Dari Korea

Dari Korea
LSF - 27


__ADS_3

"Eh, omong-omong tentang sehat, gue bawa rokok, ****," bisiknya kemudian.


Dengan nada terpolos yang pernah ada.


"What's?!" Lethan bertanya dengan mata melotot. "You so mad, Luhan. Lo nggak tau gimana Pak Dani kalau tau anak-anak muridnya bawa barang itu?"


"Si Lingga chat gue malem-malem. Suruh bawa." Luhan menuding Lingga dengan santai.


Lingga langsung t e r k e j o e t. Dan memasang wajah polos. "Lah ... kok gue?"


"Perlu diteken dulu nih asetnya?" tanya Luhan memberi ancaman. "Nih, gue kasih liat chat-an gue sama lo semalem. Gue rela keluar tuh demi barang ini."


"Oke, oke! Oke! Gue ngaku, gue ngaku. Gue yang nyuruh Luhan buat bawa." Lingga segera mengaku sebelum harga dirinya semakin terinjak-injak karena Luhan membocorkan chat-an mereka berdua. "Soalnya kan dia yang paling baik di antara kita. Pasti nurut-nurut aja."


"Paling **** lebih tepat kayaknya." Langit mencibir pedazzzz.


"Untuk lo temen gue, Setan." Luhan menukas tak kalah hot jeletot.


"Iya-in aja, Iblis." Langit sedia peluru yang lebih hot pedas level dewa.


"Semuanya! Minta perhatian!" suara dari seorang guru yang menjadi ketua kegiatan study tour itu mengambil alih seluruh perhatian siswa-siswi sekolah ini saat dirinya berdiri di atas mimbar dan berkata di atas mikrofon untuk berseru kencang.


"Gawat-gawat!" seru Lingga langsung frustasi.


"Sok polos! Pasang wajah sok polos dan sok bahagia kalian!" Lethan memberi instruksi selaku orang yang paling bisa berpikir kritis.


"Baik, Kapten!" seru Langit nurut.

__ADS_1


"Ck." Luhan berdecak karena teman-temannya itu bersikap tak acuh pada Luhan yang membawa barang terlarang saat ini. Luhan jadi kesal, kemudian dia membuang ludah ke sampingnya. "Ciuh."


"Anj1ng."


Yang tampak sadar mendarat tepat di depan ujung sol sepatu Sari. Beruntung sekali ludahnya Luhan tak kena sepatunya. Luhan language nyengir tanpa dosa sewaktu Sari menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Maaf, Ben. Nggak sengaja. He he he he he he."


Sari hanya melengos. Luhan membuang napas lega karena dia tak perlu melakukan pertumpahan emosi dengan Sari.


"Baiklah, kalian sudah tau kan kalian masuk di bus mana, duduk sama siapa dan di kursi nomor berapa?" tanya Pak Guru yang menjadi ketua itu.


"Tau, Pak!"


"Oke. Sekarang kalian masuk ke bus masing-masing. Dengan tertib! Jangan pake dorong-dorongan atau senggol-senggolan. Ini bukan pasar. Paham?!"


"Paham, Pak."


"Huuft, untung nggak ada pengecekan tas dulu." Luhan membuang napas lega lagi saat berjalan beriringan dengan ketiga teman-temannya.


"Pengecekan udah dilakuin tadi, Bege. Sebelum lo datang. Beruntung banget lo hari ini." Lingga memberitahu sambil berbisik, takut ada cicak putih. "Nanti-nanti sakuin dah barangnya."


"Huuft. Baguslah." Luhan mengangguk-angguk dengan wajah super lega. "Oke-oke. Nanti gue masukin ke kantong Doraemon gue."


***


Perjalanan untuk study tour biasanya diisi oleh karaoke anak-anak atau ada musik yang mengentak dan membuat gembira. Bus yang diisi oleh kebanyakan kelas XI IPA 2 sudah melakukan itu, kini perjaka tinggal satu per empatnya.

__ADS_1


Kebanyakan anak-anak pada tidur karena lelah dan mengantuk.


Hidung seseorang terlihat di kamera yang menyala, sedang merekam. Dari atas, lalu sampai ke dua lubangnya. Siapa lagi yang mengarahkan kamera itu pada bagian wajah teman laknatnya selain Lingga sebagai teman duduk sebelah Luhan yang kini sedang tertidur pulas.


Mereka harus melakukan tiga jam perjalanan lagi. Sudah banyak yang tidur sebenarnya. Hanya nokturnal sana yang masih membuka matanya dengan segar. Selain Lingga, rupanya Lethan dan Langit masih terjaga dengan ponsel di tangan masing-masing. Yang satu liat-liat foto hasil jepretan tangan yang dicap emas oleh diri sendiri karena pandai mengambil gambar, yang satu lagi main cacing yang kadang mengumpat secara tidak sehat.


"Hai, guys. Jadi ini ada cowok yang lagi bobo. Tebak nih siapa. Gue kasih liat bibirnya, nih." Lingga berkata pelan-pelan karena takut membuat Luhan bangun. Lingga mengarahkan kameranya ke bawah, ke bibirnya Luhan yang sedikit terbuka dan mengeluarkan napas secara teratur. "Gila, bisa mangap gitu. Heran gue. Udah ketebak belum? Kalau belum, gue kasih liatin matanya nih." Kini Lingga meremajakan mata Luhan yang tertutup. Saat melihatnya dari dekat begini, Lingga tak bisa menahan diri untuk tak takjub pada mata Luhan. "Buset, gue nggak tau kalau bulu matanya bisa sepanjang ini. Ck. Kalau gue bawa gunting, udah gue pendekkin dah tuh. Mue he he he he he he."


Ketika Lingga masih seneng merekam wajah tertidur Luhan yang bisa dikatakan aib, kepala Sari yang duduk di belakang tiba-tiba melongok. Menatap Lingga dengan penuh arti.


"Eh, Ling," kata Sari kemudian.


"Hm, apa?" tanya Lingga, membalas.


"Luhan tidur?" tanya Sari memastikan.


Lingga menggeleng dengan wajah datar. "Nggak. Dia mati suri." Lingga memutar bola matanya. "Ya iyalah Luhan tidur, kalau nggak, bus ini pasti udah ribut karena bacotannya."


"Gue bawa spidol, nih." Sari tersenyum lenar penuh siasat seraya menunjukkan sebuah spidol papan tulis. Sari segera bangkit dari kursinya untuk menyambangi tempat duduk Lingga dan Luhan. "Minggir lo."


"Mau apa lo?" Tanya Lingga bingung.


"Apa lagi, dong? Mau gue jadiin gue lutung sebagai pembalasan karena pernah hias pipi gue sama kumis kucing waktu gue tidur di kelas!" seru Sari penuh tekad.


Teringat hari di mana ia tidur dan tahu-tahu wajahnya terdapat coretan yang kemudian hari berikutnya ia tahu siapa pelakunya.


"Woaw, sangat tidak baik kalau lo memendam dendam," tukas Lingga sambil geleng-geleng kepalanya. "Tapi gue sih yes. Buruan aksi. Gue rekam nih he he he he he he."

__ADS_1


Sari mengangguk, kemudian mengambil alih kursi Lingga saat laki-laki itu mundur dan merekam aksi Sari dari belakang. Sari tersenyum lebar, kemudian membuka tutup spidol di tangannya untuk kemudian mendekatkan diri.


Tangannya yang memegang spidol yang sudah dibuka dan hendak mendekatkan ujungnya yang hitam itu pada pipi Luhan saat mata Luhan tiba-tiba terbuka.


__ADS_2