Dari Korea

Dari Korea
e p i l o g


__ADS_3

"Ly, maaf mengganggumu, ya," kata Yohan lagi-lagi, entah untuk yang ke berapa kalinya meminta maaf sejak datang ke rumah Ily setelah gadis itu makan malam dan memintanya keluar untuk duduk bersampingan di kursi halaman belakang rumah Ily.


Yohan bilang ada yang ingin dia sampaikan. Sebenarnya Ily ingin istirahat saja, namun tak tega melihat Yohan apalagi ketika laki-laki itu membawa donat cokelat untuknya.


Ily berdeham, mengeratkan sweater ya karena udara sedang dingin-dinginnya dengan angin lembut membelai wajahnya. "Nggak apa-apa. Apa yang mau kamu bicarakan?"


Yohan ikut berdeham, membuat Ily tiba-tiba gugup dan memikirkan perkataan Yohan saat akan pulang dari sekolah tadi.


"Kamu," kata mereka bersamaan, sontak membuat Ily meringis dan Yohan tertawa kecil.


"Kamu mau bilang sesuatu juga?" tanya Yohan geli. "Kalau iya, tunggu dulu, ya. Aku mau bilang sesuatu dulu."


Ily terdiam, menahan rasa penasarannya untuk Yohan. Ia melihat Yohan dengan antisipasi, namun tetap saja tak bisa mengendalikan diri ketika Yohan setingkat lebih dekat dengannya.


Wangi khasnya tercium, jelas sekali Yohan baju saja mandi. Wangi sabun ini membuat jantung Ily berdegup lebih kencang, apalagi saat Yohan tersenyum amat manis padanya.


"Ly, terimakasih ya sudah mau mengenalku, sudah mau menemani, aku sangat-sangat bersyukur dapat bertemu denganmu di sini," kata Yohan dengan suara lembut, rendah dan pelan. "Aku tak tahu harus membalas dengan apa, namun aku yakin akan satu hal."


Ily menaikan kedua alisnya dengan wajah was-was. "Apa?"


"Hatiku," jawab Yohan amat serius. Tangan kanannya menyentuh dadanya, matanya mengunci Ily dalam tatapan penuh air. "Akan kuberikan padamu seluruhnya."


Tak tahu harus bereaksi seperti apa, Ily tak pernah mendapat pengakuan cinta dari siapapun. Ini pertama kalinya, yang sangat ia nanti, yang sangat ia inginkan dan yang sangat ia harapkan. Ily bahkan hampir menangis jika saja ia tak mengalihkan pandangannya dari Yohan.


Ini seperti hadiah terbaik setelah usahanya yang keras itu, untuk selalu memikirkan nilainya, untuk selalu memikirkan pelajaran baik-baik, untuk selalu bersekolah dengan giat, untuk selalu menuruti orang tuanya, dan untuk selalu berdoa pada Tuhan.


Ily berdeham, tak mampu lagi mendefinisikan bagaimana perasaannya kini.


"Apa kamu bersungguh-sungguh?" masih saja ada ragu dalam diri Ily, entah kenapa.


"Kamu tak percaya?" Yohan balik bertanya dengan nada kecewa.


"Aku hanya perlu sedikit waktu..." Ily meringis kecil, masih tak mampu menoleh untuk menatap Yohan lagi. "... untuk mengakui perasaanmu, juga perasaanku."


Yohan menghela napas kecil. "Baiklah." Yohan kemudian berdecak. "Kukira kamu sudah menyukaiku. Eza bilang begitu. Ah, sial, dia berbohong. Akan kuhajar nanti."


"Kamu sebaiknya jauhi Eza saja," kata Ily sambil berusaha menutupi keterkejutannya tentang kedekatan Yohan dan Eza. Ily sudah banyak curhat pada Eza dan mungkin saja Eza sudah bocor pada Yohan. "Dia toxic."


"Tapi dia temanmu," balas Yohan tak mengerti.


"Bukan," sergah Ily sambil melotot, seolah lupa akan pengakuan Yohan dan kini berani menatapnya lagi. "Aku tak pernah punya teman seperti Eza. Dia benalu."

__ADS_1


Yohan tertawa. "Akan kuadukan kamu padanya."


"Silahkan." Ily tersenyum menantang.


"Oke."


Ily tertawa atas jawaban Yohan, bahkan tanpa sadar menepuk lengannya dengan akrab. "Kamu jangan bercanda begitu. Nggak cocok."


"Kamu juga bercanda, Ly," balas Yohan berubah serius.


"Bercanda sesekali boleh, kok," kata Ily percaya diri.


"Tapi kamu bercanda atas perasaanku."


Lima kata itu membungkam Ily telak. Ily ingin menghilang saja dengan segera, tak mampu menghadapi situasi ini. Meski kini jantungnya bergejolak, pipinya memanas dan perasaannya amat senang, Ily tak tahu mengapa dirinya tak nyaman atas semua ini.


Rasanya ... sangat mustahil Yohan dapat jatuh cinta padanya. Yohan bisa saja mudah dicintai.


Laki-laki itu tampan, jelas. Jika ditelusuri lebih lanjut, tawa Yohan sangat merdu. Senyumnya manis, tubuhnya atletis dan rupanya otaknya juga pintar.


Ily merasa tak punya apapun untuk disukai laki-laki sehebat Yohan.


"Aku berteman denganmu karena kamu mau traktir aku, lho," kata Ily tiba-tiba mengaku. "Aku tak begitu suka dengan teman dan memilih lebih baik sendiri. Aku tak benar-benar ingin menganggapmu sebagai teman, Yohan."


"Baguslah kamu mengaku." Yohan berdeham kecil. "Aku patah hati sekarang. Tapi lebih baik bicarakan saja semuanya, aku akan menerimanya."


Ily menoleh, menatap Yohan sambil tersenyum penuh arti. Setelah mengumpulkan kepercayaan diri, Ily akhirnya dapat memutuskan. Tak apa, jika ini bukan jalannya, Ily percaya akan ada jalan lain yang lebih baik.


Namun, untuk sekarang, Ily yakin pada jalan apa yang akan ia tempuh. Ily tak akan menahan diri lagi.


"Aku memang tak ingin menerimamu sebagai teman, tapi aku ingin menerimamu sebagai teman yang sangat aku sukai."


Awalnya Yohan pikir pendengarannya yang keliru karena perasaannya yang terlalu bergejolak, namun melihat senyum permanen di wajah Ily yang meyakinkan, Yohan kini percaya bahwa perkataan Ily barusan bukan khayalannya.


Kini semuanya menjadi kenyataan.


Ingin selalu bersama dengan gadis itu. Yang membuatnya tergekitik ketika pertama kali bertemu dengan perubahan ekspresi yang ekstrim setelah melihat cokelat, yang membuatnya tersenyum ketika pertama kali masuk sekolah dan satu bangku dengannya, yang membuatnya tertawa geli saat mendapati kenyataan bahwa gadis itu selalu membeli susu instan peninggi badan, yang membuatnya berbicara sarkas tiap kali menyadari kecerobohannya, yang membuatnya sedih ketika menyadari bahwa dirinya diterima oleh gadis baik-baik itu.


"Rasanya aku terlalu buruk untuk dirimu yang sebaik ini, namun aku akan berusaha semampuku," cetus Yohan serius. Ingin sekali meraih tangan Ily dan menggenggamnya erat, namun ia tak berani. "Bersediakah kamu?"


Ily mengernyit dengan polos. "Ngapain?"

__ADS_1


"Aku ingin kamu jadi calon istriku lima tahun mendatang," jawab Yohan santai, tak peduli bahwa kini Ily sudah merona dengan mata melotot.


"A-apa maksudmu?"


"Besok," balas Yohan, "ikut aku pulang, ya?"


"Kok?"


Yohan mendesis, menghadapi kepolosan gadis yang amat ia sukai ini. "Besok aku ke Korea, tapi akan kembali lagi saat ijazah akan dibagikan. Nah, saat itu kamu harus bertemu ayahku. Kita harus melakukan perjanjian."


"Ih, Yohan. Perjanjian apa?" tanya Ily masih bingung.


"Perjanjian bahwa kamu akan kunikahi. Ayolah, ya?" pinta Yohan hampir putus asa. "Ya, Ily, ya?"


Mata Ily membulat, segera menepuk kecil lengan Yohan. "Kita belum lagi lulus SMA, Yohan! Kenapa kamu sampai berpikir untuk menikah, sih?"


"Karena aku menyukaimu, Ily," balas Yohan mutlak. "Sangat-sangat menyukaimu."


"Aku juga menyukaimu, tapi nggak langsung mikir nikah juga, kali," sarkas Ily sambil memutarkan bola matanya.


"Udah, sana pulang. Aku lelah, mau istirahat."


Yohan mengelabui napas kecil, kecewa karena sebentar lagi akan berpisah dengan Ily. "Apa kamu mau tidur?"


"Iyalah, Bambang! Udah malem, nih!"


"Yaudah," kata Yohan sambil mengelus puncak kepalanya. "Jangan lupa mimpikan aku, ya."


"Nggak," balas Ily jutek. "Aku ingin Shawn Mendes."


Yohan berdecak sinis, menatap Ily dengan ujung matanya seraya bangkit. "Kalau begitu aku akan memimpikan Bae Suzy."


"Ya, silahkan! Siapa yang melarang?" Ily membalas tak mau kalah. Gadis itu langsung berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Yohan.


Berdecak atas kelakuan Ily, Yohan dengan cepat menyusul langkah Ily Dan membawa gadis itu dalam dekapannya. Mata Ily membulat, ingin melepas, namun Yohan lebih erat memeluknya secara perlahan-lahan.


Ini yang kedua kalinya, Ily merasa nyaman dan tanpa sadar memejamkan matanya, mulai membalas dengan menaikkan kedua tangannya untuk mendorong punggung Yohan dalam dekapannya.


"Besok aku akan pulang," kata Yohan, berbisik di telinganya, "ke Korea."


"Silahkan, Yohan," balas Ily berusaha terlihat baik-baik saja meski sebenarnya ia menyayangkan kepergian Yohan, "asalmu kan ... dari Korea."

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2