berstatus pacaran itu selesai. Raihan mengela napas, kemudian keluar dari jendela obrolannya dengan sang pacar untuk mengecek apakah ada sesuatu yang terjadi pada story miliknya kini.


Jantungnya lagi-lagi terasa aja meledak. Namun, kali ini terasa menyenangkan hingga Raihan ingin lompat-lompat di atas ranjangnya dengan senyuman lebar. Namun, semua itu ditahannya karena takut menganggu ibu serta sudah malam.


@illlyyyyy


Nama itu tertera di antara barisan orang-orang yang melihat ceritanya. Baru saja. Itu artinya, sepuluh menit setelah Raihan memposting, perempuan itu melihatnya kemudian.


Padahal, Raihan tak menandai profil Ily. Tapi, bisa secepat ini Ily mengetahuinya.


Raihan menunggu sesuatu terjadi, namun tak kunjung terjadi dalam lima menit berjalan. Dipikir-pikir, caption yang Raihan sertakan dalam foto itu terlalu mudah untuk mengundang konfrontasi.


Tanpa membuang waktu lagi, Raihan mengetuk sesuatu untuk dikirimnya pada Ily.


raihn_


Ly, maaf ya


Rasanya satu menit lama sekali berjalan saat menunggu balasan Ily. Suara jam terdengar jelas dan Raihan dibuat gugup karenanya.


illlyyyyy


maaf apa?


raihn_


itu foto


illlyyyyy


Iya gpp


Raihan menjambak rambutnya dengan wajah frustasi. Membanting ponselnya begitu saja, namun tak sampai ke lantai dan hanya terlempar agak jauh dari kakinya. Raihan pernah membaca sesuatu dan mendengarnya dari Shasi. Jika seorang perempuan membalas pesan dengan singkat, artinya dia marah.


Dan Ily membalas singkat.


***

__ADS_1


__ADS_2